Short
Dia Membela Sahabatnya, Aku Memilih Mengakhiri Segalanya

Dia Membela Sahabatnya, Aku Memilih Mengakhiri Segalanya

By:  TigerCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dari dulu, aku memang memiliki watak yang lemah lembut. Jika ada yang menindasku, aku hanya bisa bersembunyi dan menangis. Pacarku, Arya Pandu, selalu merasa tidak tega melihatku disakiti dan ingin membelaku, tetapi setiap kali aku selalu memintanya untuk mengalah. Akan tetapi, sahabat masa kecilnya, Meera Gantari, justru berkata, "Diva, aku ngerti kok. Dulu aku juga sempat jadi cewek sok polos." "Cengeng dikit doang terus orang lain jadi kelihatan jahat. Dulu banyak cewek yang nempel sama Arya, kamu pakai trik ini buat dapatkan dia, 'kan?" Aku menatap Arya dengan bingung, tetapi dia hanya tersenyum acuh. "Meera emang ngomongnya gitu, kok. Dia nggak ada niat jahat." Karena perkataan tersebut, Meera makin menjadi-jadi mencari masalah denganku. Saat makan bersama, dia sengaja menyiramkan air ke bajuku. Aku sibuk mencari tisu dengan perasaan malu, tetapi dia justru meninggikan suara dan mengejek. "Arya, liat deh tingkah cewek sok polos pacarmu itu." "Bikin semua orang mengira aku sengaja nyiram air ke dia. Terus pakai baju tipis begini, mau pamerin tubuhnya ke semua orang ya?" Arya yang tadinya hendak memberikan jaketnya untuk menutupi bajuku, seketika berubah muram. Acara makan malam itu berakhir dengan suasana yang tidak menyenangkan. Setelah itu, aku sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Meera. Namun, dia justru menuduhku tidak bisa berbaur, lalu mengajak teman-temannya datang langsung mencariku. Setelah makan, Arya menyadari cincin pasangan di jari manisku sudah tidak ada. Meera mengeluarkan cincinku dari sakunya. "Ya ampun, kalau memang nggak suka aku datang, bilang aja langsung. Masa mau nuduh aku maling sih?" "Kalau aku sama Arya benaran ada apa-apa, udah nggak ada urusan lagi sama kamu. Kelakuanmu benar-benar nggak asik deh." Arya pun murka, sesuatu yang jarang sekali terjadi. "Diva, minta maaf sama Meera." Melihat sikapnya yang sudah yakin bahwa aku sengaja berbuat jahat, hatiku seketika terasa kebas. Sepertinya, hubungan kami memang sudah tidak perlu dilanjutkan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku berusaha sekuat tenaga menahan isak tangis, lalu berkata.

"Di ruang tamu ada CCTV. Cek aja, nanti ketahuan siapa yang ngelakuin."

Meera dan teman-temannya justru tertawa.

"Si cewek sok polos masih aja berakting."

"Nanti kalau ketahuan benaran kamu yang ngelakuin, kamu bakal nangis-nangis lagi bilang kalau kamu ngelakuin itu karena terlalu sayang sama Arya."

"Udah, udah, aku mah orangnya pemaaf. Anggap aja aku yang ngelakuin. Arya, mulai sekarang kita jangan terlalu sering berhubungan, biar pacarmu nggak salah paham."

Sambil berkata demikian, mereka beranjak menuju pintu.

Arya buru-buru mengejarnya ke luar bahkan tanpa sempat mengganti sepatu.

Dengan tangan gemetar, aku memutar rekaman CCTV dan menemukan momen saat Meera mengambil cincinku.

Setelah Arya kembali, aku menunjukkan tangkapan layar itu kepadanya.

Namun, dia justru menepis ponselku dengan kasar.

"Udah cukup, Diva."

"Meera udah nggak mempermasalahkan itu. Lain kali jangan bikin ulah lagi, bisa nggak?"

"Persahabatanku sama dia udah terjalin lebih dari dua puluh tahun. Trik-trikmu itu nggak perlu dipakai ke dia."

Aku menunduk menatap layar ponsel yang retak, merasa seakan sebagian hatiku ikut hancur.

Perlahan aku berjongkok, memungut ponsel itu.

"Arya, kita putus."

Arya mendengus dingin.

"Ternyata yang Meera bilang emang benar."

"Gagal menjebak, sekarang pakai ancaman putus."

Aku menatapnya, untuk pertama kalinya merasa dia begitu asing.

"Arya, aku serius."

Dia mengulurkan memijat pangkal hidungnya.

"Diva, kalau kamu terus-terusan ngambek, udah nggak asik deh."

"Aku capek. Kamu juga buruan tidur. Kejadian hari ini bisa aku anggap nggak pernah terjadi."

Seusai berkata demikian, dia berbalik dan masuk ke kamar tidur seorang diri.

Aku tetap berdiri di tengah ruang tamu, tak beranjak sedikit pun.

Dulu, ketika aku merasa tersakiti dan menangis hingga larut malam tanpa bisa terlelap.

Arya akan dengan sabar menemaniku, mengusap air mataku dalam diam.

Mendengarkanku berulang kali menceritakan apa yang terjadi, lalu mengajariku bagaimana menghadapinya jika hal serupa terjadi lagi.

Dia bahkan tak segan membeli hadiah kecil dan makanan manis untuk menghiburku.

Hubungan lima tahun, ternyata tak sebanding dengan satu kalimat fitnah dari Meera.

Setelah menarik napas dalam-dalam, aku mengirimkan pesan singkat kepada Ibu.

[Tinggal di luar kota rasanya capek banget, Bu. Aku mau pulang.]

Di tengah malam buta, Ibu ternyata membalas pesan itu seketika.

[Pulang saja, Nak. Di rumah semuanya ada.]

Dia tidak bertanya apa yang telah terjadi.

Dalam kegelapan, aku kembali ke kamar dan mulai membereskan barang-barangku.

Arya sudah tertidur lelap, tetapi tangannya masih menggenggam ponsel.

Layar ponselnya tiba-tiba menyala.

Itu adalah pesan dari Meera.

[Gimana, udah berhasil dibujuk belum? Si cewek sok polos nggak maksa kamu hapus kontak aku, 'kan?]

Sejak hari pertama kami menjalin hubungan, Arya sudah merekam sidik jariku di ponselnya.

Inilah pertama kalinya aku melihat isi ponselnya.

Saat kugulir ke atas, ternyata saat aku sedang menenangkan diri di ruang tamu tadi, dia sedang mengeluh tentangku kepada Meera.

[Waktu pertama kali kenal Diva di kampus, dia tuh ngeluh mulu bilang ditindas sama teman sekelas.]

Meera membalas: [Dulu waktu aku masih jadi cewek sok polos, aku juga suka pura-pura lemah gitu biar naluri protektif cowok keluar.]

Arya mengetik lagi: [Maksudku ngenalin dia ke kalian tuh biar dia punya banyak teman. Dia tuh sering banget ditusuk dari belakang sama temannya, nggak tahunya malah jadi begini.]

Meera membalas dengan tawa: [Dia pasti nganggap kita semua sebagai saingan. Makanya dia pakai segala cara buat adu domba kita, biar kamu jadi miliknya sepenuhnya.]

Lima menit kemudian, Arya baru membalas: [Masa sih Diva benaran tipe cewek kayak gitu?]

Setengah jam kemudian, Meera menjawab, [Kamu tuh udah kejebak sama triknya. Udah ah, nggak usah dibahas lagi, ntar aku malah dibilang orang jahat.]

Arya hanya membalas dengan tiga kata: [Aku percaya kamu.]

Saat kukembalikan ponsel itu ke tempatnya, ujung-ujung jariku gemetar.

Karena dia lebih memilih memercayai gadis itu, maka aku akan pergi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status