로그인Kusiapkan makan malam untuk Bumi dan juga untukku, karena tadi akupun belum sempat makan karena sibuk beres-beres rumah. Bumi makan dengan lahap, walaupun tadi sore sudah makan, tapi pengaruh tidak makan dari pagi sampai siang membuat dia cepat lapar lagi sepertinya.
Setelah selesai makan, aku mengajak Bumi untuk sholat isya bersama, kulihat Langit sebentar, hendak mengajaknya sholat bersama juga, tapi sepertinya dia sudah tertidur, kuusap lembut kepala Langit dan membisikan doa agar dia menjadi anak yang sholeh, sabar dan patuh kepada kedua orang tua, kemudian kutiupkan ubun-ubun kepalanya, hal itu rutin kulakukan kepada kedua putraku ketika mereka sedang tertidur.Setelah menunaikan sholat isya bersama Bumi, aku membimbingnya untuk segera naik ke atas kasur yang tanpa dialasi dipan. Kuajak dia berdoa sebelum tidur dan membacakan sedikit dongeng sebagai pengantar tidurnya. Bumi dan Langit sama-sama suka jika aku mendongeng untuk mereka sebelum tidur.Biasanya aku akan menceritakan kisah-kisah nabi ataupun sahabat nabi, seperti kisahnya Abu Bakar Ash Shidiq yang selalu mendukung dakwah Rosulullah dengan harta dan kesetiaannya, juga kisah kepahlawanan Umar bin Khatab, yang membuat setanpun lari tunggang langgang ketika bertemu jalan dengannya. Ya, sebisa mungkin aku mengenalkan pahlawan-pahlawan muslim, agar mereka bisa mencontoh sifat dan perilaku mereka.Malam ini aku menceritakan kisahnya Bilal bin Rabbah kepada Bumi, seorang budak miskin yang memiliki warna kulit sangat gelap, selalu disiksa dan dikasari oleh tuannya, seakan tidak ada harapan untuknya bertahan karena siksaan yang dialaminya, tapi tidak meyurutkan keyakinannya akan ke-Esaan Allah SWT. Terbukti, karena keteguhan dirinya mempertahankan aqidah, dia rela disiksa dengan batu besar yang ditimpakan di atas tubuhnya di tengah padang kering nan panas gersang.Terbayang akan beratnya batu besar tersebut yang bisa menindih bahkan mengelupaskan kulit si budak hitam. Hingga datanglah seorang sahabat rosul yang bernama Utsman bin Affan yang menebusnya kepada sang tuan. Akhirnya Bilal bin Rabbah terlepas dari kejahilan tuannya. Kini dia menjadi orang merdeka, yang bisa menjalankan ibadah sesuai dengan perintah Tuhannya.“Nah, Bumi, dari kisah Bilal bin Rabbah tadi, kira-kira apa pesan yang bisa kita ambil, Nak?” tanyaku ketika selesai membacakan cerita. Ini ku lakukan agar mengetahui jika mereka benar-benar menyerap cerita yang ku kisahkan atau tidak.“Apa ya, Bu? Bial kita sabal, ya?” tanyanya ragu.“Benar, Sayang. Agar kita mencontoh sikap sabar Bilal bin Rabbah, dan tetap teguh pada keyakinan kita akan Allah SWT. Apapun masalah ataupun cobaan yang kita hadapi, kita wajib berbaik sangka sama Allah, percaya kalau pertolongan Allah pasti da …?”“Tang!” teriak Bumi melanjutkan ucapanku.“Benar, Bumi pintar sekali, Nak. Ibu bangga sama Bumi dan Kakak Langit, kalian harus jadi anak yang sabar, ya. Kalau Kakak Langit nanti hilang sabar, Bumi yang ingatkan, ya!” tuturku seraya mengusap-usap kepala Bumi agar segera terlelap.==============Aku tersentak bangun dari tidur lelap ketika tidak sengaja mendengar suara benda terjatuh di ruang depan, bergegas aku turun dari kasur dan menghampiri sumber kegaduhan. Tidak ada angin maupun hujan, bingkai foto mas Jazirah terjatuh dari dinding ke lantai, sehingga kacanya pecah berhamburan. Kulirik jam di atas nakas, baru menunjukan pukul tiga dini hari. Mengapa perasaanku kembali menjadi tidak enak?Segera kuambil sapu dan pengki untuk membersihan serpihan kaca yang terberai, takut jika nanti Langit atau Bumi terkena pecahannya, setelah selesai lanjut aku pel lantainya sekalian agar benar-benar yakin jika sudah tidak ada lagi serpihan yang tersisa.Begitu dirasa sudah bersih semua, aku putuskan untuk melaksanakan sholat malam, agar hatiku yang sedang gundah gelisah menjadi tenang.“Ya Allah, Tuhanku yang maha pengasih dan maha penyayang. Tidak ada upaya yang bisa hamba lakukan melainkan sesuai ketentuanmu. Ya Allah, jagalah suamiku mas Jazirah, lindungi di manapun dia berada, sampaikan rinduku dan anak-anak ke dalam hatinya, gerakkan hati mas Jazi untuk segera pulang menemui kami ya Allah.”“Ya Allah, jagalah kedua buah hatiku, Langit dan Bumi, lindungi mereka, jadikan mereka anak yang soleh dan cerdas, jauhi mereka dari orang-orang jahat. Aamiin.”Aku melangitkan doa dan harapan-harapanku kepada yang Maha Tinggi, hanya kepada-Nya segala angan dan harapan ku gantungkan, karena aku sadar, ketika harapan itu di letakkan di pundak manusia, makan kita harus menyiapkan hati untuk kecewa. Aku titipkan suamiku mas Jazi kepada Robb-Nya, agar dia segera ingat jika ada anak-anak dan istrinya yang menunggu dia di rumah.Kini perasaan menjadi lebih tenang setelah melaksanakan sholat malam, aku kembali ke kamar untuk melihat anak-anakku. Mereka masih tertidur sangat pulas, sebentar lagi waktu subuh berkumandang, walaupun masih terlalu kecil, tetapi aku sudah membiasakan mereka untuk bangun sholat subuh, walaupun biasanya mereka akan tertidur kembali setelah menunaikan sholat dua rakaat tersebut.Kuusap lembut kepala Langit, menciuminya agar dia segera bangun. Tidak lama kemudian, tubuh bongsornya menggeliat menandakan si empunya tubuh sudah bangun dari alam mimpinya. Kubimbing Langit melafalkan doa bangun tidur dan langsung memberikannya air minum yang sengaja aku letakkan di atas nakas.“Bu, maafin Langit, ya. Semalam Langit cuekin Ibu.” Langit memeluk tubuhku erat, sepertinya dia menangis.“Langit kenapa, Sayang? Ibu enggak marah sama Langit, tapi Ibu minta Langit cerita ya sama Ibu, kenapa wajah Langit memar? Siapa yang pukul, Nak?” tanyaku seraya menghapus air matanya yang mengalir deras.“Tapi janji Ibu enggak sedih dan marah, ya?”“Iya sayang, ibu janji enggak akan sedih dan marah. Ayo, sekarang Langit cerita!”Langit membenarkan posisi duduknya sebelum memulai cerita.“Jadi kemarin setelah sholat maghrib, Langit sama Bumi mau ambil air minum gelas yang ada di masjid, tapi katanya Anom enggak boleh, minum itu untuk anak baik, bukan untuk pencuri kayak Langit dan adek Bumi. Terus Anom juga ejek kami, katanya kami anak miskin, enggak boleh mengaji di masjid. Emang benar ya bu kalau anak miskin itu enggak boleh ngaji di masjid?” tutur Langit bercerita.Anom adalah anaknya pakde Timbul yang usianya dua tahun di atas Langit, rumahnya persis di samping masjid. Mungkin kemarin Anom melihat saat insiden Langit diteriaki maling oleh bude Rum.“Terus Langit ajak adek Bumi buat pulang dan minum di rumah aja, tapi baru aja kami mau jalan, kaki adek Bumi dijegal sama Anom, adek Bumi nangis, Langit mau bantu adek Bumi berdiri tapi Anom malah dorong Langit juga, karena kesal Langit bangun untuk balas dorong Anom, eh Anom malah pukul Langit di wajah kayak gini. Tapi saat Langit mau balas, ustad Faiz datang dan melerai.”Ya Allah, bagaimana bisa anak sekecil Anom sudah berlaku jahat seperti itu? Apa pakde Timbul dan istrinya tidak mengajari Anom tata karma dan kasih sayang? Miris, terkadang pergaulan dan tontonan di televisi, acap kali menjadi tuntunan dan contoh teladan bagi anak-anak, yang dibiarkan bebas tanpa pengawasan, sehingga masa-masa golden age mereka justru diisi dengan hal-hal buruk, yang berpengaruh ke dunia nyata mereka.Gianira AzizahTidak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa memiliki suami siaga yang begitu mencintai dan menyayangiku. Di kehamilanku yang menginjak sembilan bulan, Mas Riza semakin bertambah perhatian terhadapku. Hampir setiap saat Mas Riza menanyakan bagaimana keadaanku dan calon anak kami yang berada nyaman dalam rahimku.Sebisa mungkin Mas Riza akan menemani kemanapun aku akan pergi, termasuk hari ini, saat akhirnya cabang kedua dari Rumah Makanku berhasil dibuka dan diresmikan. Mas Riza senantiasa mendampingiku yang sudah mulai kepayahan dengan kondisi perut yang semakin membuncit.Sesuai prediksi yang mas Dhanis katakan saat terakhir kali kami berlibur di Bali, ketika itu Mas Dhanis mengatakan jika tidak sampai dua perkan dari pertengkaranku dan Mas Riza, aku akan segera hamil, dan benar saja semua itu terbukti dengan naik turunnya emosiku kala itu.Aku yang curiga karena sering sekali merasa pusing dan mual, selain itu kondisi psikisku yang naik turun sehingga sering sekali
Aku suka saat Mas Riza membelaku di hadapan wanita tersebut. Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku di lengan Mas Riza yang sudah pasti telihat olehnya. Biarlah, aku tidak pernah mencari masalah dengan orang lain, tapi jika ada yang memulainya lebih dulu, aku pastikan diriku tidak akan diam saja.============= Aku tersenyum senang kala Gianira memberikan perkataan yang mampu membuat seorang Niryala terdiam dan tidak dapat membalikannya kembali. Terlihat sekali Gianira bukan sembarang wanita, dirinya memang pendiam dan lembut, tapi dia akan bertindak di saat yang tepat, sama seperti yang dirinya lakukan tadi saat membela harga dirinya sebagai seorang istri. Aku memang tidak salah memilihnya dan bertahan bersamanya.Niryala pergi setelah akhirnya Gianira membuatnya tidak berkutik sedikitpun, begitupun dengan Tiara yang saat itu tiba-tiba datang menghampiri kami. Di saat itu Gianira langsung memperkenalkannya sebagai saudara kembar bundanya. Tiara sempat menangis karena akhirnya bisa
“Gi, Sayang, mas minta maaf, Ya! kamu mau kan kasih kesempatan buat, Mas?” bisikku di sela-sela suara tangisnya.Gianira tidak menjawab, tapi kurasakan tangannya merespon, dia balik memelukku begitu erat. Aku bersorak dalam hati, mengucapkan syukur tiada henti, karena ini adalah kemajuan yang amat baik. Gianira sudah bersedia memelukku, tandanya dia bersedia memaafkanku, bukan?============= Cukup lama kami berada pada posisi ini, saling memeluk tanpa bicara apapun, hanya deru nafas dan sesekali isakan tangis Gianira yang terdengar. Aku tau hal ini tidaklah mudah bagi Gianira, cobaan yang dirinya alami sangat berat untuk ukuran awal pernikahan. Aku yakin wanita lain juga akan melakukan hal yang sama seperti Gianira lakukan ketika mengalami hal sulit ini, atau bahkan mungkin bisa lebih parah dari yang dia lakukan, mengumbar aib rumah tangganya di media sosial contohnya.Tapi Gianira-ku adalah wanita sholehah, seberat apapun dirinya kecewa terhadapku, Gianira akan tetap berusaha menjag
Gianira hanya diam, tidak melakukan apapun. Tiba-tiba aku teringat perkataan bijak yang pernah kubaca, jika titik lelah seorang wanita adalah saat dirinya diam seribu bahasa. Dia tidak akan lalgi meminta apalagi menuntut kamu melakukan sesuatu seperti yang dia mau. Dia memili diam membebaskanmu melakukan apa saja demi mengindari perdebatan yang sia-sia, dan itu artinya dia sudah pada level terserah yang paling parah.============== Buru-buru aku melepas pelukanku, memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Aku telisik wajahnya yang basah dengan air mata, netranya yang terlihat enggan menatapku balik. Aku mencari-cari yang kubutuhkan dari matanya, cukup lama, hingga akhirnya aku tersadar jika yang kuharapkan masih ada di sana. Aku melihat masih ada cinta di mata Gianira untukku, tandanya jika aku berusaha dengan keras untuk membuktikan jika tidak ada yang lain di hatiku selain dia, kuyakin Gianira pasti akan mau memaafkanku.“Gi, Sayang, tolong bicaralah! Kamu boleh marahin aku, maki-m
Gianira hanya diam, tidak melakukan apapun. Tiba-tiba aku teringat perkataan bijak yang pernah kubaca, jika titik lelah seorang wanita adalah saat dirinya diam seribu bahasa. Dia tidak akan lalgi meminta apalagi menuntut kamu melakukan sesuatu seperti yang dia mau. Dia memili diam membebaskanmu melakukan apa saja demi mengindari perdebatan yang sia-sia, dan itu artinya dia sudah pada level terserah yang paling parah.============== Buru-buru aku melepas pelukanku, memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Aku telisik wajahnya yang basah dengan air mata, memandang netranya yang terlihat enggan menatapku balik. Aku mencari-cari yang kubutuhkan dari matanya, cukup lama, hingga akhirnya aku tersadar jika yang kuharapkan masih ada di sana. Aku melihat masih ada cinta di mata Gianira untukku, tandanya jika aku berusaha dengan keras untuk membuktikan jika tidak ada yang lain di hatiku selain dia, kuyakin Gianira pasti akan mau memaafkanku.“Gi, Sayang, tolong bicaralah! Kamu boleh marahin a
Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Jadi benar yang ibu katakan kemarin saat membangunkan ku sholat subuh? Jika wajah Gia murung dan seperti habis menangis? Tapi karena apa? bukankah masalah kami baru dimulai pagi tadi saat dirinya memergokiku di pantai bersama Niryala? Ataukah ada kesalahan lain yang aku tidak sadar sudah melakukannya? Tapi apa?============ Tidak banyak yang tau jika selain memiliki Warung Makan di Cianjur aku juga telah memiliki sebuah rumah sederhana di Jakarta. Rumah yang kubeli dari hasil keuntungan Warung Makanku berada di bilangan Jakarta Barat.Aku membelinya dengan bantuan mas Dhanis, saat itu aku mengatakan jika ingin memiliki sebuah rumah tetapi tidak di kampung, karena khawatir akan direcoki mas Jazirah dan Keluarganya. Kemudian mas Dhanis mengabari jika memiliki teman yang ingin menjual rumahnya dengan harga miring karena sedang membutuhkan uang dengan cepat. Melalui diskusi singkat dengan Ibu, aku akhirnya mengiyakan tawaran mas Dh
Ku peluk erat tubuh sulungku itu, kasian sekali dia, hanya karena keterbasan ekonomi yang kami sandang, membuatnya harus menerima perlakuan buruk dari orang lain. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya disakiti orang lain yang bakan tidak ikut andil dalam memberikan nafkah.“Langit enggak m
Aku segera menata semua makanan tersebut ke dalam piring dan mangkok plastik yang sudah kuambil. Kemudian membawanya ke ruang depan dan meletakkannya di depan Langit dan Bumi, seperti dugaanku, kedua anakku langsung terperanjat, pandangan mereka membulat melihat banyaknya makanan yang kusajikan.“I
Aku masih merenung, bingung hendak memasak apa hari ini untuk kedua anak-anakku. Dua pekan sudah mas Jazirah tidak pulang ke rumah, tempat kerjanya yang cukup jauh dari kontrakan kami, membuatnya memutuskan untuk pulang setiap satu pekan sekali. Tapi mengapa sudah dua pekan dia tidak juga pulang? J
“Permisi, Bu. Maaf pekerjaan sudah selesai, saya mau pamit sekarang boleh ya, Bu?” tanyaku ketika menemui beliau sedang berada di depan televisi.“Oh iya boleh, Gi. Kamu tunggu dulu sebentar di sini, ya.” Bu Rosmalia beranjak dari duduknya hendak menuju ke arah dapur.Aku menunggu dengan cemas, mem







