Mag-log inDimas menatap Teguh yang berdiri kaku di hadapannya. Tatapan pemuda tegap itu begitu lurus, menyembunyikan getaran emosi yang amat dalam dari masa lalu yang kelam."Teguh ... dulu aku menolongmu bukan karena aku ingin kamu mengabdi padaku," ujar Dimas pelan, suaranya mengalun rendah. "Aku ... sejak kecil aku sudah terlalu sering mendapatkan sabetan dan siksaan fisik di rumah itu. Aku tahu persis bagaimana rasanya. Saat melihat penggaris kayu itu terangkat, aku cuma berpikir ... aku tidak mau kamu merasakan penderitaan yang sama."Teguh menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa menyempit. "Kita baru kenal sehari saat itu, Den Dimas. Tapi Aden sudah mempertaruhkan diri sendiri demi melindungi saya!"Dimas menyunggingkan senyum tipis yang getir, matanya menerawang mengingat masa kecilnya yang sepi. "Karena saat itu ... kamu adalah salah satu dari orang-orang yang tidak menatapku seolah-olah aku ini sampah."Teguh tersenyum tipis, sebuah kehangatan yang langka terbi
"Bapak ... kenal sama Kakek saya?" tanya Dimas menatap pria paruh baya di hadapannya dengan raut kaget.Kedua mata Pak Rinto membelalak sempurna. Pria tua itu memajukan badannya, menatap Dimas dengan napas yang mendadak tertahan di dada."A-apa, Le?" suara Pak Rinto bergetar hebat, jemarinya meremas kain serbet di atas meja. "Jadi ... kamu ini benar-benar cucunya Raden Mas Waskito Jayaningrat?""Iya, Pak. Saya Dimas," jawab Dimas pelan."Hah ... ka-kamu ... Den Dimas?!" pekik Pak Rinto spontan, hendak bangkit dari duduknya untuk menundukkan kepala penuh hormat.Dimas dengan cepat memegang lengan Pak Rinto, menahannya. "Tidak usah panggil 'Den', Pak. Di rumah itu saya bukan siapa-siapa. Saya hanya anak terbuang.""Endak, Den! Endak!" geleng Pak Rinto dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Saya tahu banget siapa Aden! Aden yang dulu waktu masih kecil nemplok terus sama Raden Mas Waskito di ruang pahat! Dan juga ... Aden yang pernah menyelamatkan Teguh waktu itu ...."DEG!Dimas
"Kamu anaknya Pak Rinto?" tanya Dimas, memecah keheningan di dalam ruangan kayu sederhana itu.Pemuda tegap itu mendongak, menatap Dimas dengan pandangan datar. "Ya. Namaku Teguh."Dimas kembali memperhatikan postur tubuh pemuda di hadapannya. Teguh memiliki garis tubuh yang sangat tegap dan atletis. Bahunya lebar, dada bidangnya membingkai dengan kokoh, dan otot-otot lengannya tercetak jelas di balik kaus oblong yang agak kusam. Khas tubuh seseorang yang terbiasa bekerja keras, melatih fisik, atau mengangkat beban berat sehari-hari. Meski pembawaannya terkesan kaku, wajah Teguh memiliki garis manis yang tegas dan mata yang jujur.Di balik benaknya yang lelah, naluri Dimas berbisik. Di tengah pusaran konflik terlarang di rumah joglo, permainan takhta Baskoro, serta ancaman Paman Panji, Dimas sadar ia tidak bisa selamanya bertarung seorang diri. Ia membutuhkan tangan kanan, seorang kepercayaan yang memiliki loyalitas murni dan fisik yang tangguh.Apakah Teguh mau bekerja padaku? b
"Apa maksud kamu, Sekar?!" geram Dimas, matanya yang memar menatap lurus ke arah wanita di atas kursi roda itu.Sekar Ayu menyunggingkan senyum lebar yang sangat puas. Alih-alih memberikan jawaban langsung, ia justru menikmati ketegangan yang membakar raut wajah Dimas."Melihat tatapanmu dengan kakak iparmu itu ... semua orang bisa melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang terlarang di antara kalian," pangkas Sekar Ayu dengan nada mencemooh. "Hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya, dan kakak tirimu yang angkuh itu adalah salah satunya!"Dimas mengepalkan jemarinya yang terbelenggu rantai besi. Urat-urat di tangannya bertonjolan tegang."Kenapa? Marah?" ejek Sekar Ayu, melangkah mendekatkan wajah mewahnya yang terbalut perban di depan Dimas. "Karena rupanya ada yang tahu soal affair kalian? Dan sepertinya ... kamu juga belum tahu kalau Ratih sebenarnya sudah hamil secara alami selain dari bayi tabung itu!"DEG!Kedua mata Dimas membelalak sempurna! Dada Dimas bergemuruh hebat mend
"M-monster apa dia?!"Pengeroyok terakhir yang masih bisa berdiri menjerit histeris. Menyaksikan rekan-rekannya terkapar berdarah di tanah hanya dalam hitungan detik, pria itu mencengkeram dadanya yang gemetar, berbalik, lalu lari tunggang-langgang menembus rimbunnya pepohonan tanpa berani menoleh lagi.Dimas berdiri mematung di tengah jalanan yang sepi. Napasnya berhembus memburu, memompa udara panas dari dalam dadanya. Ia menarik napas panjang berulang kali, memaksa akal sehatnya untuk mengendalikan gejolak emosi dan menekan kembali aura Wahyu Candradimuko ke dalam aliran darahnya.Saat pendar keemasan gaib di matanya perlahan memudar, Dimas mengembuskan napas lega. Ketegangan di otot-otot tubuhnya mereda.Namun, di detik ketika kewaspadaannya menurun—Buk!Sebuah hantaman benda tumpul yang amat keras mendadak mendarat telak di sisi kepala bagian belakang Dimas.Dunia Dimas seketika berputar gila. Rasa sakit yang luar biasa menjalar bagai sembilu merobek kesadarannya. Dimas
"Apa maksudmu, bocah sampah?!" murka Panji, rahangnya melotot tegang menatap Dimas."Kamu tahu betul apa maksud ucapanku, Paman," pangkas Dimas seraya berdiri dari kursinya.Ia menatap Panji lurus-lurus, menyunggingkan seringai dingin yang membuat pria paruh baya itu mendadak gugup.Panji baru menyadari perubahan drastis pada diri keponakan tirinya itu. Bukan hanya soal pakaiannya yang lebih rapi dan bersih, melainkan postur tubuhnya yang tegap, tatapan mata pekatnya, serta keberanian yang menguar begitu pekat. Jauh dari sosok Dimas yang selama ini selalu menunduk dan memilih mengalah.Apakah Baskoro memperlakukannya lebih baik belakangan ini sampai bocah tengik ini berani melunjak?! batin Panji dengan dada berombak panas.Panji mencoba menegakkan punggungnya, membusungkan dada demi mempertahankan senioritasnya. "Dimas! Aku ini tetap pamanmu. Jadi bersikaplah sopan saat berbicara denganku!""Sopan?" Dimas terkekeh sinis, nada suaranya rendah dan menusuk. "Hanya orang-orang yang pantas