Share

46 - Kekuatan Pencipta

Penulis: Luna Maji
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-12 12:22:00
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Udara hutan pagi terasa lembap dan segar, meninggalkan embun di setiap helai daun. Burung-burung kecil mulai berkicau, sementara sinar matahari pertama menembus sela dahan, menggambar garis-garis keemasan di tanah.

Cailin memegang keranjang rotan di tangannya, langkahnya ringan tapi pikirannya tidak. Ia menyusuri jalur setapak yang pernah dilalui dulu—jalur yang menuntunnya menemukan Shangkara, terkapar dan berdarah di bawah pohon besar, di hari yang mengubah segalanya.

Kakinya berhenti di titik yang sama. Tanah di sana masih terasa dingin, seperti menyimpan jejak masa lalu.

“Merenungkan masa lalu?”

Suara rendah itu membuatnya tersentak. Shangkara berdiri tak jauh di belakangnya, bersandar santai di sebatang pohon. Ia tidak lagi mengenakan jubah kekaisaran yang megah, hanya hanfu sederhana berwarna gelap yang membuatnya terlihat... lebih manusiawi.

“Aku hanya sedang lewat,” jawab Cailin ketus, mencoba menyembunyikan getaran aneh di da
Luna Maji

Terimakasih yang masih setia nemenin perjalanan Cailin dan Shangkara Bab ini tuh campur aduk banget buatku 😭 Di satu sisi kita lihat Shangkara versi lembut dan jahil, goda-godain Cailin sampai mukanya merah kayak umbi rebus 🍠, tapi di sisi lain, dia juga muncul lagi sebagai Kaisar Vermilion yang serius, siap menantang dunia demi gadis yang dia pilih. Aku pribadi suka dua-duanya — yang satu bikin senyum-senyum, yang satu bikin dada sesak 😩 Tapi aku penasaran banget sama kalian: 👉 Lebih suka Shangkara yang suka goda Cailin dan bikin suasana ringan, atau Shangkara yang serius dan berwibawa, yang bisa bikin satu istana gemetar cuma dengan tatapan? 👑🔥 Tulis pilihan kalian di komentar ya, biar aku tahu versi mana yang paling bikin kalian jatuh hati ❤️

| 3
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Luna Maji
Wah setuju banget, Kak Ria ...... Aku juga suka dua sisi Shangkara ini. Soalnya kalau cuma serius terus, nanti Cailin (dan pembaca ...) bisa stres juga. Makasih udah terus nemenin mereka berdua yaa ... nanti bakal ada lagi momen-momen senyum-senyumnya kok, janji!
goodnovel comment avatar
ria lestari
kalau aku suka keduanya, Shangkara yg serius dan berwibawa juga Shangkara yg suka godain Cailin dan bikin suasana ringan. Kan kaisar jg manusia, jadi mesti ada sisi yang jail dan romantis ... kalau Shangkara cm berwibawa kayanya kurang asyik, nanti waktu baca...gak ada momen senyum senyum sendiri ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    195 - Jalan

    Lian duduk di kursi kayu di tengah ruangan yang remang-remang. Pergelangan tangannya terikat tali sutra biru yang dilapisi mantra peredam energi.Ia tidak mencoba memberontak. Ia tahu itu percuma. Sebagai Pengendali Angin, ia butuh gerakan tangan atau napas yang bebas untuk memanggil badai. Tali ini membatasi keduanya.Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar—bukan Rashid, tapi salah satu pengawal Saharath—masuk membawa nampan makanan.Lian menatapnya tenang.“Di mana Tuan Rashid?” tanya Lian. Suaranya datar.“Tuan Rashid sedang sibuk di istana, mengurus pertukaranmu,” jawab pengawal itu sambil meletakkan nampan dengan kasar. "”akanlah. Kami butuh kau tetap hidup sampai kami m

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    194 - Diplomasi

    Kabut pagi belum sepenuhnya lenyap ketika ruang strategi istana Vermilion mulai dipenuhi suara rendah yang tegang. Ruangan itu tanpa jendela, diterangi cahaya kristal putih yang memantulkan peta wilayah besar di dinding.Shangkara berdiri di depan peta, punggungnya tegang. Di sebelahnya, Guru Fen duduk di kursi kayu, tangannya menelusuri gulungan laporan medis dengan gerakan lambat. Jenderal Fan, pria berotot dengan wajah penuh luka lama, berdiri tegak di sisi lain meja. Ren tidak duduk. Dia bersandar di dinding dekat pintu, wajahnya masih kotor dari debu gang.Kepala Intelijen, pria yang selalu muncul dari bayangan, baru saja selesai melaporkan dua hal: kerusuhan di Distrik Timur yang mulai mereda setelah pasukan menduduki gudang, dan fakta bahwa tidak ada jejak Lian di seluruh kompleks istana.“Aku ber

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    193 - Obat

    Ren menarik tudung jubahnya lebih dalam saat melangkah memasuki kedai kecil di Kota Bawah.Tempat itu pengap, dipenuhi bau alkohol murah dan sup tulang yang terlalu lama direbus. Orang-orang duduk rapat, berbicara setengah berbisik—bukan karena takut, tapi karena sudah terbiasa. Kota ini selalu hidup dari gosip.Ren duduk di meja sudut. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat kusam.Ia menggenggam gelas tanah liatnya erat-erat. Ia kabur dari istana satu jam yang lalu, menyelinap lewat saluran pembuangan lama yang kering. Tatapan kasihan para pelayan masih menempel di kulitnya. Nada datar Lian terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Ren merasa asing di istana yang dulu ia lindungi dengan nyawanya.Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Di sini, ia h

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    192 - Pedang Kayu

    Kabut pagi masih menyelimuti lapangan latihan Pasukan Bayangan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat sudah membasahi seluruh tubuh Ren. Pedang kayu di tangannya terasa asing—terlalu ringan, terlalu mati. Tidak ada getaran Qi. Tidak ada dengung api yang biasanya menyatu dengan napasnya.Trak! Trak!Suara benturan kayu menggema.Ren mencengkeram pedang kayu latihan dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Yun—salah satu letnan Pasukan Bayangan—memegang pedang serupa, wajahnya ragu-ragu.“Serang aku dengan serius, Yun!” bentak Ren. “Jangan menahannya!”“Tapi, Tuan…”“LAKUKAN!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    191 - Abu dan Pasir

    Aroma teh herbal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Cailin dan Shangkara.Di ruang kerja Guru Fen yang sunyi, Guru Fen duduk bersila dengan cangkir teh ditangannya. Matanya menatap permukaan teh di cangkirnya, seolah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata biasa. Cailin duduk di hadapannya.Shangkara berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di balik punggungnya. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.“Katakan dengan jujur, Guru,” suara Shangkara memecah keheningan. “Jangan berikan harapan palsu. Apakah Api Ren … benar-benar tamat?”Guru Fen menoleh perlahan. Kerutan di wajah tuanya tampak lebih dalam dari biasanya.&ldquo

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    190 - Pembayaran

    Ren membuka mata.Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit. Bukan rasa sakit tajam akibat tusukan pedang, melainkan rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah setiap tulang dan ototnya telah digilas menjadi bubuk.Ia menatap langit-langit kamar yang familier. Serta aroma obat-obatan herbal yang kuat.Ini Balai Pengobatan Istana.Ren mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Dengan napas terengah, ia memaksakan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia menatap tangannya. Telapak tangan yang biasanya hangat oleh aliran Qi Vermilion kini terasa dingin dan pucat.Ren mengerutkan kening.Ia mencoba memanggil apinya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status