LOGINMemiliki istri yang cantik dan menjadi presdir sebuah perusahaan besar, tak lantas membuat seorang Bobby Biandra berpuas diri. Gairah liarnya semakin hari kian menjadi-jadi dilampiaskan pada para wanita muda yang ia inginkan tak perduli berapapun dia harus membayar, dia juga tak perduli wanita itu masih sendiri ataupun sudah bersuami baginya yang terpenting hasratnya tersalurkan dan ia merasa puas. Kebiasaan Bobby bercinta dengan daun-daun muda berawal sejak ia patah hati pada mantan kekasihnya bernama Friska yang mencampakan dirinya demi seorang pria milyader, hingga Bobby langsung menerima saat Papanya menjodohkan dia dengan Aulia putri sahabat karib Papanya itu yang juga seorang milyader. Akankah rasa patah hati yang menimbulkan dendam di hati Bobby bercinta dengan para wanita muda akan terus berlanjut, sementara Aulia istri sahnya tak pernah ia sentuh?
View MoreSeperti biasanya pagi-pagi sekali Bobby telah berada di tempat kerjanya sebagai karyawan teknisi di sebuah perusahaan yang memproduksi sepeda motor, meskipun Papanya yang bernama Azhar merupakan kepala manager di perusahaan itu namun Bobby tak serta-merta bekerja semaunya di sana.
Sebagai karyawan seorang Bobby sangat profesional dalam bekerja meskipun secara tidak langsung Pak Azhar merupakan salah satu atasannya, berkat kinerjanya yang baik dan juga trampil Bobby bahkan menjadi andalan perusahaan itu di bagian teknisi hingga CEO perusahaan itu melalui Papanya yang sebagai manager di sana mengangkat Bobby sebagai kepala tenaga teknisi.
Jam istirahat siang seperti biasa pula Bobby selalu makan siang di luar di sebuah restoran yang menjadi langganannya, setelah ke luar dari kantor ia langsung menuju tempat parkir di mana di sana ia memarkirkan sepeda motor miliknya.
“Hemmm, udah lama aku nggak ngajak Friska makan siang bareng. Sebaiknya aku telpon dia sekarang, moga aja dia juga udah istirahat di tempat kerjanya.”
Gumam Bobby lalu merogoh kantong celananya di mana di sana terdapat ponselnya.
Bobby langsung melakukan panggilan begitu nomor kontak Friska tampil di layar ponselnya, akan tetapi setelah beberapa kali dihubungi tak sekalipun tersambung seperti nomor yang dituju sedang dinonaktifkan.
Bobby nampak mengerutkan keningnya, sepertinya dia tengah dilanda rasa penasaran.
“Aneh, nggak biasanya nomor Friska nggak aktif. Apa batrai ponselnya lowbet? Ah, rasanya nggak mungkin karena di kantor pastinya dia bisa mencasnya. Atau terjadi sesuatu padanya? Sebaiknya aku sekarang menuju kantor tempat ia kerja.”
Bobby berbicara sendiri, lalu naik ke atas sepeda motornya dan berlalu dari area parkir kantor perusahaan itu.
Seorang pria berpakaian satpam nampak melangkah dari dalam kantor tepat di sebelah pintu masuk kantor sebuah perusahaan, ia menuju ke luar saat melihat dari kaca pintu ada seorang pria yang ia kenal menuju ke sana.
“Selamat siang Pak Bobby.”
Sapa satpam itu seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat, pria yang dipanggil dengan Pak Bobby itupun tersenyum lalu menjabat erat uluran tangan satpam itu dan balas berucap.
“Selamat siang Pak Kusdi.”
Setelah melepaskan jabat tangan mereka, Kusdi pun bertanya.
“Sudah lama Pak Bobby tak datang ke sini, tumben siang ini berkunjung? Pak Bobby ingin bertemu dengan Pak Sandy?”
Bobby menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, lalu balik bertanya.
“Aku datang ke sini mau ketemu dengan Friska, apakah Friska ada di ruangannya atau udah ke luar istirahat makan siang? Soalnya tadi aku hubungi ke ponselnya nggak nyambung-nyambung, Pak Kusdi.”
Pak Kusdi tak segera menjawab, dia nampak terbengong hingga membuat Bobby heran.
“Loh, kok Pak Kusdi bengong?”
Sambung Bobby, Kusdi pun tersentak.
“Ma.. Maaf Pak Bobby, saya bengong karena terkejut dengan pertanyaan dari Pak Bobby tadi mengenai Bu Friska. Masa Pak Bobby tidak tahu kalau Bu Friska resign dari kantor ini tiga hari yang lalu?”
Kali ini Bobby yang terperanjat kaget.
“Apa, resign? Pak Kusdi nggak becanda kan?”
Kusdi gelengkan kepalanya, lalu menjawab.
“Saya serius Pak Bobby, masa saya becandain Pak Bobby.”
Bobby yang memang tak pernah dicandai Kusdi merasa yakin apa yang dikatakan satpam itu benar adanya, akan tetapi rasa terkejutnya tadi beralih dengan rasa penasaran yang besar.
“Pak Kusdi tahu apa penyebab Friska resign dari perusahaan ini?”
Kembali Kusdi menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab.
“Maaf saya tidak tahu alasan Bu Friska resign, begitu pula dengan karyawan lainnya tak satupun dari mereka yang tahu penyebab Bu Friska mengundurkan diri tiga hari yang lalu.”
Bobby terdengar menarik napasnya dalam-dalam, semua itu bukan saja karena rasa terkejutnya mendengar Friska resign dari perusahaan itu akan tetapi juga penasaran apa penyebab hingga kekasihnya itu memutuskan berhenti bekerja di sana.
“Baiklah, kalau begitu aku mohon diri dulu Pak Kusdi.”
Ucap Bobby pamitan, Kusdi pun menanggapi.
“Apa tidak sebaiknya Pak Bobby masuk dulu bertemu dengan Pak Sandy sebagai pimpinan perusahaan ini? Barangkali Pak Bobby bisa bertanya langsung padanya, mengenai alasan Bu Friska resign dari kantor ini.”
Bobby tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah Pak Kusdi, mungkin lain kali saja aku temui Pak Sandy. Terima kasih atas informasinya Pak, aku permisi dulu.”
Ucap Bobby, setelah Kusdi mengangguk Bobby pun menuju sepeda motornya yang ia parkir di area parkir kantor perusahaan itu.
Ada beberapa menit Bobby duduk di atas sepeda motornya di area parkir itu merenung dan menerka-nerka penyebab Friska resign, barulah kemudian ia menjalankan sepeda motornya itu meninggalkan area parkir dan kantor perusahaan itu.
Di depan pagar deretan rumah kontrakan, Bobby hentikan sepeda motornya. Kembali seorang pria berpakaian satpam menghampiri, saat Bobby menekan bel yang ada di sebelah pintu pagar masuk ke halaman rumah kontrakan itu.
“Eh, Mas Bobby rupanya. Silahkan masuk Pak!”
Sapa dan ajak satpam itu.
“Terima kasih Pak Anto, oh ya Friska nya ada di rumah Pak?”
Tanya Bobby sembari berjalan di halaman bermaksud menuju salah satu rumah di deretan rumah kontrakan itu di mana di sana Friska tinggal selama ini, namun tiba-tiba Anto mengarahkan Bobby menuju rumah majikannya atau pemilik deretan rumah kontrakan itu yang terletak di bagian ujung sebelah kiri.
Rumah yang diarahkan Anto itu tentu saja tak seperti deretan rumah kontrakan yang ada di sampingnya, rumah itu cukup mewah dan besar.
Bobby tentu saja terkejut kenapa tiba-tiba saja Anto mengarahkan dirinya untuk melangkah menuju rumah majikannya, bukannya menjawab pertanyaannya tadi mengenai Friska ada tidaknya ia di rumah kontrakan yang dihuni kekasihnya itu selama ini.
“Loh, kok Pak Anto mengajak aku ke rumah Tante Merry?”
Tanya Bobby dengan raut wajah yang heran dan penasaran, kembali Anto tak segera menjawab. Dia sepertinya bingung harus menjawab bagaimana, ia lalu hentikan langkahnya dan berkata.
“Sebaiknya Mas Bobby bertemu dengan Bu Merry, Mas bisa menanyakan tentang Mbak Friska padanya.”
Bobby semakin bingung dan penasaran mendengar jawaban dari Anto, dengan penuh tanya di hati ia mempercepat langkahnya menuju rumah Tante Merry itu. Apa sebenarnya yang terjadi pada diri Friska...?
Bobby merasa sedikit lega saat henyakan pantatnya di sofa empuk di ruangan yang terhubung langsung dengan teras di lantai atas rumah mewah milik sahabatnya itu, hatinya sejak di mall tadi seakan terbakar karena melihat sosok wanita yang dia anggap telah menghancurkan hidupnya.Tak beberapa lama Bobby duduk, wanita setengah baya yang tadi mengantarnya ke ruangan itu datang kembali membawa dua gelas kopi hangat dan beberapa potong jenis kue basah di piring lalu menaruhnya di atas meja depan sofa di mana Bobby duduk dengan sahabatnya itu.“Silahkan diminum dan dicicipi Tuan,” tawar wanita setengah baya itu.“Makasih Bi Asih,” ucap Bobby diiringi senyum ramahnya, wanita setengah baya yang dipanggil Bi Asih itu balas tersenyum kemudian pamitan untuk kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu di rumah mewah itu.“Emangnya tadi dari rumah kamu rencananya mau ke mana Bob?” tanya pria yang duduk di samping Bobby itu.“Aku nggak dari rumah Ray melainkan dari hotel,
Sekitar jam 8 pagi Bobby terbangun dari tidurnya di ranjang di kamar hotel tempat ia menginap dan bercinta dengan Dina tadi malam, dengan hanya mengenakan celana pendek ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah menyalakan air hangat ke dalam bathtup yang tersedia di kamar mandi itu, Bobby pun merendam tubuhnya berbaring di bathtup itu dengan sesekali memejamkan mata.Air hangat di bathtup itu benar-benar membuat tubuhnya nyaman dan terasa segar kembali, cukup lama ia berada di sana hingga akhirnya menyudahi mandinya dan mengenakan pakaian ganti yang telah ia persiapkan dari rumah kemarin sebelum ke kantor dan menginap di hotel itu.Bobby meraih ponselnya yang ada di meja di sisi ranjang lalu melakukan panggilan, seseorang yang dihubungi itu langsung mengangkatnya.“Hallo, selamat pagi Pak.”“Pagi, jemput aku sekarang ya?” pinta Bobby.“Baik Pak, saya akan segera ke sana,” ujar sosok yang dihubungi itu lalu Bobby mengakhiri panggilan di ponselnya.Tak beberapa lama setelah chek out dan b
Sekitar jam 10 malam sebuah mobil mewah jenis Alphard memasuki halaman sebuah hotel di kawasan Kota Jakarta, sosok pria tampan bertubuh atletis turun kemudian mobil mewah itupun memutar balik meninggalkan kawasan hotel itu.Pria tampan itu melangkah ke lobi lalu masuk menghampiri resepsionis memesan sebuah kamar, setelah menerima key card ia pun menuju kamar yang dipesan. Langkah kakinya sedikit sempoyongan dan sesekali pria itu nampak meraba kepalanya sendiri yang terasa agak berat.Sepertinya pria itu sebelum menuju hotel meneguk minuman beralkohol di sebuah bar, atau tempat yang juga menyediakan minuman-minuman mengandung alkohol lainnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung merebahkan diri di ranjang, entah sadar atau memang sengaja sepatu yang ia kenakan tak dibukanya terlebih dahulu.Tak berselang lama ponsel di saku celananya berbunyi, pria yang berbaring di ranjang kamar hotel itupun mengangkatnya.“Hallo Dina, kamu udah nyampai di hotel ini ya?”“Udah Om, nih aku di depan pintu
“Tapi usiaku dan Mas Bobby terpaut sangat jauh, apakah nanti tak jadi masalah bagi Papi dan Mami? Karena siapa tahu saja akan dipandang tidak baik oleh para tamu undangan, di hari pernikahan kami nanti.”Pak Haris dan Bu Widya sama-sama tersenyum mendengar perkataan Aulia itu, Pak Haris memberi isyarat pada istrinya agar dia saja yang menanggapi.“Aulia, Mami dan Papimu sudah tahu sebelumnya bahwa Bobby saat ini telah berusia 38 tahun sementara kamu tahun ini genap 23 tahun. Akan tetapi menurut pandangan kami Bobby masih kelihatan muda, orang-orang pasti takan menyangka usianya hampir 40 tahun. Bukankah begitu Mas?”Pak Haris mengangguk saat diminta tanggapan oleh Bu Widya.“Benar Aulia, kalaupun nanti ada yang kurang setuju atas perbedaan usia kalian takan berparuh bagi Papi. Justru kami berpandangan sosok Bobby yang jauh lebih dewasa akan dapat membimbingmu dalam berumah tangga nantinya, sekarang yang ingin kami dengar keputusan dari kamu bersedia tidaknya dijodohkan dengannya?”Pak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.