MasukCahaya lam-lampu di koridor rumah sakit berwarna putih kebiruan menerangi langkah Dokter Becca saat menuju ruang perawatan intensif. Tangannya memegang hasil scan terbaru, matanya fokus membaca setiap garis yang tertera di atas kertas. Di dalam ruangan itu, Kama terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang putih bersih, tubuhnya ditutupi selimut tipis dengan beberapa selang yang terhubung ke tubuhnya.“Hasilnya sudah keluar, Tuan,” ujar Dokter Becca dengan suara lembut, meskipun dia tahu pasiennya masih dalam keadaan koma. Wanita paruh baya itu menarik kursi kecil dan duduk di sisi ranjang, menatap wajah Kama yang pucat. “Operasi kanker usus besarmu berjalan dengan cukup baik, tapi tubuhmu membutuhkan waktu untuk bereaksi. Kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa.”Empat hari yang lalu, tepat saat Kama hendak memasuki ruang operasi, pria itu sempat menarik tangan Dokter Becca dengan kekuatan terakhir yang ada padanya. Wajahnya diliputi kesedihan.“Tidak ada seorang pun yang b
“Tapi kenapa harus dua bulan? Biasanya kau pergi tidak lebih dari seminggu.”Kama diam sejenak, menekuri kata kata Sutra sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut. “Karena ini demi masadepan anak anak, demi kebaikan semua, Sayang,” kemudian pria itu merangkul tubuh Sutra dengan penuh hangat. Kama berdoa dalam hatinya, dia memohon pada Tuhan kiranya Dia mengabulkan permohonnanya, mengangkat segala penyakitnya setelah ini karena dia harus tetap memastikan jika istri serta putra putrinya dalam keadaan baik baik saja. Minggu telah sampai, di mana Kama harus pergi selama dua bulan meninggalkan Sutra, Nathan serta Nala. Keluarga kecilnya itu tampak mengantar kepergiannya sampai di batas kota, tepatnya di sebuah bandara internasional Vilateli, menuju sebuah negara yang akan membuat hidupnya berubah. Entah menjadi sembuh atau malah sebaliknya. Kama kembali memeluk tubuh Sutra dengan begitu erat, seolah ingin meminta sebuah kekuatan pada sang istri. Hingga tak terasa, air matanya menetes te
Kematian Delon pada akhirnya terkuak, mayatnya ditemukan di dalam sebuah sumur tua di area bangunan terbengkalai saat akan mengalami renovasi keseluruhan. Pada awalnya para pekerja serta polisi tidak dapat mengidentifikasi mayat Delon, sebab memang tak ditemukan dompet yang mungkin berisi identitas diri. Namun, saat diberitakan jika di dalam sebuah gedung tua ditemukan mayat yang hampir tidak utuh lagi karena memang terendam dalam air di tambah lagi tubuhnya tertindih batu besar, seorang yang mengaku jika salah satu keluarganya menghilang tiga minggu lalu mengklaim jika jasad tersebut adalah salah satu keluarganya yang hilang. Namun, hingga jasad Delon dikebumikan, pihak berwajib tidak juga dapat memecahkan sebab musabab kematian pria muda tersebut. Kabar kematian Delon pun mencuat hingga terdengar oleh Sutra. Wanita itu sempat tak percaya jika mantan kekasihnya harus tewas dengan cara yang cukup tragis. “Kau sedang menonton apa?” Kama mendekati Sutra yang duduk di depan tel
Suara nyanyian rohani “Jesus Loves Me” yang lembut dari sebuah rumah duka terdengar menyusuri sore hari yang mendung, bergema bersama hembusan angin yang menyapu dedaunan kering. Lonceng berbunyi lima kali, sebagai tanda penghormatan bagi jiwa kecil yang telah kembali ke pangkuan Tuhan. Cahaya lilin kecil yang terpacak di depan pintu rumah tampak bergoyang goyang, dihiasi dengan renda putih serta bunga aster kecil yang harumnya terasa pahit di tengah duka yang melanda keluarga. Musim gugur kali ini harus dibersamai dengan ketiadaan seorang bayi kecil yang masih berusia tujuh bulan—Sofia Petterson. Air mata Ellies tak juga mengering, kedua bola matanya bahkan sudah begitu memanas, akan tetapi wanita itu tak kunjung menyudahi tangisannya. Hans yang melihat keadaan Sutra hanya bisa menahan rasa sesak dalam dadanya. Sebetulnya pria itu sempat menguatkan hati Ellies, akan tetapi wanita itu menolak dengan tatapan jijik. Bahkan wanita itu mengumpat. Di tengah tengah rasa duka yang
Dua minggu berselang, penyakit Sofia bukan semakin membaik, putri dari Hans dan Ellies tersebut semakin tidak ada harapan. Denyut jantungnya kian melemah, kelopak matanya setengah menutup dengan sekujur tubuhnya mendingin. Hanya tingga kakinya yang masih terasa hangat. Ellies sudah tidak sanggup lagi melihat pesakitan yang didera sang putri. Wanita itu lantas pergi berlari menuju sebuah katedral yang berada di kawasan rumah sakit. Menuju sebuah altar lalu menjatuhkan kedua lututnya serta merekatkan kedua tangannya sebagai lambang jika dirinya tengah berdoa. “Tuhan, aku datang untuk mengemis padamu. Tolong kau angkat penyakit anakku! Jangan kau beri dia cobaan di luar dari kesanggupannya. Aku tahu aku sudah salah langkah selama ini, tapi … ku mohon jangan kau jadikan anakku sebagai bagian dari penebusan dosa dosaku! Kumohon, Tuhan!” Air mata Ellies mengalir deras, membasahi kedua pipinya yang sudah merah membara akibat isak tangis yang terperangkap dalam dadanya. Setiap hembusan
Sambil memeluk Sutra, Kama berusaha tersenyum meskipun senyum itu palsu. Entah kenapa, dia seolah tak tega saat melihat kesedihan itu sedikit menyapu wajah sang istri. Kama tidak ingin Sutra menjadi kepikiran hanya karena akan memikirkan penyakitnya tersebut. Namun, pria itu tiba tiba bertekad untuk bisa kembali sembuh tanpa sepengetahuan Sutra. Kama akan mencari cara agar dirinya bisa teraelamatkan dari mau yang tengah mengintainya. “Lain kali kau jangan membuat hatiku takut, aku tidak suka. Kecuali kau memang menginginkan aku pergi dari hidupmu,.” Suaranya terisak di dalam pelukan Kama. Membuat pria itu semakin merasa bersalah. Kama semakin mengeratkan pelukannya. “Hei, jangan bicara seperti itu. Sungguh, aku hanya ingin bercanda tadi. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau candaanku itu membuat kau bersedih.” ***Di ruangan rawat inap anak bagian hematologi rumah Sakit, sorot mata seorang dokter terfokus pada layar monitor yang menampilkan data kesehatan Sofia, bayi berusia tujuh







