Beranda / Fantasi / KERUMUNAN ADALAH NERAKA / BAB 5 BISIKAN DARI KEGELAPAN

Share

BAB 5 BISIKAN DARI KEGELAPAN

Penulis: ANOMOV
last update Terakhir Diperbarui: 2024-06-20 12:18:49

Desa Gayam kini terasa seperti kota yang dilanda teror, namun bukan teror dari invasi alien atau serangan robot canggih seperti yang dihadapi para pahlawan super dalam film-film. Teror yang mencengkeram desa ini jauh lebih kuno, lebih dalam, dan lebih merasuk ke dalam hati serta pikiran penghuninya. Ketakutan mereka bukan datang dari luar, melainkan dari bayang-bayang di dalam diri sendiri.

Bisik-bisik tentang dedemit semakin menjadi-jadi. Kuntilanak, dengan tawa melengkingnya, bukan sekadar sosok hantu perempuan biasa. Ia menjadi perwujudan dari ketakutan mendalam akan kehilangan dan penyesalan. Pocong, dengan kain kafannya yang membalut tubuh, bukan sekadar simbol kematian yang menakutkan, tetapi juga representasi dari masa lalu yang belum selesai. Genderuwo, dengan tubuhnya yang raksasa, melambangkan kekuatan liar yang tak terkendali, sementara Wewe Gombel menjadi personifikasi dari naluri keibuan yang terdistorsi.

Bagi sebagian warga desa, makhluk-makhluk ini bukan hanya cerita turun-temurun, tetapi kenyataan yang semakin nyata di tengah pandemi. Mereka percaya bahwa yang terjadi di desa bukan hanya wabah penyakit, tetapi juga kutukan yang menguji keimanan dan keberanian mereka.

Vanua, dengan pikiran rasionalnya, melihat fenomena ini sebagai manifestasi dari ketakutan yang berkembang liar. Baginya, ini bukan soal keberadaan makhluk halus, melainkan tentang bagaimana ketakutan menguasai dan membentuk persepsi manusia. Desa ini, seperti kota-kota yang telah ditinggalkannya, sedang menghadapi musuh yang sama—kepanikan dan kehilangan akal sehat.

Ia ingin membuktikan bahwa semua ini hanyalah hasil dari ketidakpastian dan desas-desus yang semakin membesar. Namun, berbeda dengan di kota, yang mana informasi tersebar dengan cepat melalui media sosial dan berita, di desa, ketakutan itu berkembang melalui bisikan, dari mulut ke mulut, dari mimpi yang diceritakan sebelum subuh hingga bayangan yang terlihat di sudut mata.

Sementara itu, Mudra, yang lebih memahami cara berpikir warga desa, melihat fenomena ini dari sudut yang berbeda. Ia tidak ingin membantah kepercayaan mereka secara langsung. Baginya, ketakutan itu harus dikelola, bukan disangkal. Ia memahami bahwa dalam situasi seperti ini, menolak keyakinan warga desa hanya akan membuat mereka semakin defensif dan semakin dalam terperangkap dalam ketakutan mereka sendiri.

Mudra percaya bahwa ketakutan harus dihadapi bersama. Jika dedemit adalah bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, maka mereka juga bisa menjadi alat untuk membangun kembali solidaritas yang mulai pudar. Ia ingin menunjukkan bahwa mereka tidak harus takut sendirian, bahwa gotong royong bisa menjadi kekuatan untuk melawan ketakutan, baik itu nyata maupun yang lahir dari pikiran mereka sendiri.

Suatu pagi, di warung Bu Minah, ketegangan mulai terasa. Percakapan yang dulu dipenuhi canda dan obrolan ringan kini berubah menjadi diskusi tentang kejadian-kejadian aneh yang semakin sering terjadi.

"Kamu lihat sendiri, kan? Tadi malam ada yang terbang di atas genteng rumahku!" seru Pak Karto kepada Vanua, matanya membelalak.

"Pak Karto, mungkin itu burung hantu," jawab Vanua tenang, sambil menyeruput kopinya.

"Burung hantu? Yang sebesar itu? Dengan mata merah menyala?" Pak Karto menggeleng. "Itu kuntilanak, Nak! Saya tahu betul!"

Vanua menghela napas. "Pak Karto, sejauh ini belum ada bukti ilmiah tentang keberadaan kuntilanak atau makhluk halus lainnya. Apa Bapak melihatnya sendiri?"

Pak Karto terdiam sejenak, lalu berkata, "Saya tidak melihat langsung, tapi anak saya yang melihat. Dia sampai pingsan!"

"Mungkin anak Bapak terlalu lelah, atau terpengaruh cerita-cerita yang beredar," kata Vanua dengan nada hati-hati. Ia tahu bahwa menyangkal langsung hanya akan memperkeruh suasana.

"Ilmiah, ilmiah... Sekarang ini, logika sudah tidak mempan! Ini zaman kegelapan!" Pak Karto menggebrak meja, membuat cangkir kopi Vanua bergetar.

Bu Minah yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Pak Karto, jangan begitu. Nanti malah dedemitnya marah."

"Marah? Biar saja marah! Saya sudah tidak takut!" Pak Karto beranjak dari duduknya, wajahnya merah padam. "Saya akan buktikan, dedemit itu ada!"

Vanua menghela napas panjang, merasa prihatin dengan ketakutan yang mencengkeram warga desa. Bayang-bayang ketakutan itu telah meracuni pikiran mereka, mengubah mereka menjadi sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak kenali.

"Kamu tidak percaya, Nak?" tanya Bu Minah, menatap Vanua dengan tatapan curiga.

"Saya percaya pada apa yang saya lihat," jawab Vanua tenang, berusaha menjaga nada suaranya tetap ramah. "Dan sejujurnya, saya belum melihat bukti keberadaan makhluk halus yang kalian bicarakan."

Bu Minah tersenyum kecut. "Nanti juga kamu percaya," katanya pelan. "Di desa ini, banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Ada kekuatan lain yang bekerja di sini."

Tiba-tiba, suara teriakan memekik memecah keheningan warung. Teriakan itu datang dari luar, membuat semua orang terlonjak kaget. Tanpa berpikir panjang, mereka bertiga—Vanua, Bu Minah, dan Pak Karto—berlari keluar dan mendapati kerumunan warga telah berkumpul di depan rumah Pak RT. Suasana panik dan tegang menyelimuti mereka.

"Ada apa ini?" tanya Vanua, suaranya meninggi berusaha mengalahkan kebisingan.

"Anak Pak RT melihat kuntilanak lagi!" jawab salah seorang warga dengan suara gemetar, matanya membulat penuh ketakutan. "Dia sampai pingsan lagi!"

Vanua menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar cerita serupa.

Mudra tiba di lokasi, menatap Vanua dengan penuh arti. "Sepertinya kita punya pekerjaan besar di depan kita," katanya.

Vanua menatap kerumunan, lalu beralih menatap Mudra. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ini bukan sekadar tentang membuktikan atau membantah keberadaan dedemit. Ini adalah tentang bagaimana mereka bisa menghadapi ketakutan bersama. Dan mungkin, hanya mungkin, di sinilah letak harapan yang selama ini ia cari.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   54 (TAMAT) EPILOG JUM'AT LEGI

    Seratus purnama berlalu. Malam Jum’at Legi. Senja merayap di Desa Gayam, menyelimuti hamparan sawah dengan kabut tipis. Ki Rajendra, Mudra, Vanua dan Sari tiba di sebuah rumah tua di pinggir desa, seolah dipanggil oleh bisikan angin yang tak terlihat.Ki Rajendra, berdiri di depan gerbang rumah, menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Tempat ini... seolah memanggilku," gumamnya, lebih pada diri sendiri.Mudra, dengan kotak kayu di tangannya, datang dengan langkah ragu. "Aku tidak tahu mengapa aku di sini," katanya pada Ki Rajendra, alisnya berkerut. "Tapi ada dorongan kuat yang menarikku."Vanua, dengan mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan, tampak gelisah. "Aku mendapat pesan aneh, sebuah undangan yang tidak jelas," katanya sambil melirik jam tangannya. "Aku harus segera pergi, tapi... sesuatu menahanku."Sari, dengan gaun putihnya yang lusuh dan bunga layu di tangan, tiba dengan tatapan kosong. "Aku hanya mengikuti jalan ini," katanya dengan suara pelan, seolah berbicara pada a

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 53 KERUMUNAN SERATUS MILYAR

    Setelah pertemuan terakhir dengan Victor dan para pemegang kekuasaan lainnya, Mudra, Vanua, Sari, dan Ki Rajendra merasa ada sedikit angin segar. Keputusan dari kelompok pedagang kecil untuk bersatu dan mendukung mereka bukan hanya sebuah kemenengan kecil, tetapi juga sebuah tanda bahwa harapan masih ada di tengah dunia bisnis yang gelap dan penuh perlawanan ini.Ini baru permulaan. Kerumunan yang mereka hadapi jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang pernah mereka bayangkan. Setiap langkah mereka akan dipantau dengan cermat oleh para pesaing besar yang berusaha mengendalikan pasar ini.“Ini bukan hanya tentang produk kita,” kata Sari, menatap layar laptop yang menunjukkan grafik distribusi dan proyeksi pasar. “Ini adalah tentang menciptakan ruang baru di pasar yang sudah padat. Tentang memberi kesempatan bagi mereka yang selama ini terabaikan.”Vanua yang masih terombang-ambing antara harapan dan keraguan, menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. “Tapi bagaimana kita bis

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 52 DUKUNGAN DARI KERUMUNAN PEDAGANG KECIL

    Malam itu, mereka berkumpul di sebuah warung kopi sederhana. Seorang pedagang kopi, Pak Anton, yang sudah lama berjuang melawan kekuatan besar, berbicara dengan mereka tentang perjuangannya. “Kalian mungkin tidak tahu apa yang kalian hadapi. Para pemilik perusahaan besar ini mengendalikan semuanya—dari pasokan hingga distribusi. Mereka bisa menghilangkan kita hanya dengan satu pergerakan. Jika kalian tidak siap, kalian akan menjadi bagian dari kerumunan yang tak terhindarkan itu.”Mudra menghela napas. “Kami tahu persis tantangan yang ada. Tapi kita harus tetap berpegang pada prinsip kita. Jika kita bisa membangun jaringan distribusi berbasis komunitas, kita bisa menawarkan alternatif yang lebih adil.”Ki Rajendra mengangguk. “Keberanian bukan hanya tentang melawan, tetapi tentang memilih jalan yang benar meski ada kerumunan yang menghalangi kita. Ini adalah saatnya untuk melihat lebih jauh dari kerumunan ini, untuk menemukan jalan keluar yang kita butuhkan.”Mereka menghabiskan malam

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 51 MEMBAWA API PERTUMBUHAN

    Sinar pagi merayap perlahan melalui celah-celah jendela besar di hotel pusat bisnis Surabaya. Suasana di dalam ruangan konferensi terasa tegang, dengan udara yang berat dan penuh ketidakpastian. Di meja panjang yang dikelilingi oleh eksekutif-eksekutif besar, Mudra, Vanua, Sari, dan Ki Rajendra berdiri, mempersiapkan diri untuk presentasi yang bisa menentukan masa depan mereka. Di luar sana, kerumunan pasar Surabaya mulai bergerak, menciptakan dunia yang penuh dengan peluang dan ancaman.Mereka berada di titik yang lebih jauh dari sekadar kompetisi pasar. Keputusan yang akan diambil di sini bukan hanya tentang air minum kemasan, tetapi juga tentang apakah mereka dapat menembus jaringan kekuasaan besar yang telah lama berakar.Seorang pria bertubuh tegap, mengenakan jas hitam dengan dasi merah, memasuki ruangan dengan langkah percaya diri. Namanya Victor, CEO dari perusahaan air minum multinasional yang sudah mendominasi pasar di Surabaya dan sekitarnya. Dengan pandangan yang tajam, di

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 50 MENYULUT API PERTARUNGAN

    Surabaya, kota yang tak pernah tidur, kini menjadi medan pertempuran yang lebih kompleks dan lebih sulit dipahami. Semakin mereka menyelami dunia pasar yang dipenuhi kerumunan yang keras dan penuh persaingan, semakin mereka merasa semakin jauh dari akar mereka. Namun di sisi lain, mereka juga mulai merasakan api yang membara di dalam diri mereka. Api yang menyala di dalam diri mereka adalah hasrat, semangat, dan tekad untuk meraih sesuatu yang lebih besar."Ini bukan hanya tentang air," kata Mudra dengan suara penuh tekad, menyeringai. "Ini adalah tentang perubahan, untuk menciptakan sesuatu yang lebih dari sekadar bisnis. Kami datang untuk membangun sistem distribusi yang berbasis komunitas, dan bukan hanya sekadar keuntungan."Namun, semakin mereka melangkah lebih dalam, semakin terasa bahwa ini bukan hanya sebuah persaingan bisnis. Mereka merasakan adanya kekuatan yang lebih besar, yang terhubung pada sistem yang mengikat mereka dalam kerumunan yang sama.Di malam hari yang penuh k

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 49 KONSPIRASI DI BALIK BAYANGAN

    Keesokan harinya, mereka kembali berkumpul untuk membahas langkah selanjutnya. Ki Rajendra menatap mereka dengan tatapan serius, dan tanpa berkata-kata langsung membuka kartu tarot yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. “Apa yang kita hadapi bukan sekadar masalah bisnis. Kita berada di persimpangan jalan yang penuh kabut dan bayangan. Seperti kartu The Moon, kita harus mencari kebenaran dalam kegelapan.”Mudra merenung, melihat ke luar jendela yang memantulkan cahaya redup dari matahari yang terbenam. “Bayangan... Begitu banyak yang tersembunyi di balik setiap keputusan. Kita hanya bisa melihat bagian luar dari masalah ini, tetapi ada kekuatan besar yang menggerakkan semuanya di balik layar.”Sari, yang semakin paham akan peran mereka, menambahkan, “Kita harus menggali lebih dalam. Menyelesaikan masalah ini tidak hanya soal mengalahkan kompetisi, tetapi mengungkap siapa yang sebenarnya menarik tali di balik semua ini.”Vanua, yang sebelumnya lebih memilih menghinda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status