Mag-log inSuasana di dalam kamar rawat VIP Rumah Sakit Pusat Jiangnan mendadak hening senyap, seolah waktu telah berhenti berputar. Bunyi teratur dari monitor jantung yang kembali normal menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan tersebut.
Su Zhengqi, seorang triliuner yang biasanya tak pernah goyah oleh badai bisnis apa pun, berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka. Air mata yang sempat mengalir di pipinya belum sempat mengering, namun sepasang matanya menatap tak percaya ke arah putri tunggalnya yang baru saja melewati gerbang kematian. "Qing... Qingxue?" suara Su Zhengqi tercekat di tenggorokan saat dia melangkah mendekati ranjang. Su Qingxue berkedip pelan. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih dari dinginnya kegelapan maut, namun hawa hangat yang mengalir di dadanya terasa begitu nyata dan nyaman. Tatapannya tertuju pada sepasang mata di depannya—sepasang mata yang sedalam samudra dan setajam pedang, memancarkan aura yang begitu asing namun sangat dominan. Namun, sebelum Su Qingxue sempat mencerna siapa sosok di depannya, Chen Fan dengan sangat cepat menarik kembali jarinya dari dada sang CEO. Gerakan tubuhnya kembali melar dan membungkuk, sepasang matanya yang tajam langsung meredup, digantikan oleh ekspresi wajah yang panik, canggung, dan penuh keluguan seorang kuli proyek. "Ah... Syukurlah! Ramuan desa nenek saya ternyata benar-benar manjur!" seru Chen Fan dengan suara yang sengaja dibuat agak cempreng dan gemetar, seolah-olah dia sendiri terkejut dengan keajaiban yang baru saja terjadi. Dia buru-buru memasukkan kembali botol bambu kosongnya ke dalam tas ransel usangnya. Melihat transformasi instan itu, Tabib Sun hampir saja mengira matanya sendiri sedang bermasalah. Aura agung bak master abadi yang dipancarkan pemuda itu beberapa detik lalu lenyap tanpa bekas, menyisakan sosok kuli bangunan berpakaian pudar yang tampak ketakutan di sudut ruangan. "Ini... ini tidak mungkin! Keajaiban macam apa ini?!" Tabib Sun berlari mendekati ranjang, mengabaikan Chen Fan, dan langsung memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Su Qingxue. Begitu jarinya menyentuh kulit Su Qingxue, mata tua Tabib Sun melebar drastis. Hawa es yang biasanya mengamuk menghancurkan meridian wanita itu kini telah mundur sepenuhnya, bersembunyi di sudut terdalam tubuhnya seolah-olah baru saja dihantam oleh kekuatan tirani yang tak tertandingi. Denyut nadinya mengalir dengan sangat kuat, stabil, dan penuh vitalitas. "Bagaimana bisa...? Cairan apa yang baru saja kamu berikan, hah?!" Tabib Sun berbalik dan menatap Chen Fan dengan pandangan antara tidak percaya, iri, dan serakah. Dia tahu betul bahwa formula obat yang sanggup membalikkan kondisi Defisiensi Yin Mutlak dalam hitungan detik adalah resep suci yang nilainya tak terukur oleh uang! Chen Fan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum bodoh, dan menjawab dengan logat desa yang kental. "Itu... itu cuma perasan sari rumput liar yang tumbuh di dekat sumur tua desa saya, Tabib Tua. Nenek saya bilang kalau badan kaku karena kedinginan setelah masuk angin di sawah, minum air itu pasti langsung sembuh. Saya tidak tahu kalau ramuan murah itu bisa dipakai di rumah sakit mewah begini." "Rumput liar katanya?! Kamu—" Tabib Sun hampir saja menyemburkan darah karena geram mendengar penjelasan yang terkesan meremehkan ilmu medisnya tersebut. "Cukup, Tabib Sun!" Su Zhengqi memotong perkataan Tabib Sun dengan tegas. Dia tidak peduli apakah itu ramuan desa atau rumput liar; yang dia tahu pasti adalah pemuda di depannya ini baru saja menyelamatkan nyawa putrinya ketika para profesor medis dan tabib terkenal menyerah. Su Zhengqi menatap Chen Fan dengan pandangan yang sangat rumit. Keangkuhan seorang triliuner di dalam dirinya perlahan mencair, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam terhadap pemuda misterius ini. "Anak muda... siapa namamu?" "Nama saya Chen Fan, Ketua Su. Orang-orang di proyek biasanya memanggil saya Xiao Chen," jawab Chen Fan sambil menundukkan kepalanya, menunjukkan kepatuhan seorang buruh kecil. "Chen Fan... Xiao Chen..." Su Zhengqi mengangguk pelan, mengingat nama itu baik-baik di dalam benaknya. Dia kemudian melirik ke arah Direktur Li yang berdiri gemetaran di dekat pintu. "Li, kamu melakukan pekerjaan dengan baik hari ini karena membawa Xiao Chen kemari. Bonus tahunanmu akan digandakan." Direktur Li yang tadinya mengira karirnya akan hancur dan panti asuhan akan terseret, langsung bernapas lega hingga hampir jatuh terduduk. "Te-Terima kasih banyak, Ketua Su! Terima kasih!" "Dan untukmu, Xiao Chen..." Su Zhengqi kembali menatap Chen Fan, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan ukiran emas dari saku jasnya dan menyerahkannya kepada Chen Fan. "Ini kartu nama pribadi saya. Siapa pun yang memegang kartu ini di Kota Jiangnan, berarti dia adalah tamu kehormatan Keluarga Su. Mengenai imbalan karena telah menyelamatkan putriku, katakan saja... berapa puluh juta Yuan yang kamu inginkan?" Mendengar kata "puluhan juta Yuan", mata Direktur Li dan para dokter di ruangan itu langsung berbinar serakah. Itu adalah jumlah uang yang tidak akan pernah bisa dikumpulkan oleh seorang kuli bangunan bahkan jika dia bekerja selama sepuluh kehidupan! Namun, di luar dugaan semua orang, Chen Fan justru melambaikan kedua tangannya dengan wajah panik dan menolak kartu tersebut dengan sopan. "Ah! Tidak, tidak, Ketua Su! Saya tidak berani menerima uang sebanyak itu! Nenek saya selalu berpesan, kalau menolong orang tidak boleh meminta imbalan yang aneh-aneh, nanti ramuannya tidak manjur lagi di masa depan," ucap Chen Fan dengan akting keluguan yang sangat alami. "Lagipula, saya hanya kuli bangunan biasa. Membawa uang sebanyak itu justru akan membuat saya tidak bisa tidur nyenyak karena takut dirampok preman." Su Zhengqi tertegun. Di dunia yang materialistis ini, di mana semua orang rela saling membunuh demi uang, pemuda di depannya ini justru menolak puluhan juta Yuan dengan alasan yang sangat polos. Rasa kagum Su Zhengqi terhadap karakter Chen Fan langsung melonjak drastis. ‘Pemuda ini... meskipun penampilannya miskin dan lugu, tapi hatinya sebersih kristal fana. Dia tidak serakah,’ batin Su Zhengqi dengan penuh rasa hormat. Dia tidak tahu saja bahwa bagi seorang kultivator sakti seperti Chen Fan, uang fana puluhan juta Yuan tidak lebih dari sekadar tumpukan kertas mainan yang tidak bisa membantunya menembus ranah kultivasi berikutnya. "Baiklah, kalau kamu tidak mau menerima uang itu sekarang, aku tidak akan memaksamu. Tapi simpan kartu nama ini. Dan juga... panti asuhan tempat asalmu tidak akan pernah diganggu oleh siapa pun di kota ini. Aku, Su Zhengqi, yang menjaminnya!" ucap Ketua Su dengan nada penuh otoritas. "Terima kasih banyak, Ketua Su! Terima kasih!" Chen Fan membungkuk berkali-kali dengan wajah gembira, seolah-olah jaminan untuk panti asuhan adalah hadiah terbesar baginya. Memang benar, jaminan keselamatan panti asuhan dari orang nomor satu di Su Group adalah alasan utama mengapa Chen Fan repot-repot mengeluarkan esensi pilnya hari ini. "Li, antar Xiao Chen kembali ke tempat kerjanya. Berikan dia libur tiga hari dengan gaji penuh agar dia bisa beristirahat," perintah Su Zhengqi. "Baik, Ketua Su!" Chen Fan melirik sekali lagi ke arah Su Qingxue yang kini sedang dibantu minum oleh perawat. Wanita itu masih menatap ke arahnya dengan pandangan yang penuh tanda tanya dan kecurigaan yang mendalam. Chen Fan tersenyum lugu ke arah sang CEO sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar ruangan mengikuti Direktur Li. ‘Su Qingxue... energi Yang-ku yang tersisa di dadamu hanya bisa menahan hawa es itu selama satu bulan. Dalam waktu tiga puluh hari, kamu pasti akan datang mencariku sendiri untuk memohon bantuan kultivasi ganda,’ batin Chen Fan penuh kemenangan saat pintu lift tertutup. Sementara itu, di lokasi proyek pembangunan gedung Su Group di pinggiran Kota Jiangnan. Siang hari yang terik membuat udara terasa sangat membakar. Mandor Wang duduk di dalam kantor direksinya yang ber-AC sambil menikmati segelas es teh manis dan menghitung lembaran uang hasil pemotongan gaji para kuli hari ini. Di atas mejanya, terdapat daftar nama pekerja kasar, dan nama "Xiao Chen" dicoret dengan tinta merah yang tebal. "Cih, dasar anak haram sialan," gumam Mandor Wang sambil meludah ke lantai lantai keramik kantornya. "Gara-gara kerjanya yang jorok kemarin, aku hampir saja kena semprot Direktur Li. Jam segini dia belum kembali dari rumah sakit... Pasti sudah diseret ke kantor polisi atau dipukuli sampai mati oleh pengawal Keluarga Su." Mandor Wang tersenyum licik. Di dalam laci mejanya, masih ada sisa upah milik Chen Fan selama dua minggu terakhir yang belum dibayarkan, total sekitar satu juta Rupiah (jika dikonversikan dari mata uang lokal proyek). "Karena dia sudah mampus, uang sisa gajinya ini resmi jadi milikku untuk taruhan judi bola malam nanti! Lumayan!" Tepat saat Mandor Wang sedang tertawa senang membayangkan uang haram tersebut, pintu kantor direksi tiba-tiba dibuka dari luar dengan sangat keras. Brak! Mandor Wang tersedak es teh manisnya dan langsung berdiri dengan marah. "Siapa yang berani—" Kata-katanya langsung tertelan kembali ke dalam tenggorokan ketika dia melihat siapa yang melangkah masuk. Pria berjas abu-abu yang mengikutinya dengan wajah penuh senyum ramah adalah Direktur Li! Dan di samping Direktur Li, berjalan seorang pemuda berpakaian singlet pudar dan bercelana penuh noda semen... Chen Fan! "Di-Direktur Li?! Anda sudah kembali?" Mandor Wang buru-buru memasang wajah menjilat, namun matanya menatap Chen Fan dengan pandangan tidak percaya. ‘Kenapa bocah ini bisa kembali hidup-hidup?! Dan kenapa pakaiannya tidak ada bekas pukulan sedikit pun?!’ Direktur Li tidak membalas sapaan Mandor Wang dengan ramah. Sebaliknya, wajah Direktur Li langsung berubah menjadi sangat dingin dan tegas begitu menatap Mandor Wang. "Wang! Berlutut!" bentak Direktur Li dengan suara menggelegar. Mandor Wang gemetaran, lututnya langsung lemas. "Ma-Maaf, Direktur Li? Kenapa saya harus berlutut? Apa salah saya? Apakah bocah kuli sialan ini membuat masalah lagi di rumah sakit?!" Mandor Wang menunjuk Chen Fan dengan jari gemuknya yang gemetar. "Kurang ajar! Kamu masih berani menghina Adik Chen?!" Direktur Li maju satu langkah dan langsung melayangkan tamparan keras tepat ke wajah berminyak Mandor Wang. Plak!!! Tamparan itu begitu kuat hingga membuat tubuh tambun Mandor Wang terhuyung dan menabrak meja kerjanya, membuat gelas es teh manisnya pecah berantakan di lantai. Mandor Wang memegangi pipinya yang langsung membengkak merah, matanya dipenuhi rasa syok dan ketakutan yang amat sangat. "Di-Direktur Li... kenapa Anda memukul saya...?" ratap Mandor Wang dengan suara merengek. "Kenapa aku memukulmu?! Karena kamu adalah sampah serakah yang hampir membuatku dan seluruh proyek ini hancur!" teriak Direktur Li dengan napas memburu. "Kamu tahu siapa Adik Chen Fan ini?! Dia adalah Penyelamat Nyawa Nona Besar Su! Ramuan tradisional milik Adik Chen baru saja membangkitkan Nona Su dari koma maut ketika semua dokter menyerah! Ketua Su sendiri yang memberikan jaminan kehormatan kepadanya!" DEG!!! Mendengar kata-kata "Penyelamat Nyawa Nona Besar Su" dan "Jaminan Kehormatan Ketua Su", pikiran Mandor Wang mendadak kosong. Kepalanya terasa seperti dihantam oleh gada besi raksasa. Seluruh tubuhnya gemetaran hebat hingga keringat dingin mengucur deras membasahi kemeja safarinya. Dia menoleh dengan kaku ke arah Chen Fan. Pemuda berpakaian lusuh itu masih berdiri di sana dengan kepala yang sedikit tertunduk dan senyum lugu yang terkesan tak berdaya. Namun, di mata Mandor Wang saat ini, senyum lugu itu tidak lagi terlihat bodoh. Sebaliknya, itu terlihat seperti senyuman seorang malaikat pencabut nyawa yang sedang menatap seekor semut di bawah sepatunya. "Wang," Direktur Li berkata dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Mulai hari ini, jabatanmu sebagai mandor proyek resmi dicopot! Seluruh aset dan bonusmu di perusahaan ini dibekukan untuk penyelidikan korupsi pemotongan gaji kuli! Dan sekarang... berlututlah di depan Adik Chen Fan dan mohon ampunan darinya! Jika Adik Chen tidak memaafkanmu hari ini, aku pastikan kamu tidak akan bisa melihat matahari esok hari di Kota Jiangnan!" Mandor Wang tidak lagi memiliki sisa keangkuhan sedikit pun. Ketakutan yang teramat sangat merenggut seluruh energinya. Dengan suara tangisan yang pecah, pria tambun itu merangkak di atas pecahan kaca dan tumpahan es teh manis di lantai, lalu bersujud di depan sepasang sepatu bot kuli milik Chen Fan yang dipenuhi debu semen. "Xiao Chen... tidak! Master Chen! Saya salah! Saya mata duitan! Saya anjing yang tidak punya mata karena telah menindas Anda selama ini!" Mandor Wang memukul-mukul wajahnya sendiri dengan keras hingga hidungnya berdarah. "Tolong ampuni saya, Master Chen! Tolong bicarakan dengan Direktur Li agar tidak memenjarakan saya! Saya punya anak dan istri yang harus diberi makan! Tolong belas kasihan Anda yang lugu, Master Chen!!!" Chen Fan menatap kepala Mandor Wang yang terus membentur lantai semen dengan pandangan yang sangat datar dan dingin di balik poni rambutnya. Di dalam hatinya, Chen Fan sama sekali tidak merasakan kasihan. Jika bukan karena dia seorang kultivator yang harus menjaga penyamaran fana, Mandor Wang sudah lama dia ubah menjadi pupuk tanaman di panti asuhan. Namun, untuk menjaga aktingnya di depan Direktur Li, Chen Fan langsung memasang wajah panik dan buru-buru berjongkok untuk memegang pundak Mandor Wang yang gemetaran. "A-Aduh, Mandor Wang! Jangan begini! Berdirilah! Saya tidak berani menerima sujud dari Anda!" ucap Chen Fan dengan suara yang dibuat cemas dan gugup. Dia menoleh ke arah Direktur Li dengan pandangan memohon. "Direktur Li... Mandor Wang sebenarnya orang baik, dia hanya agak tegas saat mendidik saya kerja. Tolong jangan pecat dia atau memenjarakannya... Saya sudah memaafkannya kok. Lagipula, saya tidak ingin panti asuhan saya mendapat sial karena membuat orang lain kehilangan pekerjaan." Mendengar kata-kata Chen Fan yang begitu "pemaaf dan suci", Direktur Li langsung mendesah kagum di dalam hatinya. ‘Adik Chen Fan ini benar-benar seorang pemuda yang luar biasa jujur dan berhati mulia! Sudah ditindas sedemikian rupa, masih saja memikirkan nasib keluarga orang yang menindasnya!’ Direktur Li tidak tahu saja bahwa Chen Fan sengaja membiarkan Mandor Wang bebas dari penjara agar pria serakah itu tetap berada di luar, menjadi pion yang bisa dia manfaatkan atau hancurkan dengan cara yang lebih kejam secara perlahan di masa depan tanpa menarik perhatian publik. "Baiklah! Karena Adik Chen yang berhati besar memohon untukmu, aku tidak akan menjebloskanmu ke penjara hari ini!" Direktur Li mendengus ke arah Mandor Wang. "Tapi kamu diturunkan pangkat menjadi kuli panggul biasa di proyek ini! Mulai besok, kamu yang harus memanggul semen menggantikan posisi Adik Chen! Dan seluruh sisa gaji Adik Chen yang kamu tahan harus dikembalikan sepuluh kali lipat saat ini juga!" "I-Iya! Baik, Direktur Li! Terima kasih, Master Chen! Terima kasih!" Mandor Wang menangis tersedu-sedu, buru-buru mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan seluruh uang tunai yang ada di dalamnya—sekitar sepuluh lembar uang pecahan besar—kepada Chen Fan dengan tangan yang gemetar. Chen Fan menerima uang itu dengan senyum lugu yang sangat lebar. "Terima kasih, Mandor Wang. Eh, maksud saya, Rekan Kerja Wang. Besok kita panggul semen sama-sama ya!" Mendengar kata-kata itu, Mandor Wang hampir saja pingsan karena menahan rasa malu dan ketakutan yang mendalam. Kuli yang selama ini dia injak-injak, kini telah bertransformasi menjadi sosok terhormat yang berada di atas kepalanya hanya dalam waktu setengah hari.Langit di atas Bandara Internasional Ibu Kota pagi itu tampak diselimuti oleh lapisan awan mendung tipis yang kelabu. Angin utara yang kering berembus kencang di sepanjang landasan pacu, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kompleks penerbangan privat sektor barat, yang biasanya hanya dilintasi oleh para diplomat asing atau menteri kabinet, kini tampak dijaga oleh puluhan personel keamanan berseragam hitam tanpa atribut resmi.Sebuah jet pribadi berlogo Su Group membelah awan, melakukan pendaratan dengan mulus di landasan pacu khusus nomor empat. Deru mesin jet perlahan mereda saat pesawat itu berputar menuju pelataran parkir VIP yang terisolasi dari terminal komersial utama.Di dalam kabin jet yang mewah, Su Qingxue duduk dengan anggun di kursi kulit utama. Dia mengenakan mantel panjang berbahan wol kasmir berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kacamata hitam besar. Penampilannya memancarkan aura dingin seorang ratu bisnis dari selatan yang siap menaklukkan wilayah
Tiga hari setelah runtuhnya Keluarga Wang, Kota Jiangnan tampak begitu tenang di permukaan. Namun, di bawah ketenangan itu, arus energi spiritual di kediaman pribadi Su Qingxue—sebuah vila mewah yang berdiri terisolasi di puncak Bukit Wanahening—berada dalam kondisi yang teramat kritis. Vila ini sengaja dipilih karena letaknya yang jauh dari pemukiman warga, dikelilingi oleh formasi hutan pinus alami yang mampu menyamarkan fluktuasi energi berskala besar.Malam itu, jam dinding besar di ruang meditasi bawah tanah menunjukkan pukul sebelas malam. Ruangan yang dilapisi oleh dinding batu giok hitam itu tidak menyalakan lampu satu pun, hanya diterangi oleh pendaran cahaya keemasan yang keluar dari tubuh Chen Fan dan hawa perak kebiruan yang memancar dari tubuh Su Qingxue.Chen Fan duduk bersila di tengah ruangan. Kaus oblongnya telah dilepas, memperlihatkan gurat-gurat otot tubuhnya yang proporsional, dengan tato samar berbentuk naga melingkar di sepanjang tulang belakangnya. Se
Fajar belum sepenuhnya pecah di langit Kota Jiangnan, namun kegelapan malam telah digantikan oleh semburat ungu keperakan yang dingin. Di depan gerbang utama Menara Su Group, aspal jalanan masih basah oleh embun pagi. Suasana yang biasanya sepi sebelum jam kantor dimulai, kini mendadak dicekam oleh keheningan yang teramat janggal.Sebuah sedan hitam mewah bergulung pelan, berhenti tepat di depan undakan marmer menara. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Wang Jiansheng, Kepala Keluarga Wang sekaligus salah satu penguasa bisnis terbesar di Provinsi Jiangnan. Pria paruh baya yang biasanya selalu tampil necis dengan tatapan angkuh itu kini tampak sangat rapuh. Rambutnya berantakan, dan gumpalan kantung mata hitam di wajahnya menceritakan bahwa dia tidak tidur semenit pun sepanjang malam.Di sampingnya, Wang Jue memegangi lengan ayahnya dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Sisa trauma dari amukan energi spiritual Chen Fan semalam telah meruntuhkan seluruh mentalitas putra ma
Riuh rendah perjamuan di Balai Kota Jiangnan perlahan memudar seiring berjalannya malam, namun bagi Chen Fan, pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di bawah pendaran lampu kristal yang mulai meredup, matanya tetap mengunci setiap pergerakan Wang Jue. Sinyal pelacak dari Regu Bayangan Gagak yang menempel di kerah jas pemuda itu berdenyut konstan dalam radar indra spiritual (Divine Sense) milik Chen Fan.Setelah ancaman dingin dari Su Qingxue, Wang Jue memilih untuk tidak melakukan konfrontasi terbuka lagi. Pria muda itu bergerak ke arah ruang privat di lantai dua balai kota, diikuti oleh dua pengawal pribadinya yang berjalan dengan langkah tegap dan waspada."Qingxue," bisik Chen Fan pelan, matanya tidak beralih dari tangga besar menuju lantai dua. "Tetaplah di sini bersama Kapten Zhang. Aku akan membersihkan beberapa lalat pengganggu di atas."Su Qingxue membalikkan tubuhnya, menatap Chen Fan dengan pandangan penuh kepatuhan dan kecemasan yang samar. "Apakah A
Gedung Balai Kota Jiangnan malam itu diselimuti kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula utama memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai marmer impor. Ratusan mobil mewah dari berbagai merek papan atas mengantre panjang di halaman depan, menurunkan para taipan bisnis, pejabat pemerintahan tinggi, hingga tokoh-tokoh berpengaruh dari seluruh penjuru Provinsi Jiangnan.Ini adalah perhelatan tahunan yang menjadi ajang pamer kekuasaan, kekayaan, dan koneksi politik. Di balik dentingan gelas sampanye dan alunan musik klasik yang lembut, transaksi rahasia bernilai miliaran rupiah dinegosiasikan di sudut-sudut ruangan.Di tengah kerumunan elit tersebut, perhatian semua orang mendadak tersedot ke arah pintu masuk utama saat sosok Su Qingxue melangkah masuk.Mengenakan gaun malam formal berwarna merah marun yang pas di tubuh indahnya, CEO wanita dari Su Group itu tampak layaknya seorang ratu yang turun dari singga
Ketenangan di lantai tiga puluh enam Menara Su Group setelah tunduknya sang ratu bisnis Jiangnan tidak serta merta membuat roda takdir berhenti berputar. Sementara Kota Jiangnan menikmati kedamaian semu di bawah perlindungan tak kasat mata dari sang Master Alkemis, di belahan utara negeri—tepatnya di dalam distrik finansial paling eksklusif di ibu kota—sebuah pergerakan rahasia berskala global sedang dikoordinasikan.Menara Tianlong, sebuah mahakarya arsitektur modern setinggi seratus delapan lantai yang dilapisi kaca antipeluru dan baja titanium, berdiri kokoh sebagai simbol kekuasaan finansial dan supranatural tertinggi. Di sinilah markas pusat Tianlong Group berada, sebuah konglomerat raksasa yang tidak hanya menguasai sepertiga perputaran ekonomi negara, melainkan juga memegang kendali atas faksi-faksi kultivasi terselubung di balik bayangan pemerintahan.Di lantai tertinggi menara tersebut, di dalam sebuah ruangan kedap suara yang dijaga ketat oleh puluhan petarung bers







