Share

Bab 4

Penulis: Makjos
Tanpa terasa, hari terakhir pengisian pilihan universitas pun tiba.

Aku masih terlelap di kamar hotel ketika dering telepon dari ibu membangunkanku.

[Sayang… malam ini batas terakhir pengisian pilihan universitas. Coba masuk ke akunmu dan periksa sekali lagi, jangan sampai ada masalah. Kemarin Ibu baca berita, tahun lalu ada siswa yang pilihan universitasnya diam-diam diubah kerabatnya jadi kampus vokasi. Cepat dicek, ya.]

Aku tak pernah memberi tahu siapa pun terkait akun dan kata sandiku.

Seharusnya, tak mungkin ada yang bisa mengubahnya.

Meski begitu, aku tetap membuka laptop.

Tak ada salahnya berjaga-jaga.

Namun, begitu berhasil masuk ke akun, tubuhku langsung membeku.

Pilihan universitasku yang semula adalah Universitas Bhinneka, entah kenapa telah berubah menjadi sebuah kampus vokasi yang bahkan belum pernah kudengar namanya.

Jantungku seolah berhenti berdetak.

Saat itu juga aku berterima kasih pada ibu.

Tanpa membuang waktu, aku segera mengembalikan pilihan universitasku seperti semula.

Setelah itu, aku langsung menelepon ayah dan ibu untuk menceritakan semuanya.

Mereka pun langsung terkejut.

Namun tak lama kemudian, mereka kembali tenang.

Mereka menyuruhku mengganti kata sandi akun dan mengingatkan agar kali ini jangan memberitahukannya kepada siapa pun.

Beberapa saat kemudian, ayah mengirimiku sebuah alamat IP.

Begitu melihatnya, aku langsung mengerti.

Benar saja.

Pelakunya adalah Marco.

Bajingan itu berniat menyeretku jatuh bersamanya.

Sebagian besar kata sandiku menggunakan kombinasi tanggal lahir.

Pasti dia berhasil menebaknya, lalu diam-diam masuk ke akunku dan mengubah pilihan universitasku.

Untungnya…

Ibuku lebih sigap.

Karena teleponnya, aku pun bisa mengubahnya kembali.

Meski sekarang berada di luar negeri, rasanya aku ingin sekali pulang dan menghajar si brengsek itu.

Sepanjang hari, aku tak ingin pergi ke mana-mana.

Aku hanya duduk di kamar hotel sambil terus memantau situs pendaftaran hingga batas waktunya benar-benar berakhir.

Aku takut terjadi sesuatu lagi.

Saat sistem akhirnya resmi ditutup…

Aku mengembuskan napas lega.

Namun, kelegaan itu bahkan belum sempat bertahan lama.

Ponselku tiba-tiba berdering.

Lisa mengirimiku dua foto.

Foto pertama adalah tangkapan layar pilihan universitasku.

[Toh kamu juga nggak bakal sanggup kuliah di Universitas Bhinneka. Jadi aku bantu ubah jadi kampus vokasi. Biaya kuliahnya murah, cocok banget buat orang miskin sepertimu.]

Foto kedua memperlihatkan dirinya sedang berpelukan dan berciuman dengan Marco.

[Kamu juga harus berterima kasih sama Marco. Kalau bukan karena dia, mana mungkin aku tahu kata sandimu.]

Aku hanya meliriknya sekilas.

Lalu langsung memblokir nomornya.

Bagaimanapun…

Pilihan universitasku sudah berhasil kuubah kembali.

Mereka juga tak akan bisa berbangga diri terlalu lama.

Diterima di Universitas Binneka merupakan berita besar.

Sehari sebelum pembagian surat penerimaan, wali kelasku menghubungiku.

Beliau memintaku datang ke sekolah keesokan harinya untuk mengambil surat penerimaan secara langsung. Katanya, pihak sekolah juga ingin ikut merasakan momen membanggakan itu.

Aku pun melakukan seperti yang diminta.

Namun, begitu tiba di sekolah, kulihat sudah banyak orang berkumpul di sana.

“Hei, ngapain kamu datang? Hari ini yang dibagikan surat penerimaan Universitas Bhinneka. Kalau surat dari kampus vokasi, masih tunggu bulan depan.”

Seketika gelak tawa penuh ejekan terdengar dari kerumunan.

“Sudahlah, biarkan saja dia di sini. Sekalian kasih lihat seperti apa surat penerimaan Universitas Bhinneka. Seumur hidup, mungkin cuma hari ini dia punya kesempatan melihatnya.”

Mendengar sindiran itu, aku tetap tenang.

Bagaimanapun…

Sebentar lagi semuanya akan terbukti.

Tiba-tiba…

Seseorang di tengah kerumunan berteriak.

“Surat penerimaannya sudah datang!”

Semua murid serempak menoleh ke arah luar.

Wali kelas berjalan menghampiri sambil membawa sebuah amplop surat penerimaan.

“Kenapa cuma satu? Bukannya kita semua diterima di Universitas Bhinneka?”

Marco menjadi orang pertama yang menghampiri.

“Pak, kenapa cuma ada satu surat saja? Yang lain di mana? Apa jumlahnya terlalu banyak sampai Bapak nggak sanggup membawa semuanya? Sini, biar aku bantu ambil.”

Meski di tangannya tergenggam surat penerimaan Universitas Bhinneka, wajah wali kelas justru tampak begitu muram.

“Sebenarnya… ada apa dengan kalian semua? Bapak sudah menghubungi pihak Universitas Bhinneka. Kalian... nggak seorang pun diterima di Universitas Bhinneka!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 10

    “Kami menerima laporan dugaan pencurian harta benda senilai miliaran rupiah. Mohon ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.”Semua orang langsung terpaku.Tak ada yang menyangka keadaan bisa berbalik secepat itu.“Bohong! Aku nggak melakukannya! Aku nggak mencuri!”Aku melangkah menghampiri Lisa.Kutarik kalung yang melingkar di lehernya.Kalung itu jelas milikku.Kalung yang selama kusimpan di dalam lemari.Awalnya, saat Lisa mencuri identitasku, aku memang tak terlalu memedulikannya.Bagaimanapun, saat itu dia belum benar-benar merugikanku.Namun, ketika kulihat dia datang ke sekolah mengenakan anting berlian hadiah dari ibuku sambil memamerkannya ke mana-mana, aku mulai curiga.Sayangnya, saat itu CCTV di kamarku belum sempat dipasang.Setelah puas memakainya, dia diam-diam mengembalikannya ke tempat semula.Karena tak memiliki bukti, aku pun tak bisa melaporkannya ke polisi.Namun sekarang…Semuanya sudah berbeda.Buktinya tak terbantahkan.Kalung curian itu masih te

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 9

    Di layar ponsel terpampang sebuah siaran langsung.Di dalam siaran itu, teman sekelasku ternyata sedang membakar gorden ruang kelas dan mengancam akan membakar diri.[Kami mohon pada panitia, beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar ingin kuliah. Kami mohon…][Iya! Kalau kami nggak bisa kuliah, lebih baik kami mati saja!][Tolong… beri kami kesempatan sekali lagi! Kami benar-benar mengaku salah!]Peristiwa besar itu langsung menggemparkan jagat maya.Dalam waktu singkat, puluhan ribu penonton membanjiri siaran tersebut.Kolom komentar pun segera dipenuhi rangkuman duduk perkaranya.Sebagian besar warganet masih berpikir jernih.Mereka berpendapat bahwa lupa mengisi formulir pilihan universitas adalah kelalaian yang sangat fatal.Kalau mereka sendiri saja tak peduli dengan masa depan mereka, lalu siapa lagi yang bisa disalahkan?Namun, ucapan berikutnya membuat bulu kuduk berdiri.[Kami juga tertipu oleh Gita, putri konglomerat di kelas kami! Dia bilang ayahnya punya koneksi d

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 8

    Lisa menutupi wajahnya sambil menatapku dengan tatapan kosong.“No…Nona Besar?”Aku mendengus dingin.“Kamu mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi jangan pernah mencoba membohongi dirimu sendiri.”Semua orang terpaku.Perubahan keadaan yang begitu mendadak, membuat mereka terdiam.Tak seorang pun mengerti bagaimana mungkin seseorang yang sedetik lalu masih dianggap konglomerat, kini justru bersikap begitu hormat kepada orang lain.“Lisa, sebenarnya ada apa? Bukannya ayahmu itu konglomerat?” tanya seseorang dengan bingung.“Konglomerat? Tak kusangka sopirku ternyata serendah hati itu. Masih mau bekerja untukku. Sungguh menyia-nyiakan kemampuanmu.”Hanya dengan satu kalimat dari ayahku, seluruh kebohongan itu langsung terbongkar.“Maaf, Pak Baskara. Aku cuma kurang pikir sampai berani menyinggung Non Gita. Aku benar-benar minta maaf.”Akhirnya Lisa menyadari.Selama satu tahun penuh di kelas dua belas, semua kemewahan yang dia pamerkan di hadapanku ternyata tak lebih dari sebuah leluco

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 7

    Beberapa teman sekelas langsung mengeluarkan ponsel dan mencari nomor polisi mobil itu.Karena menggunakan pelat nomor cantik, identitas pemiliknya pun mudah ditemukan.“Ini memang mobil milik keluarga konglomerat. Bahkan nomor polisinya juga cocok. Gita, berhenti keras kepala.”Kini mereka benar-benar yakin dengan identitas Jordi.Mereka beramai-ramai mengerubunginya, memohon bantuan agar bisa masuk ke universitas impian mereka.“Tenang saja, semuanya. Nanti aku akan hubungi rektor. Aku jamin kalian semua bisa kuliah.”Tatapan Marco kepada Lisa dan Jordi langsung dipenuhi rasa terima kasih.Namun, dia tetap tak lupa menginjakku.“Om, semua ini gara-gara Gita. Kalau saja dia nggak diam-diam mengisi pilihan universitasnya sendiri, kami juga nggak perlu merepotkan Om seperti sekarang.”“Menurutku, orang yang egois dan nggak bermoral seperti dia sama sekali nggak pantas kuliah di Universitas Bhinneka.”Lisa memeluk lengan Jordi sambil bermanja.“Iya, Yah. Aku juga nggak mau satu kampus sa

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 6

    Aku dikelilingi banyak sekuriti.Kalaupun teman-teman sekelasku masih ingin memukulku lagi, mereka tak akan bisa.Lagi pula, amarah mereka tadi sudah cukup terlampiaskan.Sekarang, yang paling penting adalah masalah kuliah.“Itu benar, Lisa! Cepat panggil ayahmu ke sini! Kamu harus memberi kami penjelasan!”“Iya! Kalau ibuku tahu aku gagal masuk kuliah, dia pasti membunuhku!”Keringat dingin mulai membasahi dahi Lisa.“Ayah… ayahku sangat sibuk. Kurasa dia nggak punya waktu datang ke sini.”“Telepon dulu! Kalau belum dicoba, gimana kamu tahu?”Di hadapan begitu banyak orang, Lisa mengeluarkan ponselnya.Dengan gerakan lambat, dia mulai menelepon.[Halo, Yah? Oh… Ayah lagi sibuk? Baiklah.]Dia mengetuk layar ponselnya beberapa kali.“Dengar sendiri, ‘kan? Ayahku memang lagi sibuk. Sekarang dia lagi ada proyek bernilai triliunan. Kalau sampai tertunda gara-gara urusan kalian, memangnya kalian sanggup tanggung jawab?”Mendengar ucapannya, teman-teman sekelasku langsung ciut.Tak seorang p

  • Kali Ini, Aku Hanya Menjadi Penonton   Bab 5

    Suasana mendadak sunyi.Begitu hening seolah suara jarum jatuh pun rasanya bisa terdengar.Semua orang terpaku di tempat.Beberapa detik kemudian, seseorang akhirnya angkat bicara.“Nggak mungkin, Pak. Bapak pasti salah. Lisa sudah janji sama kami. Dia bilang kami semua pasti bisa masuk Universitas Bhinneka.”“Iya, Pak. Mungkin Bapak belum tahu sehebat apa Lisa. Ayahnya ‘kan konglomerat.”Wajah wali kelas langsung memerah karena tersulut amarah.“Bapak sudah berkali-kali ingatkan di grup supaya kalian jangan sampai melewatkan batas waktu pengisian pilihan universitas! Kenapa nggak ada satu pun yang mendengarkan?”Kini mereka memang sudah lulus.Meski masih memanggilnya “Bapak” sebagai bentuk hormat, sejak lama mereka sudah tak lagi mau mendengarkan nasihatnya.“Bapak cuma guru biasa. Mana mungkin paham urusan seperti ini. Ayahnya Lisa cukup bilang satu kata saja, kami semua pasti bisa masuk. Mungkin surat penerimaan kami memang belum sampai. Tinggal tunggu sebentar lagi.”“Yang harus m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status