Share

Bab 2

Author: Maya Pertiwi
Ziana menatap mata Bibi Winda yang tampak merasa bersalah.

Rasanya sungguh konyol. Sepertinya 'Nona Silvia' ini sudah lama menjadi nyonya di vila ini.

Bibi Winda tersenyum canggung. "Nona Ziana, kenapa Nona datang ke sini?"

Ziana berpura-pura tidak mendengar nama 'Nona Silvia' tadi. Dia menjawab dengan tenang, "Aku hanya mau mengambil barang, lalu pergi."

Bibi Winda melirik ke dalam rumah, tetapi tetap menghalangi pintu.

"Tapi Tuan Farel belum pulang."

Siratannya jelas, Ziana adalah orang asing yang tidak boleh masuk sembarangan.

Nadanya sangat berbeda dengan saat ia menyapa 'Nona Silvia' tadi.

Pelayan keluarga kaya adalah orang yang paling mahir dalam menilai situasi.

Antara Ziana dan Nona Silvia, siapa yang harus dijilat Bibi Winda sudah tahu jawabannya.

Ziana menatap lengan yang menghalangi jalannya dan tertawa sinis.

"Kalau aku nggak merapikan barang-barangku, bukannya Nona Silvia-mu itu akan merasa risih melihatnya nanti?"

Bibi Winda berpikir sejenak, lalu akhirnya menurunkan tangannya. Dia menunjuk ke arah gudang.

"Jangan ke lantai atas. Tuan Farel sudah menyuruhku meletakkan semuanya di sana."

Langkah Ziana terhenti sejenak. Dia mendongakkan kepala, menatap ke arah tangga. Di sudut tangga, tergantung sebuah foto mesra sepasang pria dan wanita.

Ternyata wanita inilah Nona Silvia.

Cantik juga.

Raut wajah Ziana datar saat dia berbalik menuju gudang.

Barang-barangnya dijejalkan sembarangan di dalam sebuah kardus usang.

Selama empat tahun menjalin kasih, meski tidak pernah menginap, dia selalu menghias tempat ini seolah rumahnya sendiri.

Ziana mencurahkan tenaga, pikiran, dan uang.

Sekarang, dia baru sadar bahwa itu semua hanyalah harapan sepihak.

Di sini, tidak ada yang menganggapnya sebagai keluarga.

Saat Ziana memeluk kardus itu untuk pergi, Bibi Winda memanggilnya.

"Masih ada satu kotak lagi berisi hadiah-hadiah dari Tuan Farel, nggak mau dibawa? Tuan Muda bilang dia mengizinkanmu membawanya ...."

"Nggak perlu. Terserah mau kamu apakan."

Semua itu hanyalah barang-barang murahan untuk membujuknya.

Hanya saja, dulu dia menganggap semua barang itu sebagai harta karun.

Begitu selesai bicara, Ziana langsung pergi.

Bibi Winda segera menelepon Farel.

"Tuan Farel, Nona Ziana baru saja mengambil barang-barangnya."

"Semuanya dibawa? Sudah kuduga, dia nggak akan rela melepas barang-barang itu. Pasti itu hanya alasannya untuk menemuiku nanti."

Farel terkekeh pelan, nada suaranya penuh penghinaan terhadap Ziana.

Bibi Winda menjawab dengan ragu, "Tuan Muda, Nona Ziana nggak membawa semuanya. Kotak berisi hadiah-hadiah kecil dari Anda ... dia bilang terserah saya mau membuangnya atau nggak."

Di seberang sana, Farel, yang sedang berdiri di lobi gedung, seketika berhenti tertawa.

Dia mendengus dingin dan langsung menutup telepon.

"Ziana, kamu bahkan mulai bermain trik tarik ulur."

Apa wanita itu pikir cara seperti ini bisa memulihkan 'ingatannya'?

Tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.

Sambil berpikir demikian, sepasang tangan lembut mendarat di bahu Farel.

"Tuan Farel, apa itu Ziana? Dia masih mencoba mengganggumu? Sebagai sesama wanita, kenapa dia nggak tahu malu begitu?"

Suara wanita itu lembut, sedikit manja.

Farel tersenyum dan merangkul pinggang ramping wanita itu.

"Tentu saja dia nggak bisa dibandingkan denganmu. Ayo naik, yang lain sudah sampai."

"Aku ke kamar mandi sebentar, kamu naik duluan saja."

Wanita itu tersenyum mengantar Farel masuk ke lift. Begitu pintu tertutup, tatapan matanya berubah menjadi kejam. "Ziana, ya?"

....

Ziana membeli ponsel baru dalam perjalanan pulang.

Begitu masuk ke akun WhatsApp, muncul pesan baru.

Orang itu dengan 'baik hati' memperlihatkan beberapa foto.

Terlihat jelas bahwa setiap foto itu dipilih dengan cermat untuk diperlihatkan pada Ziana.

Melihat pria yang dulu dia cintai mulai dari merasa tertarik, menggoda, jatuh hati, hingga memberikan kasih sayang tanpa batas pada wanita lain.

Hanya sebuah pohon natal berhiaskan Hermès saja, sudah merupakan perlakuan yang tidak pernah didapatkan Ziana selama empat tahun.

Secara tidak sadar, dia teringat kotak hadiah kecil yang dia tinggalkan di vila tadi.

Farel selalu bilang bahwa yang terpenting adalah hati.

Sekarang dia mengerti. Di mana uang seorang pria berada, di situlah hatinya berada.

Hati Ziana yang susah payah ditenangkan kembali bergejolak.

Dia bertanya-tanya, saat Farel berselingkuh, apa yang sedang dirinya lakukan?

Oh.

Dia sedang berpikir, bagaimana cara membujuk Farel yang tiba-tiba marah dan mengabaikannya tanpa alasan.

Ziana tertawa mengejek dirinya sendiri. Pengabdiannya sungguh tidak sepadan.

Saat hendak keluar dari aplikasi, dia tertarik oleh sebuah pesan di kolom notifikasi.

[Apa kamu nggak mau tahu, kenapa dia nggak mencintaimu?]

Ziana ingin tahu.

Tidak ada orang yang dicampakkan begitu saja tanpa ingin tahu alasannya.

Jika tidak cinta, katakan saja tidak cinta, kenapa harus serumit ini?

Ziana akhirnya menekan tombol untuk membacanya.

Wanita itu mengirim pesan lagi.

[Datang saja ke Heaven Taste.]

....

Heaven Taste.

Terletak di taman gantung sebuah gedung pencakar langit, tempat ini merupakan salah satu lokasi hiburan favorit para pemuda dari keluarga terpandang.

Dari sini, mereka bisa memandang rendah segalanya dari ketinggian.

Begitu masuk, Ziana langsung melihat Farel yang sedang minum sambil bersandar pada pagar kaca di kejauhan.

Angin malam meniup rambutnya, pria itu tampak segagah dan setampan biasanya.

Sebelum Ziana mendekat, dia sudah mendengar suara teman-teman pria itu.

"Tuan Farel, kamu kejam sekali. Kamu sengaja memicu kecelakaan itu? Kamu sudah siap-siap duluan, tapi Ziana nggak tahu apa-apa. Kamu nggak takut dia celaka?"

"Dia nggak akan celaka. Paling parah hanya luka ringan di kulit. Biar dia kapok dan berhenti merengek soal memublikasikan hubungan. Menyebalkan sekali!"

Farel menyesap minumannya, ekspresinya tampak sangat acuh tak acuh.

"Lalu, apa Ziana sudah terima kenyataan kalau kamu amnesia?"

"Haha."

Farel menggoyang-goyangkan cairan di dalam gelasnya sambil mencibir.

Teman-temannya langsung paham maksudnya.

"Siapa yang nggak kenal Ziana? Hatinya sudah tertanam di tubuh Tuan Farel. Diusir pun, wanita itu nggak akan pergi."

"Mungkin sekarang dia sedang memutar otak untuk memulihkan ingatan cintamu padanya."

"Tuan Farel memang hebat, bisa membuat wanita begitu setia mati-matian."

Farel menenggak minumannya hingga tandas, lalu menyeringai tipis.

"Ziana itu penurut, cocok untuk mengurus orang. Tapi dengan statusnya yang sekarang, dia hanya layak jadi simpanan. Setelah aku menikah dengan Silvia, baru aku akan bilang kalau aku sudah 'pulih'. Dia pasti akan sangat terharu sampai ingin mati."

"Jangan sampai Silvia tahu soal ini. Dia gadis yang polos dan suka merajuk, aku susah payah membujuknya."

Ada rasa kendali yang arogan terpancar dari raut wajah Farel.

Teman-temannya mengangkat gelas dan mengiyakan.

Mendengar itu, sorot mata Ziana bergetar, tetapi perlahan kembali tenang.

Saat datang tadi, dia sudah menduga hal ini.

Setelah Keluarga Syardan bangkrut, status Ziana merosot tajam dan tidak lagi sebanding dengan Farel.

Namun, dia tetap meremehkan betapa rendahnya moral pria itu.

Tuan Muda Kedua Keluarga Anggara yang terkenal, ternyata tidak mau memilih. Dia ingin kedua wanita itu sekaligus.

Mendengar langsung dari mulut Farel, sendiri benar-benar menjadi titik akhir bagi hubungan ini.

Amnesia benaran atau tidak, itu tidak lagi berpengaruh bagi Ziana.

"Tuan Farel."

Diiringi suara lembut, sosok cantik muncul di samping Farel.

Itulah gadis 'polos' yang Farel bicarakan, wanita yang ada di foto vila tadi.

Nona Silvia, Silvia Leska.

Melihat kehadiran wanita itu, teman-teman Farel mulai bersorak.

"Nona Silvia, kami sudah menunggumu. Tuan Farel sudah menyiapkan kejutan untuk membuatmu senang."

"Kejutan apa?"

Wajah Silvia penuh harap saat Farel membimbingnya ke tengah taman gantung.

Tepat saat Farel menatapnya, kembang api yang megah meledak di langit.

Farel menunduk dan mencium Silvia.

Silvia sempat malu-malu sebelum akhirnya memejamkan mata.

Sepasang kekasih rupawan di bawah kembang api itu, tampak sangat indah hingga sulit untuk memalingkan muka.

Setelah ciuman berakhir, Farel menatapnya dengan dalam sambil membelai pipi Silvia.

"Aku akan membuat seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah kekasihku."

Silvia mengangguk bahagia. Teman-temannya bersiul dan bertepuk tangan.

"Cium lagi!"

"Cium lagi!"

Terakhir kali kalimat itu diteriakkan, mereka mengucapkannya untuk Ziana dan Farel.

Rasa sesak karena dipermainkan dan dibuang, membuat Ziana menarik sudut bibirnya dengan sinis.

Tepat saat dia berbalik untuk pergi, kelopak matanya berdenyut tiba-tiba.

Detik berikutnya, Silvia berseru, "Ziana!"

Tatapan semua orang seketika mengunci langkah Ziana.

Belum sempat dia bicara, air mata Silvia sudah jatuh mengalir.

"Ziana, aku tahu kamu nggak rela. Tapi Tuan Farel sudah amnesia, dokter bilang dia butuh ketenangan. Tolong jangan paksa dia lagi, oke? Anggap saja ini semua salahku, aku yang nggak seharusnya mencintai Tuan Farel."

Saat berbicara, tersirat sekilas penghinaan di matanya.

Silvia meremehkan Ziana yang mengetahui kebenaran, bahkan tak menganggapnya layak menjadi saingannya.

Sadar dirinya sedang dijebak, Ziana segera mengangkat ponselnya untuk membela diri dan berkata, "Kamu yang menyuruhku ...."

Tak!

Ponsel barunya lagi-lagi dihancurkan oleh Farel.

"Ziana! Berani sekali kamu membuntutiku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 50

    Ziana melihat Vihan bercakap-cakap dengan tenang, jelas tidak memedulikan situasi di sini. Dia menarik napas lega. Namun kemudian berpikir, kenapa dia harus lega? Kenapa dia bertingkah seperti orang yang tertangkap basah selingkuh?Saat sedang melamun, punggung tangan Ziana yang berada di atas meja terasa hangat. Dia mendongak dan menyadari Farel telah mencengkeram tangannya tanpa memedulikan orang lain. "Apa yang kamu lihat? Vihan?" "Kamu benar-benar pikir, dia akan memedulikan video pengakuan cinta yang nggak jelas itu?""Matanya hanya berisi keuntungan. Dia hanya mesin pencari uang yang dilatih Keluarga Anggara."Ziana merasa geli tanpa alasan. Bagaimanapun juga, Vihan jauh lebih baik daripada pria brengsek hasil didikan Keluarga Anggara ini. Seingatnya, Paman Firman, ayah Farel, adalah pria yang sangat lembut dan berwibawa! Dia menyindir, "Soal video pengakuan itu, apa Tuan Farel benar-benar nggak tahu apa-apa?" "Ziana, berhenti membuat keributan. Video itu sudah berlalu.

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 49

    Melihat hal itu, Farel tersenyum tipis dan menunggu dengan tenang. Tak lama kemudian, di piring Ziana sudah menumpuk tujuh atau delapan ekor udang. Farel menggerakkan sendoknya untuk mengambil, tetapi tepat saat akan menyentuh udang itu, Ziana menghindar.Suara Ziana terdengar tenang saat berkata, "Kalau Tuan Farel mau makan, Anda bisa memanggil pelayan. Tadi saya lupa mencuci tangan." Setelah berkata demikian, dia memindahkan udang yang sempat tersentuh sumpit Farel ke samping, lalu melahap sisanya dengan nikmat. Ternyata mengupas untuk diri sendiri rasanya lebih enak.Melihat udang yang dibuang ke samping seperti sampah, Farel seketika tersulut emosi. Dia mengentakkan sendoknya dengan keras ke meja. "Ziana, apa maksudmu?" Ziana bahkan tidak mendongak. "Nggak higienis. Apa Tuan Farel mau memakan sesuatu yang sudah terkena air liur orang lain?" Farel terbungkam.Dia tidak bisa membantah kalimat itu karena sedang pura-pura hilang ingatan. Namun, memikirkan Ziana yang terus-mene

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 48

    Kehadiran Farel membuat Ziana sedikit terkejut. Meskipun dia merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka, tetapi pria itu tetap atasannya saat ini. Baik secara profesional maupun pribadi, dia harus menghormati Farel. Ziana mengangguk tipis pada Tio dan berjalan menuju Farel.Tindakan ini membuat Tio terpana. Dia tadinya khawatir Ziana akan bicara macam-macam dan sedang berpikir bagaimana cara memperingatinya. Tak disangka, wanita itu justru menunjukkan sikap tidak peduli. Sikap yang membuat Tio sama sekali tidak bisa menghubungkannya, dengan sosok Ziana yang dulu selalu memuja Farel dalam segala hal.Ziana sampai di sisi meja. Sosoknya tampak ramping tapi tegak, ekspresinya datar tapi tetap dihiasi senyum standar profesional. "Tuan Farel, ada urusan apa mencari saya?" Suaranya lembut dan patuh, tetapi tanpa emosi sedikit pun.Gerakan tangan Farel yang membalik menu terhenti sejenak, tetapi dia tidak terlalu ambil pusing. "Duduklah. Soal kejadian kemarin, aku

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 47

    Ziana mengabaikan tatapan peringatan dari Silvia dan melanjutkan, "Kalau begitu wanita itu malang sekali. Pria bekas, gelang bekas.""Malang apanya? Pria brengsek seperti itu sengaja mengeluarkan modal besar hanya untuk memancing wanita yang haus kemewahan dan tamak. Setelah dipakai, lalu dibuang. Wanita yang mau memakan umpan seperti itu, mana mungkin orang baik-baik?" kata Hilda mencibir.Dia bermaksud menyindir Ziana, tanpa menyadari bahwa dia juga sedang memaki Silvia. Wajah Silvia berubah dari gelap menjadi semakin kelam, hingga dia tidak bisa menahan diri lagi."Cukup!" Hilda dan yang lainnya tersentak, menatap Silvia dengan bingung. Silvia segera memulihkan ekspresi lembutnya. "Waktunya sudah hampir tiba, Bu Aryani akan segera datang. Mari kita kembali bekerja." "Baik," sahut Hilda dengan enggan sebelum bubar.Ziana berbalik masuk ke ruang pantry, berniat membuat kopi karena sebentar lagi dia harus menjamu klien lain untuk meninjau lokasi pertemuan. Baru saja dia menyalakan

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 46

    Ziana terpaku di tempat. Tiba-tiba, seseorang mendorongnya dari belakang, hingga dia terhuyung masuk ke dalam kantor dan menarik perhatian semua orang. Di belakangnya, Hilda, ikut masuk. Dia memegang Ziana dengan tatapan yang seolah meminta maaf, tetapi sebenarnya penuh niat tersembunyi."Bu Ziana, maaf ya. Aku tadi asyik melihat pesan klien sampai nggak memperhatikan jalan. Tapi, kenapa kamu berdiri di luar dan nggak masuk?"Kemarin, berkat mulut Hilda, berita tentang Ziana yang dicampakkan sudah menyebar luas ke seluruh resor. Bahkan ditambah bumbu cerita yang dramatis. Sekarang, saat dia terlihat sedang menguping kebahagiaan orang lain, Ziana makin terlihat seperti wanita yang penuh dendam.Karena kemampuannya yang menonjol, Ziana adalah staf yang paling cepat diangkat menjadi karyawan tetap dan naik jabatan di angkatannya. Hal ini membuat banyak rekan kerja merasa iri padanya, meski di luar mereka bersikap sopan. Kini, setelah tahu dia adalah putri seorang pembunuh dan dicamp

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 45

    Saat pria itu mendekat, aroma segar setelah mandi tercium dari tubuhnya, persis seperti semalam.Memikirkan hal itu, Ziana mendadak tersadar dan segera menatap lurus ke depan untuk menjelaskan jadwal hari ini."Setelah sarapan pagi, pemandu pribadi akan membawa para tamu ke kebun teh sekitar untuk melihat pemandangan dan mencicipi teh. Siang hari, perjamuan vegetarian telah diatur di restoran. Setelah istirahat siang, ruang rapat akan disiapkan ...."Krucuk! Di tengah penjelasannya, perutnya berbunyi. Ziana refleks menutupi perutnya dengan wajah yang memerah hingga ke telinga. Gerakan Vihan yang hendak mengangkat gelas terhenti sejenak. Cincin dengan lambang keluarga di jarinya memantulkan cahaya matahari, berkilau di matanya.Dia mendongak. "Duduk dan makan bersama." "Terima kasih." Di depan tatapan Vihan, Ziana tidak berani menolak dan langsung duduk.Dia merasa sungkan untuk makan terlalu banyak. Setelah mengisi perut sedikit, Ziana mengeluarkan selembar kertas kosong dari sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status