Share

Bab 3

Penulis: Maya Pertiwi
Ziana tidak menatap Farel. Dia justru menatap ponselnya yang hancur dengan sorot mata menyayangkan.

Beruntung, kuitansi pembeliannya masih tersimpan di dalam tas.

Ziana menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Farel dengan cukup tenang.

"Aku nggak membuntutimu."

Farel mendengus dingin, jelas sekali tidak percaya.

Melihat situasi yang tidak beres, teman-temannya segera bangkit untuk mencairkan suasana.

Namun, cara mereka adalah dengan menyalahkan Ziana.

"Ziana, kamu benar-benar keterlaluan. Tuan Farel baru saja keluar dari rumah sakit. Dokter bilang, gumpalan darah di otaknya belum hilang, dia nggak boleh emosi."

"Benar. Lihat Nona Silvia, dia tahu kalau pasien amnesia nggak boleh tertekan. Apa kamu benar-benar ingin membunuh Tuan Farel? Pantas saja dia memilih Nona Silvia daripada kamu. Tahu diri sedikit ...."

"Oke," sahut Ziana singkat.

Seketika, suasana di sekitar menjadi sunyi senyap.

Farel pun tertegun, menatap Ziana dengan pandangan penuh keraguan.

Trik apa lagi yang ingin dimainkan wanita ini?

Seorang teman bertanya dengan heran, "Apa katamu?"

Ziana mengulangi, "Aku bilang oke. Kalau kalian nggak percaya, kalian bisa memblokirku sekarang juga."

Dia tidak perlu menjaga perasaan teman-teman Farel yang membantu pria itu berselingkuh.

Teman-temannya menoleh ke arah Farel dengan canggung.

Farel mencibir, "Ziana, sudah cukup main dramanya? Berhenti menggunakan cara seperti ini untuk menarik perhatianku. Sudah aku bilang, hal yang bisa dilupakan, berarti itu nggak penting, baik itu orang maupun ingatan!"

Pria itu menggenggam tangan Silvia dan berucap kata demi kata, "Silvia adalah kekasihku yang sah dan kuakui!"

Silvia tersenyum manis, lalu diam-diam melirik Ziana, seolah memproklamasikan kemenangannya.

Sah dan kuakui.

Sungguh kalimat yang luar biasa.

Demi status itu, Ziana telah menunggu selama empat tahun.

Sayangnya, sekarang dia sudah tidak menginginkannya lagi.

Ziana tersenyum. "Selamat."

Alis Farel bertaut, wajahnya tampak tidak senang.

Dia benar-benar meremehkan Ziana, wanita itu kini jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Apa Ziana pikir dengan berpura-pura mundur, dirinya akan mulai peduli?

Apa wanita itu harus dipaksa mendengar kata-kata yang lebih kejam agar bisa menerima kenyataan?

Farel merangkul Silvia dan duduk. Lengannya bersandar di sofa dengan gaya yang santai dan malas.

"Karena kamu mengucapkan selamat, bergabunglah dengan kami. Kamu nggak hanya sekadar bicara, ‘kan?"

Ziana tahu Farel sengaja menyulitkannya.

Namun, dia secara refleks menyahut, "Bukannya penderita penggumpalan darah di otak, nggak boleh minum alkohol?"

Apa pria itu tidak takut sandiwaranya terbongkar?

Farel tertawa sinis di dalam hati.

Benar saja.

Ziana hanya keras di mulut, tapi hatinya tetap tidak rela berhenti mengganggu Farel.

Silvia bersandar pada Farel dan berkata dengan nada sedih, "Tuan Farel, hati Ziana pasti sakit. Kalau dia nggak mau, ya sudah. Aku nggak mau memaksanya."

Teman-temannya jelas berpikiran sama. Mereka mengira Ziana tidak rela melepas Farel, sehingga mereka ikut membujuk.

"Ziana, kalau nggak bisa jadi kekasih, kita masih bisa jadi teman. Terus menempel padanya, nggak akan memberimu keuntungan apa-apa."

"Tuan Farel dan Nona Silvia sudah mengumumkan hubungan mereka. Berhentilah bersikap keras kepala!"

"Ziana, kalau bukan karena menganggapmu sebagai teman, kami juga malas menasihatimu."

Teman?

Haha.

Ziana menatap mereka, sorot matanya menjadi dingin.

Teman-temannya tertegun, nyali mereka mendadak menciut.

Entah mengapa, mereka merasa Ziana berbeda dari biasanya.

Jika dulu mereka bicara seterbuka ini, Ziana pasti sudah menundukkan kepala.

Di dunia ini, Ziana adalah orang yang paling takut jika Farel marah.

Ziana berjalan perlahan ke arah meja dan mengambil segelas minuman.

"Aku nggak bilang kalau nggak mau minum. Terima kasih atas nasihat kalian. Aku dengan tulus mendoakan, semoga Tuan Farel dan Nona Silvia langgeng selamanya!"

Dia meminum habis minumannya sambil tersenyum.

Ziana sangat cantik, terutama saat tersenyum.

Fitur wajahnya yang halus, memiliki daya pikat yang sulit digambarkan.

Bahkan gadis ningrat pilihan seperti Silvia pun, masih kalah darinya.

Namun, Ziana terlalu kolot. Dia sama sekali tidak membiarkan Farel menyentuhnya sebelum menikah.

Benar-benar membosankan.

Meski begitu, senyumnya berhasil membuat wajah Farel semakin masam.

Ziana berakting terlalu berlebihan.

Tunggu saja sampai ingatannya 'pulih', nanti wanita itu pasti akan mengemis padanya.

Farel tertawa dingin. "Ziana, kuharap kamu ingat kata-katamu itu. Sekarang, pergi sana!"

Ziana mengangguk.

Saat berbalik, dia berpapasan dengan wajah tersenyum Silvia.

Bibir merah wanita itu bergerak tanpa suara, "Kamu benar-benar nggak berguna."

Ziana seketika menghentikan langkahnya.

Melihat hal itu, teman-teman di belakangnya tidak bisa menahan tawa.

Sepertinya Ziana sadar, dia sudah bertindak terlalu jauh dan sekarang mulai merasa tidak rela lagi.

Bahkan Farel pun menepuk jidatnya dengan raut wajah tidak sabar.

"Ziana, aku nggak mau mengatakannya dua kali. Kamu ...."

Ziana menyodorkan kuitansi ponselnya, memotong ucapan pria itu.

"Tuan Farel, tolong ganti biaya ponselku. Aku baru membelinya, di kuitansi ada waktu dan jumlahnya. Bagaimana kamu akan membayar?"

"Hoho!"

Teman-temannya bersorak, menertawakan trik Ziana yang mereka anggap picik.

Farel tertawa sinis sambil menggeleng, tampak sangat terganggu.

Ziana tidak memedulikannya. Dari sudut matanya, dia melirik Silvia, lalu berbalik menatap salah satu teman yang menggunakan tipe ponsel yang sama dengannya.

"Kalau nggak mau ganti juga nggak apa-apa. Tadi aku sedang menjawab pertanyaan klien. Berikan ponselmu sebentar agar aku bisa masuk ke akunku. Begitu tersinkronisasi, pesan-pesan di WhatsApp, akan muncul."

Begitu kata-kata itu terucap, Silvia yang tadi mengejek Ziana, langsung gelisah.

Begitu pesan tersinkronisasi ke ponsel orang itu, maka pesan provokasi yang dia kirim ke Ziana akan terbongkar.

Dia tidak takut Ziana akan bicara sembarangan, tapi dia tidak boleh membiarkan Farel melihat bukti itu.

Silvia dengan panik mengeluarkan ponselnya.

"Ziana, kenapa harus membuat semua orang malu? Aku akan membayarmu dua kali lipat."

Ziana mengangguk dan menyebutkan nomor ponselnya.

"Nona Silvia, tolong beri catatan 'pelunasan ponsel' agar nggak menimbulkan masalah yang nggak perlu."

Dengan gigi terkatup, Silvia mentransfer 30 juta ke akun Gopay Ziana.

Dia tidak sayang uangnya, melainkan merasa kesal karena telah dijebak balik oleh Ziana.

Setelah memastikan uangnya masuk, Ziana mengucapkan terima kasih dengan sopan lalu berbalik pergi.

Orang-orang yang awalnya menunggu untuk menertawakannya, mendadak bungkam.

Salah satu dari mereka, bahkan berdiri dan menatap pintu masuk selama satu menit. Namun, Ziana tetap tidak kembali.

"Dia ... benar-benar pergi?"

"Biarkan saja. Aku berani bertaruh, belum sampai tiga jam, dia pasti akan mencari alasan untuk kembali."

"Aku bertaruh dua jam."

Mereka mulai memasang taruhan.

Farel menyesap minumannya dan berkata sinis, "Aku bertaruh setengah jam."

Mendengar hal itu, Silvia tampak tidak senang.

"Kamu begitu ingin dia kembali mencarimu?"

Farel merangkulnya dan tertawa acuh tak acuh. "Hanya untuk hiburan minum-minum saja."

Barulah Silvia tersenyum kembali.

Waktu berlalu menit demi menit. Setengah jam lewat, satu jam lewat, tetapi Ziana tetap tidak muncul.

Wajah Farel menjadi semakin gelap.

Seorang teman segera menenangkan, "Ziana nggak punya ponsel, pasti dia tertahan karena harus membeli ponsel baru."

Teman yang lain menimpali, "Aku ingat di seberang gedung ini ada pusat perbelanjaan, seharusnya nggak butuh waktu lama ke sini."

"Bagaimana kalau kita telepon saja? Jangan-jangan dia bersembunyi karena ingin melakukan hal nekat?"

"Kalau begitu, kita harus cepat tanya dia."

Mereka tetap merasa sudah sewajarnya Ziana ingin mati demi Farel.

Salah satu dari mereka segera menelepon, tetapi hasilnya selalu pemberitahuan bahwa nomor tidak dapat dihubungi.

"Ini ... dia memblokirku?"

"Nggak mungkin, kita ‘kan temannya. Coba lewat WhatsApp."

Yang lain mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan WhatsApp secara bersamaan.

Hasilnya, hanyalah tanda seru merah yang mencolok.

"Semuanya diblokir."

Brak!

Farel meletakkan gelasnya dengan keras. Dia menarik tangan Silvia dan berdiri.

"Sudahlah. Dia hanya ingin berulah, kalian malah menganggapnya serius. Makan malam ini aku yang traktir, kami pergi duluan."

Semua orang menunjukkan ekspresi yang rumit. Setelah Farel pergi menjauh, barulah mereka angkat bicara.

"Ziana nggak pernah berani bersikap begini. Jangan-jangan kali ini dia serius?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
YUSNIDA FITRIANI, S.PD
Alur ceritanya sangat bagus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 100

    Sebagai Tuan Muda Kedua yang dididik Keluarga Anggara dan lulusan terbaik jurusan keuangan luar negeri, sebenarnya Farel juga orang yang hebat. Sikapnya yang santai dan liar hanyalah kulit luar. Pada intinya, dia tetaplah seorang pengusaha.Bagaimana mungkin dia membiarkan Silvia meributkan masalah kebocoran data di resor secara terang-terangan, jika tidak ada tujuannya? Selain karena cintanya pada Silvia, motif utamanya adalah untuk merusak kerja sama antara Vihan dan Nyonya Helena. Setelah itu, dia tinggal mencari kambing hitam.Ziana adalah kandidat terbaik. Dengan latar belakang hubungannya yang hancur dan kegagalan promosinya, cukup dengan membesar-besarkan rasa cemburu, tuduhan pembocoran rahasia akan terasa masuk akal bagi siapa pun. Silvia bisa lolos tanpa noda.Sementara Farel akan tampil sebagai penyelamat yang mewakili Perusahaan Anggara untuk bernegosiasi ulang dengan Nyonya Helena.Saat ini, pilihan terbaik bagi Nyonya Helena selain Vihan hanyalah Farel. Setelah mema

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 99

    Ziana refleks mengeratkan genggamannya pada teko air. Saat dia mendongak, Vihan sudah memimpin rombongannya menuju kursi utama."Duduk semuanya."Vihan merapikan kerah jasnya dengan gerakan santai, tetapi memancarkan aura dominasi seorang pemimpin yang kuat. Melihat semua orang duduk, Ziana merasa canggung. Tak jauh dari sana, Aryani menggerakkan bibirnya tanpa suara, “Kamu nggak dengar? Duduk!”Dia mengerti. Ziana merasa lega dan segera kembali ke kursinya. Namun, ada seseorang yang tampaknya jauh lebih menderita darinya.Di samping kursi Silvia, berdiri seorang pria. Dia adalah salah satu bawahan kunci Vihan dengan jabatan tinggi. Berdasarkan pengaturan tempat duduk, pria inilah yang seharusnya menempati kursi tersebut. Namun, Silvia duduk di sana atas perintah Farel. Begitu berdiri, dia akan terlihat lebih rendah dari orang lain. Di depan tatapan begitu banyak orang, Silvia tentu saja tidak mau.Silvia tidak bergerak. Dia merasa Vihan akan memaklumi posisinya sebagai kekasi

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 98

    Ruang rapat. Dalam rapat tingkat tinggi ini, orang dengan posisi menengah seperti Ziana hanya bisa duduk sebagai pendengar tanpa hak suara. Dia duduk di kursi barisan paling luar. Baru saja dia membuka buku catatannya, Farel datang bersama Silvia.Farel membiarkan Silvia duduk di kursi tepat di sampingnya, posisi yang sangat tinggi bagi orang lain. Melihat hal itu, banyak orang berbisik iri."Benar-benar seperti karakter CEO di dunia nyata, Tuan Farel tampan dan romantis banget!" "Bukan cuma tampan, dia juga sangat memanjakan pacarnya. Kudengar kemarin Nona Silvia terkejut, dia langsung memanggil tiga spesialis untuk memeriksanya." "Aku juga dengar. Benar-benar bikin iri. Ziana, kamu satu departemen dengan Nona Silvia, apa kamu nggak kenyang makan 'kemesraan' mereka tiap hari?"Mendengar hal itu, tangan Ziana yang sedang membuka tutup pulpen terhenti sejenak. Ternyata demi Silvia, Farel menutup rapat semua kejadian di vila kemarin. Benar-benar cinta yang dalam. Dia tidak mendon

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 97

    "Tuan Farel." Melihat Farel semakin dekat dengan Ziana, Silvia segera menarik lengan pria itu dan berlagak murah hati. "Aku lihat Nona Tamara juga punya kehidupannya yang sulit, berikan dia satu kesempatan lagi. Aku juga bersedia menerima hukuman dari resor."Dengan perkataan ini, dia mendapatkan kembali harga diri dan citra baiknya. Farel menarik kembali tatapannya dan melambai. "Kalau begitu, lupakan saja pemecatan Tamara."Melihat hal itu, polisi berkata, "Kalau begitu, kami akan membawa tersangka pergi."Mendengar hanya dirinya yang ditangkap, keinginan bertahan hidup Desi mengalahkan rasa takutnya. Dia menerjang polisi dan menerkam ke arah Ziana. "Bu Ziana, aku nggak mau dipenjara! Kumohon ...."Belum sempat dia menyentuh Ziana, Ziana seolah-olah terdorong dan jatuh ke arah meja dapur. "Jangan mendekat!"Dalam teriakan itu, Ziana sengaja menyebarkan tepung di atas meja. Tepung itu jatuh tepat mengenai Silvia dan Hilda. Keduanya berteriak histeris melihat penampilan masing-m

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 96

    Orang itu adalah Desi. Sebagai staf departemen housekeeping, dia tahu persis titik buta CCTV dan prosedur pembersihan kamar. Dia memanfaatkan hal itu untuk memukul Tamara sampai pingsan saat temannya itu sedang menyedot debu. Setelah memotret dokumen tersebut, dia mengirimkannya kepada Hilda, yang kemudian memberitahu Silvia untuk melakukan penggerebekan.Dia mengira jika Ziana dan Tamara tertangkap basah, tidak akan ada yang memeriksa CCTV area luar. Dengan begitu, aksinya masuk-keluar vila melalui titik buta tidak akan pernah terungkap. Siapa sangka, Ziana dan Tamara justru menuntun mereka satu per satu untuk menunjukkan jati diri asli mereka.Desi menatap Silvia dan Hilda, memohon bantuan. Namun, keduanya tetap diam membisu. Membayangkan dirinya harus masuk penjara, Desi gemetar hebat karena takut. Dia langsung menunjuk mereka berdua."Merekalah yang menyuruhku melakukan ini! Mereka mau menyingkirkan Ziana!""Kamu!" Silvia bereaksi cepat. Dia mulai menangis tersedu-sedu. "Ak

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 95

    Menyadari situasi memburuk, Silvia kembali memainkan aktingnya. "Ziana, aku tadi hanya khawatir kalau berita kebocoran ini tersebar, reputasi resor akan hancur." Dia mencoba menggunakan nama baik resor untuk membersihkan diri.Ziana menyadari Farel hendak membela Silvia lagi, jadi dia segera memotong, "Jadi maksud Bu Silvia, Anda sama sekali nggak punya bukti? Semua perkataan Anda tadi murni hanya spekulasi pribadi? Memfitnah rekan kerja dan membiarkan pencuri yang asli bebas, apa itu yang disebut menjaga reputasi resor?"Mendengar hal itu, wajah Silvia menjadi kaku, dia tidak bisa membantah. Polisi berkata dengan tegas, "Nona Silvia, bicara seperti itu tidak hanya tidak bertanggung jawab, tapi juga bisa mencelakai orang lain."Silvia selalu dipuja-puja, ini pertama kalinya dia ditegur di depan umum. Ekspresi wajahnya tampak bergetar menahan malu.Ziana tidak mau membuang waktu menatapnya lagi dan berkata, "Hilda, Desi, bagaimana dengan kalian? Jangan-jangan kalian juga nggak punya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status