Share

134 Saling Serang

Penulis: Heartwriter
last update Tanggal publikasi: 2026-05-08 22:34:36

Wandra menghela napas kasar di lorong gedung yang remang-remang. Tubuhnya masih panas setelah memukuli habis 15 preman yang mencoba menipu Susan. Tinju-tinjunya tadi bertenaga luar biasa berkat liontin, tapi sekarang efek sampingnya datang dengan cepat.

Kepalanya pusing berat. Pandangan mulai berkunang-kunang. Asap hitam tipis mulai merembes pelan dari liontin di dadanya, tak terlihat oleh orang biasa, tapi efeknya sudah menyebar di udara sekitar.

Susan, wanita dengan tubuh ramping dan wajah ca
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   148 Gadis Bernama Nila

    Wandra berdiri di tengah restoran yang kini lebih mirip arena pertarungan. Meja dan kursi berserakan, piring pecah di mana-mana, dan pemilik restoran sudah lama bersembunyi di balik meja kasir bersama para pelayannya. Di hadapannya, Patrick Tato menatap dengan mata menyala penuh kemarahan dan... sesuatu yang lain. Rasa penasaran."Aku akui, kau bukan orang biasa," Patrick memutar bahunya, membuat otot-otot di leher dan lengannya menegang. Tato ular di sekujur tubuhnya seperti ikut meregang. "Tapi kau terlalu sombong, anak muda."Wandra tidak menjawab. Ia hanya menatap Patrick dengan ekspresi yang sulit dibaca. Kedua tangannya rileks di sisi tubuh, posturnya tegak, napasnya teratur. Dalam alam kultivasi Pembentukan Fondasi, indranya sudah jauh melampaui manusia biasa. Ia bisa mendengar detak jantung Patrick, bisa merasakan aliran darah di tubuh preman itu yang bergerak lebih cepat. Tanda seseorang yang siap bertarung."Bos... hati-hati," salah satu anak buah Patrick bergumam dari sudut

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   147 Diganggu Preman Saat Makan

    Hari ini, seusai kuliah di fakultas kedokteran, Wandra memutuskan untuk makan di sebuah restoran kecil yang cukup terkenal dengan sop buntutnya. Sambil menunggu Joanna, kekasihnya yang sedang menjalani masa koas di rumah sakit, ia memilih meja di sudut dekat jendela. Masih lima jam sebelum Joanna pulang. Lebih dari cukup waktu untuk menikmati makan siang dengan tenang.Restoran itu tidak terlalu ramai. Beberapa meja terisi oleh pekerja kantoran, sepasang kekasih yang sedang makan siang, dan seorang ibu dengan anak kecilnya. Suasana nyaman. Aroma kaldu sop buntut menguar dari dapur. Wandra memesan satu porsi penuh, lengkap dengan nasi putih hangat dan es teh manis. Ia makan dengan perlahan, menikmati setiap suapan, sesekali membalas pesan singkat dari Joanna yang mengeluh tentang pasiennya yang rewel.Belum sampai setengah porsi, pintu restoran terbuka dengan kasar.Segerombolan orang masuk tanpa memedulikan pelayan yang menyambut mereka. Jumlahnya sekitar dua belas orang. Tubuh mereka

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   146 Peluk Aku dari Belakang

    Joanna masih terbaring lemas di dada Wandra, tubuhnya gemetar sisa orgasme yang kuat. Kejantanan Wandra masih tertanam dalam dirinya, berdenyut pelan mengikuti irama jantung mereka. Asap hitam tipis masih menari-nari samar di udara suite hotel yang mewah.Joanna mengangkat wajahnya, mencium bibir Wandra dengan lembut, lalu berbisik di telinganya, “Peluk aku dari belakang… aku ingin merasakanmu dekat sekali, pelan-pelan.”Wandra tersenyum hangat. Ia mencium kening Joanna sebelum perlahan menarik diri. Joanna bergeser ke samping, memunggungi Wandra, lalu mendekatkan tubuhnya hingga punggungnya menempel sempurna di dada bidang pemuda itu.Wandra merangkul pinggang Joanna dari belakang dengan penuh kasih, satu tangannya melingkar di perut rata wanita itu, menariknya semakin rapat. Dada mereka saling menempel, kulit yang masih basah oleh keringat terasa hangat dan licin. Wandra mencium tengkuk Joanna yang harum, lalu mengecup bahunya dengan lembut berulang kali.“Joanna…” bisiknya parau di

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   145 Aku yang di Atas

    Joanna mendorong dada Wandra dengan kedua tangan, memutus ciuman mereka yang ganas. Matanya berkabut penuh nafsu, bibirnya bengkak karena ciuman liar tadi.“Aku yang di atas,” katanya dengan suara serak penuh permintaan. “Aku mau mengendalikanmu malam ini.”Wandra tersenyum tipis meski napasnya sudah memburu. Ia berbaring telentang di tengah ranjang king-size yang mewah, tubuhnya yang kekar terpampang sempurna. Kejantanannya berdiri tegak, berkilau oleh cairan Joanna.Joanna naik ke atas tubuh Wandra dengan gerakan sensual. Ia mengangkang di atas pinggul pemuda itu, lututnya bertumpu di kasur. Rambutnya yang panjang tergerai di bahu, payudaranya yang montok bergoyang lembut saat ia meraih kejantanan Wandra dengan tangan kanannya.“Kamu sudah sangat keras…” bisik Joanna sambil mengocoknya pelan, mengusapkan ujung yang basah di celahnya yang banjir. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya menatap Wandra penuh hasrat.Perlahan, Joanna menurunkan pinggulnya.“Ahhh…” desahnya panjang saat uju

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   144 Makan Malam yang Berubah jadi Check-in

    Malam itu, setelah Wandra dan Joanna berhasil menyembuhkan seorang pasien kritis di rumah sakit tempat Joanna koas — seorang anak kecil yang mengalami syok anafilaksis parah — efek samping liontin mulai muncul lebih cepat dari biasanya.Joanna memegang tangan Wandra erat saat mereka berjalan keluar dari rumah sakit. “Kamu hebat tadi,” bisiknya sambil tersenyum. “Tapi… aku sudah lihat asapnya keluar sedikit. Kamu merasakannya?”Wandra mengangguk, rahangnya mengeras. “Sedikit. Ayo kita makan malam dulu, aku lapar.”Mereka memutuskan pergi ke restoran fine dining yang berada di dalam sebuah hotel bintang lima mewah tak jauh dari rumah sakit. Suasana romantis, lampu kristal, musik piano pelan, dan meja dengan view kota Jakarta yang indah.Baru saja mereka duduk dan pelayan memberikan menu, Wandra merasakan liontin di dadanya memanas. Asap hitam tipis mulai merembes keluar, tak terlihat oleh pelayan, tapi efeknya langsung terasa.Tubuh Wandra panas. Denyut nadinya berdetak kencang di selan

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   143 Kesembuhan Terjadi

    Angka-angka yang tadinya merah bergerak ke kuning. Dari kuning ke hijau. Satu per satu, dengan kecepatan yang cukup lambat untuk membuat seseorang berpikir itu adalah kesalahan alat, tapi cukup konsisten untuk membuat seseorang berhenti berpikir itu adalah kesalahan alat.Wandra membuka matanya.Joanna membuka matanya di waktu yang hampir bersamaan.Dan di atas ranjang, Hartono Sugiarto—konglomerat yang sudah dirawat di empat negara dan sudah pasrah menunggu sesuatu yang semua orang di ruangan ini tahu namanya—menggerakkan jarinya.Kemudian membuka matanya.Matanya yang pertama menemukan adalah wajah istrinya.---Ibu Margaretha tidak menjerit. Tidak berlari. Tidak melakukan apapun yang dramatis.Ia hanya berdiri dari kursinya—sangat perlahan, seperti seseorang yang takut bahwa gerakan yang terlalu cepat akan memecahkan sesuatu yang sangat rapuh—dan berjalan ke sisi ranjang, dan mengambil tangan suaminya dengan kedua tangannya."Har," bisiknya.Suara yang sangat pelan. Nama yang sanga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status