Se connecter“Kami menerima laporan dugaan pencurian harta benda senilai miliaran rupiah. Mohon ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.”Semua orang langsung terpaku.Tak ada yang menyangka keadaan bisa berbalik secepat itu.“Bohong! Aku nggak melakukannya! Aku nggak mencuri!”Aku melangkah menghampiri Lisa.Kutarik kalung yang melingkar di lehernya.Kalung itu jelas milikku.Kalung yang selama kusimpan di dalam lemari.Awalnya, saat Lisa mencuri identitasku, aku memang tak terlalu memedulikannya.Bagaimanapun, saat itu dia belum benar-benar merugikanku.Namun, ketika kulihat dia datang ke sekolah mengenakan anting berlian hadiah dari ibuku sambil memamerkannya ke mana-mana, aku mulai curiga.Sayangnya, saat itu CCTV di kamarku belum sempat dipasang.Setelah puas memakainya, dia diam-diam mengembalikannya ke tempat semula.Karena tak memiliki bukti, aku pun tak bisa melaporkannya ke polisi.Namun sekarang…Semuanya sudah berbeda.Buktinya tak terbantahkan.Kalung curian itu masih te
Di layar ponsel terpampang sebuah siaran langsung.Di dalam siaran itu, teman sekelasku ternyata sedang membakar gorden ruang kelas dan mengancam akan membakar diri.[Kami mohon pada panitia, beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar ingin kuliah. Kami mohon…][Iya! Kalau kami nggak bisa kuliah, lebih baik kami mati saja!][Tolong… beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar mengaku salah!]Peristiwa besar itu langsung menggemparkan jagat maya.Dalam waktu singkat, puluhan ribu penonton membanjiri siaran tersebut.Kolom komentar pun segera dipenuhi rangkuman duduk perkaranya.Sebagian besar warganet masih berpikir jernih.Mereka berpendapat bahwa lupa mengisi formulir pilihan universitas adalah kelalaian yang sangat fatal.Kalau mereka sendiri saja tak peduli dengan masa depan mereka, lalu siapa lagi yang bisa disalahkan?Namun, ucapan berikutnya membuat bulu kuduk berdiri.[Kami juga tertipu oleh Gita, putri konglomerat di kelas kami! Dia bilang ayahnya punya koneksi d
Lisa menutupi wajahnya sambil menatapku dengan tatapan kosong.“No…Nona Besar?”Aku mendengus dingin.“Kamu mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi jangan pernah mencoba membohongi dirimu sendiri.”Semua orang terpaku.Perubahan keadaan yang begitu mendadak, membuat mereka terdiam.Tak seorang pun mengerti bagaimana mungkin seseorang yang sedetik lalu masih dianggap konglomerat, kini justru bersikap begitu hormat kepada orang lain.“Lisa, sebenarnya ada apa? Bukannya ayahmu itu konglomerat?” tanya seseorang dengan bingung.“Konglomerat? Tak kusangka sopirku ternyata serendah hati itu. Masih mau bekerja untukku. Sungguh menyia-nyiakan kemampuanmu.”Hanya dengan satu kalimat dari ayahku, seluruh kebohongan itu langsung terbongkar.“Maaf, Pak Baskara. Aku cuma kurang pikir sampai berani menyinggung Non Gita. Aku benar-benar minta maaf.”Akhirnya Lisa menyadari.Selama satu tahun penuh di kelas dua belas, semua kemewahan yang dia pamerkan di hadapanku ternyata tak lebih dari sebuah leluco
Beberapa teman sekelas langsung mengeluarkan ponsel dan mencari nomor polisi mobil itu.Karena menggunakan pelat nomor cantik, identitas pemiliknya pun mudah ditemukan.“Ini memang mobil milik keluarga konglomerat. Bahkan nomor polisinya juga cocok. Gita, berhenti keras kepala.”Kini mereka benar-benar yakin dengan identitas Jordi.Mereka beramai-ramai mengerubunginya, memohon bantuan agar bisa masuk ke universitas impian mereka.“Tenang saja, semuanya. Nanti aku akan hubungi rektor. Aku jamin kalian semua bisa kuliah.”Tatapan Marco kepada Lisa dan Jordi langsung dipenuhi rasa terima kasih.Namun, dia tetap tak lupa menginjakku.“Om, semua ini gara-gara Gita. Kalau saja dia nggak diam-diam mengisi pilihan universitasnya sendiri, kami juga nggak perlu merepotkan Om seperti sekarang.”“Menurutku, orang yang egois dan nggak bermoral seperti dia sama sekali nggak pantas kuliah di Universitas Bhinneka.”Lisa memeluk lengan Jordi sambil bermanja.“Iya, Yah. Aku juga nggak mau satu kampus sa
Aku dikelilingi banyak sekuriti.Kalaupun teman-teman sekelasku masih ingin memukulku lagi, mereka tak akan bisa.Lagi pula, amarah mereka tadi sudah cukup terlampiaskan.Sekarang, yang paling penting adalah masalah kuliah.“Itu benar, Lisa! Cepat panggil ayahmu ke sini! Kamu harus memberi kami penjelasan!”“Iya! Kalau ibuku tahu aku gagal masuk kuliah, dia pasti membunuhku!”Keringat dingin mulai membasahi dahi Lisa.“Ayah… ayahku sangat sibuk. Kurasa dia nggak punya waktu datang ke sini.”“Telepon dulu! Kalau belum dicoba, gimana kamu tahu?”Di hadapan begitu banyak orang, Lisa mengeluarkan ponselnya.Dengan gerakan lambat, dia mulai menelepon.[Halo, Yah? Oh… Ayah lagi sibuk? Baiklah.]Dia mengetuk layar ponselnya beberapa kali.“Dengar sendiri, ‘kan? Ayahku memang lagi sibuk. Sekarang dia lagi ada proyek bernilai triliunan. Kalau sampai tertunda gara-gara urusan kalian, memangnya kalian sanggup tanggung jawab?”Mendengar ucapannya, teman-teman sekelasku langsung ciut.Tak seorang p
Suasana mendadak sunyi.Begitu hening seolah suara jarum jatuh pun rasanya bisa terdengar.Semua orang terpaku di tempat.Beberapa detik kemudian, seseorang akhirnya angkat bicara.“Nggak mungkin, Pak. Bapak pasti salah. Lisa sudah janji sama kami. Dia bilang kami semua pasti bisa masuk Universitas Bhinneka.”“Iya, Pak. Mungkin Bapak belum tahu sehebat apa Lisa. Ayahnya ‘kan konglomerat.”Wajah wali kelas langsung memerah karena tersulut amarah.“Bapak sudah berkali-kali ingatkan di grup supaya kalian jangan sampai melewatkan batas waktu pengisian pilihan universitas! Kenapa nggak ada satu pun yang mendengarkan?”Kini mereka memang sudah lulus.Meski masih memanggilnya “Bapak” sebagai bentuk hormat, sejak lama mereka sudah tak lagi mau mendengarkan nasihatnya.“Bapak cuma guru biasa. Mana mungkin paham urusan seperti ini. Ayahnya Lisa cukup bilang satu kata saja, kami semua pasti bisa masuk. Mungkin surat penerimaan kami memang belum sampai. Tinggal tunggu sebentar lagi.”“Yang harus m




