ログイン“Tuan Muda Kama pengidap kanker usus sejak lima tahun yang lalu. Tapi … dia selalu menolak ketika aku menyuruhnya untuk segera berobat. Katanya ‘nanti saja’ selalu seperti itu.” Dada Sutra tiba tiba terasa begitu sesak saat mendengar penjelasan Dokter Becca. “Lima bulan lalu, dengan tiba tiba dia mau operasi saat penyakitnya sudah menyebar. Sebetulnya aku juga tidak menyangka jika pada akhirnya dia mau sembuh demi dirimu dan juga kedua putra putrinya.” “A-apa maksudnya semua ini? K-kenapa dia tidak pernah mengatakan apa apa terhadap diriku? Kenapa?” “Tuan Muda takut kau akan menjadi kepikiran jika dia memberitahu kondinya padamu. Dia begitu mencintaimu, hingga tak ingin melihatmu bersedih, terluka bahkan nelangsa. Dia akan melakukan apa pun asal kau bahagia.” “Tapi tidak harus dengan cara menutupi penyakitnya dariku, Dokter?” Air matanya kian mencuat menerobos di kedua pipinya. “Aku ini istrinya, aku berhak tahu segalanya tentang dia!” kata kata Sutra penuh penekanan. “Sebetul
Siang merayap ganas, musim kali ini sedikit tidak menentu, kadang turun hujan, kadang hanya angin yang menyambar nyambar di sertai terik matahari yang kian rakus melahap setiap pecalang. Sutra memutuskan untuk tinggal sementara di mansion keluarga Deodola, di sana dia bisa memiliki banyak aktivitas, di antaranya adalah membantu para pelayan untuk membersihkan mansion atau membantu sebagian dari mereka untuk menyiapkan hidangan di atas meja panjang. “Nyonya ada dokter Becca di luar sedang mencarimu.” Salah seorang pelayan menghampiri Sutra yang tengah memetik anggur di bangunan belakang. Sutra tampak menautkan kedua alisnya. Sudah lama dia tidak mendapati kabar dokter yang lumayan ceriwis tersebut. “Suruh dia menungguku di taman samping. Aku akan menyusul segera.”“Baik, Nyonya.”Sutra merapikan gunting sekaligus wadah anyaman yang terbuat dari bambu yang telah berisi beberapa gerombol anggur hijau. Kemudian wanita itu menaruh di meja bundar untuk kemudian agar dibawa masuk ke bang
Pagi kembali menyapa pelataran Kota Vilateli. Sudah memasuki hari ke 121, tapi Kama belum juga ada kabar. Sutra sedikit putus asa karena selama empat bulan itu Kama menghilang tanpa jejak. “Mungkin dia sengaja menghindar darimu karena sudah menemukan yang lebih baik bagi dirinya, Sutra.” Selena memecah keheningan. “Daripada kau terus memikirkannya, bukankah lebih baik jika kau pergi keluar untuk mencari hiburan? Kurasa dia juga saat ini sedang bersenang senang dengan wanita lain,” imbuh Selena tanpa memikirkan perasaan Sutra. Bagaimana pun juga kedua insan tersebut pernah bersitegang, terlebih kematian Zatulini masih ada campur tangan dari Kama, sudah tentu Selena tidak akan sepenuhnya bersikap baik kepada keluarga Deodola dan Sutra. “Kenapa kau berkata seperti itu, Selena? Bagaimana jika saat ini apa yang kau katakan malah sebaliknya?” ujarnya dengan wajah bingung. “Sebaliknya seperti apa maksudmu? Dia sedang berada di situasi sulit, begitu?” Selena menautkan kedua alisnya sambil
Bagi ini berita pertelevisian digemparkan dengan penemuan sesosok mayat yang menggelantung di bawah jembatan layang. Seorang yang bertugas sebagai salah satu tukang membersihkan jalanan kota, mendapati seorang pria dengan berpakaian rapi menggelantung di sana. Sepucuk surat terselip di kantong jas hitamnya. (Untuk Ellies. Saat kau membaca sepucuk surat dariku ini, aku tentu sudah tidak lagi di dunia lagi. Aku benar benar meminta maaf padamu, karenaku kau terluka, kau sakit, kau hancur, bahkan harus kehilangan masa depanmu yang mungkin selama ini menjadi impian terbaikmu. Maafkan aku untuk segala luka yang telah kutorehkan dalam perjalanan hidupmu. Kau benar, Ellies. Aku tidak pantas meskipun hanya sekadar bernapas dalam dunia ini. Aku orang paling jahat, dan aku adalah iblis yang berwujud manusia. Di penghujung surat dariku ini, aku ingin kau tahu satu hal, mungkin ini terkesan mengada ngada. Tapi … aku mencintaimu, entah sejak kapan. Namun, yang pasti saat kau hamil Sofia, aku
Cahaya lam-lampu di koridor rumah sakit berwarna putih kebiruan menerangi langkah Dokter Becca saat menuju ruang perawatan intensif. Tangannya memegang hasil scan terbaru, matanya fokus membaca setiap garis yang tertera di atas kertas. Di dalam ruangan itu, Kama terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang putih bersih, tubuhnya ditutupi selimut tipis dengan beberapa selang yang terhubung ke tubuhnya.“Hasilnya sudah keluar, Tuan,” ujar Dokter Becca dengan suara lembut, meskipun dia tahu pasiennya masih dalam keadaan koma. Wanita paruh baya itu menarik kursi kecil dan duduk di sisi ranjang, menatap wajah Kama yang pucat. “Operasi kanker usus besarmu berjalan dengan cukup baik, tapi tubuhmu membutuhkan waktu untuk bereaksi. Kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa.”Empat hari yang lalu, tepat saat Kama hendak memasuki ruang operasi, pria itu sempat menarik tangan Dokter Becca dengan kekuatan terakhir yang ada padanya. Wajahnya diliputi kesedihan.“Tidak ada seorang pun yang b
“Tapi kenapa harus dua bulan? Biasanya kau pergi tidak lebih dari seminggu.”Kama diam sejenak, menekuri kata kata Sutra sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut. “Karena ini demi masadepan anak anak, demi kebaikan semua, Sayang,” kemudian pria itu merangkul tubuh Sutra dengan penuh hangat. Kama berdoa dalam hatinya, dia memohon pada Tuhan kiranya Dia mengabulkan permohonnanya, mengangkat segala penyakitnya setelah ini karena dia harus tetap memastikan jika istri serta putra putrinya dalam keadaan baik baik saja. Minggu telah sampai, di mana Kama harus pergi selama dua bulan meninggalkan Sutra, Nathan serta Nala. Keluarga kecilnya itu tampak mengantar kepergiannya sampai di batas kota, tepatnya di sebuah bandara internasional Vilateli, menuju sebuah negara yang akan membuat hidupnya berubah. Entah menjadi sembuh atau malah sebaliknya. Kama kembali memeluk tubuh Sutra dengan begitu erat, seolah ingin meminta sebuah kekuatan pada sang istri. Hingga tak terasa, air matanya menetes te







