Share

BAB 9

Author: MasYB
last update publish date: 2026-06-16 20:05:17

Suasana di lokasi proyek pembangunan gedung Su Group mendadak mencekam pada suatu sore. Hari itu, Chen Fan—yang dikenal sebagai Xiao Chen si kuli lugu—baru saja menyelesaikan tugasnya memindahkan tumpukan bata merah yang porsinya lima kali lipat lebih banyak dari pekerja lain.

Keringat membasahi kaos oblongnya yang pudar. Di sudut lapangan, Mandor Lin yang baru tampak sibuk memeriksa cetak biru bangunan, sementara tidak jauh dari sana, Wang—mantan mandor serakah yang kini didegradasi menjadi kuli biasa akibat ketahuan memotong gaji pekerja—sedang merangkak payah memanggul satu karung semen sambil mengumpat nasibnya sendiri.

Chen Fan hanya mengangguk pasrah dengan wajah lugu saat Mandor Lin memberinya instruksi tambahan. "Xiao Chen, rapikan besi siku di sebelah barat itu sebelum pulang, ya."

"Baik, Mandor Lin. Saya kerjakan sekarang," jawab Chen Fan pelan. Di dalam hati, sang Master Alkemis hanya mendengus geli. Dia sengaja menahan diri demi melatih kesabaran mental kultivasinya di dunia fana.

Brak!!! Prankkk!

Tiba-tiba, gerbang seng pembatas proyek dihantam keras dari luar hingga roboh ke tanah beton. Suara hantaman itu mengejutkan seluruh pekerja.

Sebuah mobil jip bak terbuka bersama lima sepeda motor berknalpot bising melesat masuk ke dalam area proyek tanpa memedulikan portal keamanan. Dari atas kendaraan, turunlah sekitar belasan pria berbadan kekar dengan potongan rambut cepak dan pakaian serba hitam. Lengan mereka dipenuhi tato sangar, dan di tangan mereka tergenggam pipa besi, balok kayu, serta beberapa bilah parang panjang yang sengaja diseret di atas tanah, menciptakan suara gesekan yang memekakkan telinga.

Mereka adalah kelompok preman lokal suruhan mafia tanah yang terkenal kejam di wilayah pinggiran Jiangnan.

"Siapa kepala proyek di sini?! Keluar!" teriak sang bos preman, seorang pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam dan bekas luka bacok di pelipisnya. Dia memukulkan pipa besinya ke mesin molen semen hingga menimbulkan suara dentuman keras.

Melihat kedatangan monster-monster jalanan ini, Mandor Lin langsung pucat pasi. Sementara si Wang, mantan mandor yang kini jadi kuli, langsung menjatuhkan karung semennya dan merangkak ketakutan ke balik tumpukan batu bata, sama sekali tidak punya lagi taji seperti saat dia berkuasa dulu.

Dengan lutut gemetaran, Mandor Lin maju sambil membungkuk-bungkuk ketakutan. "A-Ada apa, Tuan-Tuan sekalian? Kalau masalah uang keamanan bulanan... bukankah kami sudah menyetornya minggu lalu?"

Bos preman itu meludah tepat di depan sepatu Mandor Lin. "Uang bulanan itu sudah basi! Mulai hari ini, tarif keamanan di wilayah ini naik tiga kali lipat! Kalau kalian tidak bisa bayar tunai sore ini juga, proyek ini harus dihentikan!"

"Tapi Tuan, kami tidak memegang uang tunai sebanyak itu di lapangan. Semua keuangan diatur oleh kantor pusat Nona Besar Su Qingxue—"

"Persetan dengan Su Qingxue! Di tanah ini, kata-kataku adalah hukum!" bentak bos preman itu murka. Dia menoleh ke arah anak buahnya dan memberi isyarat kejam. "Hancurkan fasilitas mereka! Biar mereka tahu apa akibatnya kalau menunda uang kami!"

"Hajar!!!"

Belasan preman itu langsung bergerak liar. Mereka mulai memukuli panel listrik proyek, memecahkan kaca pos keamanan, dan menendang tumpukan material hingga berantakan. Para pekerja proyek lari berhamburan ketakutan.

"Hei, tua bangka! Keluar kamu!" Seorang preman bertato kalajengking menarik paksa seorang pekerja tua bernama Paman Lao dari dalam barak. Paman Lao adalah kuli paling senior di sana yang sering bersikap ramah dan membagikan bakpao dinginnya kepada Chen Fan.

"Maaf, Tuan... Tolong jangan rusak tempat tinggal kami..." ratap Paman Lao sambil memegangi kakinya yang gemetaran.

Brak!

Preman itu tanpa belas kasihan menendang dada Paman Lao hingga orang tua itu terjungkir ke atas tanah berdebu, batuk-batuk kesakitan. Tidak puas, sang preman mengangkat balok kayunya, bersiap menghantam punggung Paman Lao.

"Mati kamu, tua bangka!"

Dari jarak sepuluh meter, sepasang mata Chen Fan yang tersembunyi di balik poni rambutnya mendadak berkilat dingin. Hawa malas dan keluguan di tubuhnya menguap dalam sekejap. Paman Lao adalah satu dari sedikit manusia fana yang memperlakukannya dengan tulus di kota ini.

‘Manusia-manusia fana berotak udang... kalian benar-benar bosan hidup,’ batin Chen Fan dingin.

Sebelum balok kayu itu mengenai Paman Lao, Chen Fan bergerak secepat kilat menyergap pergelangan tangan sang preman, lalu sengaja menariknya ke arah area reruntuhan bangunan yang sepi di balik proyek untuk dieksekusi tanpa terlihat kamera pengawas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 160

    ​Jejak cahaya keemasan yang ditinggalkan oleh tebasan Pedang Pemusnah Bintang perlahan memudar di tepian terjauh kuadran selatan galaksi. Ruang hampa di sekitar bekas celah dimensi hampa kini kembali bersih, tenang, dan steril dari segala bentuk ancaman purba. Tidak ada lagi sisa-sisa energi hitam kelam, tidak ada lagi lolongan monster dari dimensi luar, dan tidak ada lagi riak-riak anomali yang mampu mengganggu stabilitas tata surya.​Chen Fan melayang tegak di atas lempengan asteroid yang membeku di angkasa hampa. Jubah kekaisaran hitam keemasan dengan sulaman naga primordial yang ia kenakan berkibar perlahan diterpa angin solar yang lembut. Di telapak tangan kanannya, bilah pedang legendaris itu berdengung pelan, memancarkan pendaran emas murni sebelum akhirnya menyatu kembali ke dalam dimensi pribadinya tanpa suara.​Bagi para kultivator tingkat tinggi, dewa-dewa astral, dan penguasa sekte galaksi luar yang mengamati sisa-sisa pertempuran dari kejauhan, apa yang dilakuka

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 161

    ​Matahari pagi kembali menampakkan wujudnya di ufuk timur Kota Jiangnan, menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru kota. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis ke udara, menciptakan suasana kedamaian yang begitu kental dan menenteramkan jiwa.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya mem

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 159

    ​Angin malam berembus pelan membawa kesejukan akhir bulan, menyapu halaman rumput hijau di kompleks Panti Asuhan Kasih Bunda. Di bawah temaram lampu teras yang hangat, suasana terasa begitu damai dan menenangkan. Chen Fan duduk bersandar di kursi kayu jati tua, menyesap perlahan teh hitam hangat di cangkirnya, sementara Lin Ruoxi tampak asyik mengawasi si kecil Chen Ping'an yang sedang belajar merangkak di atas karpet tebal ruang tengah. Tawa renyah balita itu bergema kecil, menciptakan melodi kebahagiaan yang menyapu bersih sisa-sisa kelelahan dari dunia luar.​Namun, di balik ketenangan fana yang menyelimuti bumi itu, indra spiritual tingkat tinggi milik sang Kaisar Alkemis mendadak menangkap pergesekan halus di dimensi tinggi yang melampaui batas pemahaman makhluk biasa.​Jauh di perbatasan paling luar galaksi bima sakti, tepatnya di tubir Dimensi Hampa Tanpa Batas—sebuah wilayah mati tempat hukum fisika, gravitasi, dan waktu kehilangan bentuk aslinya—segel-segel purba pr

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 158

    ​Matahari pagi di akhir Oktober 2026 kembali menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru Kota Jiangnan. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis di udara, menciptakan suasana kedamaian yang begitu kental.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya memancarkan rona kemerahan yang sehat di kuli

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 157

    ​Matahari pagi di penghujung Oktober 2026 kembali menampakkan wujudnya di ufuk timur Kota Jiangnan, menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru kota. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis di udara.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya beberapa waktu lalu masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya memancarkan rona kemerahan ya

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 156

    ​Cahaya keemasan yang terpancar dari bilah Pedang Pemusnah Bintang menerangi kegelapan abadi di pusat Nebula Kuda Terbang, mengubah lautan gas kosmik yang semula kelam menjadi lautan pendar cemerlang yang memantulkan bayangan ribuan bintang. Chen Fan menggenggam gagang pusaka kuno itu dengan tangan kanannya. Getaran liar dari artefak tingkat dewa yang tadinya mengamuk hebat kini telah tunduk sepenuhnya, berdenyut selaras dengan detak jantung sang Kaisar Alkemis. Bagi entitas lain di alam semesta, memiliki senjata legendaris ini berarti memegang kendali atas kehancuran sebuah peradaban; namun bagi Chen Fan, pedang tersebut tidak lebih dari sebilah instrumen sederhana untuk membersihkan sisa-sisa kotoran kosmik yang berani mencemari keharmonisan semesta.​Ia melayangkan pandangannya menembus ruang hampa, melewati jutaan tahun cahaya, hingga kesadaran spiritualnya menyentuh batas luar tata surya bumi. Di sana, di sudut Kota Jiangnan yang tenang, perisai Imperial Absolute Domain ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status