Share

Bab 6

Author: Maya Pertiwi
"Membujuk Nona Silvia?" tanya Ziana tersadar.

"Kaki Nona Silvia nggak sengaja terkilir, Tuan Farel terus menemaninya karena takut dia merasa sakit sedikit saja. Cinta antara putri dan pangeran keluarga kaya memang sangat manis untuk dilihat," ujar perawat itu sambil tersenyum.

Ziana terdiam.

Wajah Ziana memucat.

Ternyata alasan Farel mengabaikannya di tengah bahaya, hanya untuk menemani Silvia yang kakinya terkilir.

Meski sudah berkali-kali memperingatkan dirinya untuk melepaskan perasaan, tetapi cinta tulus selama empat tahun itu tetap membuat jantungnya serasa tertusuk.

Ziana bahkan sedikit kesulitan bernapas.

Melihat hal itu, perawat segera bertanya, "Nona Ziana, bagian mana yang sakit?"

Ziana mencoba mengatur napas dan perlahan menjadi tenang.

"Terima kasih, aku sudah nggak apa-apa."

"Baiklah, kalau begitu, saya akan memeriksa pasien lain. Tekan bel kalau Nona butuh sesuatu."

Setelah perawat itu pergi, Ziana merasa kalut memikirkan kejadian yang menimpanya.

Dia memutuskan untuk keluar kamar dan berjalan-jalan.

Tanpa dia sangka, dia berpapasan dengan Silvia yang sedang dibantu oleh seorang perawat.

Ekspresi Silvia saat melihatnya seolah-olah melihat hantu.

"Ziana! Kenapa kamu bisa ada di sini?"

Ziana sudah menangani banyak klien, dia cukup ahli dalam membaca raut wajah.

Sekali lihat saja, dia tahu bahwa Silvia merasa bersalah dan panik.

Mengingat kedua pria tadi secara akurat menyebutnya sebagai "wanita Tuan Farel", sebuah dugaan langsung muncul di benak Ziana.

Kedua pria itu pasti kiriman Silvia.

Untuk membuktikannya, Ziana berjalan mendekat.

"Nona Silvia, kalau aku nggak ada di sini, memangnya aku harus ada di mana?"

Akting Silvia cukup bagus. Raut wajah paniknya tadi hilang dalam sekejap, digantikan dengan ekspresi sedih dan cemas.

"Ziana, aku hanya ... mengira kamu membuntuti Tuan Farel lagi."

Suara Silvia tidak keras, tetapi cukup untuk didengar pasien dan perawat yang lewat.

Mereka menatap Ziana seolah-olah dia adalah orang yang obsesif dan berbahaya.

Ziana tidak panik. Dia justru memasang senyum profesionalnya.

"Aku sudah membuat janji dengan dokter untuk kontrol pasca-kecelakaan. Untuk alasan kenapa aku kecelakaan, apa aku perlu menjelaskannya dengan keras pada Nona Silvia?"

Silvia dan Farel baru saja mengumumkan hubungan. Hal yang paling tidak diinginkan Silvia adalah orang-orang mengetahui keberadaan Ziana.

Jika Ziana mengatakan bahwa dia mengalami kecelakaan bersama Farel, entah berapa banyak orang yang akan menjadikannya bahan tontonan.

Silvia menggigit bibir bawahnya.

"Begitu ya, berarti aku salah paham. Aku nggak akan mengganggumu lagi."

Saat melewati Ziana, dia berhenti sejenak dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar mereka berdua.

"Ziana, berhenti berjuang dengan sia-sia. Apa pun yang terjadi, Tuan Farel nggak akan melirikmu lagi. Kalau kamu masih nggak tahu diri, kejadian berikutnya nggak akan sesederhana seperti kecelakaan mobil. Hehe."

Itu adalah peringatan sekaligus ancaman.

Ziana mengabaikannya dan langsung kembali ke kamar rawatnya.

Namun, dia tahu Silvia mampu melakukan apa saja.

Setelah berpikir beberapa detik, dia mengambil ponselnya.

"Halo, aku ingin melaporkan tindak kejahatan."

....

Kantor Polisi.

Polisi bekerja dengan sangat efisien.

Tidak lama setelah laporan dibuat, melalui rekaman CCTV jalanan. Mereka menemukan dua pria yang sedang mengerang kesakitan di sebuah klinik pribadi kecil.

Sebelum Ziana melakukan identifikasi, polisi memberinya peringatan.

"Nona Ziana, dua orang ini mungkin agak sulit dikenali sekarang. Sebaiknya Anda siapkan mental."

Ziana tidak menjawab.

Ziana bingung, sampai akhirnya dia melihat dua orang dengan wajah bengkak seperti kepala babi berdiri di depannya.

Yang satu pincang, yang satu lagi tangannya patah.

Belum sempat Ziana bicara apa pun, kedua pria itu sudah ketakutan setengah mati saat melihatnya.

Empat atau lima polisi sampai kewalahan menahan mereka yang meronta-ronta ketakutan.

"Nona! Kami salah! Kami nggak akan berani melakukannya lagi! Kami akan mengakui semuanya!"

"Benar, benar! Kami terlilit utang judi, lalu ada seorang pria memberi kami uang dan menyuruh kami menunggu Anda di depan rumah sakit kemarin sore. Lalu melecehkan Anda ... sekalian merekam video."

Ziana hanya diam saja.

Semudah itu mereka mengaku?

Namun, melihat raut ketakutan mereka, apa yang sebenarnya terjadi setelah dia pingsan?

Bayangan sepasang mata hitam di tengah hujan kembali terlintas di benaknya. Siapa sebenarnya pria itu?

Polisi pun cukup terkejut, ini adalah interogasi tercepat yang pernah mereka lakukan.

Melalui pengakuan keduanya, polisi melacak pria yang memberi mereka uang.

Ternyata, pria itu adalah pengawal pribadi Silvia.

Polisi lantas memanggil semua pihak terkait ke kantor polisi.

Hanya saja, tak disangka, orang yang menemani Silvia adalah Farel.

Begitu melihat Ziana, wajah Farel menjadi suram. Tanpa memberinya kesempatan bicara, dia langsung melontarkan kata-kata yang sangat kasar.

"Ziana! Kamu lagi! Apa ulahmu itu nggak ada habisnya? Apa kamu nggak bisa berhenti mengejarku seperti anak anjing?"

Suasana ruangan seketika hening, tetapi telinga Ziana berdenging kencang.

Melihat Farel yang begitu murka demi membela "sang kekasih", dia tiba-tiba merasa ingin tertawa.

Namun, tawa itu bercampur dengan kepedihan pengabdiannya selama empat tahun.

Sayangnya, Farel sama sekali tidak peduli.

Yang dia tahu saat ini adalah Ziana sangat menyebalkan.

Dia merasa maklum jika Ziana terlalu mencintainya dan sulit melepaskan hubungan ini, tapi Ziana tidak seharusnya melibatkan Silvia.

Silvia berbeda dengannya.

Kapan sebenarnya wanita ini akan sadar akan statusnya?

Farel berucap sinis, "Ziana, kupikir kamu itu cukup tegar. Ternyata kamu menggunakan segala cara, ya. Sebaiknya kamu berhenti bikin ulah!"

Nadanya penuh perintah, lengannya melindungi wanita di pelukannya.

Seolah takut gadis kecilnya akan ketakutan.

Silvia bersandar di dadanya dengan mata memerah, tampak sangat tersakiti.

Hanya saja, lirikan matanya ke arah Ziana sangat berbisa dan kejam.

Ziana mengerti. Sepertinya Silvia sudah meyakinkan Farel bahwa ini adalah drama yang dia buat sendiri.

Farel adalah orang yang egois, dia tidak akan percaya pada orang lain begitu saja.

Namun, dia memilih untuk percaya pada sepihak omongan Silvia.

Dia mencintai Silvia, Ziana mengerti itu.

Namun, apa hubungannya dengan dirinya?

Ziana menatap Farel dengan dingin.

"Tuan Farel, kalau membela kepentingan diri sendiri dianggap membuat ulah, bukannya hukum sama sekali nggak asa harganya di matamu?"

"Ziana!"

Suara Farel meninggi secara refleks, matanya menatap tajam ke arah Ziana untuk memberi tahu bahwa pria itu marah.

Ziana mengerutkan kening dan menggigit bibir.

Itu tampak seperti perlawanan, tetapi juga kepasrahan.

Itu adalah gerakan refleks yang terbentuk selama empat tahun setiap kali menghadapi kemarahan Farel, sesuatu yang sulit dihilangkan dalam sekejap.

Namun di mata Farel, itu adalah bahan tertawaan.

Dia tahu Ziana hanya menggertak, tetapi di dalam hati tetap takut jika dia marah.

Farel tidak melihatnya lagi, dia berbalik menatap polisi.

"Ini hanya kesalahpahaman yang dibuat-buat oleh Ziana sendiri, nggak ada yang perlu dipermasalahkan. Kalau kejadian hari ini sampai tersebar, kalian semua akan dipanggil oleh atasan kalian!"

Setelah berkata demikian, dia langsung melewati Ziana sambil merangkul Silvia untuk pergi.

"Jangan takut, ada aku di sini, dia nggak akan bisa menyakitimu. Perhiasan pesananmu sudah sampai, ayo ke sana untuk mencobanya."

Nadanya begitu santai, seolah-olah baru saja menginjak semut hingga mati.

"Aku nggak peduli pada perhiasan, aku hanya peduli bahwa kamu akan selalu melindungiku," ujar Silvia sambil mendekat manja, matanya melirik puas ke arah Ziana.

Silvia sudah bilang, apa pun yang dilakukan Ziana, Farel tidak akan meliriknya lagi.

"Gadis bodoh."

Farel sengaja mencubit hidung Silvia di depan Ziana untuk memutus harapan kosong wanita itu.

Namun, Ziana mengabaikan kemesraan mereka dan menatap langsung ke arah polisi.

"Apa pihak yang terlibat, punya hak untuk memutuskan kasus secara gegabah pada polisi?"

Polisi segera menjamin, "Tentu saja tidak, kami pasti akan menjalankan hukum dengan seadil-adilnya."

Mendengar itu, tatapan Farel menjadi dingin. Pandangannya penuh dengan ancaman.

"Ziana, kamu berani bilang aku pihak yang terlibat? Omong kosong apa lagi yang kamu bicarakan?"

"Tuan Farel, siapa bilang kamu nggak terlibat?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 100

    Sebagai Tuan Muda Kedua yang dididik Keluarga Anggara dan lulusan terbaik jurusan keuangan luar negeri, sebenarnya Farel juga orang yang hebat. Sikapnya yang santai dan liar hanyalah kulit luar. Pada intinya, dia tetaplah seorang pengusaha.Bagaimana mungkin dia membiarkan Silvia meributkan masalah kebocoran data di resor secara terang-terangan, jika tidak ada tujuannya? Selain karena cintanya pada Silvia, motif utamanya adalah untuk merusak kerja sama antara Vihan dan Nyonya Helena. Setelah itu, dia tinggal mencari kambing hitam.Ziana adalah kandidat terbaik. Dengan latar belakang hubungannya yang hancur dan kegagalan promosinya, cukup dengan membesar-besarkan rasa cemburu, tuduhan pembocoran rahasia akan terasa masuk akal bagi siapa pun. Silvia bisa lolos tanpa noda.Sementara Farel akan tampil sebagai penyelamat yang mewakili Perusahaan Anggara untuk bernegosiasi ulang dengan Nyonya Helena.Saat ini, pilihan terbaik bagi Nyonya Helena selain Vihan hanyalah Farel. Setelah mema

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 99

    Ziana refleks mengeratkan genggamannya pada teko air. Saat dia mendongak, Vihan sudah memimpin rombongannya menuju kursi utama."Duduk semuanya."Vihan merapikan kerah jasnya dengan gerakan santai, tetapi memancarkan aura dominasi seorang pemimpin yang kuat. Melihat semua orang duduk, Ziana merasa canggung. Tak jauh dari sana, Aryani menggerakkan bibirnya tanpa suara, “Kamu nggak dengar? Duduk!”Dia mengerti. Ziana merasa lega dan segera kembali ke kursinya. Namun, ada seseorang yang tampaknya jauh lebih menderita darinya.Di samping kursi Silvia, berdiri seorang pria. Dia adalah salah satu bawahan kunci Vihan dengan jabatan tinggi. Berdasarkan pengaturan tempat duduk, pria inilah yang seharusnya menempati kursi tersebut. Namun, Silvia duduk di sana atas perintah Farel. Begitu berdiri, dia akan terlihat lebih rendah dari orang lain. Di depan tatapan begitu banyak orang, Silvia tentu saja tidak mau.Silvia tidak bergerak. Dia merasa Vihan akan memaklumi posisinya sebagai kekasi

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 98

    Ruang rapat. Dalam rapat tingkat tinggi ini, orang dengan posisi menengah seperti Ziana hanya bisa duduk sebagai pendengar tanpa hak suara. Dia duduk di kursi barisan paling luar. Baru saja dia membuka buku catatannya, Farel datang bersama Silvia.Farel membiarkan Silvia duduk di kursi tepat di sampingnya, posisi yang sangat tinggi bagi orang lain. Melihat hal itu, banyak orang berbisik iri."Benar-benar seperti karakter CEO di dunia nyata, Tuan Farel tampan dan romantis banget!" "Bukan cuma tampan, dia juga sangat memanjakan pacarnya. Kudengar kemarin Nona Silvia terkejut, dia langsung memanggil tiga spesialis untuk memeriksanya." "Aku juga dengar. Benar-benar bikin iri. Ziana, kamu satu departemen dengan Nona Silvia, apa kamu nggak kenyang makan 'kemesraan' mereka tiap hari?"Mendengar hal itu, tangan Ziana yang sedang membuka tutup pulpen terhenti sejenak. Ternyata demi Silvia, Farel menutup rapat semua kejadian di vila kemarin. Benar-benar cinta yang dalam. Dia tidak mendon

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 97

    "Tuan Farel." Melihat Farel semakin dekat dengan Ziana, Silvia segera menarik lengan pria itu dan berlagak murah hati. "Aku lihat Nona Tamara juga punya kehidupannya yang sulit, berikan dia satu kesempatan lagi. Aku juga bersedia menerima hukuman dari resor."Dengan perkataan ini, dia mendapatkan kembali harga diri dan citra baiknya. Farel menarik kembali tatapannya dan melambai. "Kalau begitu, lupakan saja pemecatan Tamara."Melihat hal itu, polisi berkata, "Kalau begitu, kami akan membawa tersangka pergi."Mendengar hanya dirinya yang ditangkap, keinginan bertahan hidup Desi mengalahkan rasa takutnya. Dia menerjang polisi dan menerkam ke arah Ziana. "Bu Ziana, aku nggak mau dipenjara! Kumohon ...."Belum sempat dia menyentuh Ziana, Ziana seolah-olah terdorong dan jatuh ke arah meja dapur. "Jangan mendekat!"Dalam teriakan itu, Ziana sengaja menyebarkan tepung di atas meja. Tepung itu jatuh tepat mengenai Silvia dan Hilda. Keduanya berteriak histeris melihat penampilan masing-m

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 96

    Orang itu adalah Desi. Sebagai staf departemen housekeeping, dia tahu persis titik buta CCTV dan prosedur pembersihan kamar. Dia memanfaatkan hal itu untuk memukul Tamara sampai pingsan saat temannya itu sedang menyedot debu. Setelah memotret dokumen tersebut, dia mengirimkannya kepada Hilda, yang kemudian memberitahu Silvia untuk melakukan penggerebekan.Dia mengira jika Ziana dan Tamara tertangkap basah, tidak akan ada yang memeriksa CCTV area luar. Dengan begitu, aksinya masuk-keluar vila melalui titik buta tidak akan pernah terungkap. Siapa sangka, Ziana dan Tamara justru menuntun mereka satu per satu untuk menunjukkan jati diri asli mereka.Desi menatap Silvia dan Hilda, memohon bantuan. Namun, keduanya tetap diam membisu. Membayangkan dirinya harus masuk penjara, Desi gemetar hebat karena takut. Dia langsung menunjuk mereka berdua."Merekalah yang menyuruhku melakukan ini! Mereka mau menyingkirkan Ziana!""Kamu!" Silvia bereaksi cepat. Dia mulai menangis tersedu-sedu. "Ak

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 95

    Menyadari situasi memburuk, Silvia kembali memainkan aktingnya. "Ziana, aku tadi hanya khawatir kalau berita kebocoran ini tersebar, reputasi resor akan hancur." Dia mencoba menggunakan nama baik resor untuk membersihkan diri.Ziana menyadari Farel hendak membela Silvia lagi, jadi dia segera memotong, "Jadi maksud Bu Silvia, Anda sama sekali nggak punya bukti? Semua perkataan Anda tadi murni hanya spekulasi pribadi? Memfitnah rekan kerja dan membiarkan pencuri yang asli bebas, apa itu yang disebut menjaga reputasi resor?"Mendengar hal itu, wajah Silvia menjadi kaku, dia tidak bisa membantah. Polisi berkata dengan tegas, "Nona Silvia, bicara seperti itu tidak hanya tidak bertanggung jawab, tapi juga bisa mencelakai orang lain."Silvia selalu dipuja-puja, ini pertama kalinya dia ditegur di depan umum. Ekspresi wajahnya tampak bergetar menahan malu.Ziana tidak mau membuang waktu menatapnya lagi dan berkata, "Hilda, Desi, bagaimana dengan kalian? Jangan-jangan kalian juga nggak punya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status