Share

Bab 7

Penulis: Maya Pertiwi
"Apa?"

Ziana berkata dengan tatapan tenang, "Aku bilang, Anda dan Nona Silvia adalah pihak yang terlibat."

Farel tampak tersentak. Dia tidak pernah membayangkan Ziana akan melawannya.

Ziana menangkap perubahan ekspresi itu, tetapi dia mengabaikannya dan berjalan langsung ke hadapan dua preman tadi.

"Ulangi lagi apa yang terjadi. Ingat, aku mau setiap katanya sama persis, jangan ada yang terlewat!"

Kedua preman itu, di hadapan tatapan tajam Ziana, segera mengangguk dan menceritakan kronologinya sekali lagi.

Begitu mereka menyebutkan kalimat "ingin mencicipi wanita milik Tuan Farel", mereka secara bersamaan melirik ke arah Farel.

Seketika, raut wajah Farel dan Silvia berubah menjadi sangat buruk.

Di tempat itu, hanya Farel dan Silvia yang tahu hubungan antara Ziana dan Farel.

Farel adalah Tuan Muda Kedua Keluarga Anggara yang terpandang.

Meski dia telah mencampakkan Ziana, dalam hatinya, Ziana tetaplah miliknya.

Jika dia tidak menginginkannya pun, dia tidak akan membiarkan preman rendahan menyentuhnya.

Maka, pilihannya hanya tersisa satu.

Silvia mulai kehilangan ketenangannya dan membantah, "Ziana, apa maksudmu? Kamu mau bilang aku yang menyuruh orang-orang itu untuk melecehkanmu? Setelah aku dan Tuan Farel mengumumkan hubungan kami, kamu terus mengganggunya. Sekarang kamu membawa dua preman untuk membuat pernyataan begini. Apa kamu begitu terobsesi mau merusak hubungan kami?"

Silvia mengaburkan konsep waktu dan menggambarkan Ziana sebagai wanita yang cintanya tak terbalas.

Ditambah dengan air mata yang mulai menetes, aktingnya memang terlihat sangat meyakinkan.

Namun detik berikutnya, dia tertegun.

Ziana justru bertepuk tangan.

"Nona Silvia, bicaramu hebat sekali. Tapi bagaimana mungkin rakyat jelata sepertiku bisa mengganggu Tuan Farel? Dia bukan orang bodoh yang bisa sembarangan diganggu seorang wanita, ‘kan?"

"Jadi aku curiga, ada seseorang yang memanfaatkanku untuk merusak hubungan Anda dan Tuan Farel. Kalau nggak, orang bodoh mana yang sengaja memberi tahu dua orang asing ini kalau aku adalah 'wanita Tuan Farel'?"

"Lagi pula, aku bukan wanitanya. Benar, ‘kan, Tuan Farel?"

Farel bungkam, raut wajahnya sulit digambarkan.

Ziana tidak peduli dan terus berbicara.

"Sekarang, seluruh jagat maya tahu kisah cinta romantis kalian berdua. Orang waras mana pun nggak mungkin mau menjadi selingkuhan. Benar, ‘kan, Nona Silvia?"

"Jadi, orang yang sengaja mencatut nama Tuan Farel ini pasti berniat buruk padanya. Untuk berjaga-jaga, biar polisi menyelidiki ini sampai tuntas, agar nama kita bertiga bersih."

"Sebaiknya kita mulai dari kedua preman ini."

Ziana menunjuk ke arah mereka.

Dia ingin melihat siapa yang sekarang harus panik.

Apakah polisi akan menemukan masa lalunya dengan Farel dan membongkar status Silvia sebagai selingkuhan?

Atau Silvia akan saling gigit dengan premannya sendiri?

Kabar mana pun yang tersebar, dua-duanya adalah tontonan yang menarik.

Kedua preman itu sudah babak belur, bahkan untuk bernapas saja terasa sakit.

Begitu mendengar mereka akan dituduh merencanakan kejahatan terhadap Tuan Muda Kedua Keluarga Anggara, mana mungkin mereka berani mengakuinya.

"Bukan! Apa yang kami katakan itu jujur!"

"Dia! Dia yang bilang saat menelepon bahwa wanita ini adalah barang bekas Tuan Farel. Dia juga menyuruh kami jangan segan-segan melakukannya!"

Pengawal Silvia membentak, "Bohong! Aku hanya bermain kartu beberapa putaran di meja yang sama dengan kalian dan rugi uang sedikit, itu saja!"

Preman itu langsung mengeluarkan ponsel. "Aku punya rekamannya! Kalian pikir kami berdua bodoh? Melakukan hal seperti ini, mana mungkin kami nggak punya kartu as di tangan kami!"

Tak lama kemudian, preman itu memutar rekaman suara pengawal tersebut saat meneleponnya.

“Ziana adalah wanita Tuan Farel. Rekam video yang banyak, semakin terbuka semakin bagus. Tubuh wanita itu sangat menggoda, sekali lihat saja bisa membuat melayang. Kalian nggak akan rugi. Setelah selesai, aku beri 200 juta lagi.”

Mendengar orang lain membicarakan bentuk tubuhnya, perut Ziana terasa mual hingga ingin muntah.

Polwan di sampingnya, sepertinya menyadari reaksi tersebut dan bergeser mendekatinya untuk memberi dukungan.

Polwan itu berseru dengan tegas, "Kalian pikir tempat apa ini? Ruang minum teh? Bisa datang dan pergi sesuka hati? Semuanya akan diproses sesuai prosedur!"

Polisi lain juga segera menghalangi pintu keluar.

Melihat hal itu, Ziana merasa sangat tersentuh, dan beban di hatinya perlahan terangkat.

Sekarang giliran Silvia yang gelisah.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Ziana akan punya nyali untuk melapor ke polisi.

Sekarang, tidak peduli bagaimana polisi menyelidikinya, hasilnya akan merugikannya.

Ziana ... kenapa kecelakaan itu tidak membunuhnya saja!

Silvia menggertakkan gigi gerahamnya dan melotot ke arah pengawalnya yang tidak becus.

Pengawal itu mengerti kodenya dan segera maju.

"Ini adalah niat pribadi saya, nggak ada hubungannya dengan Nona Silvia. Keluarga Nona Silvia sangat baik pada saya. Saya hanya nggak tahan melihat Ziana mengganggu Tuan Farel dan membuat Nona menderita. Karena itu, saya ingin membereskannya dengan cara ini."

Pengawal itu sangat sadar. Daripada menyinggung Keluarga Leska, lebih baik dia menanggung hukuman penjara sendirian.

Silvia berpura-pura terkejut dan menyeka air matanya.

"Kamu ... bagaimana bisa kamu melakukan hal sekejam itu? Keluarga Leska nggak bisa lagi menerimamu. Tapi tenang saja, orang tuamu akan kami urus. Jalani hukumanmu dengan baik di dalam sana."

Pengawal itu memahami ancaman di balik kata-kata Silvia, tetapi dia tidak berdaya dan hanya bisa mengangguk mengakui perbuatannya.

Silvia kemudian terisak sambil mengguncang lengan Farel, tetapi malah mendapati pria itu sedang tidak fokus.

Mengikuti arah pandangan Farel, ternyata matanya tertuju ke arah Ziana.

Ekspresi lemah dan tersakiti di wajah Silvia hampir saja runtuh.

Beruntung, suara polisi segera memecah suasana.

"Nona Ziana, Kalau Anda nggak punya pertanyaan lagi, Anda boleh pergi."

"Tidak ada lagi."

Bukannya Ziana tidak ingin menunjuk Silvia sebagai dalang utamanya.

Namun, Keluarga Leska tidak akan melepaskannya begitu saja dan Farel pun tidak akan membiarkannya.

Dengan kemampuannya saat ini, Ziana tidak mungkin bisa melawan orang-orang ini.

Setidaknya tujuannya tercapai. Aksi menangkap ekor dalang kejahatan ini, sudah cukup membuat Silvia tidak berani mengganggunya untuk sementara waktu.

Saat sedang berpikir, Ziana merasakan tatapan aneh dari Farel.

Dia melirik sekilas, merasa risih, lalu sedikit memalingkan tubuhnya.

Polisi melanjutkan, "Kalau begitu, ikuti saya untuk verifikasi keterangan. Kalau nggak ada masalah, Anda bisa menandatangani dokumen dan pulang."

"Baik."

Ziana langsung melewati Farel dan Silvia, mengikuti polwan tadi untuk tanda tangan.

Namun, tatapan Farel tidak beralih darinya sedikit pun.

Melihat hal itu, Silvia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Setelah berpikir sejenak, dia merangkul Farel dan berbisik, "Tuan Farel, maafkan aku. Akulah yang menyebabkan kesalahpahaman antara kamu dan Ziana. Tapi sepertinya Ziana sudah tahu sejak awal, kenapa dia masih bersikeras membuat keributan ini? Apa dia sengaja melakukannya agar kamu merasa kasihan padanya?"

Farel tersadar.

Tatapan matanya berubah dari keraguan menjadi keyakinan.

Ternyata benar.

Demi memulihkan ingatannya, Ziana bahkan tega menggunakan taktik melukai diri sendiri.

Begini juga bagus.

Nanti saat dia 'pulih', dia bahkan tidak perlu alasan untuk membuat Ziana kembali dengan patuh ke sisinya.

Farel mencibir, "Hanya dia yang terpikirkan cara seperti ini."

Silvia berpura-pura cemas, "Pasti nanti dia akan datang padamu untuk mengadu, apalagi pengawalku yang melakukan kesalahan. Aku harus bagaimana?"

Farel merangkulnya dan mengangkat dagu wanita itu.

"Pekerjaan Ziana adalah melayani orang lain, dia sudah terbiasa menderita. Kamu berbeda. Selama ada aku, siapa yang berani membuatmu menderita?"

Silvia merasa senang dan membenamkan diri di pelukan Farel.

Namun di tempat yang tidak terlihat oleh wanita itu, Farel menatap ke arah pintu dengan kilat ejekan di wajahnya.

Pantas saja Ziana meliriknya saat pergi tadi.

Ternyata wanita itu sedang menunggunya bicara.

Nanti saat Ziana datang, dia akan memberitahu wanita itu bahwa taktik melukai diri itu sama sekali tidak berarti baginya.

Saat itu, terdengar suara langkah kaki dari luar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 50

    Ziana melihat Vihan bercakap-cakap dengan tenang, jelas tidak memedulikan situasi di sini. Dia menarik napas lega. Namun kemudian berpikir, kenapa dia harus lega? Kenapa dia bertingkah seperti orang yang tertangkap basah selingkuh?Saat sedang melamun, punggung tangan Ziana yang berada di atas meja terasa hangat. Dia mendongak dan menyadari Farel telah mencengkeram tangannya tanpa memedulikan orang lain. "Apa yang kamu lihat? Vihan?" "Kamu benar-benar pikir, dia akan memedulikan video pengakuan cinta yang nggak jelas itu?""Matanya hanya berisi keuntungan. Dia hanya mesin pencari uang yang dilatih Keluarga Anggara."Ziana merasa geli tanpa alasan. Bagaimanapun juga, Vihan jauh lebih baik daripada pria brengsek hasil didikan Keluarga Anggara ini. Seingatnya, Paman Firman, ayah Farel, adalah pria yang sangat lembut dan berwibawa! Dia menyindir, "Soal video pengakuan itu, apa Tuan Farel benar-benar nggak tahu apa-apa?" "Ziana, berhenti membuat keributan. Video itu sudah berlalu.

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 49

    Melihat hal itu, Farel tersenyum tipis dan menunggu dengan tenang. Tak lama kemudian, di piring Ziana sudah menumpuk tujuh atau delapan ekor udang. Farel menggerakkan sendoknya untuk mengambil, tetapi tepat saat akan menyentuh udang itu, Ziana menghindar.Suara Ziana terdengar tenang saat berkata, "Kalau Tuan Farel mau makan, Anda bisa memanggil pelayan. Tadi saya lupa mencuci tangan." Setelah berkata demikian, dia memindahkan udang yang sempat tersentuh sumpit Farel ke samping, lalu melahap sisanya dengan nikmat. Ternyata mengupas untuk diri sendiri rasanya lebih enak.Melihat udang yang dibuang ke samping seperti sampah, Farel seketika tersulut emosi. Dia mengentakkan sendoknya dengan keras ke meja. "Ziana, apa maksudmu?" Ziana bahkan tidak mendongak. "Nggak higienis. Apa Tuan Farel mau memakan sesuatu yang sudah terkena air liur orang lain?" Farel terbungkam.Dia tidak bisa membantah kalimat itu karena sedang pura-pura hilang ingatan. Namun, memikirkan Ziana yang terus-mene

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 48

    Kehadiran Farel membuat Ziana sedikit terkejut. Meskipun dia merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka, tetapi pria itu tetap atasannya saat ini. Baik secara profesional maupun pribadi, dia harus menghormati Farel. Ziana mengangguk tipis pada Tio dan berjalan menuju Farel.Tindakan ini membuat Tio terpana. Dia tadinya khawatir Ziana akan bicara macam-macam dan sedang berpikir bagaimana cara memperingatinya. Tak disangka, wanita itu justru menunjukkan sikap tidak peduli. Sikap yang membuat Tio sama sekali tidak bisa menghubungkannya, dengan sosok Ziana yang dulu selalu memuja Farel dalam segala hal.Ziana sampai di sisi meja. Sosoknya tampak ramping tapi tegak, ekspresinya datar tapi tetap dihiasi senyum standar profesional. "Tuan Farel, ada urusan apa mencari saya?" Suaranya lembut dan patuh, tetapi tanpa emosi sedikit pun.Gerakan tangan Farel yang membalik menu terhenti sejenak, tetapi dia tidak terlalu ambil pusing. "Duduklah. Soal kejadian kemarin, aku

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 47

    Ziana mengabaikan tatapan peringatan dari Silvia dan melanjutkan, "Kalau begitu wanita itu malang sekali. Pria bekas, gelang bekas.""Malang apanya? Pria brengsek seperti itu sengaja mengeluarkan modal besar hanya untuk memancing wanita yang haus kemewahan dan tamak. Setelah dipakai, lalu dibuang. Wanita yang mau memakan umpan seperti itu, mana mungkin orang baik-baik?" kata Hilda mencibir.Dia bermaksud menyindir Ziana, tanpa menyadari bahwa dia juga sedang memaki Silvia. Wajah Silvia berubah dari gelap menjadi semakin kelam, hingga dia tidak bisa menahan diri lagi."Cukup!" Hilda dan yang lainnya tersentak, menatap Silvia dengan bingung. Silvia segera memulihkan ekspresi lembutnya. "Waktunya sudah hampir tiba, Bu Aryani akan segera datang. Mari kita kembali bekerja." "Baik," sahut Hilda dengan enggan sebelum bubar.Ziana berbalik masuk ke ruang pantry, berniat membuat kopi karena sebentar lagi dia harus menjamu klien lain untuk meninjau lokasi pertemuan. Baru saja dia menyalakan

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 46

    Ziana terpaku di tempat. Tiba-tiba, seseorang mendorongnya dari belakang, hingga dia terhuyung masuk ke dalam kantor dan menarik perhatian semua orang. Di belakangnya, Hilda, ikut masuk. Dia memegang Ziana dengan tatapan yang seolah meminta maaf, tetapi sebenarnya penuh niat tersembunyi."Bu Ziana, maaf ya. Aku tadi asyik melihat pesan klien sampai nggak memperhatikan jalan. Tapi, kenapa kamu berdiri di luar dan nggak masuk?"Kemarin, berkat mulut Hilda, berita tentang Ziana yang dicampakkan sudah menyebar luas ke seluruh resor. Bahkan ditambah bumbu cerita yang dramatis. Sekarang, saat dia terlihat sedang menguping kebahagiaan orang lain, Ziana makin terlihat seperti wanita yang penuh dendam.Karena kemampuannya yang menonjol, Ziana adalah staf yang paling cepat diangkat menjadi karyawan tetap dan naik jabatan di angkatannya. Hal ini membuat banyak rekan kerja merasa iri padanya, meski di luar mereka bersikap sopan. Kini, setelah tahu dia adalah putri seorang pembunuh dan dicamp

  • Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat   Bab 45

    Saat pria itu mendekat, aroma segar setelah mandi tercium dari tubuhnya, persis seperti semalam.Memikirkan hal itu, Ziana mendadak tersadar dan segera menatap lurus ke depan untuk menjelaskan jadwal hari ini."Setelah sarapan pagi, pemandu pribadi akan membawa para tamu ke kebun teh sekitar untuk melihat pemandangan dan mencicipi teh. Siang hari, perjamuan vegetarian telah diatur di restoran. Setelah istirahat siang, ruang rapat akan disiapkan ...."Krucuk! Di tengah penjelasannya, perutnya berbunyi. Ziana refleks menutupi perutnya dengan wajah yang memerah hingga ke telinga. Gerakan Vihan yang hendak mengangkat gelas terhenti sejenak. Cincin dengan lambang keluarga di jarinya memantulkan cahaya matahari, berkilau di matanya.Dia mendongak. "Duduk dan makan bersama." "Terima kasih." Di depan tatapan Vihan, Ziana tidak berani menolak dan langsung duduk.Dia merasa sungkan untuk makan terlalu banyak. Setelah mengisi perut sedikit, Ziana mengeluarkan selembar kertas kosong dari sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status