แชร์

Bab 3 | Ada Apa Dengan Langit?

ผู้เขียน: Didi Mawadah
last update วันที่เผยแพร่: 2022-06-13 18:32:17

Aku segera menata semua makanan tersebut ke dalam piring dan mangkok plastik yang sudah kuambil. Kemudian membawanya ke ruang depan dan meletakkannya di depan Langit dan Bumi, seperti dugaanku, kedua anakku langsung terperanjat, pandangan mereka membulat melihat banyaknya makanan yang kusajikan.

“Ibu, ini makanan buat kita?” tanya Langit dengan pandangan berkaca-kaca.

“Benar, sayang. Yuk Langit sama Bumi makan, ya.” Aku menyerahkan masing-masing piring berisi nasi dan potongan ikan kepada mereka.

“Asiiikk, Bumi lapel banget, Bu. Tadi Bumi mau makan loti tapi bude Lum malahin kita ya, Kak? Tutur Bumi dengan suara cadelnya, membuat hatiku kembali perih mengingat hal menyakitkan tadi.

“Lain kali kalau Ibu suruh Langit sama Bumi di rumah aja kalian harus nurut, ya! Ibu minta maaf tadi perginya kelamaan. Ibu tadi pergi ke desa sebelah untuk kerja, Alhamdulillah ada yang mau pakai jasa Ibu buat beres-beres rumah dan memasak. Nah, makanan ini dikasih sama orang yang memberi Ibu pekerjaan.”

“Makanannya enak, Bu. Langit senang deh kita bisa makan enak kayak gini, terima kasih ya, Bu!” kata Langit dengan mulut penuh dengan nasi.

“Ditelan dulu dong, Sayang! Nanti keselak lho.”

“He … he … he, habis enak banget, Bu,” katanya lagi, membuatku tersenyum gemas.

“Ayo dihabiskan segera, nanti setelah makan kalian mandi, ya! Ibu mau cuci baju dulu.” Aku segera beranjak meninggalkan anak-anakku yang makan dengan lahap.

Aku harus mencuci baju sore ini, agar besok pagi bisa langsung pergi ke rumah bu Rosmalia untuk mulai bekerja. Ah senangnya, setidaknya aku akan bisa mendapatkan pemasukan untuk kebutuhanku dan anak-anak, di saat mas Jazi tidak ada kabar seperti ini. Kemana sebenarnya dia? Apa yang tadi itu benar mas Jazi? Kenapa dia tidak pulang terlebih dahulu ke rumah kami.

Biasanya aku akan merendam pakaian dengan deterjen terlebih dahulu sebelum nanti aku sikat kembali, sambil menunggu cucian yang sedang aku rendam, aku putuskan untuk mengecek anak-anak, ternyata mereka sudah selesai makan, jadi kusuruh mereka untuk segera mandi dan aku membereskan bekas makanan mereka.

Bersyukur makanannya masih bersisa banyak, bisa untuk kami makan nanti malam atau sarapan besok pagi, segera kusimpan makanan tersebut ke atas meja di samping kompor dan menutupnya dengan tutup saji yang terbuat dari anyaman bambu. Setelahnya aku bergegas menyapu dan mengepel lantai kontrakan dan setelah itu menyiapkan baju ganti untuk kedua putra kesayanganku.

Tidak berapa lama, Langit dan Bumi sudah selesai mandi, Langit sudah pandai berpakaian sendiri, sedangkan Bumi masih harus aku bantu untuk berpakaian. Biasanya anak-anak akan langsung ke masjid untuk sholat ashar berjamaah dan setelahnya ikutan belajar mengaji bersama Ustad Faiz sampai menjelang maghrib.

Aku memanfaatkan waktu sendiriku untuk mencuci pakaian yang tadi sudah kurendam dengan deterjen, kemudian setelah selesai mencuci dan menjemur pakaian, aku langsung mandi dan bergegas menunaikan sholat ashar, bagaimanapun sulitnya kehidupan yang kami jalani, sebisa mungkin kami tidak akan pernah melalaikan kewajiban kami sebagai seorang hamba untuk bermunajah kepada sang maha kuasa.

Biasanya Langit dan Bumi baru akan sampai di rumah setelah sholat maghrib, aku beruntung memiliki anak-anak seperti mereka, walaupun hidup serba keterbatasan tapi mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan rajin ibadah, biasanya mas Jazi yang menemani anak-anak belajar mengaji, tapi karena mas Jazi jalan pulang jadilah anak-anak mengaji dengan ustad Faiz.

Aku sedang berdoa sehabis sholat maghrib, ketika mendengar pintu diketuk dengan keras disusul suara tangisan Bumi setelahnya. Tergesa aku berjalan menghampiri pintu depan, tanpa melepas mukena aku membuka pintu dan terkejut melihat Bumi yang menangis kencang, sedangkan Langit berpenampilan acak-acakan dengan kancing baju koko putihnya terlepas di bagian paling atas.

“Ada apa, Nak? Kenapa adikmu menangis? Ini juga, kok kancing baju kamu copot, Ngit?” tanyaku panik demi melihat kondisi mereka.

“Ibu! hu … hu … huuu, Kakak Langit dipukul, Bu,” tutur Bumi di tenga suara tangisnya.

Aku shock. “Dipukul? Siapa yang pukul, Nak? Langit cerita sama Ibu, Sayang!”

Kenapa Langit diam saja? Biasanya anak ini selalu menceritakan apapun yang dia alami kepadaku, tapi mengapa anak ini diam saja? Aku mengajak mereka berdua masuk ke dalam rumah, di luar sudah cukup gelap karena hari memang sudah lewat maghrib.

Setelah masuk, aku mendudukan mereka di ruang tamu dan aku bergegas mengambilkan air minum untuk mereka berdua. Sehabis minum, kulihat Bumi sudah cukup tenang, tidak menangis lagi seperti tadi.

Aku merasa ada yang aneh dengan sikap Langit sedari datang tadi, rasanya ada yang bocah lima tahun ini sembunyikan, tapi apa? Aku teringat perkataan Bumi tadi, jika kakaknya, Langit dipukul seseorang, ku telisik wajah putra sulungku itu dengan seksama. Benar, ada sedikit memar di rahang Langit, astaga siapa yang tega memukul anak usia lima tahun ini?

Segera aku mengambil kotak obat yang isinya sangat sederhana, hanya ada betadin*, plester luka, kain kasa, minyak angin, vapor*b milik Bumi dan alcohol yang hanya tinggal setengah botol lagi. Aku juga memanaskan air untuk mengompres memar di wajah anakku. Kuusapkan dengan pelan wajah memar langit dengan sapu tangan, yang sudah kucelupkan ke air hangat terlebih dahulu, saat mengusap seperti ada yang berdenyut di lubuk hatiku, bagaimana bisa ada yang tega memukul anakku, sedangkan aku sebagai orang tuanya saja sekalipun tidak pernah berlaku kasar kepadanya?

Sesekali Langit meringis menahan sakit di wajahnya, kuat sekali kamu, Nak. Rasanya ibu yang tidak kuat melihat kamu luka seperti ini, Sayang. Setelah selesai mengompres dengan air hangat, luka memar langit aku olesi vapor*b agar memarnya tidak membengkak.

“Sudah selesai, Langit sudah mau cerita sama ibu belum, Nak?” pancingku ketika seraya mengusap-usap rambut lebat milik Langit.

Kuhitung dalam hati hingga hitungan kesepuluh, namun bibir Langit masih terkatup, enggan untuk bercerita mungkin, biar sajalah dulu, nanti akan kutanyakan lagi ketika mood anak itu sudah baikan.

Kubereskan semua peralatan yang tadi kugunakan untuk mengobati wajah langit, selanjutnya aku melepaskan baju koko milik Bumi dan menggantikan dengan pakaian tidur. Aku juga mengambilkan baju tidur milik Langit dan memintanya segera berganti pakaian, dia menurut dan berganti pakaian tanpa suara.

“Bumi mau makan lagi, Nak?” tanyaku untuk mengalihkan perhatianku dari Langit.

“Emangnya boleh, Bu?” tanyanya malu-malu.

“Boleh dong, Sayang, sebentar ibu ambilkan, ya. Langit mau makan juga?”

Langit tidak menjawab, hanya menggelang dan melanggang masuk ke dalam kamar. Ada apa sebenarnya dengan anak itu, tapi aku sadar, Langit tidak mungkin kupaksa untuk bercerita jika dia sendiri belum mau bercerita. Jika bertanya pada Bumi, kurasa tidak tepat, karena akan mengorek kembali luka yang menyebabkan psikologisnya tertekan karena kejadian yang mereka alami tadi. Jadi, biarlah aku tunggu sampai Langit bercerita atau besok akan kutanyakan kepada ustad Faiz.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Extra Part

    Gianira AzizahTidak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa memiliki suami siaga yang begitu mencintai dan menyayangiku. Di kehamilanku yang menginjak sembilan bulan, Mas Riza semakin bertambah perhatian terhadapku. Hampir setiap saat Mas Riza menanyakan bagaimana keadaanku dan calon anak kami yang berada nyaman dalam rahimku.Sebisa mungkin Mas Riza akan menemani kemanapun aku akan pergi, termasuk hari ini, saat akhirnya cabang kedua dari Rumah Makanku berhasil dibuka dan diresmikan. Mas Riza senantiasa mendampingiku yang sudah mulai kepayahan dengan kondisi perut yang semakin membuncit.Sesuai prediksi yang mas Dhanis katakan saat terakhir kali kami berlibur di Bali, ketika itu Mas Dhanis mengatakan jika tidak sampai dua perkan dari pertengkaranku dan Mas Riza, aku akan segera hamil, dan benar saja semua itu terbukti dengan naik turunnya emosiku kala itu.Aku yang curiga karena sering sekali merasa pusing dan mual, selain itu kondisi psikisku yang naik turun sehingga sering sekali

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 112 | Selesai

    Aku suka saat Mas Riza membelaku di hadapan wanita tersebut. Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku di lengan Mas Riza yang sudah pasti telihat olehnya. Biarlah, aku tidak pernah mencari masalah dengan orang lain, tapi jika ada yang memulainya lebih dulu, aku pastikan diriku tidak akan diam saja.============= Aku tersenyum senang kala Gianira memberikan perkataan yang mampu membuat seorang Niryala terdiam dan tidak dapat membalikannya kembali. Terlihat sekali Gianira bukan sembarang wanita, dirinya memang pendiam dan lembut, tapi dia akan bertindak di saat yang tepat, sama seperti yang dirinya lakukan tadi saat membela harga dirinya sebagai seorang istri. Aku memang tidak salah memilihnya dan bertahan bersamanya.Niryala pergi setelah akhirnya Gianira membuatnya tidak berkutik sedikitpun, begitupun dengan Tiara yang saat itu tiba-tiba datang menghampiri kami. Di saat itu Gianira langsung memperkenalkannya sebagai saudara kembar bundanya. Tiara sempat menangis karena akhirnya bisa

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 111 | Keputusan

    “Gi, Sayang, mas minta maaf, Ya! kamu mau kan kasih kesempatan buat, Mas?” bisikku di sela-sela suara tangisnya.Gianira tidak menjawab, tapi kurasakan tangannya merespon, dia balik memelukku begitu erat. Aku bersorak dalam hati, mengucapkan syukur tiada henti, karena ini adalah kemajuan yang amat baik. Gianira sudah bersedia memelukku, tandanya dia bersedia memaafkanku, bukan?============= Cukup lama kami berada pada posisi ini, saling memeluk tanpa bicara apapun, hanya deru nafas dan sesekali isakan tangis Gianira yang terdengar. Aku tau hal ini tidaklah mudah bagi Gianira, cobaan yang dirinya alami sangat berat untuk ukuran awal pernikahan. Aku yakin wanita lain juga akan melakukan hal yang sama seperti Gianira lakukan ketika mengalami hal sulit ini, atau bahkan mungkin bisa lebih parah dari yang dia lakukan, mengumbar aib rumah tangganya di media sosial contohnya.Tapi Gianira-ku adalah wanita sholehah, seberat apapun dirinya kecewa terhadapku, Gianira akan tetap berusaha menjag

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 110 | Dimaafkan

    Gianira hanya diam, tidak melakukan apapun. Tiba-tiba aku teringat perkataan bijak yang pernah kubaca, jika titik lelah seorang wanita adalah saat dirinya diam seribu bahasa. Dia tidak akan lalgi meminta apalagi menuntut kamu melakukan sesuatu seperti yang dia mau. Dia memili diam membebaskanmu melakukan apa saja demi mengindari perdebatan yang sia-sia, dan itu artinya dia sudah pada level terserah yang paling parah.============== Buru-buru aku melepas pelukanku, memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Aku telisik wajahnya yang basah dengan air mata, netranya yang terlihat enggan menatapku balik. Aku mencari-cari yang kubutuhkan dari matanya, cukup lama, hingga akhirnya aku tersadar jika yang kuharapkan masih ada di sana. Aku melihat masih ada cinta di mata Gianira untukku, tandanya jika aku berusaha dengan keras untuk membuktikan jika tidak ada yang lain di hatiku selain dia, kuyakin Gianira pasti akan mau memaafkanku.“Gi, Sayang, tolong bicaralah! Kamu boleh marahin aku, maki-m

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 109 | Hampa

    Gianira hanya diam, tidak melakukan apapun. Tiba-tiba aku teringat perkataan bijak yang pernah kubaca, jika titik lelah seorang wanita adalah saat dirinya diam seribu bahasa. Dia tidak akan lalgi meminta apalagi menuntut kamu melakukan sesuatu seperti yang dia mau. Dia memili diam membebaskanmu melakukan apa saja demi mengindari perdebatan yang sia-sia, dan itu artinya dia sudah pada level terserah yang paling parah.============== Buru-buru aku melepas pelukanku, memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Aku telisik wajahnya yang basah dengan air mata, memandang netranya yang terlihat enggan menatapku balik. Aku mencari-cari yang kubutuhkan dari matanya, cukup lama, hingga akhirnya aku tersadar jika yang kuharapkan masih ada di sana. Aku melihat masih ada cinta di mata Gianira untukku, tandanya jika aku berusaha dengan keras untuk membuktikan jika tidak ada yang lain di hatiku selain dia, kuyakin Gianira pasti akan mau memaafkanku.“Gi, Sayang, tolong bicaralah! Kamu boleh marahin a

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 108 | Diamnya Gianira

    Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Jadi benar yang ibu katakan kemarin saat membangunkan ku sholat subuh? Jika wajah Gia murung dan seperti habis menangis? Tapi karena apa? bukankah masalah kami baru dimulai pagi tadi saat dirinya memergokiku di pantai bersama Niryala? Ataukah ada kesalahan lain yang aku tidak sadar sudah melakukannya? Tapi apa?============ Tidak banyak yang tau jika selain memiliki Warung Makan di Cianjur aku juga telah memiliki sebuah rumah sederhana di Jakarta. Rumah yang kubeli dari hasil keuntungan Warung Makanku berada di bilangan Jakarta Barat.Aku membelinya dengan bantuan mas Dhanis, saat itu aku mengatakan jika ingin memiliki sebuah rumah tetapi tidak di kampung, karena khawatir akan direcoki mas Jazirah dan Keluarganya. Kemudian mas Dhanis mengabari jika memiliki teman yang ingin menjual rumahnya dengan harga miring karena sedang membutuhkan uang dengan cepat. Melalui diskusi singkat dengan Ibu, aku akhirnya mengiyakan tawaran mas Dh

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 7 | Awal Mula Mas Berubah

    Kami sampai ke rumah dan mas Jazi langsung dipersilahkan masuk untuk menemui bapak mertua, sedangkan aku dan anak-anak? Disuruh masuk pun kami tidak. Aku dan anak-anak memutuskan untuk menunggu mas Jazi di teras rumah.Sungguh perih, setidaknya biarkan anak-anakku masuk. Mereka kepanasan menunggu d

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 6 | Terkenang Masa Lalu

    Aku dan anak-anak segera masuk ke dalam rumah, canggung karena bingung apa yang harus kulakukan, kemana bu Rosmalia pergi? Apa beliau lupa jika menyuruhku untuk datang hari ini. Aku masih berdiri di ruang tamu ketika tidak tau apa yang harus ku lakukan. Hingga akhirnya pria tadi menyadari keberadaa

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 2 | Pekerjaan Baru

    “Permisi, Bu. Maaf pekerjaan sudah selesai, saya mau pamit sekarang boleh ya, Bu?” tanyaku ketika menemui beliau sedang berada di depan televisi.“Oh iya boleh, Gi. Kamu tunggu dulu sebentar di sini, ya.” Bu Rosmalia beranjak dari duduknya hendak menuju ke arah dapur.Aku menunggu dengan cemas, mem

  • Kami Bisa Tanpamu Mas   Bab 1 | Ke mana Mas Jazirah

    Aku masih merenung, bingung hendak memasak apa hari ini untuk kedua anak-anakku. Dua pekan sudah mas Jazirah tidak pulang ke rumah, tempat kerjanya yang cukup jauh dari kontrakan kami, membuatnya memutuskan untuk pulang setiap satu pekan sekali. Tapi mengapa sudah dua pekan dia tidak juga pulang? J

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status