Se connecterKakak iparku butuh keturunan untuk mempertahankan posisinya. Sebagai satu-satunya lelaki dengan garis keturunan yang sah yang mampu memberikannya, Kakakku memintaku melakukannya ....
Voir plus"Kang Mas!" Dimas terpaku, ia seperti mendengar suara rintihan seorang wanita. "Nyimas, ahhh ... ahh ... ahhh!" Sahutan yang lebih familiar kini masuk ke dalam telinga Dimas yang sedang menyesap rokoknya di undakan batu di balik semak paviliun belakang. Ia sangat mengenal suara itu. Itu adalah suara kakak tirinya, Gusti Raden Mas Baskoro, dan istrinya, Ratih. Karena penasaran, Dimas mematikan rokok di batu lalu menyibak rimbunnya semak di belakangnya, menyelipkan kepalanya perlahan untuk mengintip. Di sana, di bawah pohon beringin tua yang remang, di atas hamparan akar yang menjalar dan selembar kain yang tergelar, tampak kakak tirinya sedang membenahi pakaian batiknya. Sementara itu, Ratih duduk di atas kain dengan kebaya brokat hitam yang berantakan dan kain jarik yang tersingkap hingga paha atas. Wajah Ratih yang anggun tampak sangat kesal dan muram. "Kang Mas, kenapa selalu seperti ini? Aku belum puas!" protes Ratih, suaranya serak, sarat akan desakan berahi yang mendadak diputus di tengah jalan. "Aku terburu-buru, Nyimas. Ada pekerjaan di luar kota yang tidak bisa ditunda!" jawab Baskoro dingin, mencoba menutupi rasa malunya yang mendalam. Ratih mendengus kencang sambil membuang muka dengan tatapan keputusasaan. Dimas menyeringai tipis di balik semak saat mendengar percakapan itu. Tampaknya kakak tirinya yang angkuh, kaku, dan selalu mendominasi keluarga itu ternyata tak mampu memuaskan istrinya sendiri. Rahasia kelam soal vitalitas Baskoro yang hancur akibat perjanjian gaib masa lalu kini terpampang nyata di depan mata Dimas. Dan pekerjaan ke luar kota selalu menjadi alasan sempurna bagi pria itu untuk menyelamatkan harga dirinya yang jatuh. Tanpa memeluk atau menenangkan istrinya, Baskoro berbalik kasar, melangkah cepat meninggalkan kebun belakang menuju pelataran depan di mana mobilnya sudah memanaskan mesin. Ketika ia sudah duduk di jok belakang, perasaan yang tadi ia bendung di depan sang istri ia tumpahkan. Ia memukul jok di depannya beberapa kali. Ia ingin seperti pria normal lainnya, yang memadu kasih dengan sang istri hingga tuntas. Ia juga ingin keturunan, sayangnya ia sudah menggadaikan semua itu demi kejayaan bisnis Jayaningrat yang nyaris bangkrut. Ia tak sanggup jika harus memberikan tumbal dari orang-orang yang ia sayangi. Jadi ia hanya bisa memberikan kesuburannya sebagai ganti. Merelakan tak punya keturunan, ia hanya tak ingin Jayaningrat jatuh melalui tangannya. Ahli waris terdahulunya selalu berhasil membawa Jayaningrat naik ke atas. Sementara Ratih yang masih kesal karena hasratnya tidak tuntas, merapikan pakaiannya sendiri dengan napas memburu. Tampak frustrasi, ia pun berjalan kembali ke kamarnya di paviliun utama. Dimas membalikan tubuhnya kembali, pemandangan seperti ini sebenarnya sudah tak asing baginya. Ia sering melihat Ratih tampak kesal setiap kali keluar kamar. Dan Baskoro selalu tampak tak acuh akan hal itu. Dimas pun bangkit dan melangkah pelan melewati lorong paviliun yang sepi untuk kembali ke kamarnya. Namun, ketika melewati kamar Ratih, langkah kakinya mendadak terkunci. Pintu kayu jati yang tebal itu tidak sepenuhnya rapat, menyisakan celah tipis. Dari dalam, terdengar suara desahan yang berbeda. Sebuah desahan nikmat, juga erangan frustrasi yang diredam oleh bantal. Ratih sedang meratapi tubuh matangnya yang kering tanpa sentuhan pria sejati. Suara itu begitu serak, pekat, dan sarat akan gairah yang tertahan langsung menyengat saraf-saraf di tubuh atletis Dimas. Darah muda Dimas bergejolak hebat. Sesuatu yang primitif di dalam dirinya, energi kanuragan yang selama ini tertidur, mendadak bangkit, memompa vitalitasnya hingga ke puncaknya. Mengikuti insting liarnya, Dimas mundur ke kegelapan lorong di dekat celah pintu, tangannya bergerak turun, membuka ritsleting celananya demi meredakan ketegangan yang menyiksa. Ia ikut terbawa suasana erotis yang diciptakan oleh kakak iparnya di dalam sana. Matanya masih terkunci pada sosok molek di atas kasur dengan pakaian berantakan. Namun, di tengah-tengah dosa yang sedang ia nikmati dengan mata yang sesekali terpejam, rasa geli yang asing tiba-tiba menjalar di area sensitifnya yang sedang tegak sempurna. Dimas membuka mata. Sialan! Seekor kecoa hitam besar sedang merayap di atas kebanggaannya. "Anjeng!" Refleks, Dimas memekik kaget hingga sikunya tanpa sengaja mendorong pintu yang tak tertutup rapat itu. BRAK! Pintu terbuka lebar. Ratih yang sedang berbaring langsung terduduk di ranjang. Matanya membelalak sempurna, menatap langsung pada sosok di depan pintu yang sedang mengusir sesuatu. Tapi pandangannya justru terkunci pada bagian bawah pria itu. Pada aset milik adik iparnya yang sedang tegang sempurna dengan celana di lutut yang sedang coba pria itu naikan kembali. Ratih dapat melihat ukuran milik Dimas yang jauh lebih besar dan perkasa dibanding milik Baskoro karena di langit-langit depan pintu ada lampu temaram. Dengan sedikit kesusahan Dimas menarik celananya ke atas, langsung tunggang-langgang melarikan diri ke kamarnya di paviliun belakang tanpa berani menoleh lagi. Sementara Ratih masih terbengong di tempatnya. Fokusnya bukan pada Dimas yang lari kesetanan, tapi pada benda yang selama ini ia dambakan tapi tak bisa memberinya kepuasan. Jiwa Ratih meronta, seandainya Baskoro seperkasa itu? Keesokan paginya, suasana joglo tampak tenang, seolah insiden gila semalam tidak pernah terjadi. Namun tidak bagi Dimas. Pikirannya kacau balau sepanjang malam. Setelah membersihkan diri untuk mendinginkan kepalanya, Dimas keluar dari kamar mandi paviliun belakang. Ia hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya, memamerkan dada bidang, perut kotak-kotak, dan sisa-sisa air yang menetes di kulit sawo matangnya yang eksotis. Saat ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil, sebuah aroma parfum melati yang magis tiba-tiba menguar di udara. Dimas menoleh dan langsung terpaku. Ratih sudah berdiri di sana. Pagi ini, Ratih mengenakan kemben batik ketat yang menonjolkan lekuk dadanya yang sintal dan pundak mulusnya yang kekuningan. Alih-alih marah atau mengamuk, wanita anggun itu justru melangkah mendekat. Perlahan, namun pasti. Dimas mundur satu langkah hingga punggungnya membentur tiang kayu paviliun. Jantungnya bertalu-talu. "Mbak Ratih ... soal semalam, aku_" Ratih tidak membiarkan Dimas menyelesaikan kalimatnya. Ia memajukan tubuh jangkungnya yang semampai hingga jarak di antara mereka mengikis habis. Dada mereka hampir bersentuhan, membuat Dimas bisa merasakan kehangatan kulit Ratih yang memabukkan. Ratih sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya yang merah merekah ke telinga Dimas. Dengan suara yang sangat rendah, berbisik halus namun begitu erotis, ia berkata, "Kau mendengar eranganku tadi malam, 'kan? Merdu tidak?" Deg.
"Apakah itu benar si pengecut Dimas?" Salah seorang mahasiswa berbisik, tapi cukup untuk didengar oleh teman-temannya. "Tak kusangka rupanya dia sekuat itu!" sahut temannya. "Atau jangan-jangan, diam-diam dia menganut ilmu hitam?" bisik seseorang lagi. "Ilmu hitam, kamu jangan mengada-ada!""Lah, lihat saja itu penampilannya. Berantakan, rambut gondrongnya saja jarang disisir, bajunya kaya preman pasar!"Dimas juga mendengar selentingan itu, tangannya mengepal kuat. Selama ini ia diam, mereka bilang dirinya lemah dan pengecut. Ketika ia melawan, sekarang dirinya malah dikatain menganut ilmu hitam. Hendra bangkit, ia tak terima dengan perlawanan Dimas. Wajahnya merah padam ditelan amarah. Dengan kalap, ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Dimas."Berani banget kamu dorong aku, udah bosan hidup kamu, Hah?!" teriak Hendra murka.Seluruh mahasiswa yang menyaksikan menahan napas. Mereka tahu betul risiko besar jika berani berurusan dengan Hendra Anggoro. Kalau tidak dijadikan bah
“Buahi aku, Dimas_”Bisikan Ratih di hulu telinganya menyulut sisi jantan Dimas yang paling liar. Kata-kata itu menghantam egonya dengan telak. Selama bertahun-tahun di rumah joglo ini, Dimas hanya dianggap sampah tak berguna, produk gagal yang selalu diinjak-injak oleh Baskoro dan ibunya. Namun malam ini, kenyataan pahit itu berbalik. Dialah satu-satunya pria sejati yang bisa menyelamatkan trah Jayaningrat agar tidak punah.Baskoro buntu. Pria kaku dan angkuh itu sampai kapan pun tidak akan pernah bisa memiliki keturunan akibat kutukan perjanjian gaibnya. Apa yang dikatakan Ratih sepenuhnya benar, hanya dirinya yang mampu meneruskan garis keturunan keluarga ini. Bagaimanapun juga, di dalam tubuhnya mengalir murni darah penerus Jayaningrat, meskipun ia lahir dari rahim istri kedua.Awalnya, Dimas berniat melakukannya dengan hati-hati. Namun, ego lelakinya yang selama ini terendam dendam sudah telanjur terusik oleh tantangan Ratih. Begitu merasakan posisinya sudah pas, Dimas menghe
“Milikilah Aku, Dimas!” desah Ratih dengan sensual. Tangannya mulai merayapi bahu kekar adik iparnya yang keras. Kancing kemeja Dimas yang terbuka di bagian atas memperlihatkan dada bidang, kecoklatan yang tampak eksotis. Membuat Ratih menggigit bibir menahan hasrat. GELEGARRR! Suara petir yang menggelegar dahsyat membelah langit Solo, menghantam pucuk pohon beringin tua di kebun belakang hingga memercikkan api gaib. Detik itu juga, seluruh aliran listrik di rumah joglo padam total, menenggelamkan mereka dalam kegelapan yang pekat. Keduanya tersentak oleh gelap, tangan Dimas menjauh seketika. “Ratiiih!” Suara teriakan ketakutan Ibu Rahayu yang histeris dari arah rumah utama menembus derasnya suara hujan. Suara itu menyentak kesadaran Dimas seperti tamparan keras. Dengan napas memburu dan jantung yang berdetak gila, Dimas membawa tubuhnya mundur, melepaskan cengkeramannya pada paha mulus Ratih yang sudah tersingkap di atas meja pahat. Dimas mulai meraba kegelapan dengan frus
“Dimas!” rintih Ratih yang sudah dikuasai gairah. Sejak pertama kali memergoki Dimas di depan kamarnya, dengan senjata kebanggaannya yang terpampang jelas. Lebih besar dan perkasa dari milik Baskoro, membuat jiwa Ratih terus berteriak. Bahwa Dimas adalah pria yang ia cari. Pria yang seharusnya menjadi miliknya. Tapi suara gemeretak dari keris pusaka menyadarkannya. Dimas tersentak. Matanya yang perlahan kembali fokus terbelalak saat melihat keris pusaka Kyai Jayaningrat masih bergetar samar di dinding. Ketakutan akan tabu adat dan kutukan leluhur seketika menghantam kesadaran mahasiswa seni itu. Dengan napas terengah-engah, Dimas melepaskan cengkeramannya pada tubuh Ratih.Apalagi kilatan cahaya lampu senter dari penjaga malam yang sedang berpatroli di halaman samping mendadak menembus celah jendela kayu Senthong, membuat mereka sedikit khawatir. "Kembali ke kamar, Mbak. Sekarang," bisik Dimas dengan suara bergetar menahan ngeri sekaligus kecewa. Ratih yang sedikit ketakutan me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.