LOGIN"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuatan untuk melindungi pemakainya."
Wandra menatap liontin itu dengan perasaan campur aduk. Sebagai pemuda modern yang pernah mengenyam pendidikan meski hanya sampai SMP, dia tidak begitu percaya dengan hal-hal berbau mistis. Tapi melihat bagaimana serius neneknya membicarakan liontin itu, dia tidak berani menolak. "Mbah ingin kamu memakai liontin ini selama di perantauan," lanjut Mbah Surti. "Biar liontin ini menjagamu dari segala bahaya. Kamu adalah harapan keluarga ini, Ndra. Jangan sampai terjadi apa-apa padamu." Mbah Surti berdiri dengan susah payah dan mengalungkan liontin itu ke leher Wandra. Saat logam dingin itu menyentuh kulitnya, Wandra merasakan sensasi aneh yang sulit dijelaskan. Seperti ada aliran listrik lemah yang mengalir dari liontin itu ke seluruh tubuhnya. Tapi sensasi itu hanya berlangsung sedetik sebelum menghilang, dan Wandra mengabaikannya sebagai sugesti belaka. "Terima kasih, Mbah," kata Wandra sambil memeluk neneknya. "Saya akan menjaga liontin ini baik-baik." Mbah Surti mengangguk dan membelai wajah cucunya dengan penuh kasih sayang. "Pergilah, cucuku. Semoga Tuhan melindungimu dan memberikanmu rezeki yang berlimpah. Jangan lupa untuk selalu berdoa dan berbuat baik kepada sesama." Wandra kemudian berpamitan kepada ibunya dan adik-adiknya. Dia juga menyempatkan diri untuk masuk ke kamar ayahnya, menggenggam tangan pria yang masih terbaring lemah itu, dan berbisik di telinganya. "Bapak, saya pergi dulu. Saya janji akan kembali dengan membawa uang untuk pengobatan Bapak. Bapak harus kuat, ya. Jangan menyerah." Pak Karman membuka matanya yang sayu dan tersenyum lemah. Bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Wandra mengangguk, seolah mengerti apa yang ingin disampaikan ayahnya, lalu mencium tangan kurus itu sebelum beranjak pergi. Wandra berjalan kaki selama hampir satu jam untuk mencapai jalan raya tempat angkot biasa mangkal. Sepanjang jalan, dia melewati hamparan sawah yang sebagian sudah dipanen dan sebagian lagi masih menguning menunggu waktu panen. Pemandangan yang begitu familiar baginya, tapi entah mengapa hari ini terasa berbeda. Mungkin karena dia tidak tahu kapan akan bisa melihat pemandangan ini lagi. Di persimpangan jalan, Wandra menunggu angkot yang akan membawanya ke terminal bus. Tidak sampai sepuluh menit, sebuah angkot berwarna merah tua yang sudah kusam berhenti di depannya. Wandra naik dan duduk di bangku belakang yang sudah penuh dengan penumpang lain, kebanyakan ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar. Perjalanan dengan angkot memakan waktu sekitar dua jam melewati jalan berkelok-kelok yang sebagian masih berbatu. Wandra memandang keluar jendela, menyaksikan pemandangan pedesaan yang perlahan berubah menjadi pemandangan pinggiran kota kecil. Rumah-rumah yang tadinya terbuat dari kayu dan bambu mulai berganti menjadi rumah-rumah bata dengan atap genteng. Sesampainya di terminal bus kota kecil itu, Wandra turun dan mencari bus antar kota yang akan membawanya ke kota besar. Dia menemukan sebuah bus ekonomi dengan tujuan yang dicarinya. Ongkosnya lima puluh ribu rupiah, separuh dari seluruh uang yang dimilikinya. Wandra duduk di bangku dekat jendela dan meletakkan tas ranselnya di pangkuan. Tangannya tanpa sadar meraba liontin yang tergantung di lehernya, merasakan permukaan logam yang dingin dan halus. Entah kenapa, sentuhan itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Bus mulai bergerak, dan perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Wandra tidak tahu apa yang menantinya di kota besar nanti. Dia tidak punya kenalan, tidak punya pengalaman kerja formal, dan tidak punya ijazah yang memadai. Tapi dia punya tekad yang kuat dan tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Dua hal itu harus cukup untuk membuatnya bertahan. Perjalanan dengan bus memakan waktu hampir empat jam. Wandra sempat tertidur beberapa kali, kelelahan karena semalam tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali terbangun, pemandangan di luar jendela selalu berubah. Dari hamparan sawah menjadi perkebunan, dari perkebunan menjadi hutan, dari hutan menjadi deretan pabrik dan gudang yang menandakan mereka sudah memasuki kawasan industri pinggiran kota besar. Akhirnya, bus memasuki terminal bus antar kota yang ramai. Wandra turun dengan perasaan campur aduk antara takjub dan cemas. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya dia menginjakkan kaki di kota sebesar ini. Gedung-gedung tinggi menjulang di kejauhan, kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibanding di desanya, dan orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa seolah mereka sedang dikejar waktu. Terminal itu sendiri jauh lebih besar dari yang dibayangkan Wandra. Ada puluhan bus yang parkir di berbagai sudut, pedagang-pedagang yang berteriak menjajakan dagangannya, penumpang yang sibuk mencari bus tujuan mereka, dan porter yang menawarkan jasa mengangkat barang. Bau asap kendaraan bercampur dengan aroma makanan dari warung-warung yang berjejer di sepanjang terminal. Wandra berjalan dengan langkah ragu-ragu, tidak tahu harus ke mana. Dia memutuskan untuk mencari tempat duduk dulu sambil memikirkan langkah selanjutnya. Mungkin dia harus bertanya kepada seseorang tentang di mana bisa mencari pekerjaan, atau mungkin dia harus mencari penginapan murah untuk bermalam sebelum mulai mencari kerja besok. Saat itulah dia melihat sesuatu yang mengubah segalanya. Di sudut terminal yang agak sepi, seorang wanita berpakaian dokter terlihat sedang dalam kesulitan. Wanita itu mengenakan jas putih khas dokter dengan stetoskop tergantung di lehernya. Rambutnya yang panjang dikuncir rapi, dan wajahnya yang cantik terlihat pucat ketakutan. Di belakangnya terparkir sebuah mobil sedan putih yang sepertinya adalah kendaraan pribadinya. Yang membuat Wandra terpaku adalah pemandangan di sekitar wanita itu. Lima orang pria bertampang sangar sedang mengepungnya. Mereka berpakaian urakan dengan tato di lengan-lengan mereka, jelas sekali adalah preman terminal yang biasa memalak pedagang dan penumpang. Salah satu dari mereka, yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu, sedang memegang lengan wanita dokter itu dengan kasar. "Ayolah, Nona Dokter. Temani kami sebentar saja. Kami cuma mau ngobrol," kata pria itu dengan nada mengancam. Wanita itu berusaha melepaskan diri. "Lepaskan saya! Saya harus segera ke rumah sakit. Ada pasien yang menunggu." "Pasien bisa nunggu. Yang penting sekarang kamu nemeni kita dulu," sahut preman lain sambil tertawa kasar. Wandra melihat sekeliling. Puluhan orang berlalu-lalang di sekitar lokasi kejadian, tapi tidak ada satu pun yang berani mendekat atau mencoba menolong. Para pedagang yang berjualan di dekat situ justru memalingkan wajah mereka, pura-pura tidak melihat apa yang sedang terjadi. Beberapa penumpang yang lewat mempercepat langkah mereka, jelas tidak ingin terlibat. Wandra mengerti mengapa tidak ada yang berani menolong. Preman-preman seperti itu biasanya memiliki jaringan yang luas dan tidak segan-segan melakukan pembalasan kepada siapa saja yang berani mengganggu urusan mereka.Wandra tidak bisa menyangkal. Tubuhnya bereaksi pada kedekatan Siska, pada sentuhan Siska, pada aroma Siska yang bercampur dengan aroma manis asap liontin."Siska..." suaranya serak, hampir tidak terdengar, "...kamu akan menyesal nanti. Ini bukan perasaan yang sebenarnya. Ini—"Tapi kata-katanya terpotong saat Siska tiba-tiba menariknya dan menutup jarak terakhir di antara mereka.Bibir Siska menyentuh bibir Wandra—lembut pada awalnya, lalu semakin dalam, semakin penuh gairah.Dan pertahanan terakhir Wandra akhirnya runtuh.Tangannya yang tadinya hendak mendorong kini malah melingkar di pinggang Siska, menariknya lebih dekat. Bibirnya membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Asap liontin memenuhi ruangan, aroma manis memabukkan semakin kuat, dan dua orang yang tadinya hampir tidak saling kenal kini kehilangan diri dalam hasrat yang tidak terkendali.Mereka bergerak dari pintu ke sofa, tubuh mereka saling menekan, saling menyentuh, saling menginginkan. Pakaian mulai longgar, na
Setelah Bejo pergi dengan wajah penuh harapan dan air mata bahagia, suasana di atap gedung apartemen masih dipenuhi keterkejutan.Para satpam menatap Wandra dengan tatapan yang campur aduk—kagum, penasaran, dan ada juga kilatan keserakahan.Pak Budi melangkah maju, menatap Wandra dengan serius. "Nak, apa yang baru saja kamu lakukan itu... itu luar biasa. Kamu menyelamatkan nyawa Pak Bejo. Terima kasih.""Sama-sama, Pak. Saya cuma melakukan apa yang bisa saya lakukan," jawab Wandra sambil tersenyum.Tapi kemudian, salah satu satpam yang lebih muda—yang tadi skeptis tentang laporan Wandra—melangkah maju dengan ekspresi yang berbeda. Ada kilatan keserakahan di matanya."Eh, mas Wandra," katanya sambil tersenyum lebar—senyuman yang terlalu ramah, terlalu berharap, "kamu hebat banget bisa bikin Pak Bejo menang sampai hampir 10 miliar! Itu skill yang luar biasa!"Ia mengeluarkan smartphonenya dari saku. "Mas, aku juga main judol nih. Tapi aku sering kalah. Gimana kalau kamu bantu aku juga?
Saat suasana masih hening, pintu atap terbuka lagi. Dua satpam lain datang, dan bersama mereka ada seorang gadis muda—mungkin sekitar 25 atau 26 tahun—mengenakan pakaian kasual tapi rapi. Rambutnya dikuncir kuda, wajahnya cantik dan terlihat cerdas."Pak Budi, ini Mbak Siska," bisik salah satu satpam yang baru datang. "Penghuni lantai 15. Dia psikolog. Saya pikir dia bisa bantu."Pak Budi mengangguk berterima kasih.Siska melangkah maju dengan hati-hati, tidak membuat gerakan tiba-tiba yang bisa mengejutkan Bejo. Ia berdiri di samping Wandra dan Pak Budi, menatap Bejo dengan mata yang penuh empati."Pak Bejo," katanya dengan suara yang lembut dan menenangkan—suara yang terlatih untuk menangani situasi krisis, "nama saya Siska. Saya seorang psikolog. Boleh saya bicara dengan Bapak sebentar?"Bejo melirik padanya dengan tatapan kosong. "Psikolog? Untuk apa? Psikologi tidak bisa mengembalikan hidup saya. Tidak bisa mengembalikan keluarga saya. Tidak bisa melunasi hutang saya.""Itu benar
Cahaya matahari pagi menembus celah-celah tirai apartemen Caroline, menerangi ruang tidur yang berantakan. Wandra terbangun pertama kali, matanya terbuka perlahan dan butuh beberapa saat untuk menyadari situasinya.Ia berbaring di tempat tidur Caroline—tempat tidur king size yang luas. Di sisi kanannya, tertidur Caroline dengan napas teratur, selimut menutupi tubuhnya hingga bahu.Di sisi kirinya, Windy juga tertidur dengan posisi menghadap ke arahnya.Semua kenangan dari malam yang panjang dan intens itu kembali memasuki pikirannya dengan sangat jelas. Asap liontin yang keluar tak terkendali. Hasrat yang membakar. Tiga orang yang kehilangan kendali total dan...Wandra menutup matanya, menarik napas dalam. Ini sudah terlalu jauh. Efek samping liontin ini semakin tidak terkendali.Ia menyentuh liontin di dadanya—sudah dingin dan normal sekarang, seolah tidak pernah menyebabkan kekacauan apapun.Beberapa menit kemudian, Caroline bergerak. Matanya terbuka, tampak bingung sesaat, lalu ing
Pagi menyingsing di kamar tidur Caroline yang luas ini, sinar matahari lembut menyusup melalui tirai tipis, menerangi tiga tubuh yang masih terjerat dalam seprai kusut.Jam menunjukkan pukul tujuh lewat, tapi tak ada yang peduli dengan waktu.Malam sebelumnya telah meninggalkan jejak kenikmatan yang tak terlupakan—persetubuhan biseksual antara Windy dan Caroline, diikuti hubungan intim segitiga dengan Wandra yang membuat mereka bertiga kelelahan tapi puas.Liontin perak di leher Windy masih terasa hangat, seperti pengingat bahwa hasratnya yang terpendam kini bebas mengalir.Windy, gadis berambut panjang bergelombang, terbangun pertama, merasakan denyut sisa orgasme malam tadi di liang keintimannya.Caroline, sang dokter cantik dengan kulit putih mulus, meringkuk di sisinya, napasnya pelan dan teratur.Wandra, pria berotot dengan tatapan dominan, berbaring di belakang Windy, lengannya melingkar di pinggangnya.Windy bergerak pelan, merasakan kehangatan batang kemaluan Wandra yang sudah
Di kamar sebuah apartemen, suasana malam ini terasa panas dan penuh rahasia.Windy, seorang wanita berusia 28 tahun dengan rambut panjang bergelombang dan senyum misterius, telah lama menyimpan perasaan yang rumit di hatinya.Sebenarnya, Windy adalah gadis yang cenderung lesbi. Walaupun dia juga pernah memiliki cowok—hubungan singkat yang lebih seperti eksperimen daripada komitmen—gairahnya pada cewek kadang tak terbendung. Itu seperti api yang menyala-nyala di dalam dirinya, siap meledak kapan saja.Sudah lama Windy naksir Caroline, sang dokter cantik yang bekerja di rumah sakit kota. Caroline, dengan mata hijau yang tajam dan senyum hangat yang selalu membuat pasiennya tenang, adalah idola Windy.Mereka bertemu pertama kali saat Windy mengantar temannya ke klinik, dan sejak itu, Windy sering mencari alasan untuk mampir—entah untuk konsultasi kecil atau sekadar menyapa.Tapi Windy tidak berani beraksi. Rasa malu dan ketakutan akan penolakan membuatnya hanya bisa memandang dari kejauh