Mag-log in
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.
Wandra segera bangkit dari tikar tipis tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar orang tuanya yang hanya dipisahkan oleh selembar kain lusuh. Di sana, di atas ranjang bambu yang sudah lapuk dimakan usia, terbaring sosok, ayahnya. Tubuh yang dulu tegap dan kuat itu kini tinggal kulit membungkus tulang. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan matanya yang dulu selalu berbinar penuh semangat kini terlihat redup seperti lentera yang kehabisan minyak. Di sampingnya,, ibunya, duduk dengan wajah lelah. Kantung mata yang menghitam menunjukkan bahwa wanita paruh baya itu sudah berhari-hari tidak tidur dengan nyenyak. Wandra menghampiri ayahnya dan menggenggam tangan kurus itu dengan lembut. Kulitnya terasa dingin meskipun selimut tebal sudah menutupi hampir seluruh tubuhnya. "Bagaimana keadaan Bapak, Bu?" tanya Wandra dengan suara pelan, takut membangunkan adik-adiknya yang masih tertidur di sudut ruangan. Sang ibu menggeleng lemah. Air mata yang sudah berkali-kali mengering itu kembali menggenang di pelupuk matanya. "Demamnya naik lagi semalam. Obat dari mantri desa sudah tidak mempan lagi. Kata orang-orang, Bapakmu harus dibawa ke rumah sakit kota kalau mau sembuh." Rumah sakit kota. Tiga kata itu terasa begitu berat di telinga Wandra. Kota terdekat berjarak hampir seratus kilometer dari desa mereka, dan biaya pengobatan di sana tentu tidak murah. Sementara itu, seluruh tabungan keluarga mereka sudah habis untuk membeli obat-obatan selama tiga bulan terakhir. Sawah setengah hektar yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga sudah tidak mampu menghasilkan apa-apa karena tidak ada yang menggarapnya dengan serius. "Berapa kira-kira biayanya, Bu?" Wandra memberanikan diri bertanya meskipun dia tahu jawabannya pasti akan menyakitkan. "Pak Lurah bilang, untuk penyakit seperti yang diderita Bapakmu, setidaknya butuh lima juta untuk pemeriksaan awal saja. Belum termasuk obat-obatan dan rawat inap kalau memang harus dirawat." Lima juta. Angka itu terasa seperti gunung yang mustahil didaki bagi keluarga sederhana seperti mereka. Hasil panen setahun pun belum tentu mencapai angka itu setelah dikurangi biaya hidup sehari-hari. Wandra melepaskan genggaman tangannya dari tangan ayahnya dan berjalan keluar rumah. Dia duduk di beranda kayu yang sudah mulai keropos, memandang hamparan sawah yang menguning karena kurang perawatan. Pikirannya berkecamuk. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, dia merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan ayahnya. Tapi bagaimana caranya? Dia hanya lulusan SMP yang tidak punya keahlian apa-apa selain bercocok tanam. Bu Siti menyusul keluar dan duduk di samping putra sulungnya. Wajahnya yang dulu cantik kini terlihat tua sebelum waktunya, dimakan oleh kekhawatiran dan kesedihan yang tak berkesudahan. "Ndra," panggilnya lembut, "Ibu punya permintaan." Wandra menoleh, menatap ibunya dengan tatapan penuh tanya. "Pergilah ke kota. Carilah pekerjaan di sana. Ibu dengar di kota banyak pekerjaan yang bisa dilakukan meski tanpa ijazah tinggi. Kamu bisa jadi kuli bangunan, buruh pabrik, atau apa saja yang halal. Yang penting bisa menghasilkan uang untuk biaya pengobatan Bapakmu." Wandra terdiam. Dia memang sudah memikirkan hal itu sejak beberapa hari yang lalu, tapi dia tidak tega meninggalkan keluarganya dalam keadaan seperti ini. Siapa yang akan menjaga adik-adiknya? Siapa yang akan membantu ibunya mengurus ayahnya? Seolah membaca pikiran putranya, Bu Siti melanjutkan, "Jangan khawatirkan kami. Tetanggamu, Mang Udin, sudah berjanji akan membantu Ibu menjaga Bapakmu. Adik-adikmu juga sudah cukup besar untuk membantu di rumah. Yang Ibu butuhkan sekarang adalah uang untuk membawa Bapakmu ke rumah sakit." Wandra mengangguk pelan. Dia tahu ini adalah satu-satunya jalan. "Baik, Bu. Saya akan pergi ke kota besok pagi." Bu Siti tersenyum tipis, senyum pertamanya dalam berminggu-minggu. Dia memeluk putranya dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya pergi. "Terima kasih, Ndra. Ibu tahu kamu pasti bisa. Kamu adalah anak yang kuat dan bertanggung jawab, sama seperti almarhum kakekmu." Malam itu, Wandra tidak bisa tidur. Dia berbaring di tikarnya sambil menatap langit-langit rumah yang penuh lubang. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan bagaimana kehidupan di kota yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Apakah dia akan berhasil mendapatkan pekerjaan? Apakah dia akan mampu mengumpulkan uang yang cukup sebelum kondisi ayahnya memburuk? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Keesokan paginya, Wandra sudah bersiap untuk berangkat. Dia membawa sebuah tas ransel butut yang berisi beberapa potong baju, sebotol air, dan bekal nasi bungkus yang disiapkan ibunya. Uang yang dimilikinya hanya seratus ribu rupiah hasil menjual beberapa ekor ayam, cukup untuk ongkos perjalanan ke kota dengan sedikit sisa untuk makan sehari dua hari. Saat dia hendak berpamitan, tiba-tiba nenek Wandra, yang biasa dipanggil Mbah Surti, muncul dari kamarnya. Wanita tua berusia hampir delapan puluh tahun itu berjalan dengan tertatih-tatih sambil membawa sebuah peti kayu kecil yang terlihat sangat tua. Ukiran-ukiran di permukaannya sudah hampir tidak terlihat karena dimakan usia. "Tunggu, cucuku," kata Mbah Surti dengan suara serak khas orang tua. Wandra menghampiri neneknya dan membantunya duduk di kursi kayu. "Ada apa, Mbah?" Mbah Surti meletakkan peti kayu itu di pangkuannya dan membelainya dengan penuh kenangan. "Ini adalah peti wasiat dari almarhum kakekmu. Mbah Sardi meninggal dua puluh tahun yang lalu, beberapa bulan sebelum kamu lahir. Beliau berpesan agar peti ini dibuka saat ada keturunannya yang akan merantau ke tempat jauh." Wandra menatap peti itu dengan penasaran. Selama dua puluh tiga tahun hidupnya, dia tidak pernah tahu tentang keberadaan peti wasiat ini. Ibunya pun terlihat sama terkejutnya. "Kenapa baru sekarang Mbah memberitahu kami tentang peti ini?" tanya Bu Siti. Mbah Surti tersenyum misterius. "Karena baru sekarang syaratnya terpenuhi. Cucuku Wandra akan pergi merantau, dan dia adalah keturunan laki-laki pertama yang melakukan itu sejak kakeknya meninggal." Dengan tangan gemetar karena usia, Mbah Surti membuka peti kayu itu. Di dalamnya terdapat beberapa barang yang terlihat tidak berharga. Ada sebuah buku catatan yang kertasnya sudah menguning dan rapuh, sebuah pisau lipat berkarat, beberapa koin kuno yang sudah tidak berlaku, dan sebuah foto hitam putih yang menunjukkan seorang pria muda berpakaian petani. "Ini semua hanya barang-barang kenangan," kata Mbah Surti sambil memindahkan barang-barang itu satu per satu. "Tapi ada satu benda yang berbeda." Dari dasar peti, Mbah Surti mengambil sebuah kalung liontin. Liontin itu berbentuk bulat dengan ukuran sebesar koin lima ratusan, terbuat dari logam keperakan yang masih berkilau meski sudah berusia puluhan tahun. Di permukaannya terdapat ukiran simbol aneh yang tidak dikenali Wandra, semacam lingkaran dengan pola geometris rumit di dalamnya.Setelah Viona dan Baskoro pergi, kamar itu kembali sunyi. Wandra masih memegang cermin kuno itu beberapa saat, memandang permukaannya yang buram. Tidak ada getaran energi. Tidak ada petunjuk. Ia tidak tahu cara mengaktifkannya, sama seperti yang dikatakan Mayang.Akhirnya Wandra meletakkan cermin itu di meja kecil dekat tempat tidur, di samping lampu minyak yang sudah hampir padam. “Nanti saja,” gumamnya pelan. “Kalau waktunya tiba, rahasianya akan terbuka sendiri.”Ia menoleh ke ranjang.Mayang sudah terlelap. Cahaya redup dari jendela kecil kapal menerangi tubuhnya yang hanya diselimuti kain tipis. Napasnya teratur. Rambutnya tergerai di bantal. Kain itu sedikit tersingkap di dada, memperlihatkan lekuk payudara Mayang yang montok dan penuh, kulitnya tampak lembut di bawah cahaya malam.Wandra berdiri di tepi ranjang cukup lama. Gairah yang sempat tertahan selama percakapan tadi naik lagi dengan cepat. Ia duduk perlahan di sisi Mayang, berhati-hati agar tidak langsung membangunkannya
Malam itu, setelah keramaian akibat kekalahan Sekte Naga Laut mulai mereda dan sebagian besar penumpang kembali ke aktivitas normal mereka, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamar Wandra dan Mayang.Wandra membuka pintu dan menemukan Viona berdiri di sana bersama pelayan tuanya, wajah keduanya menunjukkan campuran antara rasa syukur dan keseriusan."Boleh kami masuk sebentar?" Viona bertanya dengan suara yang sopan. "Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, dan sesuatu yang ingin aku berikan sebagai tanda terima kasih."Wandra mempersilakan mereka masuk. Mayang, yang sedang duduk di dekat jendela kecil kamar mereka, mengangguk ramah kepada kedua tamu itu.Setelah duduk dengan canggung di kursi kayu sederhana yang tersedia, Viona menarik napas panjang sebelum mulai bercerita."Aku belum sepenuhnya jujur tentang siapa aku sebenarnya," Viona memulai, matanya menerawang jauh seolah mengingat kenangan yang sangat menyakitkan. "Namaku Viona Montenegra. Aku adalah keturunan dari Klan Mont
Salah satu dari kedua sosok itu, seorang pria bertubuh besar dengan wajah keras dan bekas luka melintang di dahinya, adalah Gambia, ketua Sekte Naga Laut yang sebenarnya, jauh lebih berkuasa dari Burundi yang sebelumnya dikalahkan Wandra.Di sampingnya, seorang pria tua dengan janggut putih panjang, matanya memancarkan kebijaksanaan yang sudah teruji selama ratusan tahun, adalah Gabon, Penatua Agung Sekte Naga Laut.Keduanya berada di level dua belas alam manusia roh, level tertinggi yang bisa dicapai sebelum menembus ke alam berikutnya, kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah Wandra hadapi sebelumnya, bahkan melebihi Sang Penguasa yang baru saja dia kalahkan."Jadi kau yang berani mempermalukan Sekte Naga Laut," Gambia berkata dengan suara yang bergema di atas permukaan laut, matanya memancarkan kemarahan yang membara. "Kau akan membayar mahal untuk itu."Tanpa memberikan waktu untuk berbicara lebih lanjut, Gambia dan Gabon menyerang secara bersamaan, energi yang mereka lepa
Pertarungan itu berlangsung dengan intensitas yang luar biasa. Burundi, sebagai kultivator alam manusia roh level sembilan, mengeluarkan berbagai teknik mematikan yang sudah dia kuasai selama puluhan tahun kehidupannya sebagai salah satu tetua Sekte Naga Laut.Gelombang-gelombang energi yang dia lepaskan membelah permukaan laut, menciptakan pusaran-pusaran air yang berputar dengan kekuatan yang mengerikan.Tapi Wandra, dengan kultivasinya yang kini telah mencapai level tiga ribu di alam pemurnian tubuh, sebuah pencapaian yang bahkan tidak pernah dia bayangkan bisa dicapai sebelumnya, menyambut setiap serangan itu dengan ketenangan yang luar biasa. Setiap pukulan Burundi yang dibalas Wandra selalu berhasil menembus pertahanannya, meninggalkan luka demi luka di tubuh sang pemimpin Sekte Naga Laut.Pertarungan itu berlangsung cukup lama, air laut di sekitar mereka bergolak hebat, ombak-ombak besar tercipta akibat benturan-benturan energi yang begitu dahsyat. Tapi pada akhirnya, meskipun
Kapal hitam Sekte Naga Laut merapat di sisi Leviathan dengan gerakan yang begitu presisi, seolah tidak ada air laut yang bisa menghalangi kehendaknya. Sebuah jembatan kayu diturunkan, dan satu per satu, para punggawa Sekte Naga Laut mulai melangkah naik ke geladak Leviathan.Yang berjalan paling depan adalah seorang pria berumur sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi dan kekar dengan kulit yang gelap terbakar matahari laut, matanya tajam seperti elang yang mengawasi mangsanya. Jubahnya berwarna biru tua dengan sulaman benang perak berbentuk naga yang melingkar di sekujur kain, sebuah simbol kekuasaan yang tidak perlu dijelaskan lagi."Burundi," seseorang berbisik dengan suara yang penuh ketakutan di antara kerumunan penumpang.Di belakang Burundi, lima orang lainnya berjalan dengan formasi yang sangat terlatih, masing-masing memancarkan aura kultivator alam manusia suci dengan level yang bervariasi antara tujuh hingga sembilan, level yang jauh melampaui apa pun yang dimiliki oleh k
Wandra merasakan kemarahan mulai membara di dalam dadanya, tapi dia mengingat peringatan Jack Sparrow untuk tidak membuat masalah selama pelayaran, sebuah syarat yang penting agar mereka bisa mencapai Laut Tibran dengan selamat."Mayang tidak tertarik untuk bertemu siapa pun," Wandra berkata dengan suara yang berusaha tetap tenang meskipun tersirat ketegasan yang jelas.Gerson, yang tidak terbiasa mendapatkan penolakan, membisikkan sesuatu kepada pelayannya. Pria gemuk itu kemudian mulai menyebutkan sejumlah uang yang sangat besar, mencoba menawar agar Wandra bersedia "melepaskan" Mayang untuk bertemu dengan tuan mudanya.Kesabaran Wandra mulai menipis mendengar tawaran menghina itu. Tanpa peringatan, tangannya bergerak cepat, sebuah tamparan yang mendarat telak di wajah pelayan gemuk itu, membuat beberapa giginya terlempar keluar dari mulutnya."Aku sudah bilang, dia tidak tertarik," Wandra berkata dengan suara yang dingin. "Jangan ulangi lagi."Tapi alih-alih ketakutan, Gerson justr
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang







