Menjadi Pengawal Istri Musuhku

Menjadi Pengawal Istri Musuhku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-10-16
Oleh:  LailielaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
6Bab
14Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

“Diam, Nyonya. Jangan sampai Tuan Adrian mendengar.” Aurel menatap Doni dengan gugup. Hubungan rahasia mereka semakin sulit disembunyikan. Doni datang ke rumah Adrian hanya sebagai seorang pekerja. Namun, di balik sikap polosnya, ia menyimpan tujuan lain dengan mencari bukti untuk membalas pria yang pernah menghancurkan hidupnya. Semakin dekat dengan Aurel, istri Adrian yang kesepian, semakin mudah bagi Doni menjalankan rencananya. Namun, ketika perasaan mulai ikut terlibat, rahasia yang mereka simpan pun menjadi semakin berbahaya. Akankah Doni berhasil membalas dendam, atau identitas dan rencananya justru terbongkar?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan.

Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya.

“Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni.

“Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan.

Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni.

Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel.

Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbongkar dalam sekejap.

---

Dua bulan sebelumnya …

Seorang buronan baru saja berhasil kabur dari penjara, meski sangat sulit keluar dari sana. Tapi selama setahun penuh rencana kabur yang direncanakan akhirnya berhasil.

Di hari berikutnya, Doni akhirnya membuka mata. Saat baru saja bangun, ia melihat sebuah ruangan sederhana dengan dinding bambu dan beberapa celah kecil di permukaannya.

Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Napasnya tertahan, sementara ingatan tentang jeruji besi, suara langkah para penjaga, dan malam pelariannya kembali berkelebat di kepalanya. Ia sempat mengira dirinya telah tertangkap dan dibawa ke tempat lain. Setiap suara kecil terasa seperti ancaman.

Di sekelilingnya terdapat banyak box berwarna putih, sedangkan beberapa ikan yang sudah dikeringkan tergantung di langit-langit.

“Di mana ini?”

Suaranya terdengar serak. Doni segera bangkit, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. Rasa nyeri menjalar dari luka-lukanya, membuat pandangannya berkunang-kunang. Ia menahan napas sambil memeriksa ruangan itu, mencari pintu keluar, jendela, atau tanda-tanda bahwa seseorang sedang mengawasinya.

Salah satu box putih yang berada tidak jauh darinya ternyata berisikan ikan segar yang baru ditangkap dan ditumpuk bersama es batu agar tetap terjaga kesegarannya.

Bau amis memenuhi ruangan tersebut.

Bau itu membuat perutnya mual, tetapi juga menyadarkannya bahwa ia mungkin berada jauh dari kota. Jauh dari penjara. Jauh dari orang-orang yang selama ini memburunya. Namun, Doni tahu bahwa tempat asing tidak selalu berarti aman. Bisa saja orang-orang yang menolongnya memiliki maksud lain.

Tidak lama kemudian seorang pria masuk dan langsung terkejut melihat Doni sudah sadar.

“Eh, kamu sudah sadar? Sebentar, aku panggil—”

Baru saja pria itu hendak keluar, Doni segera menahannya. Refleks, tangannya meraih lengan pria tersebut. Jantungnya berdegup keras. Ia tidak tahu siapa yang akan dipanggil, dan ia tidak sanggup membayangkan jika orang itu ternyata membawa kabar kepada pihak berwenang.

“Tunggu sebentar!”

Pria itu menoleh dengan wajah bingung. Doni segera melepaskan pegangannya, tetapi matanya tetap waspada.

“Maaf menahanmu, tapi bisakah kamu merahasiakan keberadaanku di sini kepada siapapun?”

Raut wajah Doni terlihat memelas. Kondisinya juga masih pucat dengan beberapa luka yang baru saja mereka obati. Di balik permohonannya, ada ketakutan yang sulit ia sembunyikan. Jika keberadaannya diketahui, semua pengorbanan selama pelarian akan sia-sia. Ia akan kembali ke balik jeruji besi sebelum sempat mencari tahu siapa yang telah menghancurkan hidupnya.

Pria itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Tapi ada satu orang temanku yang sudah mengetahui keberadaanmu. Kemarin kami berdua yang membawamu ke sini.”

Doni terdiam.

Ia masih belum sepenuhnya mempercayai keadaan di tempat ini. Tatapannya berpindah dari wajah pria itu ke pintu ruangan. Ia ingin percaya, tetapi pengalaman selama satu tahun terakhir telah mengajarinya bahwa kepercayaan bisa menjadi kelemahan. Namun, untuk sementara dirinya tidak memiliki pilihan lain.

Pria itu kemudian duduk di bale-bale bambu tempat Doni berbaring.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu? Kalau aku Bagas.”

Doni sempat ragu menyebutkan nama aslinya. Nama itu terasa seperti sesuatu yang harus ia lindungi. Namun, Bagas adalah salah satu orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.

“Aku Doni.”

“Kalau begitu, Doni, sekarang kondisimu bagaimana?”

“Sudah lebih baik.”

“Syukurlah. Kami sebenarnya ingin membawamu ke rumah sakit, tapi jaraknya terlalu jauh. Kami juga tidak punya cukup uang untuk biaya pengobatan.”

Doni hanya mengangguk. Ia menundukkan wajah agar Bagas tidak melihat keraguan yang masih tersisa di matanya. Setiap kebaikan yang diterimanya terasa menenangkan, tetapi sekaligus membuatnya takut. Ia tidak ingin terlalu bergantung kepada siapa pun. Jika keadaan berubah, ia harus tetap mampu melanjutkan pelariannya seorang diri.

Dari percakapan singkat itu, ia mulai mengetahui bahwa dirinya berada di sebuah desa nelayan yang cukup jauh dari kota.

Tempat seperti ini justru membuatnya sedikit tenang.

Tidak ada yang mengenalnya. Bahkan tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah seorang tahanan yang baru saja melarikan diri.

Tetapi Doni juga sadar bahwa ia tidak bisa bersembunyi terlalu lama. Setiap hari yang ia habiskan di desa itu membuat jarak antara dirinya dan tujuan semakin terasa jauh. Ia takut orang-orang dari penjara akan menemukan jejaknya, tetapi ia lebih takut jika hidupnya berakhir sebagai buronan tanpa pernah mengetahui kebenaran.

Tujuannya bukan sekadar keluar dari penjara.

Ia ingin menemukan orang yang telah membuat dirinya dijebloskan ke sana.

Selama satu tahun berada di balik jeruji besi, Doni terus memikirkan kejadian yang menghancurkan hidupnya. Rasa marah dan tidak berdaya sering kali membuatnya sulit tidur. Berkali-kali ia bertanya kepada dirinya sendiri mengapa semua orang begitu mudah mempercayai bukti yang menuduhnya, sementara tidak seorang pun mau mendengarkan penjelasannya.

Ia masih mengingat dengan jelas wajah pria yang menjadi hakim dalam kasusnya.

Adrian.

Nama itu terus melekat di kepalanya.

Setiap kali mengingatnya, dada Doni terasa sesak. Ia tidak tahu apakah Adrian benar-benar terlibat atau hanya bagian dari permainan yang lebih besar. Namun, kecurigaan itu telah menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan ketika berada di penjara.

Doni yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan kasus tersebut. Bukti yang digunakan untuk menghukumnya terlalu mudah diarahkan kepadanya, sementara orang yang sebenarnya terlibat justru masih bebas di luar sana.

Karena itu, Doni tidak berniat menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan bersembunyi.

“Apa ada cara bagiku untuk pergi dari desa ini?”

Bagas menatapnya dan sempat terdiam sesaat lalu bertanya,

“Kamu mau pergi sekarang?”

“Tidak sekarang. Setelah kondisiku cukup kuat.”

Doni berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hati ia merasa gelisah. Ia takut kesempatan untuk pergi tidak akan datang lagi. Ia juga takut jika terlalu lama tinggal, seseorang akan mulai mencurigai identitasnya.

Bagas kembali terdiam sejenak melihat kondisi Doni, membuatnya kasihan.

“Kalau begitu, mungkin aku bisa membantumu.”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
6 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status