Compartilhar

Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton
Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton
Autor: Makjos

Bab 1

Autor: Makjos
Di ruang VIP sebuah restoran.

Setelah aku mati karena diracun, Marco Galileo, pacarku, masih belum merasa puas.

Dia mengeluarkan ponsel dari tubuhku, lalu menghubungi kedua orang tuaku.

Begitu mendengar aku mengalami insiden, ayah dan ibu langsung bergegas datang tanpa berpikir panjang.

Saat melihatku tergeletak di lantai, bersimbah darah, mereka menangis hingga terasa sesak.

Marco bersama beberapa teman sekelasku membantu mereka duduk.

“Om, Tante, jangan panik. Ambulans sudah dalam perjalanan. Silakan minum dulu.”

Ayah dan ibu sama sekali tak curiga.

Mereka menerima gelas yang disodorkan dan langsung menghabiskannya.

Namun tak lama kemudian…

Dada mereka mendadak terasa seperti ditusuk-tusuk.

Sesaat setelah itu, keduanya memuntahkan banyak darah.

Barulah saat itu topeng Marco dan yang lainnya tersingkap.

“Putri kesayangan kalian sudah kami racun sampai mati!”

“Gara-gara dia, Lisa mati. Gita pantas masuk neraka untuk menebus dosanya!”

“Tua bangka seperti kalian juga harus mati!”

“Temani saja putri kalian di neraka!”

“Kalau mau menyalahkan, salahkan saja Gita! Hatinya terlalu busuk sampai menyeret kalian ikut celaka.”

Hari itu…

Kami sekeluarga tewas di tempat.

Rohku melayang di udara.

Aku ingin menyeret mereka semua ikut mati bersamaku.

Namun…

Aku sama sekali tak berdaya.

Tepat pada detik berikutnya, suara yang sangat kukenal kembali terdengar di telingaku.

“Gokil, Lisa! Hari ini kamu juga diantar sopirmu ke sekolah? Pakai Rolls-Royce lagi, gila!”

Aku berdiri di sudut kelas.

Menatap semua yang ada di hadapanku dengan wajah tak percaya.

Barulah kusadari...

Aku hidup kembali.

“Bukan kok. Itu ayahku, bukan sopir.”

Ucapan itu membuat seluruh kelas semakin heboh.

“OMG! Ayahmu sayang banget sama kamu. Sesibuk itu masih saja sempat mengantarmu ke sekolah.”

Lisa hanya tersenyum tipis.

Seolah mengiyakan pujian itu.

Namun aku tahu.

Semua yang keluar dari mulutnya hanyalah kebohongan.

Mengingat bagaimana penderitaan menjelang kematianku di kehidupan sebelumnya, tatapanku kepadanya langsung dipenuhi kebencian.

Mungkin merasakan tatapanku yang tak bersahabat, Lisa menoleh ke arahku.

“Gita, nilaimu ‘kan bagus. Tanpa bantuanku, kamu pasti tetap bisa masuk Universitas Bhinneka.”

Aku menarik kembali pandanganku.

Baru saja hendak menjawab, Marco sudah lebih dulu menyela.

“Kamu nggak usah pedulikan dia, Lisa. Lihat saja penampilannya yang miskin begitu. Sekalipun diterima di salah satu kampus itu, dia juga nggak bakal sanggup kuliah di sana. Mending masuk kampus abal-abal saja.”

“Iya! Dia pasti nggak mampu bayar uang kuliah. Kalaupun Lisa berbaik hati membantunya masuk, Dia tetap nggak punya uang untuk hidup di ibu kota. Masa Lisa harus menghidupinya seumur hidup?”

Saat itu, teman-teman kelasku sudah sepenuhnya memercayai perkataan Lisa.

Mereka yakin Lisa benar-benar mampu memasukkan mereka ke Universitas Bhinneka melalui “jalur belakang”.

Semalam, saat mengecek hasil ujian, aku sudah melihat nilaiku. Jauh di atas batas penerimaan kedua universitas tersebut.

Selama tak salah memilih pilihan jurusan dan kampus, aku pasti akan diterima.

Mata Lisa langsung berbinar setelah mendengar ucapan mereka.

“Sebenarnya keluargaku juga sering memberikan beasiswa untuk siswa kurang mampu.”

“Kalau kamu berlutut dan bersujud sekarang, aku bisa saja membiayai kuliahmu.”

Aku mengepalkan tangan erat-erat, menahan keinginan untuk menghajarnya saat itu juga.

“Nggak perlu. Sesuatu yang memang bukan milikmu, kalau dipaksakan untuk dimiliki, cepat atau lambat pasti akan mendatangkan akibatnya.”

Senyum di wajah Lisa langsung membeku.

Tak lama kemudian, dia memaksa mengeluarkan air mata.

“Aku melakukan ini juga demi kebaikanmu. Gimanapun, kalau nanti kamu bisa masuk kampus terbaik itu, mungkin nasibmu akan berubah. Kalau kamu memang nggak menghargai niat baikku… ya sudah.”

Begitu melihat Lisa menangis, Marco segera menghampiriku.

Dia menendang lututku.

“Gita! Kamu memang nggak tahu terima kasih! Lisa mau membiayai kuliahmu, itu keberuntungan yang bahkan belum tentu datang sekali seumur hidup. Cepat berlutut dan ucapkan terima kasih!”

“Iya, nih! Sudah miskin, masih saja gengsi. Memangnya harga diri bisa bikin kenyang, hah?”

Lututku terasa nyeri akibat tendangannya.

Namun aku tetap memaksakan diri untuk berdiri tegak.

Aku menatap mereka dengan penuh kebencian.

Puluhan pasang mata kini tertuju kepadaku.

Mereka semua menunggu saat aku berlutut dengan hina.

“Nggak perlu! Keluargaku memang miskin, tapi kami masih mampu membiayai sekolahku. Lagi pula, masih ada pinjaman pendidikan. Selalu ada jalan untuk bertahan hidup.”

“Justru kalian tuh! Nilai pas-pasan, tapi bermimpi masuk lewat ‘jalur belakang’.”

“Hati-hati.”

“Jangan sampai merasa paling pintar… malah berakhir mencelakakan diri sendiri.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 10

    “Kami menerima laporan dugaan pencurian harta benda senilai miliaran rupiah. Mohon ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.”Semua orang langsung terpaku.Tak ada yang menyangka keadaan bisa berbalik secepat itu.“Bohong! Aku nggak melakukannya! Aku nggak mencuri!”Aku melangkah menghampiri Lisa.Kutarik kalung yang melingkar di lehernya.Kalung itu jelas milikku.Kalung yang selama kusimpan di dalam lemari.Awalnya, saat Lisa mencuri identitasku, aku memang tak terlalu memedulikannya.Bagaimanapun, saat itu dia belum benar-benar merugikanku.Namun, ketika kulihat dia datang ke sekolah mengenakan anting berlian hadiah dari ibuku sambil memamerkannya ke mana-mana, aku mulai curiga.Sayangnya, saat itu CCTV di kamarku belum sempat dipasang.Setelah puas memakainya, dia diam-diam mengembalikannya ke tempat semula.Karena tak memiliki bukti, aku pun tak bisa melaporkannya ke polisi.Namun sekarang…Semuanya sudah berbeda.Buktinya tak terbantahkan.Kalung curian itu masih te

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 9

    Di layar ponsel terpampang sebuah siaran langsung.Di dalam siaran itu, teman sekelasku ternyata sedang membakar gorden ruang kelas dan mengancam akan membakar diri.[Kami mohon pada panitia, beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar ingin kuliah. Kami mohon…][Iya! Kalau kami nggak bisa kuliah, lebih baik kami mati saja!][Tolong… beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar mengaku salah!]Peristiwa besar itu langsung menggemparkan jagat maya.Dalam waktu singkat, puluhan ribu penonton membanjiri siaran tersebut.Kolom komentar pun segera dipenuhi rangkuman duduk perkaranya.Sebagian besar warganet masih berpikir jernih.Mereka berpendapat bahwa lupa mengisi formulir pilihan universitas adalah kelalaian yang sangat fatal.Kalau mereka sendiri saja tak peduli dengan masa depan mereka, lalu siapa lagi yang bisa disalahkan?Namun, ucapan berikutnya membuat bulu kuduk berdiri.[Kami juga tertipu oleh Gita, putri konglomerat di kelas kami! Dia bilang ayahnya punya koneksi d

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 8

    Lisa menutupi wajahnya sambil menatapku dengan tatapan kosong.“No…Nona Besar?”Aku mendengus dingin.“Kamu mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi jangan pernah mencoba membohongi dirimu sendiri.”Semua orang terpaku.Perubahan keadaan yang begitu mendadak, membuat mereka terdiam.Tak seorang pun mengerti bagaimana mungkin seseorang yang sedetik lalu masih dianggap konglomerat, kini justru bersikap begitu hormat kepada orang lain.“Lisa, sebenarnya ada apa? Bukannya ayahmu itu konglomerat?” tanya seseorang dengan bingung.“Konglomerat? Tak kusangka sopirku ternyata serendah hati itu. Masih mau bekerja untukku. Sungguh menyia-nyiakan kemampuanmu.”Hanya dengan satu kalimat dari ayahku, seluruh kebohongan itu langsung terbongkar.“Maaf, Pak Baskara. Aku cuma kurang pikir sampai berani menyinggung Non Gita. Aku benar-benar minta maaf.”Akhirnya Lisa menyadari.Selama satu tahun penuh di kelas dua belas, semua kemewahan yang dia pamerkan di hadapanku ternyata tak lebih dari sebuah leluco

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 7

    Beberapa teman sekelas langsung mengeluarkan ponsel dan mencari nomor polisi mobil itu.Karena menggunakan pelat nomor cantik, identitas pemiliknya pun mudah ditemukan.“Ini memang mobil milik keluarga konglomerat. Bahkan nomor polisinya juga cocok. Gita, berhenti keras kepala.”Kini mereka benar-benar yakin dengan identitas Jordi.Mereka beramai-ramai mengerubunginya, memohon bantuan agar bisa masuk ke universitas impian mereka.“Tenang saja, semuanya. Nanti aku akan hubungi rektor. Aku jamin kalian semua bisa kuliah.”Tatapan Marco kepada Lisa dan Jordi langsung dipenuhi rasa terima kasih.Namun, dia tetap tak lupa menginjakku.“Om, semua ini gara-gara Gita. Kalau saja dia nggak diam-diam mengisi pilihan universitasnya sendiri, kami juga nggak perlu merepotkan Om seperti sekarang.”“Menurutku, orang yang egois dan nggak bermoral seperti dia sama sekali nggak pantas kuliah di Universitas Bhinneka.”Lisa memeluk lengan Jordi sambil bermanja.“Iya, Yah. Aku juga nggak mau satu kampus sa

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 6

    Aku dikelilingi banyak sekuriti.Kalaupun teman-teman sekelasku masih ingin memukulku lagi, mereka tak akan bisa.Lagi pula, amarah mereka tadi sudah cukup terlampiaskan.Sekarang, yang paling penting adalah masalah kuliah.“Itu benar, Lisa! Cepat panggil ayahmu ke sini! Kamu harus memberi kami penjelasan!”“Iya! Kalau ibuku tahu aku gagal masuk kuliah, dia pasti membunuhku!”Keringat dingin mulai membasahi dahi Lisa.“Ayah… ayahku sangat sibuk. Kurasa dia nggak punya waktu datang ke sini.”“Telepon dulu! Kalau belum dicoba, gimana kamu tahu?”Di hadapan begitu banyak orang, Lisa mengeluarkan ponselnya.Dengan gerakan lambat, dia mulai menelepon.[Halo, Yah? Oh… Ayah lagi sibuk? Baiklah.]Dia mengetuk layar ponselnya beberapa kali.“Dengar sendiri, ‘kan? Ayahku memang lagi sibuk. Sekarang dia lagi ada proyek bernilai triliunan. Kalau sampai tertunda gara-gara urusan kalian, memangnya kalian sanggup tanggung jawab?”Mendengar ucapannya, teman-teman sekelasku langsung ciut.Tak seorang p

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 5

    Suasana mendadak sunyi.Begitu hening seolah suara jarum jatuh pun rasanya bisa terdengar.Semua orang terpaku di tempat.Beberapa detik kemudian, seseorang akhirnya angkat bicara.“Nggak mungkin, Pak. Bapak pasti salah. Lisa sudah janji sama kami. Dia bilang kami semua pasti bisa masuk Universitas Bhinneka.”“Iya, Pak. Mungkin Bapak belum tahu sehebat apa Lisa. Ayahnya ‘kan konglomerat.”Wajah wali kelas langsung memerah karena tersulut amarah.“Bapak sudah berkali-kali ingatkan di grup supaya kalian jangan sampai melewatkan batas waktu pengisian pilihan universitas! Kenapa nggak ada satu pun yang mendengarkan?”Kini mereka memang sudah lulus.Meski masih memanggilnya “Bapak” sebagai bentuk hormat, sejak lama mereka sudah tak lagi mau mendengarkan nasihatnya.“Bapak cuma guru biasa. Mana mungkin paham urusan seperti ini. Ayahnya Lisa cukup bilang satu kata saja, kami semua pasti bisa masuk. Mungkin surat penerimaan kami memang belum sampai. Tinggal tunggu sebentar lagi.”“Yang harus m

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status