LOGINTank-tank itu terhenti dan seperti menabrak sesuatu yang keras. Yah, para perusuh menahan kendaraan-kendaraan tempur itu dengan kekuatan super. Laju kendaraan tentara itu terhenti. Bagian depan terangkat ke atas dan sedikit rusak. Akhirnya mereka terjungkal dan terbalik. Seperti kecoa yang terhempas dan terjengkang tak bisa bangkit. Kendaraan tentara itu telah lumpuh. Terbalik dan meraung-raung seperti kura-kura yang panik dengan punggung berada di bagian bawah. Tentara yang tersisa terus berusaha menembaki para perusuh. Namun semua sia-sia. Sebagian melemparkan granat. Namun ledakan tak memberikan efek apapun pada para perusuh. Bahkan sebagian granat berhasil ditangkap. Lalu dilemparkan kembali pada para tentara yang berlindung. Duarr, duarr, duarr! Ledakan menewaskan beberapa tentara. Pasukan yang lain terpaksa mundur. Sebagian memasuki markas. Dan sebagian keluar area markas. Tembakan senapan otomatis terlihat dari dalam gedung. Rat tat tat tat! Keras dan melun
Para perusuh terus melangkah lengang. Para polisi telah menyingkir karena ketakutan. Begitu juga para warga dan pekerja di sekitar. Para perusuh itupun terus menghancurkan berbagai fasilitas dan gedung-gedung yang mereka lewati. Baik gedung perkantoran maupun pertokoan dan pusat hiburan. Orang-orang berlarian panik. Mereka menyingkir ke tempat aman. Anak-anak, orang tua ataupun peliharaan yang mereka ajak sebisa mungkin mereka selamatkan. Kekuatan super para perusuh itu memang tak bisa dianggap remeh. Mereka mampu menghancurkan berbagai benda. Baik dengan hantaman langsung ataupun hentakan energi dari jarak jauh. "Astaga," ungkap staff yang lain di ruang monitor. "Kenapa?" tanya Dina. "Mereka juga menyerang markas tentara!" Terlihat di monitor lain, beberapa orang berpakaian serba hitam menyerang markas tentara. Mereka ditembaki dengan senapan laras panjang dan otomatis. Namun tak membuat mereka bergeming. Mereka terus melangkah maju. Sebagian mengeluarkan energi dari
Yah, mereka kian tak tertandingi. Pasukan polisi itu kewalahan. Bahkan mobil-mobil mereka terhempas dan sebagian hancur. Mobil panser mereka pun tak bisa berbuat apa-apa. Diserang dengan kekuatan super para anggota kelompok Kerbau Merah. Dengan tangan kosong, salah satu di antara mereka menghentikan mobil perkasa itu. Bak atraksi adu balap, mobil itu tak bisa melaju ke depan meski sudah ditancap gasnya. Suara desing mesin, roda beradu dengan jalanan beraspal. Menimbulkan suara bising dan asap yang mengepul besar. Anggota kelompok Kerbau Merah yang lain mendekati mobil itu dan memukul dari samping. Membuat kerusakan parah pada sang kereta besi. Sebuah lubang menganga dengan penyokan yang cukup besar terlihat. Anggota polisi yang berada di dalam mobil itu terperangah. Kesombongan mereka selama ini dalam melawan rakyat kecil dengan panser luluh seketika. Baru kali ini ada orang yang mampu merusak keperkasaan penguasa itu. Dengan hantaman-hantaman keras berikutnya, mobil itu
Dengan terhempasnya para tukang parkir dan satpam, para perusuh itu semakin leluasa melamcarkan aksi mereka. Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Serangan mereka terus meraja-lela. Gedung-gedung lain jadi sasaran. Terutama pusat-pusat bisnis di sekitarnya. Para pembeli berhamburan. Beberapa yang sok jago berusaha melawan. Barangkali mereka telah mempelajari ilmu bela diri. Mereka maju dibantu oleh beberapa pegawai toko atau kantor dan satpam. Dengan peralatan satpam sederhana, juga beberapa senjata yang ada, seperti kayu atau helm, mereka berusaha menyerang. Lagi-lagi dengan mudah mereka dikalahkan. Kayu-kayu tak mampu melukai gerombolan Kerbau Merah itu. Dengan mudah patah atau hancur. Dan tak butuh usaha keras, mereka dikalahkan dan terhempas kesana-kemari. Bahkan terluka parah atau pingsan. Semakin banyak orang yang nekat dan berani untuk melawan. Mereka maju dengan menggunakan senjata yang ada. Bahkan sebagian melemparkan apa saja yang mampu melukai musuh. Dengan
Penjahat makin garang. Mereka menyerang dan mengobrak-abrik kawasan perbelanjaan dan sekitarnya. Orang-orang makin ketakutan dan berlarian. Para polisi kewalahan dan terpuruk. Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Sebagian orang nekat melawan, namun mereka dihajar dan terhempas tak berdaya. Yang lain pun kian ketakutan dan berlarian. Panggilan permintaan superhero datang dari aplikasi. Tertera pada layar monitor di ruang kontrol. "Banyak sekali panggilan!" terang salah seorang staf yang mengawasi. Dina hanya bisa menghela nafas. Begitu juga denganku dan bos. "Ada peristiwa lain," ujar pegawai menunjukkan layar pada bagian lain perkotaan. "Itu kantor polisi?!" tanya Dina. "Yah," jawab staf. Terlihat di layar, para perusuh lain menyerang kantor polisi. Para aparat yang berjaga berusaha menghalau merek. Namun berhasil dikalahkan dan terlempar jauh. Pasukan yang berjaga pun menembaki para perusuh itu. Namun hujan peluru tak mampu menembus tubuh mereka. Yah, mereka be
Monitor kami terhadap kelompok Kerbau Merah belum juga membuahkan hasil. Beberapa layar petunjuk belum bisa mencari keberadaan mereka ataupun teman-teman yang diculik. Tiba-tiba salah seorang staf berkata, "Apakah mereka kelompok Kerbau Merah?!" Kami lihat di layar. Hal mengejutkan terjadi. Terjadi penyerangan ke sebuah pusat perbelanjaan. Beberapa orang berpakaian serba hitam pelakunya. Mata mereka merah menyala. "Itu mereka!" kesahku. "Kenapa mereka menyerang pusat perbelanjaan?!" gumam Dina, "Hendak merampok?" "Aku harus menghadapi mereka!" kataku geram. "Jangan Kris!" cegah Dina, "Terlalu berbahaya!" "Dari mereka bisa kucari tahu dimana teman-teman!" kukuhku. "Kamu satu-satunya superhero yang tersisa!" jawab Dina, "Mungkin ini untuk memancingmu ke sana!" Aku menghela nafas dalam. "Lalu kita harus diam saja?" kesahku. "Sepertinya polisi berdatangan!" ungkap salah seorang staf. Kami lihat di layar. Beberapa mobil polisi memang terlihat berdatangan ke lokasi.
Kembali ke kantor, Dina menemuiku dan bertanya dengan sedikit khawatir, "Gimana, kau tak apa-apa?""Yah, tak apa-apa. Sudah kulumpuhkan mereka. Polisi sudah kalian panggil bukan?""Yah, sudah sampai lokasi sekarang ini. Kau mau minum sesuatu? Mau kuambilkan teh?""Es jeruk saja.""Oke, kuambilkan," jawa
Aku tanggap dan segera berbalik sambil tersenyum. Kugenggam kedua tangannya yang beralih memijat dadaku. "Kau superhero!" katanya lembut mengusap dadaku, "Pasti bisa mengatasi semua ini!" Kurengkuh tangannya hingga tubuhnya menubrukku. Ia tersenyum kaget dan menciumi bibirku. Kulanjutkan acara malam
Kami pun saling berciuman melepas rindu di halaman rumahnya. Hanya sawah yang terhampar luas di depannya. Beberapa rumah tetangga terletak agak jauh."Kubuatkan masakan desa," katanya mempersiapkan makan siang, "Nasi pecel.""Hmm, sambal kacang bisa meningkatkan gairah!" jawabku memeluk, mencium pipi
Mereka bertiga lalu pergi. Entah dimana sekarang mereka tinggal.Beberapa hari berikutnya, mereka muncul lagi untuk menyelamatkan orang. Beberapa murid SMA diculik oleh orang-orang misterius. Diduga hendak diperkosa dan dijerumuskan dalam prostitusi.Secara tak sengaja bertemu dengan mereka setelah me







