Mag-log inPak Aaron terlihat begitu kecil dan asing di rumah yang dulu pernah menjadi istananya sendiri. Ia menyalami kerabat Bu Tiya dengan senyum kaku, sebuah pemandangan yang menyiratkan betapa dalam jurang pemisah di antara mereka setelah peristiwa itu.Tak lama kemudian pintu salah satu kamar terbuka. Linda menggandeng mempelai wanita keluar. Semua mata di ruangan itu seketika tertuju pada Zareen. Ia tampak memukau dengan kebaya modern berwarna putih gading, dengan payet-payet halus yang berkilauan tertimpa cahaya lampu. Riasannya natural. Padahal kalau Zareen dandan sendiri biasanya begitu mencolok."Pa." Zareen menyalami papanya. Kemudian duduk di samping pria itu.Tepat lima belas menit kemudian, rombongan Davin sampai. Pria itu mengenakan jas warna putih. Didampingi keluarga inti dan beberapa kerabat dekat. Adam melangkah di samping papanya dengan setelan jas warna abu-abu. Sesuai kesepakatan calon pengantin, mereka tidak mengundang mantan. "Kita mulai saja acara lamarannya, sebelum p
"Nggak usah repot-repot, Bu." Zareen tersenyum sambil menepuk punggung tangan Bu Septa yang menggenggam tangannya."Kita sholat dulu, sudah Maghrib," kata Davin. Dan Bu Septa mengajak Zareen ke ruang tengah. Memberikan mukena pada gadis itu dan mereka salat bergantian di ruangan 4X4 yang difungsikan sebagai ruang salat.Davin memang benar-benar sudah banyak berubah. Dia belajar dari kebrengsekannya di masa lalu dan harus berubah lebih baik lagi.Selesai salat Maghrib mereka duduk di ruang keluarga. "Davin sudah cerita banyak tentang kamu, Reen," ujar Bu Septa lembut. "Ibu senang sekali kalau kalian memutuskan untuk segera menikah."Zareen tersenyum sambil mengangguk pelan.Obrolan mengalir begitu saja, dari hal-hal ringan hingga rencana serius mereka. Bu Septa menyampaikan pendapat kakaknya Davin, bagaimana kalau acara lamaran nanti, sekalian dengan akad nikah saja. Toh mereka tidak menginginkan pesta mewah.Davin dan Zareen saling pandang sejenak. "Kami akan memikirkannya, Ma," jaw
KAMU YANG KUCINTAI - 94 Hari Pernikahan Pak Aaron terkesiap. Kursi kerjanya sedikit bergeser saat ia menegakkan duduknya. Ada binar bahagia yang tak bisa disembunyikan, tapi disusul rasa haru yang dalam. "Benarkah, Reen?""Iya.""Papa sangat bahagia mendengarnya. Kamu sudah menemukan jodohmu, Reen."Zareen tidak membalas antusiasme itu dengan senyuman. Ia justru melanjutkan dengan nada tegas, "Iya, Pa. Aku hanya butuh Papa untuk menjadi wali nikah nanti. Segala urusan lainnya, aku dan Mas Davin yang akan mengurus. Kami sepakat untuk lamaran dan menikah secara sederhana saja. Nggak ada pesta mewah, nggak ada undangan untuk relasi. Hanya keluarga inti dan beberapa teman dekat saja.""Papa mengerti. Papa akan ikuti keinginan kalian," jawab Pak Aaron lirih.Zareen menarik napas sejenak. "Satu hal lagi, Pa. Aku minta Papa datang sendiri. Jangan sampai mengajak wanita itu. Aku nggak akan menerima kehadirannya, dan aku nggak ingin hari bahagiaku rusak karena kedatangannya."Pak Aaron menun
Davin tersenyum. "Nggak apa-apa. Jangan pikirkan itu. Untuk usiaku sekarang, punya anak lagi bukan menjadi prioritas. Aku juga sadar dengan usia. Bisa jadi karena faktor umur, aku juga ada masalah dengan kesuburan."Zareen lega. Sebab hal ini termasuk menjadi hal yang sangat dipikirkan selama ini. Dalam pernikahan pasti ada keinginan untuk punya keturunan. Bagaimana kalau ia kesulitan untuk hamil. Selesai makan dan kembali berbelanja, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke Surabaya. Saat itu sudah jam tiga sore. Mobil melaju di jalan tol yang lumayan ramai. "Nanti aku langsung ngomong sama mamamu saja. Bagaimana?" tanya Davin sambil mengemudi."Oke," jawab Zareen sambil tersenyum. Kemudian pikirannya melayang pada kehidupan yang beberapa tahun ini terasa hancur lebur. Di mulai dari putus dari Arsel, rahasia papanya yang terungkap, kehancuran usaha keluarganya, hingga drama gundik papanya yang sempat membuat jiwanya retak. Siapa sangka, di tengah puing-puing itu, ia sekarang mene
"Beneran?" tanya Davin untuk meyakinkan diri sendiri.Zareen mengangguk mantap. "Aku juga bukan wanita sempurna. Kita bisa sama-sama berbenah dan memperbaiki diri.""Ya." Davin tersenyum lega. Mamanya pasti bahagia jika mendengar kabar ini. Sebab sang mama juga sudah menunggu sekali putra bungsunya segera menikah. "Aku akan melamarmu secara resmi dalam waktu dekat ini.""Lamaran yang sederhana saja, Mas. Yang penting ada orang tua kita saja. Kalau menikah pun, aku ingin sederhana saja. Mengundang keluarga inti sudah cukup. Nggak usah ngundang teman-teman atau relasi kerja.""Aku setuju," jawab Davin."Tapi masih ada yang belum kukatakan. Mungkin ini bisa menjadi ganjalan bagimu. Kalau Mas nggak setuju, katakan saja. Jangan hal ini menjadi bumerang di antara kita nanti.""Apa itu?" Dahi Davin mengernyit. Menatap serius wanita di hadapannya. Hatinya yang tadinya sudah lega, kini dibuat berdebar karena khawatir."Aku nggak bisa ninggalin mamaku. Karena aku satu-satunya yang beliau miliki
KAMU YANG KUCINTAI - 93 Melamar Zareen terpaku sejenak. Ia menatap Davin yang duduk dihadapannya. Pria berusia empat puluh tiga tahun yang duduk di hadapannya ini tampak serius. Tidak ada kesan bercanda dan keraguan di sorot matanya yang teduh.Bukankah ini yang selama ini diimpikan oleh Mamanya? Bisa jadi hal ini jawaban dari doa-doa sang mama setiap kali dia menyinggung soal usia."Kita bisa memulai babak baru bersama-sama," lanjut Davin.Zareen menarik napas panjang, lalu memandang di kejauhan. Di bawah sana, bukit-bukit hijau tampak seperti permadani yang dibentangkan. Namun di balik keindahan itu, pikirannya justru berkecamuk.Ia seperti trauma sekali dengan masa lalunya. Pengkhianatan dari papanya telah membuat Zareen menutup rapat pintu hatinya. Pernikahan? Baginya itu adalah kata yang menakutkan. Ia lebih memilih fokus pada karier dan menjaga sang ibu daripada harus mempertaruhkan hatinya lagi. Ia takut kecewa kembali.Zareen teringat Kimmy. Wanita itu berhasil keluar dari t
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak
Perjalanan itu hening. Kimmy memandang keluar dari jendela samping. Sementara Arsel fokus mengemudi. Meski bayangan adegan di layar lebar tadi masih sesekali melintas di benaknya. Membuat sisi liarnya terganggu. Bagaimana tidak, sejak tadi malam dia mati-matian menenangkan 'sesuatu' dalam dirinya.







