Share

Bab 5

Author: Maya Pertiwi
Belum sempat bereaksi, Ziana sudah dihempaskan dengan keras ke tanah yang dingin dan lembap.

Seketika, seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air hujan.

Dia memegangi dadanya yang terasa nyeri, lalu menggertakkan gigi untuk menopang tubuhnya.

Begitu mendongak, dia melihat dua pria asing berdiri beberapa langkah darinya.

Mereka mengenakan kemeja bermotif murah, dengan aura preman yang kental.

Bahkan dari jarak beberapa meter pun, aroma busuk rokok dari tubuh mereka tercium sangat menyengat.

Ziana menahan rasa sakit dan mencoba menggeser tubuhnya.

"Kalian mau apa?"

Salah satu pria tersenyum, lalu menjilat giginya yang kuning karena asap rokok.

"Kami mau apa? Menurutmu apa?"

Pria itu menekankan kata terakhir sambil menatap tubuh Ziana yang basah kuyup, dengan pandangan penuh nafsu.

Ziana seketika memahami niat jahat mereka.

Dia tidak banyak bicara lagi, melainkan mengedarkan pandangan mencari cara untuk meloloskan diri.

Karena area ini sedang dalam masa renovasi, di sekelilingnya hanya ada pagar proyek dan bongkahan batu besar yang berserakan.

Akhirnya, setelah bersusah payah mencari, Ziana menemukan sebuah pot bunga yang retak.

Memanfaatkan kelengahan kedua pria itu, dia memeluk pot tersebut, melemparkannya ke arah mereka, dan langsung berlari menuju mulut gang.

Dia hampir saja berhasil keluar, tetapi dalam hitungan detik, kedua pria itu sudah menyusul.

Mereka mencengkeramnya dengan kuat, bau busuk dari tubuh mereka hampir membuatnya muntah.

Ziana menggertakkan gigi, mencakar dinding, dan berontak sekuat tenaga.

Tepat saat itu, dia melihat Farel turun dari mobil di seberang jalan.

Meskipun pria itu tidak mencintainya lagi, mereka masih memiliki ikatan sebagai teman masa kecil.

Pria itu tidak mungkin membiarkannya dilecehkan orang lain.

"Tuan Farel! Tuan ... mmph!"

Pria yang lain membekap mulutnya. Mereka berdua bekerja sama menyeretnya kembali ke dalam gang gelap.

Ujung jari Ziana meninggalkan bekas goresan panjang di dinding.

Namun, Farel, yang berada tak jauh dari sana, hanya melirik sekilas ke arah gang. Lalu berbalik membantu Silvia turun dari mobil dan pergi begitu saja.

Ziana menatap bayangan yang menjauh itu dengan putus asa. Wajahnya pucat pasi.

Ternyata ketika cinta sudah hilang, seseorang bisa menjadi begitu tega.

Ziana jatuh tersungkur lagi, ponsel di tasnya terjatuh.

Dia bergegas meraih ponselnya untuk menelepon polisi. Namun, karena kondisinya yang kacau dan berlumuran lumpur, sensor ponsel itu tidak bisa mengenalinya.

Kedua pria itu menatapnya dengan santai, bahkan tertawa terbahak-bahak.

"Percuma saja. Kalaupun polisi datang, ini akan terlihat seperti suka sama suka. Mereka nggak akan peduli."

Sambil berkata demikian, salah satu pria mengeluarkan sebotol minuman keras murah berkadar alkohol tinggi.

Pria lainnya mengeluarkan ponsel dan mengarahkan kamera ke arah Ziana.

Pupil mata Ziana mengecil, rasa takut yang luar biasa merayapi hatinya.

Mereka berniat mencekokinya hingga mabuk, lalu berpura-pura bahwa ini adalah hubungan intim karena pengaruh alkohol.

Kemudian mereka akan merekam videonya untuk menghancurkan reputasinya selamanya.

Rencana serinci ini tidak mungkin terpikirkan oleh dua preman rendahan seperti mereka.

Sebelum Ziana sempat berpikir lebih jauh, salah satu pria sudah melepas ikat pinggangnya dan menerjang ke arahnya.

Ziana mengerahkan seluruh tenaganya untuk menendang pria itu.

Pria itu mengumpat kesakitan, "Sialan!"

Dia memegang pergelangan kaki Ziana dan menyeretnya ke depan.

Sambil mencengkeram dagu Ziana, pria itu menuangkan seluruh isi botol minuman keras itu ke mulut Ziana.

"Uh ... le-lepaskan ...."

Pria itu bernapas terengah-engah, matanya menatap liar tubuh Ziana yang tercetak jelas di balik pakaian yang basah. Dia sudah tidak tahan lagi.

"Biar aku cicipi bagaimana rasanya wanita milik Tuan Farel!"

Tuan Farel?

Orang-orang seperti mereka tidak mungkin mengenal Farel.

Bagaimana mungkin mereka tahu hubungannya dengan pria itu?

Kecuali ... ada seseorang yang menyuap mereka untuk melecehkannya!

Di tengah kalutnya pikiran Ziana, pria itu bersiap untuk menciumnya.

Tenggorokan Ziana terasa panas terbakar, dia bahkan tidak bisa berteriak minta tolong.

Dia hanya bisa mengerahkan seluruh tenaga untuk menendang dan memukul.

Pria itu naik pitam, tangannya berbalik mencekik leher Ziana.

"Sudah diberi hati malah kurang ajar! Kamu itu hanya barang bekas yang dibuang oleh Tuan Farel!"

Mata pria itu berkilat kejam, dia memperkuat cengkeraman di leher sementara tangan lainnya merobek jaket Ziana.

Rasa sesak membuat telinga Ziana berdenging. Pikirannya dipenuhi bayangan betapa tidak berharganya pengabdiannya selama empat tahun ini.

Saat kesadarannya mulai memudar, bayangan terakhir yang muncul adalah momen pengumuman hubungan Farel dan Silvia.

Tidak!

Ziana tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar, matanya memerah karena tekanan.

Dalam kekacauan itu, dia meraba pecahan pot bunga di tanah.

Dia menggenggam pecahan itu erat-erat dengan satu tekad di kepalanya.

Biarpun harus mati bersama, dia tidak akan membiarkan orang-orang ini menang.

Saat dia hendak menusukkan pecahan itu ke pria di atasnya, tiba-tiba pupil mata pria itu membesar dan ambruk ke tanah seperti lumpur.

Pria lainnya, yang sedang merekam video, juga pingsan tanpa suara.

Ziana menggigit bibirnya yang pucat pasi, lalu berdiri dengan sempoyongan.

Saat mendongak, sebuah payung hitam menghiasi pandangannya.

Tirai hujan tampak seperti kain tipis, yang membuat orang di bawah payung itu terlihat samar dan tidak nyata.

Hanya sepasang mata hitam yang terasa sedikit familier.

Belum sempat melihat jelas, Ziana jatuh ke pelukan orang tersebut dan pingsan.

Dalam keadaan setengah sadar, dia merasa tubuhnya terangkat, dan suara berat yang tenang terdengar di telinganya.

"Bereskan mereka."

....

Rumah Sakit.

Silvia bersandar di kepala ranjang, menatap Farel dengan mata berkaca-kaca.

"Tuan Farel, ini semua salahku karena ceroboh hingga pergelangan kakiku terkilir. Aku sampai membuatmu meninggalkan pekerjaan untuk menemaniku ke rumah sakit."

"...."

Farel menatap ke luar jendela dan tidak menjawab.

Silvia memanggil sekali lagi dengan hati-hati, "Tuan Farel."

Farel menarik kembali pandangannya dan mengerutkan kening.

"Tadi ... apa tadi Ziana yang memanggilku?"

Mendengar nama Ziana, Silvia hampir tidak bisa menjaga raut wajahnya.

Matanya bergerak licik, lalu dia sengaja bertanya balik, "Apa mungkin dia sedang membuntutimu lagi?"

Farel hanya ragu sekejap, lalu tertawa sinis.

"Dia ingin memainkan trik itu lagi? Bukannya dia sudah berlagak tegar dengan memblokirku? Aku nggak akan memedulikannya lagi."

Silvia tersenyum tanpa kata. Kemudian dia meringis, sengaja memegangi kakinya.

"Sakit sekali."

Farel segera duduk di sampingnya.

"Sesakit itu? Biar kulihat."

Silvia menyahut sambil menyingkap roknya semakin tinggi, hampir memperlihatkan seluruh kakinya.

Dia menggerakkan kakinya dan merajuk, "Tuan Farel, benar-benar sakit, aku harus bagaimana ini?"

Farel tersenyum tipis, lalu berbalik menindihnya di ranjang rumah sakit.

"Dasar wanita penggoda."

Silvia merangkul lehernya.

"Kamu nggak suka?"

"Aku sangat suka."

Keduanya berciuman.

Seorang perawat yang masuk untuk memberikan obat melihat pemandangan itu, lalu tersenyum dan segera keluar.

....

Di Kamar Rawat Lain.

Saat Ziana terbangun, seorang perawat muda sedang berdiri di samping tempat tidurnya.

"Anda sudah bangun? Ada bagian yang masih terasa nggak nyaman?"

Ziana menggeleng. Dia menoleh ke sekeliling, tetapi tidak menemukan orang yang menyelamatkannya.

Dia menahan tangan perawat itu dan bertanya, "Di mana orang yang membawaku ke sini?"

"Tuan itu pergi setelah demam Anda turun."

"Apa dia meninggalkan nomor telepon atau nama?" tanya Ziana.

"Nggak ada."

"Oh ... baiklah."

Ziana merasa kecewa tanpa alasan yang jelas.

Entah mengapa, dia memiliki rasa akrab yang aneh terhadap orang tersebut.

Saat itu, perawat mengambil syal yang terlipat rapi di atas nakas.

"Saat Anda demam dan diinfus, Anda terus mengigau kedinginan dan memegang erat syal Tuan itu. Anda nggak mau melepaskannya sama sekali. Kami berdua mencoba menariknya, tapi tetap nggak bisa, jadi terpaksa dia meninggalkan syalnya di sini."

Ziana membayangkan adegan seperti tarik tambang itu, rasanya ingin pingsan lagi karena malu.

Dia menerima syal itu. Tekstur kasmir kelas atas benda itu begitu lembut, hingga dia tidak ingin melepaskannya.

Meskipun berwarna hitam, teknik tenunannya sangat rumit. Sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh orang biasa.

Saat mendekatkan syal itu, dia mencium aroma pria yang tertinggal.

Aroma tembakau tipis dengan nuansa dingin yang samar, persis seperti sepasang mata hitam di balik tirai hujan itu.

Perawat muda itu tiba-tiba teringat sesuatu. "Saya nggak menyangka bisa melihat dua pria sangat tampan di hari yang sama. Mereka berdua sangat perhatian. Terutama Tuan Farel yang membujuk Nona Silvia dengan sangat manis, kami sampai malu melihatnya!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 50

    Ziana melihat Vihan bercakap-cakap dengan tenang, jelas tidak memedulikan situasi di sini. Dia menarik napas lega. Namun kemudian berpikir, kenapa dia harus lega? Kenapa dia bertingkah seperti orang yang tertangkap basah selingkuh?Saat sedang melamun, punggung tangan Ziana yang berada di atas meja terasa hangat. Dia mendongak dan menyadari Farel telah mencengkeram tangannya tanpa memedulikan orang lain. "Apa yang kamu lihat? Vihan?" "Kamu benar-benar pikir, dia akan memedulikan video pengakuan cinta yang nggak jelas itu?""Matanya hanya berisi keuntungan. Dia hanya mesin pencari uang yang dilatih Keluarga Anggara."Ziana merasa geli tanpa alasan. Bagaimanapun juga, Vihan jauh lebih baik daripada pria brengsek hasil didikan Keluarga Anggara ini. Seingatnya, Paman Firman, ayah Farel, adalah pria yang sangat lembut dan berwibawa! Dia menyindir, "Soal video pengakuan itu, apa Tuan Farel benar-benar nggak tahu apa-apa?" "Ziana, berhenti membuat keributan. Video itu sudah berlalu.

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 49

    Melihat hal itu, Farel tersenyum tipis dan menunggu dengan tenang. Tak lama kemudian, di piring Ziana sudah menumpuk tujuh atau delapan ekor udang. Farel menggerakkan sendoknya untuk mengambil, tetapi tepat saat akan menyentuh udang itu, Ziana menghindar.Suara Ziana terdengar tenang saat berkata, "Kalau Tuan Farel mau makan, Anda bisa memanggil pelayan. Tadi saya lupa mencuci tangan." Setelah berkata demikian, dia memindahkan udang yang sempat tersentuh sumpit Farel ke samping, lalu melahap sisanya dengan nikmat. Ternyata mengupas untuk diri sendiri rasanya lebih enak.Melihat udang yang dibuang ke samping seperti sampah, Farel seketika tersulut emosi. Dia mengentakkan sendoknya dengan keras ke meja. "Ziana, apa maksudmu?" Ziana bahkan tidak mendongak. "Nggak higienis. Apa Tuan Farel mau memakan sesuatu yang sudah terkena air liur orang lain?" Farel terbungkam.Dia tidak bisa membantah kalimat itu karena sedang pura-pura hilang ingatan. Namun, memikirkan Ziana yang terus-mene

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 48

    Kehadiran Farel membuat Ziana sedikit terkejut. Meskipun dia merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka, tetapi pria itu tetap atasannya saat ini. Baik secara profesional maupun pribadi, dia harus menghormati Farel. Ziana mengangguk tipis pada Tio dan berjalan menuju Farel.Tindakan ini membuat Tio terpana. Dia tadinya khawatir Ziana akan bicara macam-macam dan sedang berpikir bagaimana cara memperingatinya. Tak disangka, wanita itu justru menunjukkan sikap tidak peduli. Sikap yang membuat Tio sama sekali tidak bisa menghubungkannya, dengan sosok Ziana yang dulu selalu memuja Farel dalam segala hal.Ziana sampai di sisi meja. Sosoknya tampak ramping tapi tegak, ekspresinya datar tapi tetap dihiasi senyum standar profesional. "Tuan Farel, ada urusan apa mencari saya?" Suaranya lembut dan patuh, tetapi tanpa emosi sedikit pun.Gerakan tangan Farel yang membalik menu terhenti sejenak, tetapi dia tidak terlalu ambil pusing. "Duduklah. Soal kejadian kemarin, aku

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 47

    Ziana mengabaikan tatapan peringatan dari Silvia dan melanjutkan, "Kalau begitu wanita itu malang sekali. Pria bekas, gelang bekas.""Malang apanya? Pria brengsek seperti itu sengaja mengeluarkan modal besar hanya untuk memancing wanita yang haus kemewahan dan tamak. Setelah dipakai, lalu dibuang. Wanita yang mau memakan umpan seperti itu, mana mungkin orang baik-baik?" kata Hilda mencibir.Dia bermaksud menyindir Ziana, tanpa menyadari bahwa dia juga sedang memaki Silvia. Wajah Silvia berubah dari gelap menjadi semakin kelam, hingga dia tidak bisa menahan diri lagi."Cukup!" Hilda dan yang lainnya tersentak, menatap Silvia dengan bingung. Silvia segera memulihkan ekspresi lembutnya. "Waktunya sudah hampir tiba, Bu Aryani akan segera datang. Mari kita kembali bekerja." "Baik," sahut Hilda dengan enggan sebelum bubar.Ziana berbalik masuk ke ruang pantry, berniat membuat kopi karena sebentar lagi dia harus menjamu klien lain untuk meninjau lokasi pertemuan. Baru saja dia menyalakan

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 46

    Ziana terpaku di tempat. Tiba-tiba, seseorang mendorongnya dari belakang, hingga dia terhuyung masuk ke dalam kantor dan menarik perhatian semua orang. Di belakangnya, Hilda, ikut masuk. Dia memegang Ziana dengan tatapan yang seolah meminta maaf, tetapi sebenarnya penuh niat tersembunyi."Bu Ziana, maaf ya. Aku tadi asyik melihat pesan klien sampai nggak memperhatikan jalan. Tapi, kenapa kamu berdiri di luar dan nggak masuk?"Kemarin, berkat mulut Hilda, berita tentang Ziana yang dicampakkan sudah menyebar luas ke seluruh resor. Bahkan ditambah bumbu cerita yang dramatis. Sekarang, saat dia terlihat sedang menguping kebahagiaan orang lain, Ziana makin terlihat seperti wanita yang penuh dendam.Karena kemampuannya yang menonjol, Ziana adalah staf yang paling cepat diangkat menjadi karyawan tetap dan naik jabatan di angkatannya. Hal ini membuat banyak rekan kerja merasa iri padanya, meski di luar mereka bersikap sopan. Kini, setelah tahu dia adalah putri seorang pembunuh dan dicamp

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 45

    Saat pria itu mendekat, aroma segar setelah mandi tercium dari tubuhnya, persis seperti semalam.Memikirkan hal itu, Ziana mendadak tersadar dan segera menatap lurus ke depan untuk menjelaskan jadwal hari ini."Setelah sarapan pagi, pemandu pribadi akan membawa para tamu ke kebun teh sekitar untuk melihat pemandangan dan mencicipi teh. Siang hari, perjamuan vegetarian telah diatur di restoran. Setelah istirahat siang, ruang rapat akan disiapkan ...."Krucuk! Di tengah penjelasannya, perutnya berbunyi. Ziana refleks menutupi perutnya dengan wajah yang memerah hingga ke telinga. Gerakan Vihan yang hendak mengangkat gelas terhenti sejenak. Cincin dengan lambang keluarga di jarinya memantulkan cahaya matahari, berkilau di matanya.Dia mendongak. "Duduk dan makan bersama." "Terima kasih." Di depan tatapan Vihan, Ziana tidak berani menolak dan langsung duduk.Dia merasa sungkan untuk makan terlalu banyak. Setelah mengisi perut sedikit, Ziana mengeluarkan selembar kertas kosong dari sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status