Beranda / Fantasi / Kaisar, Jangan Meminta Lebih / Bab Bonus: Pedang Menyala Kaisar Vermilion

Share

Bab Bonus: Pedang Menyala Kaisar Vermilion

Penulis: Luna Maji
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-06 13:16:25

Jujur aja, aku selalu suka konsep senjata menyala. Aku pertama kali jatuh cinta waktu baca salah satu aplikasi baca. Tiap kali tokohnya menarik pedang dan senjatanya bisa menyala dengan aura spiritual, aku selalu ngerasa, wah gila, ini keren banget!

Jadi pas nulis cerita ini, aku pengen Kaisar Vermilion punya hal yang sama: pedang yang nggak cuma kuat secara fisik, tapi juga hidup secara spiritual.

Begitulah lahirnya Pedang Spiritual Vermilion, senjata yang jadi simbol dan sekaligus beban Kaisar.

***

Pedang Spiritual Vermilion — Pedang Kaisar

Nama asli: Yanlin (焰麟)

Julukan: Pedang Spiritual Vermilion

Pemilik: Kaisar Shangkara Vermilion

Tipe: Ignition Weapon — senjata spiritual dengan inti Qi hidup

***

Asal dan Pembuatan

Pedang ini dibuat dari logam kuno yang disebut Batu Bara Dewa — bahan langka yang bisa menyimpan energi Vermilion murni tanpa meledak.

Bilahnya hitam pekat, tapi di dalamnya mengalir urat merah keemasan, seolah nadi api yang tertidur.

Biasanya, pedang ini tampak biasa—dingin dan tenang.

Tapi saat Ignition Mode aktif, bilahnya menyala dari dalam, memancarkan cahaya merah keemasan yang nggak cuma panas, tapi hidup. Api itu bukan membakar udara, tapi membakar niat tempur Kaisar itu sendiri.

Shangkara jarang menggunakannya, apalagi menyalakannya, karena sekali pedang itu menyala penuh, batas antara dirinya dan api Vermilion akan kabur. Tapi ketika ia memutuskan untuk menggunakannya … seluruh langit bisa ikut terbakar.

***

Simbol Vermilion

Bagi rakyat Vermilion, pedang ini bukan hanya senjata, tapi lambang penguasa sejati—mereka percaya selama Pedang Spiritual Vermilion masih menyala, kekaisaran tidak akan jatuh.

***

Catatan Kecil dari Luna

Aku ngerasa pedang yang bisa “menyala” itu bukan cuma keren, tapi juga simbol yang dalem banget.

Api yang hidup di dalam logam itu kayak cerminan Shangkara sendiri — tenang di permukaan, tapi di dalamnya ada bara yang siap meledak kapan aja.

Makanya, Pedang Vermilion bukan cuma senjata. Ia adalah bagian dari Kaisar itu sendiri.

Kalian sendiri gimana, suka nggak konsep senjata yang “hidup”?

Tulis pendapat kalian di komentar atau di ulasan, ya~

Biar aku gampang bacanya

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    200 - Air? 

    Waktu seolah membeku di kamar yang hancur itu.Yun berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun menahan amarah. Di belakangnya, Pasukan Bayangan siap menerjang, tapi langkah mereka terhenti .Di tengah ruangan, Rashid menyeringai gila. Tangan kirinya mengunci leher Ren, sementara tangan kanannya menempelkan bilah pedang lengkung tajam ke kulit leher Ren. Darah segar sudah menetes, mewarnai kerah baju Ren yang kotor.Lian berdiri di sudut, angin berputar liar di telapak tangannya, tapi matanya terpaku pada leher Ren.“Minggir,” desis Rashid. “Atau kepalanya menggelinding ke kaki kalian.”Yun menggertakkan gigi. Ia menatap mata Ren. Mata itu redup, lelah, tapi tidak takut.Perlahan, Yun menurunkan tangan. Apinya padam.“Mundur,” perintah Yun pada pasukannya. “Matikan api.”“Pilihan bijak,” ejek Rashid.“Lepaskan dia,” kata Yun, suaranya bergetar menahan emosi. “Kau bisa ambil aku sebagai gantinya. Aku Wakil Komandan. Nilai tawaranku lebih tinggi daripada prajurit cacat.”Rashid tertawa,

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    199 - Leher

    “Kau pikir kau siapa?” desis Rashid, suaranya rendah dan menghina.Pasir halus mulai berputar di sekeliling tubuh Rashid. Itu bukan pasir biasa, melainkan Qi Pasir tajam dari botol kecil yang menggantung di pingganggnya.Ren tidak menjawab.Ia menerjang maju. Bukan lurus, tapi zigzag.Rashid menghentakkan tangannya. Cambuk pasir melesat. Whush!Ren menjatuhkan tubuhnya, membiarkan cambuk pasir itu menghantam lemari kayu di belakangnya hingga hancur berkeping-keping.Ren menyambar kayu yang patah akibat hantaman tadi, lalu melempar

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    198 - Maju Sini

    Yun berdiri kaku di ambang pintu, pedangnya terhunus. Di belakangnya, lima anggota Pasukan Bayangan menahan napas, siap menerkam.Tapi tidak siapapun untuk diterkam.Ruangan itu kosong melompong.Yun menyadarinya di detik pertama begitu kakinya menginjak lantai.Hanya ada sebuah kursi kayu di tengah ruangan. Di atasnya, duduk sebuah boneka jerami kasar yang mengenakan selendang wanita. Dan tepat di pangkuan boneka itu, sebuah dupa kecil menyala, mengirimkan asap hijau tipis ke udara.“Berhenti!” desisnya.Hidung Yun menangkap bau manis yang menyengat. Instingnya berteriak sebelum otaknya memproses.“Tahan napas!&rdquo

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    197 - Pintu

    Kawah Vermilion Tua terbentang di hadapan Ren.Tanah di sekelilingnya hitam, kering dan retak-retak. Tidak ada bara. Tidak ada asap. Tidak ada sisa api yang bisa dibanggakan. Hanya hamparan abu vulkanik kelabu yang membeku, dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam yang menjulang seperti tulang rusuk raksasa.Ren berdiri di bibir kawah. Napasnya terdengar kasar di tenggorokannya yang kering.Legenda mengatakan, di sinilah leluhur Vermilion pertama kali mengikat perjanjian dengan Burung Api Vermilion. Dulu, tempat ini adalah lautan api abadi.Sekarang, tempat ini sunyi. Dingin. Mati.Ren mengerti kenapa ia bisa sampai di sini.Ren menuruni lereng kawah, tergelincir di atas kerikil ab

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    196 - Jalur Hantu

    Dingin.Itu adalah sensasi pertama yang dirasakan Ren. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menggigit hingga ke tulang.Selama hidupnya, tubuhnya dialiri Qi Vermilion yang bersifat Yang murni. Hujan salju, badai es, atau angin malam tidak pernah membuatnya menggigil. Tubuhnya adalah tungku abadi.Tapi sekarang, tungku itu padam.Ren merapatkan jubah abunya yang sudah robek terkena ranting berduri. Napasnya mengepul putih di udara malam yang membeku.Jalur Pedagang Hantu bukan sekadar nama. Jalan setapak ini membelah tebing curam yang tertutup lumut licin dan kabut abadi. Di sisi kirinya adalah dinding batu basah, di sisi kanannya adalah jurang gelap tanpa dasar.Kaki Ren gemetar.

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    195 - Jalan

    Lian duduk di kursi kayu di tengah ruangan yang remang-remang. Pergelangan tangannya terikat tali sutra biru yang dilapisi mantra peredam energi.Ia tidak mencoba memberontak. Ia tahu itu percuma. Sebagai Pengendali Angin, ia butuh gerakan tangan atau napas yang bebas untuk memanggil badai. Tali ini membatasi keduanya.Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar—bukan Rashid, tapi salah satu pengawal Saharath—masuk membawa nampan makanan.Lian menatapnya tenang.“Di mana Tuan Rashid?” tanya Lian. Suaranya datar.“Tuan Rashid sedang sibuk di istana, mengurus pertukaranmu,” jawab pengawal itu sambil meletakkan nampan dengan kasar. "”akanlah. Kami butuh kau tetap hidup sampai kami m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status