共有

2 Pusaka Keluarga

作者: Heartwriter
last update 公開日: 2026-04-09 01:02:58

"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuatan untuk melindungi pemakainya."

Wandra menatap liontin itu dengan perasaan campur aduk. Sebagai pemuda modern yang pernah mengenyam pendidikan meski hanya sampai SMP, dia tidak begitu percaya dengan hal-hal berbau mistis. Tapi melihat bagaimana serius neneknya membicarakan liontin itu, dia tidak berani menolak.

"Mbah ingin kamu memakai liontin ini selama di perantauan," lanjut Mbah Surti. "Biar liontin ini menjagamu dari segala bahaya. Kamu adalah harapan keluarga ini, Ndra. Jangan sampai terjadi apa-apa padamu."

Mbah Surti berdiri dengan susah payah dan mengalungkan liontin itu ke leher Wandra. Saat logam dingin itu menyentuh kulitnya, Wandra merasakan sensasi aneh yang sulit dijelaskan. Seperti ada aliran listrik lemah yang mengalir dari liontin itu ke seluruh tubuhnya. Tapi sensasi itu hanya berlangsung sedetik sebelum menghilang, dan Wandra mengabaikannya sebagai sugesti belaka.

"Terima kasih, Mbah," kata Wandra sambil memeluk neneknya. "Saya akan menjaga liontin ini baik-baik."

Mbah Surti mengangguk dan membelai wajah cucunya dengan penuh kasih sayang. "Pergilah, cucuku. Semoga Tuhan melindungimu dan memberikanmu rezeki yang berlimpah. Jangan lupa untuk selalu berdoa dan berbuat baik kepada sesama."

Wandra kemudian berpamitan kepada ibunya dan adik-adiknya. Dia juga menyempatkan diri untuk masuk ke kamar ayahnya, menggenggam tangan pria yang masih terbaring lemah itu, dan berbisik di telinganya.

"Bapak, saya pergi dulu. Saya janji akan kembali dengan membawa uang untuk pengobatan Bapak. Bapak harus kuat, ya. Jangan menyerah."

Pak Karman membuka matanya yang sayu dan tersenyum lemah. Bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Wandra mengangguk, seolah mengerti apa yang ingin disampaikan ayahnya, lalu mencium tangan kurus itu sebelum beranjak pergi.

Wandra berjalan kaki selama hampir satu jam untuk mencapai jalan raya tempat angkot biasa mangkal. Sepanjang jalan, dia melewati hamparan sawah yang sebagian sudah dipanen dan sebagian lagi masih menguning menunggu waktu panen. Pemandangan yang begitu familiar baginya, tapi entah mengapa hari ini terasa berbeda. Mungkin karena dia tidak tahu kapan akan bisa melihat pemandangan ini lagi.

Di persimpangan jalan, Wandra menunggu angkot yang akan membawanya ke terminal bus. Tidak sampai sepuluh menit, sebuah angkot berwarna merah tua yang sudah kusam berhenti di depannya. Wandra naik dan duduk di bangku belakang yang sudah penuh dengan penumpang lain, kebanyakan ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar.

Perjalanan dengan angkot memakan waktu sekitar dua jam melewati jalan berkelok-kelok yang sebagian masih berbatu. Wandra memandang keluar jendela, menyaksikan pemandangan pedesaan yang perlahan berubah menjadi pemandangan pinggiran kota kecil. Rumah-rumah yang tadinya terbuat dari kayu dan bambu mulai berganti menjadi rumah-rumah bata dengan atap genteng.

Sesampainya di terminal bus kota kecil itu, Wandra turun dan mencari bus antar kota yang akan membawanya ke kota besar. Dia menemukan sebuah bus ekonomi dengan tujuan yang dicarinya. Ongkosnya lima puluh ribu rupiah, separuh dari seluruh uang yang dimilikinya.

Wandra duduk di bangku dekat jendela dan meletakkan tas ranselnya di pangkuan. Tangannya tanpa sadar meraba liontin yang tergantung di lehernya, merasakan permukaan logam yang dingin dan halus. Entah kenapa, sentuhan itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

Bus mulai bergerak, dan perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Wandra tidak tahu apa yang menantinya di kota besar nanti. Dia tidak punya kenalan, tidak punya pengalaman kerja formal, dan tidak punya ijazah yang memadai. Tapi dia punya tekad yang kuat dan tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Dua hal itu harus cukup untuk membuatnya bertahan.

Perjalanan dengan bus memakan waktu hampir empat jam. Wandra sempat tertidur beberapa kali, kelelahan karena semalam tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali terbangun, pemandangan di luar jendela selalu berubah. Dari hamparan sawah menjadi perkebunan, dari perkebunan menjadi hutan, dari hutan menjadi deretan pabrik dan gudang yang menandakan mereka sudah memasuki kawasan industri pinggiran kota besar.

Akhirnya, bus memasuki terminal bus antar kota yang ramai. Wandra turun dengan perasaan campur aduk antara takjub dan cemas. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya dia menginjakkan kaki di kota sebesar ini. Gedung-gedung tinggi menjulang di kejauhan, kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibanding di desanya, dan orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa seolah mereka sedang dikejar waktu.

Terminal itu sendiri jauh lebih besar dari yang dibayangkan Wandra. Ada puluhan bus yang parkir di berbagai sudut, pedagang-pedagang yang berteriak menjajakan dagangannya, penumpang yang sibuk mencari bus tujuan mereka, dan porter yang menawarkan jasa mengangkat barang. Bau asap kendaraan bercampur dengan aroma makanan dari warung-warung yang berjejer di sepanjang terminal.

Wandra berjalan dengan langkah ragu-ragu, tidak tahu harus ke mana. Dia memutuskan untuk mencari tempat duduk dulu sambil memikirkan langkah selanjutnya. Mungkin dia harus bertanya kepada seseorang tentang di mana bisa mencari pekerjaan, atau mungkin dia harus mencari penginapan murah untuk bermalam sebelum mulai mencari kerja besok.

Saat itulah dia melihat sesuatu yang mengubah segalanya.

Di sudut terminal yang agak sepi, seorang wanita berpakaian dokter terlihat sedang dalam kesulitan. Wanita itu mengenakan jas putih khas dokter dengan stetoskop tergantung di lehernya. Rambutnya yang panjang dikuncir rapi, dan wajahnya yang cantik terlihat pucat ketakutan. Di belakangnya terparkir sebuah mobil sedan putih yang sepertinya adalah kendaraan pribadinya.

Yang membuat Wandra terpaku adalah pemandangan di sekitar wanita itu. Lima orang pria bertampang sangar sedang mengepungnya. Mereka berpakaian urakan dengan tato di lengan-lengan mereka, jelas sekali adalah preman terminal yang biasa memalak pedagang dan penumpang. Salah satu dari mereka, yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu, sedang memegang lengan wanita dokter itu dengan kasar.

"Ayolah, Nona Dokter. Temani kami sebentar saja. Kami cuma mau ngobrol," kata pria itu dengan nada mengancam.

Wanita itu berusaha melepaskan diri. "Lepaskan saya! Saya harus segera ke rumah sakit. Ada pasien yang menunggu."

"Pasien bisa nunggu. Yang penting sekarang kamu nemeni kita dulu," sahut preman lain sambil tertawa kasar.

Wandra melihat sekeliling. Puluhan orang berlalu-lalang di sekitar lokasi kejadian, tapi tidak ada satu pun yang berani mendekat atau mencoba menolong. Para pedagang yang berjualan di dekat situ justru memalingkan wajah mereka, pura-pura tidak melihat apa yang sedang terjadi. Beberapa penumpang yang lewat mempercepat langkah mereka, jelas tidak ingin terlibat.

Wandra mengerti mengapa tidak ada yang berani menolong. Preman-preman seperti itu biasanya memiliki jaringan yang luas dan tidak segan-segan melakukan pembalasan kepada siapa saja yang berani mengganggu urusan mereka.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   355 Jadi Saksi Mata

    Rafika, yang sudah kembali ke posisi "sedang duduk kesakitan" seperti para korban lainnya, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.Namun Wandra langsung bertindak. Dia, berkata, "Saya melihatnya!" Wandra berkata dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Ada seorang pria berjenggot lebat, bertubuh besar, dan berambut putih! Dia masuk entah dari mana dan langsung menyerang semua perampok itu dengan kecepatan yang luar biasa! Setelah selesai membunuh mereka, dia langsung pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun!"Orang-orang mulai berbisik-bisik dengan takjub, beberapa mengangguk mempercayai cerita itu meskipun mereka sendiri tidak melihat apa pun karena tertidur oleh bubuk yang disebar oleh Rafika."Kita harus mengambil kembali harta benda kita!" seseorang berteriak, mengingatkan semua orang tentang barang-barang berharga yang tadi dirampas.Kekacauan yang teratur pun terjadi. Setiap orang mulai mencari dan mengambil kembali harta benda mere

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   354 Bertemu Perampok

    Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota menuju bank utama yang terletak tidak jauh dari pasar. Sepanjang perjalanan, Wandra sengaja mengajak Rafika bercakap-cakap tentang hal-hal ringan, kehidupan sehari-hari di pasar, harga-harga sayuran, cuaca. Dia memperhatikan bahwa meskipun Rafika berbicara dengan gaya seorang wanita paruh baya biasa, ada kecerdasan dan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap kata-katanya, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan atau akting sebaik apa pun.Bank yang mereka tuju adalah sebuah bangunan yang cukup besar, dengan pilar-pilar batu di depannya dan interior yang ramai dengan antrian orang-orang yang juga ingin menyimpan uang mereka sebelum libur panjang.Wandra dan Rafika duduk berdampingan di bangku antrian, menunggu giliran mereka dipanggil. Wandra memperhatikan sekelilingnya dengan roh primordialnya yang menyebar diam-diam, sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging setelah tujuh ribu tahun hidup penuh kewaspadaan

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   353 Terkenang Masa Lalu

    'Dia mulai bersimpati,' batin Wandra di tengah-tengah "penderitaannya" yang sebenarnya sama sekali tidak dia rasakan secara fisik. 'Bagus.'Setelah hampir dua jam, Panjul dan anak buahnya akhirnya lelah sendiri dan meninggalkan Wandra yang terbaring di tanah dengan pakaian yang sudah kotor dan robek di beberapa tempat, meskipun tidak ada luka fisik sungguhan yang tertinggal di tubuhnya yang sebenarnya kebal terhadap segala serangan.Bang Ganjar mendekati Wandra yang masih terbaring, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah yang bercampur dengan kepuasan. "Yah, sudahlah. Ini uang untuk berobat," dia berkata sambil melemparkan beberapa keping perak yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang seharusnya diperlukan untuk pengobatan yang layak. "Cari tabib saja."Wandra bangkit dengan susah payah, memegangi tubuhnya seolah kesakitan. "Di mana saya bisa menemukan tabib, Pak?""Tabib biasa di sini sedang pergi ke luar kota," seorang warga yang menyaksikan kejadian itu menjawab dengan simpa

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   352 Aku Menemukanmu

    Aura kultivasinya sama sekali tidak terdeteksi. Bukan karena tersembunyi dengan teknik penyamaran kultivasi biasa, tapi karena benar-benar tidak ada aura kultivasi yang keluar sama sekali. Seperti seorang wanita biasa yang tidak memiliki kekuatan apa pun.Tapi Wandra tahu lebih baik dari itu. Delapan ratus tahun yang lalu, dia pernah merasakan hal yang sama. Mayang Terurai memiliki kemampuan untuk menyembunyikan seluruh auranya dengan sempurna, sebuah kemampuan langka yang bahkan Wandra sendiri tidak sepenuhnya pahami mekanismenya meskipun sudah hidup tujuh ribu tahun.'Aku menemukanmu,' batin Wandra sambil memandang rumah sederhana itu. 'Setelah delapan ratus tahun.'Wandra memutuskan untuk tidak langsung mendekat malam itu. Dia perlu waktu untuk merencanakan pendekatannya dengan hati-hati. Terlalu banyak kesempatan sebelumnya yang gagal karena dia terlalu terburu-buru, membuat Mayang curiga sebelum Wandra sempat membangun kepercayaan.Kali ini, dia akan melakukannya dengan sabar.Ke

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   351 Menemukan Wanita yang Dicarinya

    "Aku baru saja hendak melaporkan hal ini kepada pemimpin Istana Pualam Putih," Dixon melanjutkan. "Tapi saat itu, pemimpin sedang menerima seorang tamu penting, jadi aku memutuskan untuk menundanya sampai besok pagi. Kemudian aku mendapatkan pesan dari perantaraku bahwa ada beberapa orang yang ingin bertemu denganku untuk meminta ramalan. Aku memutuskan untuk pergi ke restoran, berpura-pura sebagai perantara biasa, dan mengarahkan mereka menuju selatan kota untuk bertemu dengan seorang perantara palsu di sana, sementara aku sendiri pulang ke rumah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan pemimpin Istana Pualam Putih besok pagi."Dixon memandang Wandra dengan mata yang penuh penyesalan sekarang. "Tapi kedatanganmu membuat semua rencanaku kacau."Wandra menatap Dixon dengan tajam. "Apakah ini semua yang ada di pikiranmu? Tidak ada lagi yang kau sembunyikan?""Aku sudah mengatakan semuanya," Dixon berkata dengan cepat, terlalu cepat.Wandra bisa merasakan sedikit

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   350 Dixon Memberitahu Semuanya

    Wandra memandang Dixon dengan ekspresi yang tetap tenang, meskipun tuduhan tentang kematian Yang Dipertuan Agung baru saja dilontarkan kepadanya."Aku tidak mau masalah," Wandra berkata dengan suara yang datar. "Aku cuma ingin tahu tentang Mayang Terurai. Apa yang kau ketahui tentangnya?"Wandra menatap lurus ke mata Dixon. "Dan aku ingatkan, jangan sampai kau membawa masalah bagi Mayang Terurai. Aku tidak akan senang kalau itu terjadi."Kata-kata terakhir Wandra, meskipun diucapkan dengan nada yang sama tenangnya, mengandung sebuah peringatan yang tidak bisa disalahartikan. Wajah Dixon yang tadi sudah waspada kini berubah menjadi merah padam oleh kemarahan yang campur dengan sesuatu yang lain, mungkin rasa terhina karena diperingatkan oleh seseorang yang dia anggap jauh di bawah levelnya."Kau berani mengancamku di rumahku sendiri?" Dixon mendesis.Tanpa memberikan peringatan lebih lanjut, Dixon melangkah mundur dan menekan sebuah tombol tersembunyi yang terpasang di dinding di belak

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   5 Tinggal bersama Dokter Cantik

    Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   4 Diajak Tinggal Bersama

    Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   3 Menolong Dokter Wanita

    Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   1 Barang Peninggalan Kakek

    Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status