ログインPagi kembali menyapa pelataran Kota Vilateli. Sudah memasuki hari ke 121, tapi Kama belum juga ada kabar. Sutra sedikit putus asa karena selama empat bulan itu Kama menghilang tanpa jejak. “Mungkin dia sengaja menghindar darimu karena sudah menemukan yang lebih baik bagi dirinya, Sutra.” Selena memecah keheningan. “Daripada kau terus memikirkannya, bukankah lebih baik jika kau pergi keluar untuk mencari hiburan? Kurasa dia juga saat ini sedang bersenang senang dengan wanita lain,” imbuh Selena tanpa memikirkan perasaan Sutra. Bagaimana pun juga kedua insan tersebut pernah bersitegang, terlebih kematian Zatulini masih ada campur tangan dari Kama, sudah tentu Selena tidak akan sepenuhnya bersikap baik kepada keluarga Deodola dan Sutra. “Kenapa kau berkata seperti itu, Selena? Bagaimana jika saat ini apa yang kau katakan malah sebaliknya?” ujarnya dengan wajah bingung. “Sebaliknya seperti apa maksudmu? Dia sedang berada di situasi sulit, begitu?” Selena menautkan kedua alisnya sambil
Bagi ini berita pertelevisian digemparkan dengan penemuan sesosok mayat yang menggelantung di bawah jembatan layang. Seorang yang bertugas sebagai salah satu tukang membersihkan jalanan kota, mendapati seorang pria dengan berpakaian rapi menggelantung di sana. Sepucuk surat terselip di kantong jas hitamnya. (Untuk Ellies. Saat kau membaca sepucuk surat dariku ini, aku tentu sudah tidak lagi di dunia lagi. Aku benar benar meminta maaf padamu, karenaku kau terluka, kau sakit, kau hancur, bahkan harus kehilangan masa depanmu yang mungkin selama ini menjadi impian terbaikmu. Maafkan aku untuk segala luka yang telah kutorehkan dalam perjalanan hidupmu. Kau benar, Ellies. Aku tidak pantas meskipun hanya sekadar bernapas dalam dunia ini. Aku orang paling jahat, dan aku adalah iblis yang berwujud manusia. Di penghujung surat dariku ini, aku ingin kau tahu satu hal, mungkin ini terkesan mengada ngada. Tapi … aku mencintaimu, entah sejak kapan. Namun, yang pasti saat kau hamil Sofia, aku
Cahaya lam-lampu di koridor rumah sakit berwarna putih kebiruan menerangi langkah Dokter Becca saat menuju ruang perawatan intensif. Tangannya memegang hasil scan terbaru, matanya fokus membaca setiap garis yang tertera di atas kertas. Di dalam ruangan itu, Kama terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang putih bersih, tubuhnya ditutupi selimut tipis dengan beberapa selang yang terhubung ke tubuhnya.“Hasilnya sudah keluar, Tuan,” ujar Dokter Becca dengan suara lembut, meskipun dia tahu pasiennya masih dalam keadaan koma. Wanita paruh baya itu menarik kursi kecil dan duduk di sisi ranjang, menatap wajah Kama yang pucat. “Operasi kanker usus besarmu berjalan dengan cukup baik, tapi tubuhmu membutuhkan waktu untuk bereaksi. Kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa.”Empat hari yang lalu, tepat saat Kama hendak memasuki ruang operasi, pria itu sempat menarik tangan Dokter Becca dengan kekuatan terakhir yang ada padanya. Wajahnya diliputi kesedihan.“Tidak ada seorang pun yang b
“Tapi kenapa harus dua bulan? Biasanya kau pergi tidak lebih dari seminggu.”Kama diam sejenak, menekuri kata kata Sutra sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut. “Karena ini demi masadepan anak anak, demi kebaikan semua, Sayang,” kemudian pria itu merangkul tubuh Sutra dengan penuh hangat. Kama berdoa dalam hatinya, dia memohon pada Tuhan kiranya Dia mengabulkan permohonnanya, mengangkat segala penyakitnya setelah ini karena dia harus tetap memastikan jika istri serta putra putrinya dalam keadaan baik baik saja. Minggu telah sampai, di mana Kama harus pergi selama dua bulan meninggalkan Sutra, Nathan serta Nala. Keluarga kecilnya itu tampak mengantar kepergiannya sampai di batas kota, tepatnya di sebuah bandara internasional Vilateli, menuju sebuah negara yang akan membuat hidupnya berubah. Entah menjadi sembuh atau malah sebaliknya. Kama kembali memeluk tubuh Sutra dengan begitu erat, seolah ingin meminta sebuah kekuatan pada sang istri. Hingga tak terasa, air matanya menetes te
Kematian Delon pada akhirnya terkuak, mayatnya ditemukan di dalam sebuah sumur tua di area bangunan terbengkalai saat akan mengalami renovasi keseluruhan. Pada awalnya para pekerja serta polisi tidak dapat mengidentifikasi mayat Delon, sebab memang tak ditemukan dompet yang mungkin berisi identitas diri. Namun, saat diberitakan jika di dalam sebuah gedung tua ditemukan mayat yang hampir tidak utuh lagi karena memang terendam dalam air di tambah lagi tubuhnya tertindih batu besar, seorang yang mengaku jika salah satu keluarganya menghilang tiga minggu lalu mengklaim jika jasad tersebut adalah salah satu keluarganya yang hilang. Namun, hingga jasad Delon dikebumikan, pihak berwajib tidak juga dapat memecahkan sebab musabab kematian pria muda tersebut. Kabar kematian Delon pun mencuat hingga terdengar oleh Sutra. Wanita itu sempat tak percaya jika mantan kekasihnya harus tewas dengan cara yang cukup tragis. “Kau sedang menonton apa?” Kama mendekati Sutra yang duduk di depan tel
Suara nyanyian rohani “Jesus Loves Me” yang lembut dari sebuah rumah duka terdengar menyusuri sore hari yang mendung, bergema bersama hembusan angin yang menyapu dedaunan kering. Lonceng berbunyi lima kali, sebagai tanda penghormatan bagi jiwa kecil yang telah kembali ke pangkuan Tuhan. Cahaya lilin kecil yang terpacak di depan pintu rumah tampak bergoyang goyang, dihiasi dengan renda putih serta bunga aster kecil yang harumnya terasa pahit di tengah duka yang melanda keluarga. Musim gugur kali ini harus dibersamai dengan ketiadaan seorang bayi kecil yang masih berusia tujuh bulan—Sofia Petterson. Air mata Ellies tak juga mengering, kedua bola matanya bahkan sudah begitu memanas, akan tetapi wanita itu tak kunjung menyudahi tangisannya. Hans yang melihat keadaan Sutra hanya bisa menahan rasa sesak dalam dadanya. Sebetulnya pria itu sempat menguatkan hati Ellies, akan tetapi wanita itu menolak dengan tatapan jijik. Bahkan wanita itu mengumpat. Di tengah tengah rasa duka yang







