INICIAR SESIÓNDi balik reruntuhan dinding beton proyek yang terbengkalai, suasana mendadak sunyi. Area ini terisolasi dari lapangan utama, tertutup oleh tumpukan besi berkarat dan tiang-tiang fondasi yang belum jadi.
Chen Fan sengaja melepaskan cengkeramannya, membuat preman bertato kalajengking itu terhuyung mundur. Tak lama kemudian, tiga preman lain termasuk sang bos jaket kulit ikut mengejar ke balik reruntuhan, mengira Xiao Chen si kuli lugu sedang mencoba kabur membawa mangsa mereka. "Hahaha! Bocah bodoh, mau lari ke mana kamu?!" Bos preman itu tertawa bengis, mengetukkan pipa besinya ke telapak tangan. "Berani-beraninya mengintervensi urusan kami! Hari ini, aku akan memastikan kedua tanganmu tidak akan bisa memanggul semen lagi!" Chen Fan berdiri tegak di tengah kepungan. Perlahan, dia mengangkat wajahnya. Rambut poninya yang kotor tertiup angin sore, menyingkap sepasang mata yang kini tidak lagi memancarkan ketakutan seorang buruh bawah. Sepasang mata itu sedalam lautan bintang, memancarkan kilat keemasan yang begitu dingin dan menekan udara di sekitar mereka. DEG! Bos preman itu mendadak menghentikan tawa logamnya. Entah kenapa, atmosfer di balik reruntuhan ini mendadak terasa begitu berat hingga dadanya terasa sesak untuk bernapas. "Kamu... siapa sebenarnya kamu?" tanya sang bos preman, langkah kakinya refleks mundur satu langkah karena insting hewannya mencium bahaya maut. "Kalian tidak layak mengetahui namaku," ucap Chen Fan datar. Suaranya tidak keras, namun bergema langsung di dalam gendang telinga keempat preman tersebut, membawa getaran energi murni (Qi) yang membuat sendi-sendi lutut mereka bergetar kaku. "Kurang ajar! Dia cuma kuli miskin! Hajar dia sampai mati!" teriak preman bertato kalajengking yang emosi. Dia mengangkat parang panjangnya, melesat maju menebas ke arah leher Chen Fan. Chen Fan bahkan tidak berkedip. Saat bilah parang itu berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, dia hanya menggeser tubuhnya sedikit, membuat parang itu menebas angin kosong. Bersamaan dengan itu, Chen Fan mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Dia menyatukan jari-jarinya, menyisakan jari telunjuk yang mengarah lurus ke sebuah pilar beton penyangga raksasa berdiameter satu meter yang berada tepat di belakang tubuh sang bos preman. Bzzzz— Seberkas cahaya keemasan tipis yang sangat padat memercik di ujung jari telunjuk Chen Fan. Udara di sekeliling jarinya mendadak terdistorsi akibat panasnya energi Pernapasan Naga Langit Tingkat 3. "Hancur," bisik Chen Fan pelan. Plek. Chen Fan menjentikkan jarinya ke udara kosong. BOOMMM!!! Sebuah gelombang kejut transparan melesat secepat peluru, membelah udara berdebu, dan menghantam tepat di tengah pilar beton raksasa tersebut. Detik berikutnya, suara ledakan yang memekakkan telinga bergemuruh. Pilar beton yang begitu kokoh dan tebal itu langsung retak seribu, lalu hancur berkeping-keping menjadi butiran debu dan kerikil dalam hitungan satu detik! Syuuuuut... Brak! Reruntuhan pilar itu runtuh, menciptakan badai debu yang tebal. Keempat preman itu langsung jatuh terduduk di atas tanah dengan celana yang mendadak basah karena mengompol. Senjata-senjata besi di tangan mereka terlepas, berdenting konyol di atas kerikil. Wajah mereka seputih kain kafan, sepasang mata mereka melotot hampir keluar dari kelopaknya melihat pilar beton padat hancur menjadi bubuk hanya karena satu jentikan jari dari jarak jauh. Satu jari... menghancurkan beton! Ini bukan lagi ilmu bela diri fana, ini adalah kekuatan dewa atau iblis! "M-Master... Master Abadi?!" Bos preman itu bergemetaran hebat hingga giginya berkerat maut. Dia langsung merangkak maju, menghantamkan kepalanya ke tanah berkali-kali ke arah kaki Chen Fan hingga dahinya berdarah. "Ampun, Master! Ampun! Kami memiliki mata tapi tidak melihat Gunung Tai! Kami hanya anjing pesuruh fana!" "Pergi. Jika aku melihat kalian atau kelompok kalian menginjakkan kaki di proyek ini lagi, atau menyentuh Paman Lao lagi..." Chen Fan menatap mereka dari atas dengan pandangan tirani abadi. "Kalian akan berakhir sama seperti pilar itu." "Baik, Master! Baik! Kami pergi! Kami bersumpah tidak akan kembali!" Keempat preman itu langsung bangkit dengan kaki yang lemas. Mereka berlari kocar-kacir, tunggang-langgang keluar dari area proyek seperti melihat hantu di siang bolong, bahkan meninggalkan kendaraan jip dan motor mereka begitu saja di lapangan utama. Para kuli di lapangan utama—termasuk Mandor Lin—yang mendengar suara ledakan besar dari balik reruntuhan, langsung melongo melihat kelompok preman sangar itu mendadak lari histeris ketakutan sambil berteriak-teriak minta ampun. Tak lama kemudian, Chen Fan keluar dari balik reruntuhan dengan langkah pincang dan wajah yang kembali "lugu dan shock", memegangi kepalanya yang kotor penuh debu semen. "Aduh, Mandor Lin! Seram sekali! Tadi pilar beton di belakang tiba-tiba runtuh sendiri karena semennya sudah kedaluwarsa kayaknya! Preman-preman itu langsung lari karena takut ketiban!" teriak Chen Fan dengan logat polosnya. Mandor Lin yang masih syok hanya bisa melongo kaku, sama sekali tidak menyadari bahwa kuli miskin yang selalu dia tindas ini baru saja menyelamatkan seluruh proyek dari kehancuran. Namun, di tengah ketenangan sesaat itu, ponsel jadul berlayar monokrom di dalam saku celana flanel Chen Fan mendadak berdering nyaring. Chen Fan merogohnya, dan begitu melihat nama Lin Ruoxi di layar, firasat buruk langsung menyengat kesadaran spiritualnya. Dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Chen Fan... hiks... tolong..." Suara isak tangis Lin Ruoxi yang penuh keputusasaan terdengar dari seberang telepon, diiringi suara gaduh hantaman barang-barang di latar belakang. "Panti asuhan kita... panti asuhan kita didatangi banyak preman membawa alat berat... Mereka mau menggusur panti secara paksa sekarang, Chen Fan!" DEG! Sepasang mata Chen Fan seketika menggelap seutuhnya, memancarkan aura es yang sanggup menghentikan aliran darah siapa pun yang melihatnya. Badai kemarahan yang sesungguhnya dari sang Kultivator Alkemis kini telah resmi berpindah ke rumah masa kecilnya!Langit di atas Bandara Internasional Ibu Kota pagi itu tampak diselimuti oleh lapisan awan mendung tipis yang kelabu. Angin utara yang kering berembus kencang di sepanjang landasan pacu, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kompleks penerbangan privat sektor barat, yang biasanya hanya dilintasi oleh para diplomat asing atau menteri kabinet, kini tampak dijaga oleh puluhan personel keamanan berseragam hitam tanpa atribut resmi.Sebuah jet pribadi berlogo Su Group membelah awan, melakukan pendaratan dengan mulus di landasan pacu khusus nomor empat. Deru mesin jet perlahan mereda saat pesawat itu berputar menuju pelataran parkir VIP yang terisolasi dari terminal komersial utama.Di dalam kabin jet yang mewah, Su Qingxue duduk dengan anggun di kursi kulit utama. Dia mengenakan mantel panjang berbahan wol kasmir berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kacamata hitam besar. Penampilannya memancarkan aura dingin seorang ratu bisnis dari selatan yang siap menaklukkan wilayah
Tiga hari setelah runtuhnya Keluarga Wang, Kota Jiangnan tampak begitu tenang di permukaan. Namun, di bawah ketenangan itu, arus energi spiritual di kediaman pribadi Su Qingxue—sebuah vila mewah yang berdiri terisolasi di puncak Bukit Wanahening—berada dalam kondisi yang teramat kritis. Vila ini sengaja dipilih karena letaknya yang jauh dari pemukiman warga, dikelilingi oleh formasi hutan pinus alami yang mampu menyamarkan fluktuasi energi berskala besar.Malam itu, jam dinding besar di ruang meditasi bawah tanah menunjukkan pukul sebelas malam. Ruangan yang dilapisi oleh dinding batu giok hitam itu tidak menyalakan lampu satu pun, hanya diterangi oleh pendaran cahaya keemasan yang keluar dari tubuh Chen Fan dan hawa perak kebiruan yang memancar dari tubuh Su Qingxue.Chen Fan duduk bersila di tengah ruangan. Kaus oblongnya telah dilepas, memperlihatkan gurat-gurat otot tubuhnya yang proporsional, dengan tato samar berbentuk naga melingkar di sepanjang tulang belakangnya. Se
Fajar belum sepenuhnya pecah di langit Kota Jiangnan, namun kegelapan malam telah digantikan oleh semburat ungu keperakan yang dingin. Di depan gerbang utama Menara Su Group, aspal jalanan masih basah oleh embun pagi. Suasana yang biasanya sepi sebelum jam kantor dimulai, kini mendadak dicekam oleh keheningan yang teramat janggal.Sebuah sedan hitam mewah bergulung pelan, berhenti tepat di depan undakan marmer menara. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Wang Jiansheng, Kepala Keluarga Wang sekaligus salah satu penguasa bisnis terbesar di Provinsi Jiangnan. Pria paruh baya yang biasanya selalu tampil necis dengan tatapan angkuh itu kini tampak sangat rapuh. Rambutnya berantakan, dan gumpalan kantung mata hitam di wajahnya menceritakan bahwa dia tidak tidur semenit pun sepanjang malam.Di sampingnya, Wang Jue memegangi lengan ayahnya dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Sisa trauma dari amukan energi spiritual Chen Fan semalam telah meruntuhkan seluruh mentalitas putra ma
Riuh rendah perjamuan di Balai Kota Jiangnan perlahan memudar seiring berjalannya malam, namun bagi Chen Fan, pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di bawah pendaran lampu kristal yang mulai meredup, matanya tetap mengunci setiap pergerakan Wang Jue. Sinyal pelacak dari Regu Bayangan Gagak yang menempel di kerah jas pemuda itu berdenyut konstan dalam radar indra spiritual (Divine Sense) milik Chen Fan.Setelah ancaman dingin dari Su Qingxue, Wang Jue memilih untuk tidak melakukan konfrontasi terbuka lagi. Pria muda itu bergerak ke arah ruang privat di lantai dua balai kota, diikuti oleh dua pengawal pribadinya yang berjalan dengan langkah tegap dan waspada."Qingxue," bisik Chen Fan pelan, matanya tidak beralih dari tangga besar menuju lantai dua. "Tetaplah di sini bersama Kapten Zhang. Aku akan membersihkan beberapa lalat pengganggu di atas."Su Qingxue membalikkan tubuhnya, menatap Chen Fan dengan pandangan penuh kepatuhan dan kecemasan yang samar. "Apakah A
Gedung Balai Kota Jiangnan malam itu diselimuti kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula utama memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai marmer impor. Ratusan mobil mewah dari berbagai merek papan atas mengantre panjang di halaman depan, menurunkan para taipan bisnis, pejabat pemerintahan tinggi, hingga tokoh-tokoh berpengaruh dari seluruh penjuru Provinsi Jiangnan.Ini adalah perhelatan tahunan yang menjadi ajang pamer kekuasaan, kekayaan, dan koneksi politik. Di balik dentingan gelas sampanye dan alunan musik klasik yang lembut, transaksi rahasia bernilai miliaran rupiah dinegosiasikan di sudut-sudut ruangan.Di tengah kerumunan elit tersebut, perhatian semua orang mendadak tersedot ke arah pintu masuk utama saat sosok Su Qingxue melangkah masuk.Mengenakan gaun malam formal berwarna merah marun yang pas di tubuh indahnya, CEO wanita dari Su Group itu tampak layaknya seorang ratu yang turun dari singga
Ketenangan di lantai tiga puluh enam Menara Su Group setelah tunduknya sang ratu bisnis Jiangnan tidak serta merta membuat roda takdir berhenti berputar. Sementara Kota Jiangnan menikmati kedamaian semu di bawah perlindungan tak kasat mata dari sang Master Alkemis, di belahan utara negeri—tepatnya di dalam distrik finansial paling eksklusif di ibu kota—sebuah pergerakan rahasia berskala global sedang dikoordinasikan.Menara Tianlong, sebuah mahakarya arsitektur modern setinggi seratus delapan lantai yang dilapisi kaca antipeluru dan baja titanium, berdiri kokoh sebagai simbol kekuasaan finansial dan supranatural tertinggi. Di sinilah markas pusat Tianlong Group berada, sebuah konglomerat raksasa yang tidak hanya menguasai sepertiga perputaran ekonomi negara, melainkan juga memegang kendali atas faksi-faksi kultivasi terselubung di balik bayangan pemerintahan.Di lantai tertinggi menara tersebut, di dalam sebuah ruangan kedap suara yang dijaga ketat oleh puluhan petarung bers







