Share

BAB 6

Author: MasYB
last update publish date: 2026-06-14 20:00:09

Suasana di dalam kamar rawat VIP Rumah Sakit Pusat Jiangnan mendadak hening senyap, seolah waktu telah berhenti berputar. Bunyi teratur dari monitor jantung yang kembali normal menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan tersebut.

Su Zhengqi, seorang triliuner yang biasanya tak pernah goyah oleh badai bisnis apa pun, berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka. Air mata yang sempat mengalir di pipinya belum sempat mengering, namun sepasang matanya menatap tak percaya ke arah putri tunggalnya yang baru saja melewati gerbang kematian.

"Qing... Qingxue?" suara Su Zhengqi tercekat di tenggorokan saat dia melangkah mendekati ranjang.

Su Qingxue berkedip pelan. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih dari dinginnya kegelapan maut, namun hawa hangat yang mengalir di dadanya terasa begitu nyata dan nyaman. Tatapannya tertuju pada sepasang mata di depannya—sepasang mata yang sedalam samudra dan setajam pedang, memancarkan aura yang begitu asing namun sangat dominan.

Namun, sebelum Su Qingxue sempat mencerna siapa sosok di depannya, Chen Fan dengan sangat cepat menarik kembali jarinya dari dada sang CEO. Gerakan tubuhnya kembali melar dan membungkuk, sepasang matanya yang tajam langsung meredup, digantikan oleh ekspresi wajah yang panik, canggung, dan penuh keluguan seorang kuli proyek.

"Ah... Syukurlah! Ramuan desa nenek saya ternyata benar-benar manjur!" seru Chen Fan dengan suara yang sengaja dibuat agak cempreng dan gemetar, seolah-olah dia sendiri terkejut dengan keajaiban yang baru saja terjadi. Dia buru-buru memasukkan kembali botol bambu kosongnya ke dalam tas ransel usangnya.

Melihat transformasi instan itu, Tabib Sun hampir saja mengira matanya sendiri sedang bermasalah. Aura agung bak master abadi yang dipancarkan pemuda itu beberapa detik lalu lenyap tanpa bekas, menyisakan sosok kuli bangunan berpakaian pudar yang tampak ketakutan di sudut ruangan.

"Ini... ini tidak mungkin! Keajaiban macam apa ini?!" Tabib Sun berlari mendekati ranjang, mengabaikan Chen Fan, dan langsung memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Su Qingxue.

Begitu jarinya menyentuh kulit Su Qingxue, mata tua Tabib Sun melebar drastis. Hawa es yang biasanya mengamuk menghancurkan meridian wanita itu kini telah mundur sepenuhnya, bersembunyi di sudut terdalam tubuhnya seolah-olah baru saja dihantam oleh kekuatan tirani yang tak tertandingi. Denyut nadinya mengalir dengan sangat kuat, stabil, dan penuh vitalitas.

"Bagaimana bisa...? Cairan apa yang baru saja kamu berikan, hah?!" Tabib Sun berbalik dan menatap Chen Fan dengan pandangan antara tidak percaya, iri, dan serakah. Dia tahu betul bahwa formula obat yang sanggup membalikkan kondisi Defisiensi Yin Mutlak dalam hitungan detik adalah resep suci yang nilainya tak terukur oleh uang!

Chen Fan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum bodoh, dan menjawab dengan logat desa yang kental. "Itu... itu cuma perasan sari rumput liar yang tumbuh di dekat sumur tua desa saya, Tabib Tua. Nenek saya bilang kalau badan kaku karena kedinginan setelah masuk angin di sawah, minum air itu pasti langsung sembuh. Saya tidak tahu kalau ramuan murah itu bisa dipakai di rumah sakit mewah begini."

"Rumput liar katanya?! Kamu—" Tabib Sun hampir saja menyemburkan darah karena geram mendengar penjelasan yang terkesan meremehkan ilmu medisnya tersebut.

"Cukup, Tabib Sun!"

Su Zhengqi memotong perkataan Tabib Sun dengan tegas. Dia tidak peduli apakah itu ramuan desa atau rumput liar; yang dia tahu pasti adalah pemuda di depannya ini baru saja menyelamatkan nyawa putrinya ketika para profesor medis dan tabib terkenal menyerah.

Su Zhengqi menatap Chen Fan dengan pandangan yang sangat rumit. Keangkuhan seorang triliuner di dalam dirinya perlahan mencair, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam terhadap pemuda misterius ini. "Anak muda... siapa namamu?"

"Nama saya Chen Fan, Ketua Su. Orang-orang di proyek biasanya memanggil saya Xiao Chen," jawab Chen Fan sambil menundukkan kepalanya, menunjukkan kepatuhan seorang buruh kecil.

"Chen Fan... Xiao Chen..." Su Zhengqi mengangguk pelan, mengingat nama itu baik-baik di dalam benaknya. Dia kemudian melirik ke arah Direktur Li yang berdiri gemetaran di dekat pintu. "Li, kamu melakukan pekerjaan dengan baik hari ini karena membawa Xiao Chen kemari. Bonus tahunanmu akan digandakan."

Direktur Li yang tadinya mengira karirnya akan hancur dan panti asuhan akan terseret, langsung bernapas lega hingga hampir jatuh terduduk. "Te-Terima kasih banyak, Ketua Su! Terima kasih!"

"Dan untukmu, Xiao Chen..." Su Zhengqi kembali menatap Chen Fan, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan ukiran emas dari saku jasnya dan menyerahkannya kepada Chen Fan. "Ini kartu nama pribadi saya. Siapa pun yang memegang kartu ini di Kota Jiangnan, berarti dia adalah tamu kehormatan Keluarga Su. Mengenai imbalan karena telah menyelamatkan putriku, katakan saja... berapa puluh juta Yuan yang kamu inginkan?"

Mendengar kata "puluhan juta Yuan", mata Direktur Li dan para dokter di ruangan itu langsung berbinar serakah. Itu adalah jumlah uang yang tidak akan pernah bisa dikumpulkan oleh seorang kuli bangunan bahkan jika dia bekerja selama sepuluh kehidupan!

Namun, di luar dugaan semua orang, Chen Fan justru melambaikan kedua tangannya dengan wajah panik dan menolak kartu tersebut dengan sopan.

"Ah! Tidak, tidak, Ketua Su! Saya tidak berani menerima uang sebanyak itu! Nenek saya selalu berpesan, kalau menolong orang tidak boleh meminta imbalan yang aneh-aneh, nanti ramuannya tidak manjur lagi di masa depan," ucap Chen Fan dengan akting keluguan yang sangat alami. "Lagipula, saya hanya kuli bangunan biasa. Membawa uang sebanyak itu justru akan membuat saya tidak bisa tidur nyenyak karena takut dirampok preman."

Su Zhengqi tertegun. Di dunia yang materialistis ini, di mana semua orang rela saling membunuh demi uang, pemuda di depannya ini justru menolak puluhan juta Yuan dengan alasan yang sangat polos. Rasa kagum Su Zhengqi terhadap karakter Chen Fan langsung melonjak drastis.

‘Pemuda ini... meskipun penampilannya miskin dan lugu, tapi hatinya sebersih kristal fana. Dia tidak serakah,’ batin Su Zhengqi dengan penuh rasa hormat. Dia tidak tahu saja bahwa bagi seorang kultivator sakti seperti Chen Fan, uang fana puluhan juta Yuan tidak lebih dari sekadar tumpukan kertas mainan yang tidak bisa membantunya menembus ranah kultivasi berikutnya.

"Baiklah, kalau kamu tidak mau menerima uang itu sekarang, aku tidak akan memaksamu. Tapi simpan kartu nama ini. Dan juga... panti asuhan tempat asalmu tidak akan pernah diganggu oleh siapa pun di kota ini. Aku, Su Zhengqi, yang menjaminnya!" ucap Ketua Su dengan nada penuh otoritas.

"Terima kasih banyak, Ketua Su! Terima kasih!" Chen Fan membungkuk berkali-kali dengan wajah gembira, seolah-olah jaminan untuk panti asuhan adalah hadiah terbesar baginya. Memang benar, jaminan keselamatan panti asuhan dari orang nomor satu di Su Group adalah alasan utama mengapa Chen Fan repot-repot mengeluarkan esensi pilnya hari ini.

"Li, antar Xiao Chen kembali ke tempat kerjanya. Berikan dia libur tiga hari dengan gaji penuh agar dia bisa beristirahat," perintah Su Zhengqi.

"Baik, Ketua Su!"

Chen Fan melirik sekali lagi ke arah Su Qingxue yang kini sedang dibantu minum oleh perawat. Wanita itu masih menatap ke arahnya dengan pandangan yang penuh tanda tanya dan kecurigaan yang mendalam. Chen Fan tersenyum lugu ke arah sang CEO sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar ruangan mengikuti Direktur Li.

‘Su Qingxue... energi Yang-ku yang tersisa di dadamu hanya bisa menahan hawa es itu selama satu bulan. Dalam waktu tiga puluh hari, kamu pasti akan datang mencariku sendiri untuk memohon bantuan kultivasi ganda,’ batin Chen Fan penuh kemenangan saat pintu lift tertutup.

Sementara itu, di lokasi proyek pembangunan gedung Su Group di pinggiran Kota Jiangnan.

Siang hari yang terik membuat udara terasa sangat membakar. Mandor Wang duduk di dalam kantor direksinya yang ber-AC sambil menikmati segelas es teh manis dan menghitung lembaran uang hasil pemotongan gaji para kuli hari ini. Di atas mejanya, terdapat daftar nama pekerja kasar, dan nama "Xiao Chen" dicoret dengan tinta merah yang tebal.

"Cih, dasar anak haram sialan," gumam Mandor Wang sambil meludah ke lantai lantai keramik kantornya. "Gara-gara kerjanya yang jorok kemarin, aku hampir saja kena semprot Direktur Li. Jam segini dia belum kembali dari rumah sakit... Pasti sudah diseret ke kantor polisi atau dipukuli sampai mati oleh pengawal Keluarga Su."

Mandor Wang tersenyum licik. Di dalam laci mejanya, masih ada sisa upah milik Chen Fan selama dua minggu terakhir yang belum dibayarkan, total sekitar satu juta Rupiah (jika dikonversikan dari mata uang lokal proyek). "Karena dia sudah mampus, uang sisa gajinya ini resmi jadi milikku untuk taruhan judi bola malam nanti! Lumayan!"

Tepat saat Mandor Wang sedang tertawa senang membayangkan uang haram tersebut, pintu kantor direksi tiba-tiba dibuka dari luar dengan sangat keras.

Brak!

Mandor Wang tersedak es teh manisnya dan langsung berdiri dengan marah. "Siapa yang berani—"

Kata-katanya langsung tertelan kembali ke dalam tenggorokan ketika dia melihat siapa yang melangkah masuk. Pria berjas abu-abu yang mengikutinya dengan wajah penuh senyum ramah adalah Direktur Li! Dan di samping Direktur Li, berjalan seorang pemuda berpakaian singlet pudar dan bercelana penuh noda semen... Chen Fan!

"Di-Direktur Li?! Anda sudah kembali?" Mandor Wang buru-buru memasang wajah menjilat, namun matanya menatap Chen Fan dengan pandangan tidak percaya. ‘Kenapa bocah ini bisa kembali hidup-hidup?! Dan kenapa pakaiannya tidak ada bekas pukulan sedikit pun?!’

Direktur Li tidak membalas sapaan Mandor Wang dengan ramah. Sebaliknya, wajah Direktur Li langsung berubah menjadi sangat dingin dan tegas begitu menatap Mandor Wang.

"Wang! Berlutut!" bentak Direktur Li dengan suara menggelegar.

Mandor Wang gemetaran, lututnya langsung lemas. "Ma-Maaf, Direktur Li? Kenapa saya harus berlutut? Apa salah saya? Apakah bocah kuli sialan ini membuat masalah lagi di rumah sakit?!" Mandor Wang menunjuk Chen Fan dengan jari gemuknya yang gemetar.

"Kurang ajar! Kamu masih berani menghina Adik Chen?!"

Direktur Li maju satu langkah dan langsung melayangkan tamparan keras tepat ke wajah berminyak Mandor Wang.

Plak!!!

Tamparan itu begitu kuat hingga membuat tubuh tambun Mandor Wang terhuyung dan menabrak meja kerjanya, membuat gelas es teh manisnya pecah berantakan di lantai. Mandor Wang memegangi pipinya yang langsung membengkak merah, matanya dipenuhi rasa syok dan ketakutan yang amat sangat.

"Di-Direktur Li... kenapa Anda memukul saya...?" ratap Mandor Wang dengan suara merengek.

"Kenapa aku memukulmu?! Karena kamu adalah sampah serakah yang hampir membuatku dan seluruh proyek ini hancur!" teriak Direktur Li dengan napas memburu. "Kamu tahu siapa Adik Chen Fan ini?! Dia adalah Penyelamat Nyawa Nona Besar Su! Ramuan tradisional milik Adik Chen baru saja membangkitkan Nona Su dari koma maut ketika semua dokter menyerah! Ketua Su sendiri yang memberikan jaminan kehormatan kepadanya!"

DEG!!!

Mendengar kata-kata "Penyelamat Nyawa Nona Besar Su" dan "Jaminan Kehormatan Ketua Su", pikiran Mandor Wang mendadak kosong. Kepalanya terasa seperti dihantam oleh gada besi raksasa. Seluruh tubuhnya gemetaran hebat hingga keringat dingin mengucur deras membasahi kemeja safarinya.

Dia menoleh dengan kaku ke arah Chen Fan.

Pemuda berpakaian lusuh itu masih berdiri di sana dengan kepala yang sedikit tertunduk dan senyum lugu yang terkesan tak berdaya. Namun, di mata Mandor Wang saat ini, senyum lugu itu tidak lagi terlihat bodoh. Sebaliknya, itu terlihat seperti senyuman seorang malaikat pencabut nyawa yang sedang menatap seekor semut di bawah sepatunya.

"Wang," Direktur Li berkata dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Mulai hari ini, jabatanmu sebagai mandor proyek resmi dicopot! Seluruh aset dan bonusmu di perusahaan ini dibekukan untuk penyelidikan korupsi pemotongan gaji kuli! Dan sekarang... berlututlah di depan Adik Chen Fan dan mohon ampunan darinya! Jika Adik Chen tidak memaafkanmu hari ini, aku pastikan kamu tidak akan bisa melihat matahari esok hari di Kota Jiangnan!"

Mandor Wang tidak lagi memiliki sisa keangkuhan sedikit pun. Ketakutan yang teramat sangat merenggut seluruh energinya. Dengan suara tangisan yang pecah, pria tambun itu merangkak di atas pecahan kaca dan tumpahan es teh manis di lantai, lalu bersujud di depan sepasang sepatu bot kuli milik Chen Fan yang dipenuhi debu semen.

"Xiao Chen... tidak! Master Chen! Saya salah! Saya mata duitan! Saya anjing yang tidak punya mata karena telah menindas Anda selama ini!" Mandor Wang memukul-mukul wajahnya sendiri dengan keras hingga hidungnya berdarah. "Tolong ampuni saya, Master Chen! Tolong bicarakan dengan Direktur Li agar tidak memenjarakan saya! Saya punya anak dan istri yang harus diberi makan! Tolong belas kasihan Anda yang lugu, Master Chen!!!"

Chen Fan menatap kepala Mandor Wang yang terus membentur lantai semen dengan pandangan yang sangat datar dan dingin di balik poni rambutnya. Di dalam hatinya, Chen Fan sama sekali tidak merasakan kasihan. Jika bukan karena dia seorang kultivator yang harus menjaga penyamaran fana, Mandor Wang sudah lama dia ubah menjadi pupuk tanaman di panti asuhan.

Namun, untuk menjaga aktingnya di depan Direktur Li, Chen Fan langsung memasang wajah panik dan buru-buru berjongkok untuk memegang pundak Mandor Wang yang gemetaran.

"A-Aduh, Mandor Wang! Jangan begini! Berdirilah! Saya tidak berani menerima sujud dari Anda!" ucap Chen Fan dengan suara yang dibuat cemas dan gugup. Dia menoleh ke arah Direktur Li dengan pandangan memohon. "Direktur Li... Mandor Wang sebenarnya orang baik, dia hanya agak tegas saat mendidik saya kerja. Tolong jangan pecat dia atau memenjarakannya... Saya sudah memaafkannya kok. Lagipula, saya tidak ingin panti asuhan saya mendapat sial karena membuat orang lain kehilangan pekerjaan."

Mendengar kata-kata Chen Fan yang begitu "pemaaf dan suci", Direktur Li langsung mendesah kagum di dalam hatinya. ‘Adik Chen Fan ini benar-benar seorang pemuda yang luar biasa jujur dan berhati mulia! Sudah ditindas sedemikian rupa, masih saja memikirkan nasib keluarga orang yang menindasnya!’

Direktur Li tidak tahu saja bahwa Chen Fan sengaja membiarkan Mandor Wang bebas dari penjara agar pria serakah itu tetap berada di luar, menjadi pion yang bisa dia manfaatkan atau hancurkan dengan cara yang lebih kejam secara perlahan di masa depan tanpa menarik perhatian publik.

"Baiklah! Karena Adik Chen yang berhati besar memohon untukmu, aku tidak akan menjebloskanmu ke penjara hari ini!" Direktur Li mendengus ke arah Mandor Wang. "Tapi kamu diturunkan pangkat menjadi kuli panggul biasa di proyek ini! Mulai besok, kamu yang harus memanggul semen menggantikan posisi Adik Chen! Dan seluruh sisa gaji Adik Chen yang kamu tahan harus dikembalikan sepuluh kali lipat saat ini juga!"

"I-Iya! Baik, Direktur Li! Terima kasih, Master Chen! Terima kasih!" Mandor Wang menangis tersedu-sedu, buru-buru mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan seluruh uang tunai yang ada di dalamnya—sekitar sepuluh lembar uang pecahan besar—kepada Chen Fan dengan tangan yang gemetar.

Chen Fan menerima uang itu dengan senyum lugu yang sangat lebar. "Terima kasih, Mandor Wang. Eh, maksud saya, Rekan Kerja Wang. Besok kita panggul semen sama-sama ya!"

Mendengar kata-kata itu, Mandor Wang hampir saja pingsan karena menahan rasa malu dan ketakutan yang mendalam. Kuli yang selama ini dia injak-injak, kini telah bertransformasi menjadi sosok terhormat yang berada di atas kepalanya hanya dalam waktu setengah hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 160

    ​Jejak cahaya keemasan yang ditinggalkan oleh tebasan Pedang Pemusnah Bintang perlahan memudar di tepian terjauh kuadran selatan galaksi. Ruang hampa di sekitar bekas celah dimensi hampa kini kembali bersih, tenang, dan steril dari segala bentuk ancaman purba. Tidak ada lagi sisa-sisa energi hitam kelam, tidak ada lagi lolongan monster dari dimensi luar, dan tidak ada lagi riak-riak anomali yang mampu mengganggu stabilitas tata surya.​Chen Fan melayang tegak di atas lempengan asteroid yang membeku di angkasa hampa. Jubah kekaisaran hitam keemasan dengan sulaman naga primordial yang ia kenakan berkibar perlahan diterpa angin solar yang lembut. Di telapak tangan kanannya, bilah pedang legendaris itu berdengung pelan, memancarkan pendaran emas murni sebelum akhirnya menyatu kembali ke dalam dimensi pribadinya tanpa suara.​Bagi para kultivator tingkat tinggi, dewa-dewa astral, dan penguasa sekte galaksi luar yang mengamati sisa-sisa pertempuran dari kejauhan, apa yang dilakuka

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 161

    ​Matahari pagi kembali menampakkan wujudnya di ufuk timur Kota Jiangnan, menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru kota. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis ke udara, menciptakan suasana kedamaian yang begitu kental dan menenteramkan jiwa.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya mem

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 159

    ​Angin malam berembus pelan membawa kesejukan akhir bulan, menyapu halaman rumput hijau di kompleks Panti Asuhan Kasih Bunda. Di bawah temaram lampu teras yang hangat, suasana terasa begitu damai dan menenangkan. Chen Fan duduk bersandar di kursi kayu jati tua, menyesap perlahan teh hitam hangat di cangkirnya, sementara Lin Ruoxi tampak asyik mengawasi si kecil Chen Ping'an yang sedang belajar merangkak di atas karpet tebal ruang tengah. Tawa renyah balita itu bergema kecil, menciptakan melodi kebahagiaan yang menyapu bersih sisa-sisa kelelahan dari dunia luar.​Namun, di balik ketenangan fana yang menyelimuti bumi itu, indra spiritual tingkat tinggi milik sang Kaisar Alkemis mendadak menangkap pergesekan halus di dimensi tinggi yang melampaui batas pemahaman makhluk biasa.​Jauh di perbatasan paling luar galaksi bima sakti, tepatnya di tubir Dimensi Hampa Tanpa Batas—sebuah wilayah mati tempat hukum fisika, gravitasi, dan waktu kehilangan bentuk aslinya—segel-segel purba pr

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 158

    ​Matahari pagi di akhir Oktober 2026 kembali menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru Kota Jiangnan. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis di udara, menciptakan suasana kedamaian yang begitu kental.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya memancarkan rona kemerahan yang sehat di kuli

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 157

    ​Matahari pagi di penghujung Oktober 2026 kembali menampakkan wujudnya di ufuk timur Kota Jiangnan, menyapukan bias cahaya keemasan yang hangat dan menyegarkan ke seluruh penjuru kota. Embun pagi tampak berkilauan bagaikan jutaan butir berlian kecil yang menempel di ujung-ujung daun pohon mangga serta bilah-bilah rumput hijau di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Udara pagi musim gugur berembus pelan, membawa aroma harum tanah basah yang berpadu dengan wangi masakan rumahan dari dapur yayasan yang mengepulkan asap tipis di udara.​Di dalam kamar lantai dua, Lin Ruoxi mengerjap perlahan, terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang luar biasa bugar dan damai. Sisa-sisa gelombang energi spiritual dari teknik Kultivasi Ganda yang ia lakukan bersama suaminya beberapa waktu lalu masih mengalir lembut di dalam meridian tubuhnya, membuat setiap inci aliran darah dan pernapasannya terasa sangat ringan. Pendaran alami dari Tubuh Yin Kayu Giok di dalam dirinya memancarkan rona kemerahan ya

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 156

    ​Cahaya keemasan yang terpancar dari bilah Pedang Pemusnah Bintang menerangi kegelapan abadi di pusat Nebula Kuda Terbang, mengubah lautan gas kosmik yang semula kelam menjadi lautan pendar cemerlang yang memantulkan bayangan ribuan bintang. Chen Fan menggenggam gagang pusaka kuno itu dengan tangan kanannya. Getaran liar dari artefak tingkat dewa yang tadinya mengamuk hebat kini telah tunduk sepenuhnya, berdenyut selaras dengan detak jantung sang Kaisar Alkemis. Bagi entitas lain di alam semesta, memiliki senjata legendaris ini berarti memegang kendali atas kehancuran sebuah peradaban; namun bagi Chen Fan, pedang tersebut tidak lebih dari sebilah instrumen sederhana untuk membersihkan sisa-sisa kotoran kosmik yang berani mencemari keharmonisan semesta.​Ia melayangkan pandangannya menembus ruang hampa, melewati jutaan tahun cahaya, hingga kesadaran spiritualnya menyentuh batas luar tata surya bumi. Di sana, di sudut Kota Jiangnan yang tenang, perisai Imperial Absolute Domain ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status