Share

BAB 10

Author: MasYB
last update publish date: 2026-06-17 20:00:36

Di balik reruntuhan dinding beton proyek yang terbengkalai, suasana mendadak sunyi. Area ini terisolasi dari lapangan utama, tertutup oleh tumpukan besi berkarat dan tiang-tiang fondasi yang belum jadi.

​Chen Fan sengaja melepaskan cengkeramannya, membuat preman bertato kalajengking itu terhuyung mundur. Tak lama kemudian, tiga preman lain termasuk sang bos jaket kulit ikut mengejar ke balik reruntuhan, mengira Xiao Chen si kuli lugu sedang mencoba kabur membawa mangsa mereka.

​"Hahaha! Bocah bodoh, mau lari ke mana kamu?!" Bos preman itu tertawa bengis, mengetukkan pipa besinya ke telapak tangan. "Berani-beraninya mengintervensi urusan kami! Hari ini, aku akan memastikan kedua tanganmu tidak akan bisa memanggul semen lagi!"

​Chen Fan berdiri tegak di tengah kepungan. Perlahan, dia mengangkat wajahnya. Rambut poninya yang kotor tertiup angin sore, menyingkap sepasang mata yang kini tidak lagi memancarkan ketakutan seorang buruh bawah. Sepasang mata itu sedalam lautan bintang, memancarkan kilat keemasan yang begitu dingin dan menekan udara di sekitar mereka.

​DEG!

​Bos preman itu mendadak menghentikan tawa logamnya. Entah kenapa, atmosfer di balik reruntuhan ini mendadak terasa begitu berat hingga dadanya terasa sesak untuk bernapas.

​"Kamu... siapa sebenarnya kamu?" tanya sang bos preman, langkah kakinya refleks mundur satu langkah karena insting hewannya mencium bahaya maut.

​"Kalian tidak layak mengetahui namaku," ucap Chen Fan datar. Suaranya tidak keras, namun bergema langsung di dalam gendang telinga keempat preman tersebut, membawa getaran energi murni (Qi) yang membuat sendi-sendi lutut mereka bergetar kaku.

​"Kurang ajar! Dia cuma kuli miskin! Hajar dia sampai mati!" teriak preman bertato kalajengking yang emosi. Dia mengangkat parang panjangnya, melesat maju menebas ke arah leher Chen Fan.

​Chen Fan bahkan tidak berkedip. Saat bilah parang itu berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, dia hanya menggeser tubuhnya sedikit, membuat parang itu menebas angin kosong. Bersamaan dengan itu, Chen Fan mengangkat tangan kanannya secara perlahan.

​Dia menyatukan jari-jarinya, menyisakan jari telunjuk yang mengarah lurus ke sebuah pilar beton penyangga raksasa berdiameter satu meter yang berada tepat di belakang tubuh sang bos preman.

​Bzzzz—

​Seberkas cahaya keemasan tipis yang sangat padat memercik di ujung jari telunjuk Chen Fan. Udara di sekeliling jarinya mendadak terdistorsi akibat panasnya energi Pernapasan Naga Langit Tingkat 3.

​"Hancur," bisik Chen Fan pelan.

​Plek.

​Chen Fan menjentikkan jarinya ke udara kosong.

​BOOMMM!!!

​Sebuah gelombang kejut transparan melesat secepat peluru, membelah udara berdebu, dan menghantam tepat di tengah pilar beton raksasa tersebut. Detik berikutnya, suara ledakan yang memekakkan telinga bergemuruh. Pilar beton yang begitu kokoh dan tebal itu langsung retak seribu, lalu hancur berkeping-keping menjadi butiran debu dan kerikil dalam hitungan satu detik!

​Syuuuuut... Brak!

​Reruntuhan pilar itu runtuh, menciptakan badai debu yang tebal.

​Keempat preman itu langsung jatuh terduduk di atas tanah dengan celana yang mendadak basah karena mengompol. Senjata-senjata besi di tangan mereka terlepas, berdenting konyol di atas kerikil. Wajah mereka seputih kain kafan, sepasang mata mereka melotot hampir keluar dari kelopaknya melihat pilar beton padat hancur menjadi bubuk hanya karena satu jentikan jari dari jarak jauh.

​Satu jari... menghancurkan beton! Ini bukan lagi ilmu bela diri fana, ini adalah kekuatan dewa atau iblis!

​"M-Master... Master Abadi?!" Bos preman itu bergemetaran hebat hingga giginya berkerat maut. Dia langsung merangkak maju, menghantamkan kepalanya ke tanah berkali-kali ke arah kaki Chen Fan hingga dahinya berdarah. "Ampun, Master! Ampun! Kami memiliki mata tapi tidak melihat Gunung Tai! Kami hanya anjing pesuruh fana!"

​"Pergi. Jika aku melihat kalian atau kelompok kalian menginjakkan kaki di proyek ini lagi, atau menyentuh Paman Lao lagi..." Chen Fan menatap mereka dari atas dengan pandangan tirani abadi. "Kalian akan berakhir sama seperti pilar itu."

​"Baik, Master! Baik! Kami pergi! Kami bersumpah tidak akan kembali!"

​Keempat preman itu langsung bangkit dengan kaki yang lemas. Mereka berlari kocar-kacir, tunggang-langgang keluar dari area proyek seperti melihat hantu di siang bolong, bahkan meninggalkan kendaraan jip dan motor mereka begitu saja di lapangan utama.

​Para kuli di lapangan utama—termasuk Mandor Lin—yang mendengar suara ledakan besar dari balik reruntuhan, langsung melongo melihat kelompok preman sangar itu mendadak lari histeris ketakutan sambil berteriak-teriak minta ampun.

​Tak lama kemudian, Chen Fan keluar dari balik reruntuhan dengan langkah pincang dan wajah yang kembali "lugu dan shock", memegangi kepalanya yang kotor penuh debu semen.

​"Aduh, Mandor Lin! Seram sekali! Tadi pilar beton di belakang tiba-tiba runtuh sendiri karena semennya sudah kedaluwarsa kayaknya! Preman-preman itu langsung lari karena takut ketiban!" teriak Chen Fan dengan logat polosnya.

​Mandor Lin yang masih syok hanya bisa melongo kaku, sama sekali tidak menyadari bahwa kuli miskin yang selalu dia tindas ini baru saja menyelamatkan seluruh proyek dari kehancuran.

​Namun, di tengah ketenangan sesaat itu, ponsel jadul berlayar monokrom di dalam saku celana flanel Chen Fan mendadak berdering nyaring.

​Chen Fan merogohnya, dan begitu melihat nama Lin Ruoxi di layar, firasat buruk langsung menyengat kesadaran spiritualnya. Dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

​"Chen Fan... hiks... tolong..." Suara isak tangis Lin Ruoxi yang penuh keputusasaan terdengar dari seberang telepon, diiringi suara gaduh hantaman barang-barang di latar belakang. "Panti asuhan kita... panti asuhan kita didatangi banyak preman membawa alat berat... Mereka mau menggusur panti secara paksa sekarang, Chen Fan!"

​DEG!

​Sepasang mata Chen Fan seketika menggelap seutuhnya, memancarkan aura es yang sanggup menghentikan aliran darah siapa pun yang melihatnya. Badai kemarahan yang sesungguhnya dari sang Kultivator Alkemis kini telah resmi berpindah ke rumah masa kecilnya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 160

    ​Jejak cahaya keemasan yang ditinggalkan oleh tebasan Pedang Pemusnah Bintang perlahan memudar di tepian terjauh kuadran selatan galaksi. Ruang hampa di sekitar bekas celah dimensi hampa kini kembali bersih, tenang, dan steril dari segala bentuk ancaman purba. Tidak ada lagi sisa-sisa energi hitam kelam, tidak ada lagi lolongan monster dari dimensi luar, dan tidak ada lagi riak-riak anomali yang mampu mengganggu stabilitas tata surya.​Chen Fan melayang tegak di atas lempengan asteroid yang membeku di angkasa hampa. Jubah kekaisaran hitam keemasan dengan sulaman naga primordial yang ia kenakan berkibar perlahan diterpa angin solar yang lembut. Di telapak tangan kanannya, bilah pedang legendaris itu berdengung pelan, memancarkan pendaran emas murni sebelum akhirnya menyatu kembali ke dalam dimensi pribadinya tanpa suara.​Bagi para kultivator tingkat tinggi, dewa-dewa astral, dan penguasa sekte galaksi luar yang mengamati sisa-sisa pertempuran dari kejauhan, apa yang dilakuka

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 161

    ​Matahari pagi kembali menampakkan wujudnya di ufuk timur Kota Jiangnan, menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru kota. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis ke udara, menciptakan suasana kedamaian yang begitu kental dan menenteramkan jiwa.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya mem

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 159

    ​Angin malam berembus pelan membawa kesejukan akhir bulan, menyapu halaman rumput hijau di kompleks Panti Asuhan Kasih Bunda. Di bawah temaram lampu teras yang hangat, suasana terasa begitu damai dan menenangkan. Chen Fan duduk bersandar di kursi kayu jati tua, menyesap perlahan teh hitam hangat di cangkirnya, sementara Lin Ruoxi tampak asyik mengawasi si kecil Chen Ping'an yang sedang belajar merangkak di atas karpet tebal ruang tengah. Tawa renyah balita itu bergema kecil, menciptakan melodi kebahagiaan yang menyapu bersih sisa-sisa kelelahan dari dunia luar.​Namun, di balik ketenangan fana yang menyelimuti bumi itu, indra spiritual tingkat tinggi milik sang Kaisar Alkemis mendadak menangkap pergesekan halus di dimensi tinggi yang melampaui batas pemahaman makhluk biasa.​Jauh di perbatasan paling luar galaksi bima sakti, tepatnya di tubir Dimensi Hampa Tanpa Batas—sebuah wilayah mati tempat hukum fisika, gravitasi, dan waktu kehilangan bentuk aslinya—segel-segel purba pr

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 158

    ​Matahari pagi di akhir Oktober 2026 kembali menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru Kota Jiangnan. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis di udara, menciptakan suasana kedamaian yang begitu kental.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya memancarkan rona kemerahan yang sehat di kuli

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 157

    ​Matahari pagi di penghujung Oktober 2026 kembali menampakkan wujudnya di ufuk timur Kota Jiangnan, menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru kota. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis di udara.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya beberapa waktu lalu masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya memancarkan rona kemerahan ya

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 156

    ​Cahaya keemasan yang terpancar dari bilah Pedang Pemusnah Bintang menerangi kegelapan abadi di pusat Nebula Kuda Terbang, mengubah lautan gas kosmik yang semula kelam menjadi lautan pendar cemerlang yang memantulkan bayangan ribuan bintang. Chen Fan menggenggam gagang pusaka kuno itu dengan tangan kanannya. Getaran liar dari artefak tingkat dewa yang tadinya mengamuk hebat kini telah tunduk sepenuhnya, berdenyut selaras dengan detak jantung sang Kaisar Alkemis. Bagi entitas lain di alam semesta, memiliki senjata legendaris ini berarti memegang kendali atas kehancuran sebuah peradaban; namun bagi Chen Fan, pedang tersebut tidak lebih dari sebilah instrumen sederhana untuk membersihkan sisa-sisa kotoran kosmik yang berani mencemari keharmonisan semesta.​Ia melayangkan pandangannya menembus ruang hampa, melewati jutaan tahun cahaya, hingga kesadaran spiritualnya menyentuh batas luar tata surya bumi. Di sana, di sudut Kota Jiangnan yang tenang, perisai Imperial Absolute Domain ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status