로그인Menjelang pengisian pilihan universitas, siswi tercantik di kelasku yang juga putri seorang konglomerat tiba-tiba mengaku bisa memastikan seluruh teman sekelasku diterima di Universitas Bhinneka. “Ayah dan ibuku menyumbangkan dana untuk pembangunan beberapa gedung di sana. Jadi, kalau cuma meloloskan kalian masuk ke kampus itu, gampang banget.” Padahal, nilai sebagian besar teman sekelasku bahkan belum memenuhi syarat untuk masuk ke universitas terbaik tersebut. Namun, tak seorang pun meragukannya. Mereka semua memercayai ucapannya. Bahkan memilih tidak mengisi formulir pilihan universitas dan sepenuhnya menggantungkan harapan pada “jalur belakang” yang dijanjikan sang primadona kelas. Di kehidupan sebelumnya, aku langsung sadar ucapannya sama sekali tak masuk akal. Aku membujuk mereka agar tetap mengisi pilihan universitas dan menyiapkan rencana cadangan. Aku juga menelepon orang tua mereka satu per satu untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Tak kusangka, tindakanku justru memicu amarah sang primadona. Dia mengejekku sebagai gadis miskin yang tak paham cara kerja kalangan elite. Dia juga menuduhku sengaja menghancurkan masa depan seluruh teman sekelas. Bahkan pacarku ikut memarahiku habis-habisan. Menurutnya, semua yang kulakukan hanya didorong rasa cemburu. “Aku tahu kenapa kamu melakukan ini! Kamu cuma iri karena keluarga Lisa kaya raya. Kamu nggak tahan melihat kami semua masuk Universitas Bhinneka.” “Nilaimu memang bagus. Tapi sekalipun bekerja keras seumur hidup, kamu tetap nggak akan pernah bisa menyamai fondasi yang dibangun keluarganya selama tiga generasi!” Demi persahabatan yang telah terjalin selama tiga tahun, aku memilih tak memperpanjang masalah. Namun, ketika tenggat pengisian pilihan universitas hampir berakhir dan mereka tetap belum mendaftarkan diri, aku akhirnya melapor ke polisi. Sekaligus membongkar identitas palsu sang primadona. Dia pun menjadi sasaran kecaman publik. Dalam keputusasaan, dia melompat ke sungai dan mengakhiri hidupnya. Semua teman sekelasku mengatakan bahwa itulah hukuman yang pantas untuknya. Mereka bahkan berterima kasih karena aku telah menyelamatkan masa depan mereka. Namun, pada acara makan perpisahan kelas… Pacarku diam-diam mencampurkan racun ke dalam minumanku. Sementara seluruh teman sekelasku hanya berdiri mengelilingiku, menatap dingin ketika aku meronta kesakitan. “Paling banter kami cuma kehilangan kesempatan masuk kampus.” “Tapi Lisa… dia kehilangan nyawanya!” Saat kembali membuka mata... Aku telah kembali ke hari ketika sang primadona kelas untuk pertama kalinya mengklaim bahwa dia bisa memasukkan seluruh teman sekelas ke universitas melalui “jalur belakang”.
더 보기“Kami menerima laporan dugaan pencurian harta benda senilai miliaran rupiah. Mohon ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.”Semua orang langsung terpaku.Tak ada yang menyangka keadaan bisa berbalik secepat itu.“Bohong! Aku nggak melakukannya! Aku nggak mencuri!”Aku melangkah menghampiri Lisa.Kutarik kalung yang melingkar di lehernya.Kalung itu jelas milikku.Kalung yang selama kusimpan di dalam lemari.Awalnya, saat Lisa mencuri identitasku, aku memang tak terlalu memedulikannya.Bagaimanapun, saat itu dia belum benar-benar merugikanku.Namun, ketika kulihat dia datang ke sekolah mengenakan anting berlian hadiah dari ibuku sambil memamerkannya ke mana-mana, aku mulai curiga.Sayangnya, saat itu CCTV di kamarku belum sempat dipasang.Setelah puas memakainya, dia diam-diam mengembalikannya ke tempat semula.Karena tak memiliki bukti, aku pun tak bisa melaporkannya ke polisi.Namun sekarang…Semuanya sudah berbeda.Buktinya tak terbantahkan.Kalung curian itu masih te
Di layar ponsel terpampang sebuah siaran langsung.Di dalam siaran itu, teman sekelasku ternyata sedang membakar gorden ruang kelas dan mengancam akan membakar diri.[Kami mohon pada panitia, beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar ingin kuliah. Kami mohon…][Iya! Kalau kami nggak bisa kuliah, lebih baik kami mati saja!][Tolong… beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar mengaku salah!]Peristiwa besar itu langsung menggemparkan jagat maya.Dalam waktu singkat, puluhan ribu penonton membanjiri siaran tersebut.Kolom komentar pun segera dipenuhi rangkuman duduk perkaranya.Sebagian besar warganet masih berpikir jernih.Mereka berpendapat bahwa lupa mengisi formulir pilihan universitas adalah kelalaian yang sangat fatal.Kalau mereka sendiri saja tak peduli dengan masa depan mereka, lalu siapa lagi yang bisa disalahkan?Namun, ucapan berikutnya membuat bulu kuduk berdiri.[Kami juga tertipu oleh Gita, putri konglomerat di kelas kami! Dia bilang ayahnya punya koneksi d
Lisa menutupi wajahnya sambil menatapku dengan tatapan kosong.“No…Nona Besar?”Aku mendengus dingin.“Kamu mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi jangan pernah mencoba membohongi dirimu sendiri.”Semua orang terpaku.Perubahan keadaan yang begitu mendadak, membuat mereka terdiam.Tak seorang pun mengerti bagaimana mungkin seseorang yang sedetik lalu masih dianggap konglomerat, kini justru bersikap begitu hormat kepada orang lain.“Lisa, sebenarnya ada apa? Bukannya ayahmu itu konglomerat?” tanya seseorang dengan bingung.“Konglomerat? Tak kusangka sopirku ternyata serendah hati itu. Masih mau bekerja untukku. Sungguh menyia-nyiakan kemampuanmu.”Hanya dengan satu kalimat dari ayahku, seluruh kebohongan itu langsung terbongkar.“Maaf, Pak Baskara. Aku cuma kurang pikir sampai berani menyinggung Non Gita. Aku benar-benar minta maaf.”Akhirnya Lisa menyadari.Selama satu tahun penuh di kelas dua belas, semua kemewahan yang dia pamerkan di hadapanku ternyata tak lebih dari sebuah leluco
Beberapa teman sekelas langsung mengeluarkan ponsel dan mencari nomor polisi mobil itu.Karena menggunakan pelat nomor cantik, identitas pemiliknya pun mudah ditemukan.“Ini memang mobil milik keluarga konglomerat. Bahkan nomor polisinya juga cocok. Gita, berhenti keras kepala.”Kini mereka benar-benar yakin dengan identitas Jordi.Mereka beramai-ramai mengerubunginya, memohon bantuan agar bisa masuk ke universitas impian mereka.“Tenang saja, semuanya. Nanti aku akan hubungi rektor. Aku jamin kalian semua bisa kuliah.”Tatapan Marco kepada Lisa dan Jordi langsung dipenuhi rasa terima kasih.Namun, dia tetap tak lupa menginjakku.“Om, semua ini gara-gara Gita. Kalau saja dia nggak diam-diam mengisi pilihan universitasnya sendiri, kami juga nggak perlu merepotkan Om seperti sekarang.”“Menurutku, orang yang egois dan nggak bermoral seperti dia sama sekali nggak pantas kuliah di Universitas Bhinneka.”Lisa memeluk lengan Jordi sambil bermanja.“Iya, Yah. Aku juga nggak mau satu kampus sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.