LOGINApa hanya kebetulan saja bintang lautnya muncul?Alih-alih menjawab pertanyaan Kaivan, Selina melirik kembali Bintang laut yang ada di sana.“Kenapa ada Bintang laut di sini?” tanya Selina pelan.Tapi tidak cukup pelan untuk sampai tidak terdengar oleh Kaivan.“Karena kamu mau lihat makhluk yang gak ada otaknya itu,” jawab Kaivan membuat Selina mengerjap pelan. Ketika Selina masih tidak tau harus merespon apa, tiba-tiba Kaivan menyahut. “Kita di bawah laut, ini tempat mereka.” “Oh.” Selina melirik ke sudut lain, ada juga bintang laut di area lain, dan akhirnya Selina menerima. Oh, mungkin ini tempat mereka. “Makasih,” gumam Selina. “Udah bawa aku ke sini.” Kaivan mengangguk pelan. Tak lama, seorang pelayan datang membawa nampan perak berisi hidangan pertama rangkaian tasting menu. “Amuse-bouche dari chef kami,” ucap pelayan tersebut ramah sambil meletakkan piring kecil bermotif minimalis di
Ternyata ada banyak hal yang bisa Selina bicarakan dengan Reynard, dan itu membuat Kaivan hampir mati kebosanan karena tidak bisa terlibat dalam pembicaraan itu. Sedangkan Gathan, cowok itu hanya datang ke sana untuk numpang tidur--karena diseret dari club oleh Reynard. “Oh ya? Aku gak tau kalau bintang laut ternyata gak punya otak sama darah.” “Iya,” kata Reynard yang kini duduk di samping ranjang Selina. Matanya tersenyum hangat. “Mau lihat bintang laut?” tawarnya. “Mau.” “Nanti Kakak ajakin lihat bintang laut," janji Reynard. Selina mengangguk dengan keras dan membuat Kaivan terkekeh sinis. “Kenapa Kai?” tanya Reynard. Kaivan hanya menggeleng pelan. “Cuma gak ngerti, kenapa ada orang yang tertarik lihat makhluk yang gak punya otak.” “Emang kenapa? Itu menarik,” bela Selina. “Apa di mata kamu, Cuma makhluk yang gak punya hati yang menarik?” Reynard menahan tawa
Ikut kencan dengan Kaivan dan Sera?“Enggak,” tolak Selina. “Makasih.”“Kalau gitu aku yang akan ikut kencan sama Aldeo.”Selina membelalakan matanya. Apa Kaivan gila? Setelah itu, Kaivan menuju ke sofa dan melepaskan kaos hitamnya di sana. Selina yang tidak siap melihat tubuh setengah terlanjang Kaivan langsung berteriak dan menutup mata dengan kedua telapak tangan .“KAI!”“Kenapa?” tanya Kaivan tanpa merasa ada yang salah.“Masa kamu tiba-tiba buka baju gitu sih?”Kaivan tertawa hambar. “Terus kenapa? Aku mau mandi.”“Ya… kalau mau mandi buka bajunya di dalem kamar mandi dong!”“Aku mau di sini,” kata Kaivan sambil berjalan menuju lemari penyimpanan dan mengambil handuknya. “Bukannya kamu udah familiar juga sama badan aku? Kenapa masih harus kaget?”Selina berusaha mengendalikan diri supaya pipinya tidak memerah karena ucapan Kaivan barusan yang terlalu terang-terangan.“Terserah kamu deh,” kata Selina. “Mau buka baju di mana pun.”Kaivan terkekeh dan berjalan menuju ke kamar mand
“Target pemuas nafsu,” perjelas Aldeo tanpa berani menatap wajah Selina.Selina tidak terkejut dengan penjelasan tambahan itu.Selina lebih terkejut karena ternyata Aldeo sejak malam itu.“Itu sebabnya kamu jauhin aku?” tanya Selina sambil menatap Aldeo lurus-lurus.“Aku malu sama kamu atas apa yang Darren ke kamu. Maafin aku,” kata Aldeo pelan.Selina mengusap punggungnya pelan. “Jangan minta maaf, itu bukan salah kamu. Lagian aku..., aku baik-baik aja malam itu. Darren gak berhasil dapetin apa yang dia mau.”Aldeo baru berani mengangkat wajahnya dan menoleh pada Selina. “Itu beneran?”Selina mengangguk.“Waktu itu, aku ke Nocturne sama Kaivan. Itu hari pertama aku datang ke sini, terus... Kaivan juga... dia jagain aku.”Selina menyunggingkan senyumnya, berusaha membuat Aldeo percaya kalau hari itu, dia baik-baik saja.“Jangan merasa bersalah karena aku gak kenapa-kenapa malam itu.”“Serius Sel?”“Iya.”Aldeo langsung menarik Selina ke dalam dekapannya.Memeluk Selina erat sampai Seli
Selina bertanya-tanya, apa Kaivan berniat membuat Selina dibunuh oleh Sera?Selina mengisyaratkan pada Kaivan untuk duduk di dekat Sera, supaya setidaknya gadis itu tidak terlalu salah paham.Namun, Kaivan sama sekali tidak bergeming. Setelah membuang tisunya ke tempat sampah, Kaivan kembali duduk di sisi ranjangnya.“Oh ya, aku denger orang tua kalian lagi bulan madu,” kata Sera tiba-tiba.Kaivan mengangguk pelan dan menatap Sera dengan datar. “Semua orang juga tau.”“Iya, maksud aku, kalau ibunya Selina lagi gak di sini—jadi, tadi malam Selina?”Selina menatap Kaivan dengan was-was. Berharap Kaivan berbohong, tapi Selina malah mendengar Kaivan menjawab. “Aku.”“Kamu jagain Selina di sini?” tanya Sera.“Kalau bukan aku siapa lagi, kamu?”Sera terdiam sejenak, tampak mencerna kalimat Kaivan yang bernada sarkas sebelum akhirnya tertawa kaku untuk mencairkan suasana.“Kamu ternyata bisa jadi ‘kakak’ yang baik.”“Makasih pujiaanya, Sera,” tanggap Kaivan sambil tersenyum tipis.Selina mer
Malam itu, Selina langsung menarik selimutnya ke atas kepala dan tidur dalam posisi membelakangi Kaivan.Selina tidak tau bagaimana harus menghadapi Kaivan esok setelah mengetahui kenyataannya. Berharap Kaivan pergi dari ruang rawatnya saat bangun, tetapi ternyata… Kaivan masih di sana.Kaivan sempat keluar saat seorang perawat datang untuk membantu Selinake kamar mandi, membersihkan diri, dan mengganti pakaian.Namun, saat Selina keluar dari kamar mandi dan kembali dibantu duduk di ranjangnya, Kaivan sudah ada di ruang rawatnya lagi.“Kondisi Nona sebenarnya sudah jauh lebih baik dari semalam, demamnya sudah turun drastis,” ujar perawat itu ramah saat mereka kembali ke ranjang. “Hanya saja fisiknya memang masih lemah karena asupan nutrisi yang sempat kurang dan kelelahan ekstrem. Kalau hasil observasi dokter nanti siang bagus, kemungkinan besar sore ini sudah boleh bersiap untuk pulang. Ada yang bisa saya bantu lagi, Nona?”Selina yang duduk bersandar di atas ranjang dengan wajah ma







