เข้าสู่ระบบJari-jari Tiwi yang lentik mencengkeram rambut pria itu. Wajahnya merona merah, suaranya terdengar pelan nyaris tak terdengar."Kamu bisa langsung ...."Pria itu terkekeh pelan, lalu mencium bibirnya. "Nggak bisa. Harus tunggu sampai kita nikah."Di hari-hari berikutnya, pria itu seolah tak memiliki pekerjaan. Setiap hari dia menempel di sisi Tiwi, mengikutinya ke mana pun wanita itu pergi.Mereka mendiskusikan detail pernikahan bersama dan mendekorasi rumah baru mereka berdua.Ciuman selamat pagi dan selamat malam setiap hari, kejutan yang selalu menanti saat dia pulang, serta lampu hangat yang selalu menyala khusus untuknya.Semua itu adalah hal-hal yang belum pernah Tiwi rasakan sebelumnya.Saat menikah dengan Raka dulu, karena Keluarga Surendra tidak menyukainya sebagai menantu, mereka sudah memberinya peringatan bahkan sebelum pernikahan. Seluruh urusan pernikahan diurus oleh keluarga pria itu. Dia tak diberi ruang untuk ikut campur, bahkan sempat dimarahi tanpa alasan yang jelas.
Setelah mengucapkan itu, Tiwi berbalik dan pergi.Namun, tepat saat dia berbalik, Raka menariknya dengan kasar, sambil menggertakkan gigi."Jangan harap!"Detik berikutnya, "Dor!" Suara tembakan menggelegar. Raka tak kuasa menahan tubuhnya dan terpaksa berlutut.Dia menunduk, baru menyadari kakinya tertembak, darah seketika membasahi celananya.Sakit. Sangat sakit.Raka dibesarkan di dalam lingkungan keluarga konglomerat yang serba mewah sejak kecil. Jangankan tertembak, dipukul orang saja tidak pernah.Wajahnya pucat pasi, cengkeramannya pada pergelangan tangan Tiwi melemah sejenak karena tak tahan menahan sakit. Memanfaatkan celah itu, Tiwi berhasil melepaskan diri.Eric menurunkan senjatanya dengan ekspresi datar, lalu berkata."Ini peringatan terakhirku. Kamu udah bikin kekasihku ketakutan."Tiwi bahkan tak melirik Raka, juga tak peduli seberapa parah lukanya. Dia malah langsung berjalan menuju pria itu.Urat-urat di pelipis Raka menonjol. Dia berteriak dengan mata melotot penuh am
Kemunculan Raka seketika membuat seluruh ruangan hening, disusul oleh bisik-bisikan di antara para tamu."Gila apa, cewek yang ditembak Eric ternyata udah bersuami?""Eh, aku ingat. Cewek yang ditembak Eric namanya Tiwi, 'kan? Dulu aku pernah lihat foto bugilnya viral.""Ya ampun, astaga, kok ceritanya jadi sinetron begini sih.""Kok Eric bisa suka sama cewek kayak dia, sih? Aku kalah saing di mana, ya?""Kalahnya mungkin karena kamu nggak seliar dia, kali."Cemoohan bernada sindiran dari beberapa orang itu membuat senyum di wajah Tiwi perlahan memudar.Ekspresi Eric ikut mendingin. Dia hanya melirik ke arah sana dengan tatapan datar. Beberapa prajurit berseragam militer diam-diam membawa pergi orang-orang yang tadi banyak bicara. "Pak, apa yang mau kamu lakukan pada kekasihku?"Raka mengabaikannya. Dia tetap menatap Tiwi, berkata dengan nada melamun."Kemari, Sayang. Aku memanggilmu."Saat ini, rasa terkejut yang mengguncang hati Tiwi tadi perlahan memudar, berganti dengan ketenangan
Kalimatnya belum selesai, Raka sudah membantingkan ponselnya keras-keras ke wajah Meisya."Masih berani nanya kenapa?"Begitu melihat layar ponsel yang terlempar itu, Meisya langsung paham semuanya. Tatapannya bergetar, buru-buru hendak meraih tangan Raka."Raka, ini salah paham. Percaya sama aku. Aku bisa jelasin semuanya.""Cukup!" Raka menepisnya dengan tidak sabar. "Kamu pikir mempermainkanku itu seru, ya?""Kamu bener-bener bikin aku muak."Setelah itu, Raka berbalik dengan jengkel, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para pengawal untuk bertindak. Segala siksaan dan penderitaan yang dulu dialami Tiwi, kini ditimpakan seluruhnya pada Meisya.Jeritan pilu menggema di depan pintu bar."Aku salah, Raka. Aku benar-benar salah." Meisya merangkak mendekat, berusaha meraih kaki Raka sambil memohon ampun, suaranya serak. "Aku mohon, jangan pukul aku lagi ...."Namun, permohonan itu tak ada gunanya sama sekali. Yang menyambutnya justru hantaman tongkat besi yang lebih keras da
Beberapa menit kemudian, Raka duduk di dalam mobil, mendengarkan laporan hasil penyelidikan dari seberang telepon."Pak Raka, Nyonya mengambil penerbangan pukul delapan pagi tadi, tujuan Negara Astina.""Sekarang dia di mana? Kalau belum keluar wilayah, hubungi ATC, suruh pesawatnya balik atau mendarat di bandara terdekat. Kalau udah keluar negeri, tangkap dia pas pesawatnya baru mendarat.""Sepertinya, pesawatnya sudah mendarat dari tadi, Pak." Suara asisten itu terdengar sedikit ragu, lalu melanjutkan, "Pak Raka, saya juga menemukan beberapa hal tentang Nyonya dan Nona Meisya. Apa Bapak mau melihatnya dulu?"Raka menjawab singkat."Kirim ke sini.""Baik, Pak."Sebuah dokumen dan beberapa video segera dikirimkan. Raka membukanya.Video pertama memperlihatkan Meisya yang sedang diam-diam memasang beberapa kamera tersembunyi di ruang tamu.Video kedua memperlihatkan Meisya yang berdiri bersama para penculik di atas kapal, menampar Tiwi, sambil melontarkan kata-kata keji dengan wajah pen
Setelah mendapatkan kunci kamar, Raka segera membuka pintu dan menggeledah seluruh ruangan.Kamar itu bersih dan rapi, tanpa jejak keberadaan Tiwi sedikit pun.Dia kembali menelepon Tiwi, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.Hingga saat dia mencoba mengirim pesan berupa tanda tanya, barulah dia menyadari bahwa pesannya juga tidak bisa terkirim.Karena Tiwi telah memblokirnya.Raka melihat pesannya gagal terkirim. Amarah di dadanya langsung meledak.Dia menendang kursi hingga terlempar. Wajahnya seketika dipenuhi amarah, sementara tekanan yang terpancar darinya begitu kuat hingga terasa mencekam. Tiwi berani memblokirnya? Dari mana dia berani melakukan itu? Setelah meninggalkan hotel, Raka pulang ke rumah.Di perjalanan, Meisya meneleponnya berkali-kali, tetapi semua panggilan itu Raka tolak mentah-mentah.Sesampainya di rumah, Raka menendang pintu kamar utama hingga terbuka lebar.Dia mendapati semua barang milik Tiwi telah raib. Bukan hanya itu, Tiwi juga membuang semua barang ya







