Share

Bab 221

Author: Jw Hasya
last update Huling Na-update: 2026-01-21 10:29:20

Seketika, mata Hans berkilat marah. Pria itu kemudian mendorong tubuh kecil Ellies hingga tersungkur ke arah tembok.

Tiba-tiba Hans tersenyum smirk padanya. Dengan berkacak pinggang, pria itu mulai berujar. “Ternyata aku terlalu menyepelekan bocah ingusan sepertimu, Ellies!” Suaranya begitu berat, tatapannya menghunus, dengan bibir menukik sebelah.

Ellies cepat-cepat mengendalikan tubuhnya agar bisa mensejajari Hans. Sejurus kemudian, gadis tomboy itu membusungkan dadanya. Tak kalah sengit, ia pun membalas tatapan mata Hans dengan tatapan penuh intimidasi.

“Apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Hans masih dengan suara begitu berat.

Ellies tersenyum memicing. “Tidak ada. Aku hanya meminta agar kau tidak lagi mengganggu saudaraku! Jika masih mengganggu, jangan salahkan aku, jika aku—“

“Jika aku apa?” Hans memotong kata-kata Ellies. Sebelah tangannya mendorong tubuh gadis itu hingga berjinjit di tembok, lengan Hans terlalu kekar untuk sebuah leher Ellies yang berukuran kec
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (6)
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
Hans memang lebih parah dari kama yah
goodnovel comment avatar
Iin Huang
semoga aja kama dtng TPT waktu ke apartemen nya Hans, ayo dong selamatkan ellies
goodnovel comment avatar
Iin Huang
aku gak nyangka ternyata hans sekejam ini.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kama Sutra   Bab 231

    “Siapa pemuda yang bersama dengan adik iparmu itu?” tanya Selena pada Sutra. “Itu? Dia Hans. Calon suaminya. Kenapa? Kau mengenalnya?” Selena mengangguk, lalu sedikit memundurkan langkahnya. “Kau dikelilingi orang-orang Kama? Apa … kau tidak takut?” Sutra menggeleng. “Tentu saja tidak. Mereka bisa melindungi.” “Tapi pemuda itu suka menyiksaku saat aku masih disekap. Bahkan dia kerap memperlakukanku layaknya khewan.” Selena menjulurkan kedua tangannya. Menunjukkan kuku kukunya yang terlepas. “Hei, kukumu lepas?” Sutra menatap heran. Selena mengangguk. “Dia yang melakukannya.” “Apa, masudmu yang melakukan hal itu adalah Hans?” Selena mengangguk. “Dia adalah salah satu dari empat orang yang sering mendatangiku untuk memberi makan. Tapi … dia memang yang paling berperan dan paling jahat.” “Kau tidak sedang berbohong ‘kan?” Selena menggeleng. “Apa kau tidak percaya padaku? Jika memang kau tidak percaya, coba kapan kapan kau tanya pada orang Kama yang pernah menjadi p

  • Kama Sutra   Bab 230

    Setelah membersihkan tubuhnya, Selena berganti pakaian, kemudian wanita yang terlihat begitu kurus tersebut menatap pantulan dirinya dalam cermin. Entah sudah berapa lama ia melewatkan hal itu, menatap wajahnya dalam dalam dari sebuah kaca oval yang bertengger di dinding. “Kau sudah mandi?” Sutra kembali datang setelah meninggalkan Selena untuk beberapa menit. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Sutra yang berdiri di balik punggungnya. “Ya, baru selesai.” “Sekarang ikutlah denganku, kita makan. Setelah itu kau akan kuajak untuk menjenguk Nenek.” Selena menarik lengan Sutra. “Ada apa?” tanya Sutra sambil menautkan kedua alisnya. “Aku tidak mau makan dengan banyak orang. Aju malu.” Selena tertunduk. “Kenapa?” Selena menggeleng. “Kalau boleh aku meminta, tolong kasih aku makan di sini saja. Aku belum bisa bertemu dengan banyak orang.” Kemudian ia kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Sutra baru menangkap sinyal, jika sebetulnya Selena mempunyai rasa malu karena ke

  • Kama Sutra   Bab 229

    “Dokter bilang, Nenek tidak punya banyak waktu lagi. Jadi … aku ingin kita mengatakan jika putrinya sudah tiada. Jujur, Kama. Aku takut, takut jika sampai hembusan napas terakhirnya, Nenek belum tahu jika Bibi Zatulini telah tiada.” Sutra kembali berurai air mata. Kama diam, pria itu mencoba untuk menekuri segalanya. Tiba-tiba kedua telapak tangannya mengepal sempurna, wajahnya menyiratkan kemarahan. Entah pada siapa. “Beri aku sedikit waktu, Sutra. Aku akan mencari siapa pembunuh Zatulini sendiri.” “Bagaimana dengan Hans? Apa dia belum bisa menemukan pembunuhnya?” Kama menggeleng. “Pembunuh Zatulini terlalu rapi. Seharusnya kita bisa mengandalkan Selena. Tapi … dia sendiri tidak tahu siapa pembunuh itu.” “Aku ada ide,” ujar Sutra. Kama menoleh. “Apa?” Sebelah alisnya menukik. “Kau benaskan Selena. Setidaknya, biarkan dia mengunjungi Nenek. Karena bagaimana pun juga, dia adalah cucu kandung Mariana.” Kama kembali termenung, napasnya menyeret berat. Sebetulnya Kama m

  • Kama Sutra   Bab 228

    Mata tua itu akhirnya terbuka perlahan. Ekor matanya basah dengan setitik air mata. Jari-jarinya mulai sedikit ada pergerakan. Sutra mengurai pelukan yang ia berikan untuk sang nenek—Mariana. Matanya kembali mengucurkan derai air mata. “Nenek, kau bangun!” Mariana berusaha tersenyum di tengah rasa sakit yang menderanya. “Nenek minta maaf padamu, Nak,” katanya sambil berusaha memegang punggung tangan Sutra. Sutra menggeleng. “Tidak, Nek. Kau tidak memiliki salah apa pun. Kau orang yang begitu baik selama ini.” “Tidak, Nak. Nenek selalu menyia-nyiakanmu. Maafkan Nenek. Di penghujung nyawa nenek, nenek ingin melepas segala penat dalam hati, dan—“ “Sst!” potong Sutra. “Jangan membahas hal yang tidak perlu dibahas, Nek. Sekarang lebih baik Nenek foku dengan kesehatan Nenek. Semua akan terlalui. Nenek pasti akan sembuh.” Mariana tersenyum samar. “Di mana Zatulini?” Sutra terdiam. Ada dua kemungkinan saat dia mengatakan kabar terakhir putri Mariana tersebut. Kemungki

  • Kama Sutra   Bab 227

    Sebetulnya Sutra ingin bicara pada Kama perihal perjodohan Ellies dengan Hans di meja makan pagi ini. Namun, tiba-tiba ponselna berdering. Sebuah panggilan telepon masuk. “Ya, aku Sutra. Ini dengan siapa?” “Ini dari rumah sakit. Nenek Anda mengalami kecelakaan pagi buta tadi, dan saat ini kondisinya dalam keadaan kritis.” Sutra beranjak. “Nenek? Nenek Mariana?” “Ya, Nyonya. Sebelum Nenek Anda koma, dia sempat memberikan ponselnya kepada pihak rumah sakit dan menyuruh pihak rumah sakitnuntuk kenghubungi nomor Anda. Sekarang, sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit.” Sutra mematikan ponselnya. Tiba-tiba bapasnya begitu sesak dan antap, seolah tercabut dari badannya. Air matanya tiba-tiba mengalir deras. Kama yang melihat sang istri sedang menangis, segera merangsek kursinya dan mendekatinya. “Ada apa dengan Nenek Mariana? Siapa yang menelponmu?” Ia memeluk tubuh sang istri dengan erat. “Nenek sedang kritis di rumah sakit, dia koma. Kata pihak rumah sakit, dia menga

  • Kama Sutra   Bab 226

    “Kama, apa kau tidak merasa jika sikap Hans beberapa hari terakhir ini terlihat cukup aneh?” Sutra sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias. Kama yang sedang membaca sebuah majalah di sofa di dalam kamarnya, mendadak menutup majalah tersebut, lalu menoleh ke arah sang istri. “Aneh bagaimana? Aku merasa dia sama dengan sebelum sebelumnya.” “Kau ingat, dulu dia menolak kerasa saat akan dijodohkan dengan Ellies. Tapi … kenapa sekarang tiba tiba dia bersedia?” “Sutra, kau terlalu curiga dengan semuanya. Kau tahu? Jika perasaan setiap orang itu pasti berubah ubah. Termasuk, Hans. Sekarang, yang harus kuta lakukan adalah mendoakan kebahagiaan utuk mereka berdua. Aku yakin, Hans pasti bisa menaklukkan hati Ellies, dan Ellies, lambat laun pasti bisa menerima Hans.” Sutra mengangguk ragu. Bukan tanpa alasan dia mengatakan hal itu terhadap Kama. Wanita itu bahkan pernah mendapati Hans dan Ellies sedang bersitegang. Lalu, tak lama kemudian, Ellies berubah. Wanita itu menjadi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status