Partager

Bab 2

Auteur: Makjos
Aku dan Marco saling mengenal sejak di sekolah.

Karena nilai akademikku selalu berada di peringkat teratas, aku sering membantunya belajar. Seiring berjalannya waktu, perasaan di antara kami pun perlahan tumbuh.

Kami bahkan pernah berjanji, sekalipun tak diterima di universitas yang sama, setidaknya kami akan kuliah di kota yang sama.

Namun, semuanya berubah sejak Lisa pindah ke kelas kami saat kelas dua belas.

Setelah pindah sekolah dengan penuh sensasi, Lisa tak henti-hentinya memamerkan kekayaannya. Di depan teman-teman sekelas, dia mengaku sebagai putri keluarga terkaya. Baginya, sekolah hanyalah formalitas karena masa depannya sudah diatur sejak lahir.

Bukan hanya itu, dia juga sering membagikan berbagai barang mewah kepada teman-teman sebagai bukti kekayaannya.

Sejak saat itu, hampir semua teman di kelasku mulai mengagung-agungkannya sebagai putri konglomerat.

Termasuk Marco.

Lisa menghadiahkan konsol gim keluaran terbaru.

Sejak hari itu, Marco mulai kecanduan bermain gim. Nilainya terus merosot dari waktu ke waktu.

Aku melihat semua itu dan hanya bisa cemas.

Berkali-kali aku menasihatinya agar berhenti bermain untuk sementara dan fokus belajar menghadapi ujian masuk universitas. Setelah semua ujian selesai, dia masih punya banyak waktu untuk bermain.

Namun, dia sama sekali tak mendengarkan.

Sebaliknya, dia malah menganggapku mengganggu waktu bermainnya.

“Kamu tahu nggak berapa harga konsol gim ini? Harganya bahkan lebih mahal daripada nyawamu! Pergi, jangan ganggu aku lagi!”

Di kehidupan sebelumnya, aku tak tega melihatnya terus terpuruk.

Karena itu, aku ikut campur dan melaporkan semuanya kepada guru.

Sekarang kalau dipikir-pikir…

Aku benar-benar bodoh.

Orang seperti dia memang pantas membusuk bersama pilihan hidupnya!

“Hahaha! Lucu sekali!”

“Gita, Gita… kamu ini memang terlalu polos.”

“Apa kamu benar-benar nggak paham gimana aturan main kalangan elite? Masuk Universitas Bhinneka itu cuma masalah sepele buat mereka.”

Marco tertawa terbahak-bahak, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia.

Teman-teman sekelas yang lain pun ikut tertawa.

Dalam sekejap, seluruh ruang kelas dipenuhi gelak tawa.

“Benar juga! Keluarga Lisa sudah tiga generasi berbisnis. Mana mungkin kerja kerasmu selama sepuluh tahun bisa dibandingkan dengan keluarga mereka.”

“Nilai sebagus apa pun percuma. Toh setelah lulus nanti, ujung-ujungnya tetap jadi karyawan orang lain.”

“Orang miskin sepertimu nggak akan pernah mengerti. Sesuatu yang kamu perjuangkan seumur hidup mungkin cuma butuh satu kalimat dari orang kaya untuk mendapatkannya.”

Aku hanya tersenyum tipis.

Sebagian ucapan mereka memang tak sepenuhnya salah.

Namun itu hanya berlaku…

Kalau Lisa benar-benar putri keluarga kaya.

“Kalau begitu, semoga semua keinginan kalian terkabul,” ucapku.

Setelah mengatakannya, aku langsung pergi meninggalkan sekolah begitu saja.

Begitu melewati satu blok jalan, aku masuk ke sebuah Rolls-Royce yang terparkir di pinggir jalan.

Mobil itu membawaku langsung menuju kawasan vila.

Setibanya di rumah, ayah dan ibu sudah menungguku.

“Sayang… Mama tahu kamu pasti bisa.”

“Cepat lihat, kamu suka nggak hadiah yang sudah Mama siapkan?”

Mama mengeluarkan sebuah kotak dan meletakkannya di hadapanku.

Begitu kubuka, tampak sebuah kalung berlian berukuran besar di dalamnya.

Di bawah cahaya lampu, kilaunya begitu memukau.

“Ini juga ada sertifikat rumah yang lokasinya dekat Universitas Bhinneka.”

“Nanti kamu bisa langsung mengurus izin tinggal di luar kampus, jadi nggak perlu berdesakan tinggal di asrama.”

Ayah meletakkan sebuah sertifikat rumah di hadapanku.

Wajahnya dipenuhi rasa bangga sekaligus lega.

Melihat ayah dan ibu yang masih hidup…

Air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan.

Syukurlah...

Syukurlah…

Semuanya masih belum terlambat.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 10

    “Kami menerima laporan dugaan pencurian harta benda senilai miliaran rupiah. Mohon ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.”Semua orang langsung terpaku.Tak ada yang menyangka keadaan bisa berbalik secepat itu.“Bohong! Aku nggak melakukannya! Aku nggak mencuri!”Aku melangkah menghampiri Lisa.Kutarik kalung yang melingkar di lehernya.Kalung itu jelas milikku.Kalung yang selama kusimpan di dalam lemari.Awalnya, saat Lisa mencuri identitasku, aku memang tak terlalu memedulikannya.Bagaimanapun, saat itu dia belum benar-benar merugikanku.Namun, ketika kulihat dia datang ke sekolah mengenakan anting berlian hadiah dari ibuku sambil memamerkannya ke mana-mana, aku mulai curiga.Sayangnya, saat itu CCTV di kamarku belum sempat dipasang.Setelah puas memakainya, dia diam-diam mengembalikannya ke tempat semula.Karena tak memiliki bukti, aku pun tak bisa melaporkannya ke polisi.Namun sekarang…Semuanya sudah berbeda.Buktinya tak terbantahkan.Kalung curian itu masih te

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 9

    Di layar ponsel terpampang sebuah siaran langsung.Di dalam siaran itu, teman sekelasku ternyata sedang membakar gorden ruang kelas dan mengancam akan membakar diri.[Kami mohon pada panitia, beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar ingin kuliah. Kami mohon…][Iya! Kalau kami nggak bisa kuliah, lebih baik kami mati saja!][Tolong… beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar mengaku salah!]Peristiwa besar itu langsung menggemparkan jagat maya.Dalam waktu singkat, puluhan ribu penonton membanjiri siaran tersebut.Kolom komentar pun segera dipenuhi rangkuman duduk perkaranya.Sebagian besar warganet masih berpikir jernih.Mereka berpendapat bahwa lupa mengisi formulir pilihan universitas adalah kelalaian yang sangat fatal.Kalau mereka sendiri saja tak peduli dengan masa depan mereka, lalu siapa lagi yang bisa disalahkan?Namun, ucapan berikutnya membuat bulu kuduk berdiri.[Kami juga tertipu oleh Gita, putri konglomerat di kelas kami! Dia bilang ayahnya punya koneksi d

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 8

    Lisa menutupi wajahnya sambil menatapku dengan tatapan kosong.“No…Nona Besar?”Aku mendengus dingin.“Kamu mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi jangan pernah mencoba membohongi dirimu sendiri.”Semua orang terpaku.Perubahan keadaan yang begitu mendadak, membuat mereka terdiam.Tak seorang pun mengerti bagaimana mungkin seseorang yang sedetik lalu masih dianggap konglomerat, kini justru bersikap begitu hormat kepada orang lain.“Lisa, sebenarnya ada apa? Bukannya ayahmu itu konglomerat?” tanya seseorang dengan bingung.“Konglomerat? Tak kusangka sopirku ternyata serendah hati itu. Masih mau bekerja untukku. Sungguh menyia-nyiakan kemampuanmu.”Hanya dengan satu kalimat dari ayahku, seluruh kebohongan itu langsung terbongkar.“Maaf, Pak Baskara. Aku cuma kurang pikir sampai berani menyinggung Non Gita. Aku benar-benar minta maaf.”Akhirnya Lisa menyadari.Selama satu tahun penuh di kelas dua belas, semua kemewahan yang dia pamerkan di hadapanku ternyata tak lebih dari sebuah leluco

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 7

    Beberapa teman sekelas langsung mengeluarkan ponsel dan mencari nomor polisi mobil itu.Karena menggunakan pelat nomor cantik, identitas pemiliknya pun mudah ditemukan.“Ini memang mobil milik keluarga konglomerat. Bahkan nomor polisinya juga cocok. Gita, berhenti keras kepala.”Kini mereka benar-benar yakin dengan identitas Jordi.Mereka beramai-ramai mengerubunginya, memohon bantuan agar bisa masuk ke universitas impian mereka.“Tenang saja, semuanya. Nanti aku akan hubungi rektor. Aku jamin kalian semua bisa kuliah.”Tatapan Marco kepada Lisa dan Jordi langsung dipenuhi rasa terima kasih.Namun, dia tetap tak lupa menginjakku.“Om, semua ini gara-gara Gita. Kalau saja dia nggak diam-diam mengisi pilihan universitasnya sendiri, kami juga nggak perlu merepotkan Om seperti sekarang.”“Menurutku, orang yang egois dan nggak bermoral seperti dia sama sekali nggak pantas kuliah di Universitas Bhinneka.”Lisa memeluk lengan Jordi sambil bermanja.“Iya, Yah. Aku juga nggak mau satu kampus sa

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 6

    Aku dikelilingi banyak sekuriti.Kalaupun teman-teman sekelasku masih ingin memukulku lagi, mereka tak akan bisa.Lagi pula, amarah mereka tadi sudah cukup terlampiaskan.Sekarang, yang paling penting adalah masalah kuliah.“Itu benar, Lisa! Cepat panggil ayahmu ke sini! Kamu harus memberi kami penjelasan!”“Iya! Kalau ibuku tahu aku gagal masuk kuliah, dia pasti membunuhku!”Keringat dingin mulai membasahi dahi Lisa.“Ayah… ayahku sangat sibuk. Kurasa dia nggak punya waktu datang ke sini.”“Telepon dulu! Kalau belum dicoba, gimana kamu tahu?”Di hadapan begitu banyak orang, Lisa mengeluarkan ponselnya.Dengan gerakan lambat, dia mulai menelepon.[Halo, Yah? Oh… Ayah lagi sibuk? Baiklah.]Dia mengetuk layar ponselnya beberapa kali.“Dengar sendiri, ‘kan? Ayahku memang lagi sibuk. Sekarang dia lagi ada proyek bernilai triliunan. Kalau sampai tertunda gara-gara urusan kalian, memangnya kalian sanggup tanggung jawab?”Mendengar ucapannya, teman-teman sekelasku langsung ciut.Tak seorang p

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 5

    Suasana mendadak sunyi.Begitu hening seolah suara jarum jatuh pun rasanya bisa terdengar.Semua orang terpaku di tempat.Beberapa detik kemudian, seseorang akhirnya angkat bicara.“Nggak mungkin, Pak. Bapak pasti salah. Lisa sudah janji sama kami. Dia bilang kami semua pasti bisa masuk Universitas Bhinneka.”“Iya, Pak. Mungkin Bapak belum tahu sehebat apa Lisa. Ayahnya ‘kan konglomerat.”Wajah wali kelas langsung memerah karena tersulut amarah.“Bapak sudah berkali-kali ingatkan di grup supaya kalian jangan sampai melewatkan batas waktu pengisian pilihan universitas! Kenapa nggak ada satu pun yang mendengarkan?”Kini mereka memang sudah lulus.Meski masih memanggilnya “Bapak” sebagai bentuk hormat, sejak lama mereka sudah tak lagi mau mendengarkan nasihatnya.“Bapak cuma guru biasa. Mana mungkin paham urusan seperti ini. Ayahnya Lisa cukup bilang satu kata saja, kami semua pasti bisa masuk. Mungkin surat penerimaan kami memang belum sampai. Tinggal tunggu sebentar lagi.”“Yang harus m

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status