แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Makjos
Melihatku menangis, ayah dan ibu langsung menghampiri sambil bertanya apa yang terjadi dengan nada penuh kekhawatiran.

Aku melirik ke arah pelayan, lalu menyeka air mata.

“Kita bicara di ruang baca saja. Aku akan jelaskan semuanya.”

Setibanya di ruang kerja, aku menceritakan semua yang terjadi hari ini tanpa melewatkan satu detail pun.

Saat mendengar nama Lisa, ayah dan ibu terdiam beberapa saat.

“Bukannya Lisa itu anak Jordi?” tanya ibu lebih dulu.

Di rumah kami memang hanya ada satu pelayan bernama Jordi.

Dia adalah sopir pribadi ayah.

Iya, benar sekali.

Lisa sama sekali bukan putri seorang konglomerat.

Ayahnya hanyalah salah satu sopir yang bekerja untuk keluarga kami.

Ayah memiliki beberapa sopir, sedangkan Jordi adalah orang yang paling baru bergabung.

Karena itulah, dia belum pernah bertemu langsung denganku.

Belum lama bekerja, Jordi pernah datang menemui ayah untuk meminta bantuan memindahkan sekolah putrinya.

Melihat selama ini dia bekerja dengan rajin dan jujur, ayah pun membantunya.

Berkat bantuan itu, Lisa akhirnya bisa pindah ke sekolahku.

Tak disangka…

Orang yang dibesarkan justru seekor serigala berbulu domba.

“Kurang ajar! Akan kupecat dia sekarang juga!” umpat Ayah dengan wajah murka.

Aku segera menghentikannya.

Kalau identitas ayah dan anak itu dibongkar sekarang, sama saja dengan membuat mereka waspada.

Belum lagi, apa yang mereka lakukan jelas tak berhenti pada pemalsuan identitas saja.

“Berani-beraninya mereka memperlakukan putriku seperti itu.!”

“Mereka harus membayar semuanya!” ucap ibu tegas.

Aku mengangguk pelan.

Lalu menyampaikan rencanaku.

Setelah mendengarnya, ibu tersenyum sambil menepuk bahuku.

“Baiklah. Jangan terus memikirkan hal-hal yang membuatmu sedih. Nilai ujian juga sudah keluar. Cepat isi pilihan kampusmu.”

“Kalau kamu nggak mau kuliah di dalam negeri juga nggak masalah. Ibu sudah menghubungi beberapa universitas luar negeri untukmu.”

Malam sebelumnya, batas nilai penerimaan Universitas Bhinneka sudah diumumkan.

Nilai ujianku berada tiga puluh poin di atas batas kelulusan.

Artinya, aku sudah pasti diterima.

Aku segera menyampaikan kabar baik itu kepada wali kelasku.

Sekalian, aku mencoba bertanya secara tak langsung mengenai nilai teman-teman sekelasku.

Sebagian besar dari mereka memang masih sulit untuk diterima di Universitas Bhinneka.

Namun, masuk ke universitas bagus lainnya seharusnya bukan masalah.

Sedangkan Marco dan Lisa...

Dengan nilai seperti itu, paling-paling mereka hanya bisa masuk kampus vokasi.

Aku membuka laptop dan menyelesaikan pengisian pilihan jurusan.

Setelah mengobrol sebentar lagi dengan ayah dan ibu, aku pun pergi tidur.

Keesokan paginya, wali kelas mengirimkan banyak pengumuman di grup kelas mengenai hal-hal yang harus diperhatikan saat mengisi pilihan universitas.

Beliau berkali-kali mengingatkan agar kami tidak melewatkan batas waktu pendaftaran.

Kalau sampai terlambat, satu-satunya pilihan hanyalah mengulang ujian tahun depan.

Tak seorang pun membalas pesannya.

Namun, di grup lain yang tak diikuti guru, suasananya justru sangat ramai.

Mereka menertawakan wali kelas karena dianggap terlalu kolot.

Menurut mereka, tak perlu repot-repot mengisi pilihan universitas.

Lisa akan mengurus semuanya.

Tak lama kemudian, Lisa mengirim foto sebuah tempat wisata di luar negeri ke dalam grup.

“Aku lagi di luar negeri. Nggak usah khawatir. Semua sudah kubicarakan sama ayahku. Kalian tinggal menunggu surat penerimaan saja.”

Seketika grup kembali heboh.

Semua orang berlomba-lomba menjilat Lisa.

Sementara aku…

Diam-diam keluar dari grup itu.

Bagaimanapun juga, pilihan universitas sudah selesai kuisi.

Tiket pesawat juga sudah kupesan.

Saatnya bersiap untuk pergi berlibur ke luar negeri.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 10

    “Kami menerima laporan dugaan pencurian harta benda senilai miliaran rupiah. Mohon ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.”Semua orang langsung terpaku.Tak ada yang menyangka keadaan bisa berbalik secepat itu.“Bohong! Aku nggak melakukannya! Aku nggak mencuri!”Aku melangkah menghampiri Lisa.Kutarik kalung yang melingkar di lehernya.Kalung itu jelas milikku.Kalung yang selama kusimpan di dalam lemari.Awalnya, saat Lisa mencuri identitasku, aku memang tak terlalu memedulikannya.Bagaimanapun, saat itu dia belum benar-benar merugikanku.Namun, ketika kulihat dia datang ke sekolah mengenakan anting berlian hadiah dari ibuku sambil memamerkannya ke mana-mana, aku mulai curiga.Sayangnya, saat itu CCTV di kamarku belum sempat dipasang.Setelah puas memakainya, dia diam-diam mengembalikannya ke tempat semula.Karena tak memiliki bukti, aku pun tak bisa melaporkannya ke polisi.Namun sekarang…Semuanya sudah berbeda.Buktinya tak terbantahkan.Kalung curian itu masih te

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 9

    Di layar ponsel terpampang sebuah siaran langsung.Di dalam siaran itu, teman sekelasku ternyata sedang membakar gorden ruang kelas dan mengancam akan membakar diri.[Kami mohon pada panitia, beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar ingin kuliah. Kami mohon…][Iya! Kalau kami nggak bisa kuliah, lebih baik kami mati saja!][Tolong… beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar mengaku salah!]Peristiwa besar itu langsung menggemparkan jagat maya.Dalam waktu singkat, puluhan ribu penonton membanjiri siaran tersebut.Kolom komentar pun segera dipenuhi rangkuman duduk perkaranya.Sebagian besar warganet masih berpikir jernih.Mereka berpendapat bahwa lupa mengisi formulir pilihan universitas adalah kelalaian yang sangat fatal.Kalau mereka sendiri saja tak peduli dengan masa depan mereka, lalu siapa lagi yang bisa disalahkan?Namun, ucapan berikutnya membuat bulu kuduk berdiri.[Kami juga tertipu oleh Gita, putri konglomerat di kelas kami! Dia bilang ayahnya punya koneksi d

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 8

    Lisa menutupi wajahnya sambil menatapku dengan tatapan kosong.“No…Nona Besar?”Aku mendengus dingin.“Kamu mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi jangan pernah mencoba membohongi dirimu sendiri.”Semua orang terpaku.Perubahan keadaan yang begitu mendadak, membuat mereka terdiam.Tak seorang pun mengerti bagaimana mungkin seseorang yang sedetik lalu masih dianggap konglomerat, kini justru bersikap begitu hormat kepada orang lain.“Lisa, sebenarnya ada apa? Bukannya ayahmu itu konglomerat?” tanya seseorang dengan bingung.“Konglomerat? Tak kusangka sopirku ternyata serendah hati itu. Masih mau bekerja untukku. Sungguh menyia-nyiakan kemampuanmu.”Hanya dengan satu kalimat dari ayahku, seluruh kebohongan itu langsung terbongkar.“Maaf, Pak Baskara. Aku cuma kurang pikir sampai berani menyinggung Non Gita. Aku benar-benar minta maaf.”Akhirnya Lisa menyadari.Selama satu tahun penuh di kelas dua belas, semua kemewahan yang dia pamerkan di hadapanku ternyata tak lebih dari sebuah leluco

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 7

    Beberapa teman sekelas langsung mengeluarkan ponsel dan mencari nomor polisi mobil itu.Karena menggunakan pelat nomor cantik, identitas pemiliknya pun mudah ditemukan.“Ini memang mobil milik keluarga konglomerat. Bahkan nomor polisinya juga cocok. Gita, berhenti keras kepala.”Kini mereka benar-benar yakin dengan identitas Jordi.Mereka beramai-ramai mengerubunginya, memohon bantuan agar bisa masuk ke universitas impian mereka.“Tenang saja, semuanya. Nanti aku akan hubungi rektor. Aku jamin kalian semua bisa kuliah.”Tatapan Marco kepada Lisa dan Jordi langsung dipenuhi rasa terima kasih.Namun, dia tetap tak lupa menginjakku.“Om, semua ini gara-gara Gita. Kalau saja dia nggak diam-diam mengisi pilihan universitasnya sendiri, kami juga nggak perlu merepotkan Om seperti sekarang.”“Menurutku, orang yang egois dan nggak bermoral seperti dia sama sekali nggak pantas kuliah di Universitas Bhinneka.”Lisa memeluk lengan Jordi sambil bermanja.“Iya, Yah. Aku juga nggak mau satu kampus sa

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 6

    Aku dikelilingi banyak sekuriti.Kalaupun teman-teman sekelasku masih ingin memukulku lagi, mereka tak akan bisa.Lagi pula, amarah mereka tadi sudah cukup terlampiaskan.Sekarang, yang paling penting adalah masalah kuliah.“Itu benar, Lisa! Cepat panggil ayahmu ke sini! Kamu harus memberi kami penjelasan!”“Iya! Kalau ibuku tahu aku gagal masuk kuliah, dia pasti membunuhku!”Keringat dingin mulai membasahi dahi Lisa.“Ayah… ayahku sangat sibuk. Kurasa dia nggak punya waktu datang ke sini.”“Telepon dulu! Kalau belum dicoba, gimana kamu tahu?”Di hadapan begitu banyak orang, Lisa mengeluarkan ponselnya.Dengan gerakan lambat, dia mulai menelepon.[Halo, Yah? Oh… Ayah lagi sibuk? Baiklah.]Dia mengetuk layar ponselnya beberapa kali.“Dengar sendiri, ‘kan? Ayahku memang lagi sibuk. Sekarang dia lagi ada proyek bernilai triliunan. Kalau sampai tertunda gara-gara urusan kalian, memangnya kalian sanggup tanggung jawab?”Mendengar ucapannya, teman-teman sekelasku langsung ciut.Tak seorang p

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 5

    Suasana mendadak sunyi.Begitu hening seolah suara jarum jatuh pun rasanya bisa terdengar.Semua orang terpaku di tempat.Beberapa detik kemudian, seseorang akhirnya angkat bicara.“Nggak mungkin, Pak. Bapak pasti salah. Lisa sudah janji sama kami. Dia bilang kami semua pasti bisa masuk Universitas Bhinneka.”“Iya, Pak. Mungkin Bapak belum tahu sehebat apa Lisa. Ayahnya ‘kan konglomerat.”Wajah wali kelas langsung memerah karena tersulut amarah.“Bapak sudah berkali-kali ingatkan di grup supaya kalian jangan sampai melewatkan batas waktu pengisian pilihan universitas! Kenapa nggak ada satu pun yang mendengarkan?”Kini mereka memang sudah lulus.Meski masih memanggilnya “Bapak” sebagai bentuk hormat, sejak lama mereka sudah tak lagi mau mendengarkan nasihatnya.“Bapak cuma guru biasa. Mana mungkin paham urusan seperti ini. Ayahnya Lisa cukup bilang satu kata saja, kami semua pasti bisa masuk. Mungkin surat penerimaan kami memang belum sampai. Tinggal tunggu sebentar lagi.”“Yang harus m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status