Share

Bab 4

Author: Maya Pertiwi
Ziana kembali ke apartemennya. Bahkan sebelum sempat minum air, dia langsung menelepon balik para klien yang meninggalkan pesan.

Setelah berganti-ganti menggunakan empat bahasa, dia pun ambruk kelelahan di sofa.

Saat ini, dia bekerja sebagai Manajer Penjualan di Walker Hill, sebuah hotel resor ternama di Kota Borana.

Setiap hari, dia harus berurusan dengan banyak klien dari dalam maupun luar negeri. Selain tamu perorangan, ada juga banyak kegiatan bisnis.

Dia memijat pangkal hidungnya. Saat hendak meletakkan ponsel, dia melihat pesan dari Aryani Hutama, Direktur Penjualan.

[Kamu benar-benar ingin melepaskan kesempatan naik jabatan, demi menjadi ibu rumah tangga untuk kekasih rahasiamu yang namanya saja nggak boleh disebut itu?]

[Ziana, jangan lupa, apa alasanmu memutuskan untuk mengikutiku dulu!]

[Aku benar-benar kecewa padamu!]

Sang Direktur bukan hanya atasannya, tapi juga gurunya.

Beliaulah yang membantu Ziana, si putri bangsawan yang jatuh miskin, untuk bisa berdiri tegak di Walker Hill yang penuh persaingan.

Kemarin, beliau bahkan memperjuangkan kesempatan promosi lima tahunan untuknya.

Namun, Ziana menolaknya.

Sebab, Farel berharap setelah hubungan mereka dipublikasikan, Ziana bisa fokus pada dirinya dan Keluarga Anggara.

Tatapan kaget dan kecewa Bu Aryani masih teringat jelas oleh Ziana.

Tersadar dari lamunannya, Ziana mengklik formulir aplikasi, mengisinya, lalu mengirimkannya kepada Bu Aryani.

[Untuk membatalkan penolakan, nggak perlu mengisi formulir,] balas Bu Aryani.

[Siapa bilang aku mau membatalkannya?]

Beberapa menit kemudian, Bu Aryani mengirim pesan suara.

"Kamu yakin?"

"Yakin dan pasti. Terima kasih, Bu Aryani. Aku nggak akan mengecewakanmu lagi."

"Ya."

Meski hanya satu kata, tetapi nada suara Bu Aryani terdengar jauh lebih baik.

Pada saat ini, Ziana merasa jauh lebih ringan.

Pacarnya boleh hilang, setidaknya dia masih punya karier.

Setelah meletakkan ponsel, dia bangkit mencari sebuah kotak dan mengemasi semua barang-barang milik Farel yang tertinggal di sana.

Setelah selesai, Ziana baru menyadari bahwa selain barang-barang yang dia siapkan untuk pria itu, barang yang ditinggalkan Farel atas kemauannya sendiri sangat sedikit dan tidak berarti.

Saat itulah dia teringat, Farel tidak suka datang ke apartemennya.

Pria itu bilang tidak tega melihat Ziana tinggal di rumah kecil, dan tidak ingin menghina harga dirinya.

Padahal, sebenarnya pria itu hanya merasa apartemennya terlalu sempit.

Konyolnya, dulu Ziana merasa sangat terharu.

Dia tertawa mengejek diri sendiri, menutup kotak itu, dan memutuskan untuk membuangnya besok.

Ponselnya berdering.

Ziana melirik orang yang meneleponnya, itu adalah Tamara Girga, sahabat sekaligus rekan kerjanya.

"Ziana, aku menunggu seharian berita pengumuman hubunganmu dengan Tuan Farel. Kenapa malah jadi pengumuman dia dengan Silvia?"

Tamara adalah satu-satunya teman yang dipercayai Ziana.

Dia juga satu-satunya orang di hotel yang tahu tentang hubungan asmaranya dengan Farel.

"Sudah putus," kata Ziana tenang.

"Hah? Ini jenis pertengkaran baru lagi? Kalau begitu, besok aku akan membelikan sayuran segar dari pertanian dekat sini. Bukannya kamu bilang Tuan Farel paling suka bubur sayur buatanmu?"

Nada bicara Tamara terdengar biasa saja. Bahkan dia malas bertanya kenapa Farel marah kali ini.

Hal seperti itu sudah biasa.

Paling besok setelah makan satu piring, mereka akan berbaikan lagi setelah saling membujuk.

"Tamara, kali ini sungguhan. Aku mengalami kecelakaan, itu membuat otak bucinku hancur. Dia ...." Ziana menceritakan kejadian itu dengan nada setengah bercanda.

"Amnesia palsu? Dia keterlaluan sekali! Dia menganggapmu apa?"

Di seberang telepon, napas Tamara memburu karena kaget.

Lalu suaranya berubah menjadi cemas.

"Ziana, apa lukamu parah? Perlu aku temani nggak?"

Mendengar hal itu, hati Ziana terasa hangat.

Beruntung masih ada Tamara yang selalu peduli padanya.

"Nggak perlu, besok aku akan kontrol sekali lagi dan bisa mulai bekerja dengan normal."

"Kalau begitu, istirahatlah lebih awal. Oh ya, kamu nggak akan sebodoh itu untuk membantu Tuan Farel mengembalikan 'ingatannya', ‘kan?"

Tamara masih sedikit tidak percaya.

Bibir Ziana berkedut. "Nggak akan."

....

Vila.

Farel terbangun dan mendapati Silvia sudah tidak ada di tempat tidur.

Dia mengenakan jubah mandi seadanya dan turun ke lantai bawah. Bibi Winda segera mendekat.

"Tuan Farel, Nona Silvia sudah bangun sejak pagi buta demi membuatkan sarapan untuk Anda."

"Ya."

Farel tersenyum sambil menatap ke arah dapur.

Silvia memang cocok untuknya.

Cantik saat di pesta, terampil di dapur, dan berani dalam permainan di ranjang.

Yang paling penting, statusnya sepadan dengannya.

Tidak seperti ... Ziana.

Memikirkan wanita itu, Farel mengerutkan kening.

Hebat juga Ziana, semalaman tidak mengganggunya sama sekali.

Saat berpikir demikian, Silvia keluar membawa piring.

"Tuan Farel, kamu sudah bangun. Ayo duduk dan sarapan."

"Oke."

Farel duduk menunggu hidangan disajikan oleh Silvia.

Namun, yang datang adalah roti panggang dan ham goreng, ditemani segelas kopi es.

Dia sedikit mengernyit.

Silvia meletakkan gelas kopi. "Ada apa?"

Farel tidak meminum kopinya, melainkan menuangkan segelas air hangat sendiri.

"Sepertinya aku sudah pernah bilang, aku nggak suka sarapan ala Barat."

Silvia merangkul leher Farel dan merajuk, "Aku nggak bisa memasak menu sarapan tradisional."

Farel berkata tanpa ekspresi, "Kalau nggak bisa, kamu bisa belajar. Ziana ...."

Bukankah Ziana juga dulu seorang putri bangsawan, yang tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur, tetapi akhirnya belajar memasak berbagai hidangan.

Asal dia ingin makan sesuatu, malam itu juga Ziana akan mencari resepnya.

Besoknya, hidangan itu sudah tersedia di depannya.

Namun, kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya.

Dia hanya memberi alasan asal-asalan.

"Urusan makananku biasanya hanya kuserahkan pada orang terdekat."

"Oke, aku akan belajar pelan-pelan. Hari ini tolong maklumi saja, ya."

Silvia berpura-pura tidak mendengar nama Ziana, wajahnya tetap menunjukkan senyum lembut.

Namun sebenarnya, matanya penuh dengan hawa dingin.

Farel tidak menyahut, dia hanya memberi isyarat kepada Bibi Winda.

"Buatkan aku bubur sayur."

"Itu ... Tuan Farel, bubur sayur seperti yang Anda mau, saya nggak bisa membuatnya. Hanya Nona Ziana yang bisa," jawab Bibi Winda dengan gugup sambil menggeleng.

Meski terlihat seperti bubur sederhana, cara memasaknya sangat sulit.

Sayur apa yang harus dimasak lebih dulu, setelah berapa menit sayur apa yang ditambahkan, tidak boleh selisih satu menit pun. Jika tidak, sayuran akan kehilangan nilai gizinya dan warnanya tidak akan cantik.

Untuk semangkuk bubur saja, siapa yang mau repot-repot belajar?

Kecuali Ziana.

"Apa dia nggak meninggalkan resep saat mengemasi barangnya?" tanya Farel tidak senang.

Ziana sangat paham seleranya.

Dulu jika sedang marah pada Farel, sebelum pergi, Ziana pasti akan menyiapkan semua makanan yang dia butuhkan.

Bahkan bahan-bahannya dibeli sendiri dari pertanian di pinggiran kota.

Begitu makanan itu habis, Ziana akan kembali dengan patuh untuk meminta maaf dan membujuknya.

Selalu begitu.

Bibi Winda berdiri mematung sambil mengatupkan bibir. "Nggak ada."

Farel meletakkan gelas air minumnya dengan keras.

Bagus sekali.

Trik Ziana benar-benar semakin mahir saja.

Dia tertawa dingin, memberi isyarat pada Silvia untuk makan duluan. Lalu bangkit menuju ruang tamu dan mengeluarkan ponsel.

Farel ingin tahu, cara apa lagi yang akan digunakan Ziana untuk menempel padanya.

[Bibi Winda bilang kamu dulu pernah membuatkan bubur sayur untukku, apa resepnya?]

Nggak dibaca.

Ziana benar-benar memblokirnya!

Farel mencibir dan melemparkan ponselnya ke sofa.

Akting Ziana cukup meyakinkan.

Semoga saja wanita itu bisa terus berakting.

Jangan sampai nanti kembali lagi dengan wajah tanpa malu untuk mengemis padanya.

Melihat hal itu, Silvia mengepalkan tangannya kuat-kuat agar raut wajahnya tidak terlihat menyeramkan.

Begitu kembali ke kamar, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon pengawalnya.

"Bantu aku lakukan sesuatu."

"Baik, Nona."

....

Ziana terbangun dan refleks melihat jam di samping tempat tidur.

Pukul delapan!

Dia tersentak duduk karena kaget.

Saat hendak turun dari ranjang, barulah dia tersadar bahwa dia sudah putus dengan Farel.

Dia tidak perlu lagi terburu-buru pergi ke sana untuk membuatkan sarapan.

Kebiasaan memang mengerikan.

Ziana merebahkan diri kembali di ranjang, meregangkan tubuh, dan menarik selimutnya lagi.

Namun, butuh dua puluh delapan hari untuk membentuk kebiasaan baru.

Mumpung akhir pekan, dia ingin tidur bermalas-malasan.

Sore harinya, dia pergi ke rumah sakit untuk kontrol.

Namun, langit sedang tidak bersahabat. Hujan pada musim ini turun rintik-rintik disertai angin dingin yang menusuk kulit.

Ziana menaikkan bahunya, menurunkan payungnya, dan berjalan ke arah rumah sakit.

Baru berjalan beberapa langkah, sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya dari belakang. Dengan menggunakan payung sebagai penutup, orang itu menyeretnya masuk ke dalam gang gelap yang sedang dalam masa renovasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 50

    Ziana melihat Vihan bercakap-cakap dengan tenang, jelas tidak memedulikan situasi di sini. Dia menarik napas lega. Namun kemudian berpikir, kenapa dia harus lega? Kenapa dia bertingkah seperti orang yang tertangkap basah selingkuh?Saat sedang melamun, punggung tangan Ziana yang berada di atas meja terasa hangat. Dia mendongak dan menyadari Farel telah mencengkeram tangannya tanpa memedulikan orang lain. "Apa yang kamu lihat? Vihan?" "Kamu benar-benar pikir, dia akan memedulikan video pengakuan cinta yang nggak jelas itu?""Matanya hanya berisi keuntungan. Dia hanya mesin pencari uang yang dilatih Keluarga Anggara."Ziana merasa geli tanpa alasan. Bagaimanapun juga, Vihan jauh lebih baik daripada pria brengsek hasil didikan Keluarga Anggara ini. Seingatnya, Paman Firman, ayah Farel, adalah pria yang sangat lembut dan berwibawa! Dia menyindir, "Soal video pengakuan itu, apa Tuan Farel benar-benar nggak tahu apa-apa?" "Ziana, berhenti membuat keributan. Video itu sudah berlalu.

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 49

    Melihat hal itu, Farel tersenyum tipis dan menunggu dengan tenang. Tak lama kemudian, di piring Ziana sudah menumpuk tujuh atau delapan ekor udang. Farel menggerakkan sendoknya untuk mengambil, tetapi tepat saat akan menyentuh udang itu, Ziana menghindar.Suara Ziana terdengar tenang saat berkata, "Kalau Tuan Farel mau makan, Anda bisa memanggil pelayan. Tadi saya lupa mencuci tangan." Setelah berkata demikian, dia memindahkan udang yang sempat tersentuh sumpit Farel ke samping, lalu melahap sisanya dengan nikmat. Ternyata mengupas untuk diri sendiri rasanya lebih enak.Melihat udang yang dibuang ke samping seperti sampah, Farel seketika tersulut emosi. Dia mengentakkan sendoknya dengan keras ke meja. "Ziana, apa maksudmu?" Ziana bahkan tidak mendongak. "Nggak higienis. Apa Tuan Farel mau memakan sesuatu yang sudah terkena air liur orang lain?" Farel terbungkam.Dia tidak bisa membantah kalimat itu karena sedang pura-pura hilang ingatan. Namun, memikirkan Ziana yang terus-mene

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 48

    Kehadiran Farel membuat Ziana sedikit terkejut. Meskipun dia merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka, tetapi pria itu tetap atasannya saat ini. Baik secara profesional maupun pribadi, dia harus menghormati Farel. Ziana mengangguk tipis pada Tio dan berjalan menuju Farel.Tindakan ini membuat Tio terpana. Dia tadinya khawatir Ziana akan bicara macam-macam dan sedang berpikir bagaimana cara memperingatinya. Tak disangka, wanita itu justru menunjukkan sikap tidak peduli. Sikap yang membuat Tio sama sekali tidak bisa menghubungkannya, dengan sosok Ziana yang dulu selalu memuja Farel dalam segala hal.Ziana sampai di sisi meja. Sosoknya tampak ramping tapi tegak, ekspresinya datar tapi tetap dihiasi senyum standar profesional. "Tuan Farel, ada urusan apa mencari saya?" Suaranya lembut dan patuh, tetapi tanpa emosi sedikit pun.Gerakan tangan Farel yang membalik menu terhenti sejenak, tetapi dia tidak terlalu ambil pusing. "Duduklah. Soal kejadian kemarin, aku

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 47

    Ziana mengabaikan tatapan peringatan dari Silvia dan melanjutkan, "Kalau begitu wanita itu malang sekali. Pria bekas, gelang bekas.""Malang apanya? Pria brengsek seperti itu sengaja mengeluarkan modal besar hanya untuk memancing wanita yang haus kemewahan dan tamak. Setelah dipakai, lalu dibuang. Wanita yang mau memakan umpan seperti itu, mana mungkin orang baik-baik?" kata Hilda mencibir.Dia bermaksud menyindir Ziana, tanpa menyadari bahwa dia juga sedang memaki Silvia. Wajah Silvia berubah dari gelap menjadi semakin kelam, hingga dia tidak bisa menahan diri lagi."Cukup!" Hilda dan yang lainnya tersentak, menatap Silvia dengan bingung. Silvia segera memulihkan ekspresi lembutnya. "Waktunya sudah hampir tiba, Bu Aryani akan segera datang. Mari kita kembali bekerja." "Baik," sahut Hilda dengan enggan sebelum bubar.Ziana berbalik masuk ke ruang pantry, berniat membuat kopi karena sebentar lagi dia harus menjamu klien lain untuk meninjau lokasi pertemuan. Baru saja dia menyalakan

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 46

    Ziana terpaku di tempat. Tiba-tiba, seseorang mendorongnya dari belakang, hingga dia terhuyung masuk ke dalam kantor dan menarik perhatian semua orang. Di belakangnya, Hilda, ikut masuk. Dia memegang Ziana dengan tatapan yang seolah meminta maaf, tetapi sebenarnya penuh niat tersembunyi."Bu Ziana, maaf ya. Aku tadi asyik melihat pesan klien sampai nggak memperhatikan jalan. Tapi, kenapa kamu berdiri di luar dan nggak masuk?"Kemarin, berkat mulut Hilda, berita tentang Ziana yang dicampakkan sudah menyebar luas ke seluruh resor. Bahkan ditambah bumbu cerita yang dramatis. Sekarang, saat dia terlihat sedang menguping kebahagiaan orang lain, Ziana makin terlihat seperti wanita yang penuh dendam.Karena kemampuannya yang menonjol, Ziana adalah staf yang paling cepat diangkat menjadi karyawan tetap dan naik jabatan di angkatannya. Hal ini membuat banyak rekan kerja merasa iri padanya, meski di luar mereka bersikap sopan. Kini, setelah tahu dia adalah putri seorang pembunuh dan dicamp

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 45

    Saat pria itu mendekat, aroma segar setelah mandi tercium dari tubuhnya, persis seperti semalam.Memikirkan hal itu, Ziana mendadak tersadar dan segera menatap lurus ke depan untuk menjelaskan jadwal hari ini."Setelah sarapan pagi, pemandu pribadi akan membawa para tamu ke kebun teh sekitar untuk melihat pemandangan dan mencicipi teh. Siang hari, perjamuan vegetarian telah diatur di restoran. Setelah istirahat siang, ruang rapat akan disiapkan ...."Krucuk! Di tengah penjelasannya, perutnya berbunyi. Ziana refleks menutupi perutnya dengan wajah yang memerah hingga ke telinga. Gerakan Vihan yang hendak mengangkat gelas terhenti sejenak. Cincin dengan lambang keluarga di jarinya memantulkan cahaya matahari, berkilau di matanya.Dia mendongak. "Duduk dan makan bersama." "Terima kasih." Di depan tatapan Vihan, Ziana tidak berani menolak dan langsung duduk.Dia merasa sungkan untuk makan terlalu banyak. Setelah mengisi perut sedikit, Ziana mengeluarkan selembar kertas kosong dari sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status