Home / Fantasi / Kakak iparku yang terlalu sempurna / Bab 24 - Pesaing Baru, Luka Lama

Share

Bab 24 - Pesaing Baru, Luka Lama

Author: Diky
last update Last Updated: 2025-08-26 16:17:39

Satu minggu setelah Siska meluncurkan sambal spesial Warung Arsya, dapur kontrakan kami berubah jadi pabrik kecil. Panci besar mengepul dari subuh sampai malam. Aroma bawang putih, cabai rawit, dan daun jeruk menempel di dinding dan baju.

Aku hampir tidak sempat duduk tenang. Setiap Arsya tidur, tanganku sigap mengulek sambal dengan cobek besar warisan ibu. Arga bertugas merebus botol kaca, mensterilkan, menimbang berat sambal, lalu menempelkan stiker label “Sambal Spesial Arsya” yang dibuat Siska.

Siska sendiri bolak-balik datang sepulang kerja, membawa plastik bubble wrap, kardus bekas, dan stiker lucu bertuliskan “Terima kasih sudah beli sambal kami, semoga rejekinya lancar!”

Hari pertama PO, 20 botol habis dalam hitungan jam. Hari kedua, 50 botol terjual. Hari ketiga, kami harus menolak pesanan karena kehabisan bahan dan tenaga.

“Aku nggak nyangka bisa serame ini, Ran… Dulu aku diremehkan orang, sekarang orang ngantri beli sambal buatan kita,” kata Arga, matanya berbinar meski lel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 72 — Bayangan Balas Dendam

    Malam itu, setelah putusan pengadilan diumumkan, seluruh negeri membicarakan kasusku. Media televisi menayangkan ulang detik-detik hakim mengetuk palu. Portal berita menuliskan judul besar: “Keadilan untuk UMKM! MegaRasa Kalah di Pengadilan.” Namaku disebut di mana-mana. Aku menjadi simbol perlawanan, bahkan beberapa tokoh nasional mengirimkan pesan dukungan. Namun di balik sorak sorai kemenangan itu, ada perasaan was-was yang sulit kuabaikan. Aku tahu Anton bukan orang yang bisa menerima kekalahan begitu saja. Tiga hari setelah putusan, aku menerima telepon dari salah satu pengacara. “Bu Rani, saya baru mendapat kabar, Anton mencoba mengajukan banding. Selain itu, kami juga mendengar dia sedang menggerakkan jaringan lamanya untuk menekan proses pidana. Anda harus lebih berhati-hati.” Hatiku langsung berdegup kencang. Rasanya seperti dikejar bayangan gelap yang tak kunjung hilang.

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 71 — Hari Penentuan

    Hari itu akhirnya tiba. Gedung pengadilan dipadati massa sejak pagi. Bendera kecil bertuliskan “Keadilan untuk UMKM” berkibar di tangan para pendukung. Kamera televisi berjejer, stasiun berita menyiarkan langsung dari luar. Aku duduk di mobil bersama Bagas dan Riska. Tanganku gemetar tak henti, bahkan lebih parah daripada sidang-sidang sebelumnya. “Ran, tarik napas dulu,” kata Riska sambil meremas tanganku. “Hari ini kamu harus kuat. Apa pun hasilnya, kamu sudah berjuang sejauh ini. Kamu sudah jadi simbol.” Aku mencoba menarik napas dalam. Tapi jantungku tetap berpacu liar. “Bagaimana kalau hakim berpihak ke Anton? Bagaimana kalau semua bukti kita diabaikan?” Bagas menatapku serius. “Kalau pun itu terjadi, perjuanganmu tetap tidak sia-sia. Kamu sudah membuka mata banyak orang. Tapi aku yakin… kali ini keadilan tidak bisa ditutup-tutupi.” Begitu masuk ke ruang sidang, suasana tegang menyergap. Hakim sudah dudu

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 70 — Persidangan Pertama

    Pagi itu udara Jakarta terasa berbeda. Jalanan menuju pengadilan dipenuhi awak media, kamera berjejer, mikrofon diarahkan ke setiap orang yang lewat. Spanduk bertuliskan “Dukung UMKM, Lawan Tirani MegaRasa!” terbentang di pagar luar. Aku duduk di dalam mobil bersama Bagas, Riska, dan Pak Jaya. Tanganku dingin, keringat mengalir meski AC mobil menyala kencang. Jantungku berdetak kencang. Ini adalah hari pertama sidang gugatan melawan MegaRasa. “Bu Rani,” suara Pak Jaya terdengar tenang, “hari ini bukan penentuan akhir. Ini baru awal. Tapi awalan ini sangat penting. Jangan gentar. Ingat, semua mata masyarakat ada di pihak kita.” Aku menatap keluar jendela, melihat massa yang membawa poster dengan wajahku terpampang di sana. Sebagian menulis ‘Rani simbol perlawanan UMKM’. Aku menghela napas. “Aku hanya ibu rumah tangga yang ingin melindungi anaknya, Pak. Kenapa jadi sebesar ini?” Pa

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 69 — Membuka Jalan Hukum

    Pagi itu rumahku masih porak-poranda. Pecahan kaca belum sempat dibersihkan, coretan ancaman di dinding masih jelas terbaca. Tetangga berdatangan, sebagian membantu, sebagian lagi sekadar ingin tahu. Arsya duduk di pangkuanku, wajahnya masih pucat. Sesekali ia menoleh ke arah pintu yang sudah rusak. “Bu, orang jahatnya balik lagi nggak?” tanyanya polos. Aku mengusap rambutnya dengan lembut, menahan getaran dalam suaraku. “Tidak, Nak. Ada polisi yang jaga sekarang. Arsya aman.” Meski kata-kataku menenangkan, dalam hati aku tahu ancaman itu nyata. Anton tidak akan berhenti hanya dengan sekali serangan. Siang harinya, Bagas kembali bersama beberapa polisi dan seorang pengacara yang direkomendasikan oleh LSM yang sejak awal mendukungku. Pengacara itu bernama Pak Jaya. Usianya sekitar lima puluhan, wajahnya tenang tapi tatapannya tajam. Begitu melihat kondisi rumah, ia menggeleng pela

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 68 — Serangan di Tengah Kegelapan

    Malam itu, seluruh kawasan rumah produksi mendadak gelap gulita. Listrik padam secara tiba-tiba, bukan karena hujan atau korsleting—aku yakin ini sabotase. Arsya yang sudah kugendong erat-erat mulai gelisah. “Bu… kok gelap? Aku takut…” suaranya bergetar. “Tenang, Nak. Mama ada di sini.” Aku mencoba menenangkan, meski jantungku berdegup keras tak terkendali. Dari luar terdengar suara kaca pecah. Suara itu disusul langkah berat dan pintu pagar yang digedor paksa. Bagas langsung bergerak cepat, memberi isyarat dengan senter kecil di tangannya pada para penjaga yang kami sewa beberapa hari lalu. “Siaga! Mereka masuk dari arah barat!” serunya. Aku bisa mendengar suara logam beradu—entah linggis atau besi. Tak lama, terdengar teriakan keras salah satu satpam, “Mereka banyak, Bu! Lebih dari lima orang!” Darahku serasa membeku. Ini jelas bukan perampo

  • Kakak iparku yang terlalu sempurna   Bab 67 — Ancaman yang Menghantui

    Pagi itu udara sejuk Karawang biasanya menenangkan. Namun kali ini, aku tidak bisa merasakan kedamaiannya. Kata-kata pria misterius yang malam sebelumnya datang ke rumah terus terngiang:“Kalau Ibu tetap keras kepala, jangan salahkan kami kalau sesuatu terjadi pada orang-orang terdekat Ibu.”Aku menatap Arsya yang sedang sarapan roti di meja. Senyum cerianya membuat hatiku perih. Aku tidak bisa membiarkan anakku ikut menjadi korban perang kotor ini.“Bu, kok bengong?” tanya Arsya polos.Aku tersenyum hambar, mengusap rambutnya. “Nggak, Nak. Mama cuma lagi mikir kerjaan.”Namun dalam hati, aku bertekad: bagaimanapun caranya, keluargaku harus aman.Hari itu aku memutuskan untuk memperketat keamanan. Aku meminta Bagas untuk membantu mencari satpam tambahan, minimal menjaga rumah produksi dan rumahku.“Bu,” kata Bagas, “saya punya teman yang dulu mantan aparat. Dia bisa dipercaya. Kalau Ibu setuju, saya panggil dia.”“Ya, seg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status