"Kang Mas!"Dimas terpaku, ia seperti mendengar suara rintihan seorang wanita."Nyimas, ahhh ... ahh ... ahhh!"Sahutan yang lebih familiar kini masuk ke dalam telinga Dimas yang sedang menyesap rokoknya di undakan batu di balik semak paviliun belakang. Ia sangat mengenal suara itu. Itu adalah suara kakak tirinya, Gusti Raden Mas Baskoro, dan istrinya, Ratih.Karena penasaran, Dimas mematikan rokok di batu lalu menyibak rimbunnya semak di belakangnya, menyelipkan kepalanya perlahan untuk mengintip.Di sana, di bawah pohon beringin tua yang remang, di atas hamparan akar yang menjalar dan selembar kain yang tergelar, tampak kakak tirinya sedang membenahi pakaian batiknya. Sementara itu, Ratih duduk di atas kain dengan kebaya brokat hitam yang berantakan dan kain jarik yang tersingkap hingga paha atas. Wajah Ratih yang anggun tampak sangat kesal dan muram."Kang Mas, kenapa selalu seperti ini? Aku belum puas!" protes Ratih, suaranya serak, sarat akan desakan berahi yang mendadak d
Última actualización : 2026-07-14 Leer más