LOGINLiburan sehari semalam itu membuat hibungan Darka dan Jenika menjadi semakin dekat. Mereka bukan lagi pasangan palsu, tetapi pasangan yang nyata. Mereka berangkat dengan cinta yang masih setengah dan kembali dengan cinta yang utuh. Rasanya mereka tak rela liburan mereka berakhir begitu saja."Apakah kau bersedia jika liburan bersamaku lagi?" tanya Darka."Tentu saja. Mengapa tidak? Tapi untuk liburan selanjutnya ... pastikan liburan untuk berbulan madu," sahut Jenika menahan malunya mengatakan hal itu.Darka tertawa geli mendengarnya. "Kau tak sabar aku nikahi rupanya. Eumm ... baiklah. Di liburan berikutnya mari pergi setelah kita menikah dan ingin berbulan madu.""Aku pegang janjimu," sahut Jenika."Peganglah yang erat, Sayang. Aku tak akan ingkar janji," sahut Darka mengedipkan matanya.Tawa mereka pecah. Sampai tak terasa ternyata mereka sudah sampai di depan kediaman Jenika. Mobil itu memasuki halaman rumah. Tak ada satupun mobil di sana."Sepertinya orang tuamu belum pulang, ya?
Tuan Marson tengah sibuk dengan berkas-berkasnya. Tiba-tiba pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Tuan Marson menyuruhnya masuk. Tampak salah satu orang kepercayaannya membawa sebuah kotak tipis berwarna hitam."Maaf mengganggu, Tuan Marson. Ada titipan barang dari seorang pria yang baru saja datang. Aku telah memeriksa isinya. Isinya tidak ada yang berbahaya," ucap pria itu."Baiklah. Kau boleh tunggu di luar," ucap Tuan Marson."Baik, Tuan," sahutnya seraya berjalan menuju ke arah luar.Tuan Marson membuka kotak hitam tersebut. Di dalamnya ada sebuah surat dan beberapa foto. Tuan Marson memilih membuka surat itu terlebih dahulu sebelum membuka foto-foto yang ada di bawah surat tersebut.Untuk Tuan Marson Yang TerhormatApa kau berbahagia karena putrimu akan menikah dengan pria bernama Darka? Apa kau tahu siapa Darka sebenarnya? Jika tidak, akan aku beritahu Anda sekarang juga. Darka adalah orang yang telah membunuh Tuan Hong beserta semua anak buahnya di hari yang sama. Wanita y
"Darka, bawalah ini," ucap Karisa datang dari dapur membawa tas bekal untuk ia berikan pada putranya yang ingin pergi berlibur dengan tunangannya. "Ibu membuatkan kalian bekal.""Terima kasih, Bu," sahut Darka menerima tas itu. "Aku mungkin akan pulang besok karena harus menginap di sana untuk melihat sunset. Ibu jangan keluar rumah, ya. Jika menginginkan sesuatu katakan saja pada Bima. Dia akan melakukannya untuk Ibu."Karisa mengangguk walau disertai helaan napas yang terdengar bosan. Darka memeluk ibunya dengan lembut. "Sebentar lagi Ibu tak akan aku kekang seperti ini. Di tempat yang aman nanti, Ibu bisa pergi keluar sendiri tanpa aku batasi seperti ini. Selama di tempat yang berbahaya ini aku tak akan membiarkan Ibu keluar rumah dengan bebas.""Kapan Ibu akan pindah?" tanya Karisa."Mungkin tiga hari lagi, Bu. Aku sudah menemukan tempat yang bagus dan nyaman untuk Ibu. Di sebuah pedesaan yang asri dan ramai penduduk. Aku yakin Ibu akan betah di sana. Jika di sini sudah aman, aku
Darka keluar dari ruangannya. Tak sengaja ia melihat ke arah lift, Jenika baru saja keluar dari sana dengan langkah yang lesu. Darka langsung masuk ke dalam lagi dan bersembunyi di balik pintu. Begitu Jenika masuk, niat jahilnya pun terlaksana."WOAH" teriak Darka mengagetkan Jenika yang bahkan tak terkejut. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jenika yang baru tersadar dari lamunannya.Darka langsung menurunkan kedua tangannya yang tadi berpose seperti harimau hendak menerkam mangsanya. "Kau tak terkejut?""Kau tadi mengejutkanku?""Wah ... ada apa denganmu hari ini? Kau juga tampak lesu. Ceritakan padaku," tanya Darka seraya mengikuti Jenika yang berjalan ke arah mejanya."Tidak ada. Aku hanya bosan saja," sahutnya seraya duduk di kursi kerjanya.Darka menarik kursinya agar bisa duduk di samping wanita itu. Jenika sama sekali tak protes. Tangan lentiknya mulai menyalakan komputer."Jika aku sedang memiliki pikiran yang runyam, jangan paksakan untuk bekerja. Nanti kau menangis," ucap Darka
Jenika mendatangi ayahnya di ruang kerja. Ia membawa secangkir kopi dan kue bolu yang ia beli dari toko kue sore tadi. Senyumannya dibalas hangat oleh sang ayah. Tuan Manson langsung melepaskan tangannya dari komputer."Wah ... putri Ayah yang cantik membawakan kopi dan kue untuk Ayahnya?" Jenika tersenyum. "Aku membeli kue bolu di toko kue milik temanku yang baru buka hari ini. Jadi aku ingin Ayah mencicipinya juga. Ibu juga sudah mencobanya dan rasanya enak katanya.""Baiklah, Sayang. Ayah akan mencobanya," sahut Tuan Manson seraya mengambil sepotong kue holu pandan itu. "Ummmm! Ini enak sekali. Temanmu sangat berbakat membuat kue rupanya. Kita bisa memesannya nanti. Ayah menyukainya," puji Manson sebelum menyesap kopi buatan putrinya."Syukurlah kalau Ayah suka," sahut Jenika merasa lega. Ia kemudian memperhatikan ruangan itu dengan tatapan lembut dan berjalan menuju ke dinding kaca yang memberikan pemandangan indah di komplek elit itu. Apalagi langit malam tengah ditaburi oleh bi
Darka pulang ke rumahnya. Ia melihat bagian menghitam dari rumahnya. Melihat hal itu membuat Darka menahan rasa geramnya. Berarti seseorang yang melakukan ini ingin membalaskan dendamnya pada Darka dengan cara menghabisi ibunya."Jika ibuku berada di sini terus ada kemungkinan aku akan kecolongan. Ibu dalam mara bahaya selalu. Aku harus memindahkan ibu ke tempat yang lebih aman. Jika di sini, Ibu akan menjadi incaran para musuhku," gumam Darka.Darka masuk ke dalam rumahnya. Ia menemui ibunya di ruang tengah. Ibunya terlihat kaget melihat kedatangan Darka. Lekas ia lepas kain yang sedang ia rajut."Darka, kau pulang lebih awal?""Ya. Ingin mengambil sesuatu yang tertinggal. Tapi apa yang terjadi dengan bagian samping rumah, Bu?"Karisa terlihat gugup dan tak bisa menjawab. "Itu ... itu karena--""Ibu tak seharusnya menyembunyikan sesuatu atau berbohong padaku. Mengapa ibu hanya mengabari Bima tapi tidak mengabariku, Bu? Apa aku tidak bisa Ibu andalkan?" tanya Darka."Tidak. Bukan begi







