LOGINDari dulu, aku memang memiliki watak yang lemah lembut. Jika ada yang menindasku, aku hanya bisa bersembunyi dan menangis. Pacarku, Arya Pandu, selalu merasa tidak tega melihatku disakiti dan ingin membelaku, tetapi setiap kali aku selalu memintanya untuk mengalah. Akan tetapi, sahabat masa kecilnya, Meera Gantari, justru berkata, "Diva, aku ngerti kok. Dulu aku juga sempat jadi cewek sok polos." "Cengeng dikit doang terus orang lain jadi kelihatan jahat. Dulu banyak cewek yang nempel sama Arya, kamu pakai trik ini buat dapatkan dia, 'kan?" Aku menatap Arya dengan bingung, tetapi dia hanya tersenyum acuh. "Meera emang ngomongnya gitu, kok. Dia nggak ada niat jahat." Karena perkataan tersebut, Meera makin menjadi-jadi mencari masalah denganku. Saat makan bersama, dia sengaja menyiramkan air ke bajuku. Aku sibuk mencari tisu dengan perasaan malu, tetapi dia justru meninggikan suara dan mengejek. "Arya, liat deh tingkah cewek sok polos pacarmu itu." "Bikin semua orang mengira aku sengaja nyiram air ke dia. Terus pakai baju tipis begini, mau pamerin tubuhnya ke semua orang ya?" Arya yang tadinya hendak memberikan jaketnya untuk menutupi bajuku, seketika berubah muram. Acara makan malam itu berakhir dengan suasana yang tidak menyenangkan. Setelah itu, aku sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Meera. Namun, dia justru menuduhku tidak bisa berbaur, lalu mengajak teman-temannya datang langsung mencariku. Setelah makan, Arya menyadari cincin pasangan di jari manisku sudah tidak ada. Meera mengeluarkan cincinku dari sakunya. "Ya ampun, kalau memang nggak suka aku datang, bilang aja langsung. Masa mau nuduh aku maling sih?" "Kalau aku sama Arya benaran ada apa-apa, udah nggak ada urusan lagi sama kamu. Kelakuanmu benar-benar nggak asik deh." Arya pun murka, sesuatu yang jarang sekali terjadi. "Diva, minta maaf sama Meera." Melihat sikapnya yang sudah yakin bahwa aku sengaja berbuat jahat, hatiku seketika terasa kebas. Sepertinya, hubungan kami memang sudah tidak perlu dilanjutkan.
View MoreSetelah menyelesaikan urusan dengan Meera, aku kembali ke kampung halaman.Kuceritakan seluruh kronologi kejadian kepada Ayah dan Ibu."Ayah dan Ibu merasa aku keterlaluan nggak?""Cuma gara-gara seekor anjing, aku sampai membuat seseorang dipenjara selama sembilan bulan."Ibu menjawab dengan geram, "Memangnya nyawa anjing bukan nyawa?""Belum lagi bayi di perut kamu."Aku menatap Ibu dengan terkejut.Mata Ibu seketika memerah."Maaf ya, Ibu tadi lihat obat-obatan di tasmu."Ibu memelukku dengan lembut."Anak bodoh, kamu nggak cerita karena takut Ibu khawatir, ya?"Air mataku seketika tumpah.Setelah beristirahat di rumah selama setengah bulan, aku kembali mengumpulkan semangat.Kususun resume, lalu mengirimkan lamaran kerja ke berbagai tempat satu per satu.Sambil menunggu panggilan wawancara, aku mencari gym khusus perempuan dan mendaftar beberapa sesi latihan pribadi.Kondisi fisik yang kurang prima juga bisa membuat seseorang jadi terlalu lembek.Oleh karena itu, aku berencana meng
Setelah meletakkan cangkir itu, aku mengeluarkan uang 400 ribu dari dalam tas dan melemparkannya ke dekat kakinya."Ini buat ganti rugi biaya laundry mu."Meera tak bergerak.Seluruh tubuhnya terpaku di tempat.Kedua tinjunya yang terkepal erat bahkan bergetar.Dulu, aku selalu merasa takut melihat orang lain marah.Kini, rasa takut itu masih ada sedikit, tetapi aku tetap menegakkan tubuhku.Meniru gaya orang yang memancing amarah, aku berkata."Aku saranin kamu mending pungut duit 400 ribu ini.""Kamu nggak mikir cuma gara-gara minta maaf, aku bakal batalin gugatan, 'kan?""Nggak semudah itu. Si Belang harganya 40 juta. Setelah ambil 400 ribu ini, kamu masih harus menyiapkan 39 juta 600 ribu."Selesai berbicara, aku tak lagi menoleh padanya dan melenggang pergi.Pantulan wajahnya terlihat dari kaca pintu di dekat sana.Wajah itu tampak terdistorsi oleh rasa terkejut, marah, dan takut.Arya mengejarku keluar."Diva!"Dia terengah-engah, menatapku dengan tatapan yang terasa asing.Seola
Aku kembali ke kota tempat Arya tinggal tiga hari kemudian.Aku membuat janji temu dengannya di kafe dekat stasiun kereta cepat.Dia datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan.Terlihat jelas dia telah merapikan diri dengan saksama.Mencukur janggut, menata rambut.Bahkan pakaian yang dikenakannya adalah setelan yang dulu paling kusukai.Namun, hal itu tak mampu menyembunyikan kelelahan yang menyelimuti seluruh tubuhnya.Selama tiga hari ini, dia pun tampak tidak baik-baik saja.Melihatku, dia buru-buru berdiri dan melangkah cepat menghampiriku.Seikat besar mawar champagne yang indah seketika muncul dari belakangnya.Arya menatapku dengan mata yang memerah, lalu bersuara pelan dan penuh harap."Diva, kamu tenang aja. Putik bunganya udah aku gunting satu-satu, jadi kamu nggak bakal alergi.""Soal Si Belang juga aku udah tahu. Aku salah nuduh kamu. Diva, kasih aku satu kesempatan lagi. Maafin aku, ya?""Kamu mau ganti rugi apa aja, aku kasih."Tanpa sadar, dia menggenggam tanganku."A
Di saat yang sama, kereta cepat yang kutumpangi telah tiba di stasiun.Begitu melangkah keluar dari stasiun kereta cepat sambil menyeret koper, Ayah dan Ibu langsung menyambutku.Ayah dengan sigap mengambil alih ransel dan koperku.Ibu segera mengipasiku dengan kipas tangan, lalu buru-buru menyodorkan es teh kesukaanku."Pasti capek ya naik kereta. Ayo buruan pulang terus istirahat."Sepanjang perjalanan, mereka tidak menanyakan apa pun.Seolah-olah aku hanya baru pulang liburan.Setibanya di rumah, aku sama sekali tidak nafsu makan.Ibu pun tidak memaksaku. Dia hanya menutup pintu kamarku dengan pelan."Kalau lapar, bilang Ibu ya. Nanti Ibu bangun dan hangatkan makanannya."Aku menahan isak tangis, membiarkan tubuhku mengempas ke atas kasur yang empuk.Lima tahun hubunganku dengan Arya, berakhir begitu saja. Setelah menenangkan diri cukup lama, aku bangkit dan mulai memindahkan pakaian dari dalam koper ke lemari.Baru saja membuka pintu lemari, sebuah kerudung pengantin putih tiba-ti


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.