تسجيل الدخولDavin tersenyum. "Nggak apa-apa. Jangan pikirkan itu. Untuk usiaku sekarang, punya anak lagi bukan menjadi prioritas. Aku juga sadar dengan usia. Bisa jadi karena faktor umur, aku juga ada masalah dengan kesuburan."Zareen lega. Sebab hal ini termasuk menjadi hal yang sangat dipikirkan selama ini. Dalam pernikahan pasti ada keinginan untuk punya keturunan. Bagaimana kalau ia kesulitan untuk hamil. Selesai makan dan kembali berbelanja, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke Surabaya. Saat itu sudah jam tiga sore. Mobil melaju di jalan tol yang lumayan ramai. "Nanti aku langsung ngomong sama mamamu saja. Bagaimana?" tanya Davin sambil mengemudi."Oke," jawab Zareen sambil tersenyum. Kemudian pikirannya melayang pada kehidupan yang beberapa tahun ini terasa hancur lebur. Di mulai dari putus dari Arsel, rahasia papanya yang terungkap, kehancuran usaha keluarganya, hingga drama gundik papanya yang sempat membuat jiwanya retak. Siapa sangka, di tengah puing-puing itu, ia sekarang mene
"Beneran?" tanya Davin untuk meyakinkan diri sendiri.Zareen mengangguk mantap. "Aku juga bukan wanita sempurna. Kita bisa sama-sama berbenah dan memperbaiki diri.""Ya." Davin tersenyum lega. Mamanya pasti bahagia jika mendengar kabar ini. Sebab sang mama juga sudah menunggu sekali putra bungsunya segera menikah. "Aku akan melamarmu secara resmi dalam waktu dekat ini.""Lamaran yang sederhana saja, Mas. Yang penting ada orang tua kita saja. Kalau menikah pun, aku ingin sederhana saja. Mengundang keluarga inti sudah cukup. Nggak usah ngundang teman-teman atau relasi kerja.""Aku setuju," jawab Davin."Tapi masih ada yang belum kukatakan. Mungkin ini bisa menjadi ganjalan bagimu. Kalau Mas nggak setuju, katakan saja. Jangan hal ini menjadi bumerang di antara kita nanti.""Apa itu?" Dahi Davin mengernyit. Menatap serius wanita di hadapannya. Hatinya yang tadinya sudah lega, kini dibuat berdebar karena khawatir."Aku nggak bisa ninggalin mamaku. Karena aku satu-satunya yang beliau miliki
KAMU YANG KUCINTAI - 93 Melamar Zareen terpaku sejenak. Ia menatap Davin yang duduk dihadapannya. Pria berusia empat puluh tiga tahun yang duduk di hadapannya ini tampak serius. Tidak ada kesan bercanda dan keraguan di sorot matanya yang teduh.Bukankah ini yang selama ini diimpikan oleh Mamanya? Bisa jadi hal ini jawaban dari doa-doa sang mama setiap kali dia menyinggung soal usia."Kita bisa memulai babak baru bersama-sama," lanjut Davin.Zareen menarik napas panjang, lalu memandang di kejauhan. Di bawah sana, bukit-bukit hijau tampak seperti permadani yang dibentangkan. Namun di balik keindahan itu, pikirannya justru berkecamuk.Ia seperti trauma sekali dengan masa lalunya. Pengkhianatan dari papanya telah membuat Zareen menutup rapat pintu hatinya. Pernikahan? Baginya itu adalah kata yang menakutkan. Ia lebih memilih fokus pada karier dan menjaga sang ibu daripada harus mempertaruhkan hatinya lagi. Ia takut kecewa kembali.Zareen teringat Kimmy. Wanita itu berhasil keluar dari t
Kimmy merasakan kebahagiaan yang meluap di dadanya. "I love you too. Terima kasih karena Abang sudah menjadi rumah yang paling aman untukku dan anak-anak."Arsel kembali mengecup kening istrinya cukup lama. Mata mereka bersipandang penuh cinta. Kemudian kembali saling bersandar dan menyaksikan kabut dan pemandangan di kejauhan. Mereka siap menyambut tahun baru untuk melanjutkan lembaran hidup yang sudah mereka mulai dengan perjuangan yang luar biasa. Selamanya, kota Batu dan Malang akan memiliki ruang tersendiri di hati mereka. Di mana mereka mengawali sebuah kisah perjalanan yang tidak mudah. Hingga sekarang terbayar lunas oleh kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.🖤LS🖤Surabaya ...."Kamu jadi pergi?" Bu Tiya masuk ke kamar putrinya. Duduk di tepi pembaringan saat Zareen sedang memilih baju di lemari."Iya, Ma.""Jadi ke Malang?""Iya."Bu Tiya hanya mengangguk-angguk. Ia tidak mencecar dengan pertanyaan tentang status hubungan Zareen dan Davin. Sebagai ibu, ia bisa melihat k
Dengan cepat Arsel memesan tempat untuk delapan orang dewasa karena mereka juga mengajak Mbak Asih dan Mbak Sum. Kalau Mak Karti memilih jaga rumah saja. Sedangkan baby sitter-nya Kiera dan Noah juga tidak ikut. Arsel juga memesan kursi khusus untuk dua anak kecil dan baby chair untuk dua todller."Sekalian pesan menunya, Sel. Daripada nanti kehabisan," saran Bu Elok."Oke, Bu." Arsel menyebutkan semua menu yang ada di restoran itu. Keluarga yang lain pada memilih. Dan akhirnya reservasi berhasil. Mereka masih kebagian tempat duduk.Mereka ngobrol hingga tengah hari. Setelah itu makan siang bersama, lalu beranjak untuk salat zhuhur dan masuk kamar masing-masing.Di kamarnya Arsel tambah heboh. Dua bocah itu sedang asyik rebutan papanya yang berbaring di atas tempat tidur. Tawa renyah memenuhi ruangan. Kimmy hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan dua anaknya. Kiera memeluk erat kepala sang papa, sedangkan Ravi berbaring di samping Arsel dan memeluknya erat. Kiera sampai menjerit-
KAMU YANG KUCINTAI- 92 Golden Moment "Mas, aku nggak masuk kerja hari ini," kata Salsa pelan, suaranya terdengar parau di balik selimut. Pagi itu wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, dengan gurat kelelahan yang tampak di bawah kelopak mata.Yusri yang baru saja selesai mandi melangkah mendekati sisi tempat tidur. Ia menyentuh kening istrinya dengan punggung tangan. "Badanmu agak panas,. Sepertinya kamu demam? Kita langsung periksa ke dokter saja pagi ini. Mas anterin."Salsa menggeleng pelan, kemudian bangun dari pembaringan. Dengan tangan yang terasa dingin, ia merogoh saku jaket yang menggantung di dekat sandaran kepala tempat tidur.Sebuah benda kecil berbentuk pipih ia keluarkan dan diberikan tepat ke telapak tangan Yusri.Pria itu tertegun. Ia memandangi benda di tangannya sejenak sebelum matanya terbelalak sempurna. Dua garis merah yang tegas terlihat jelas di sana. Napas Yusri seolah tercekat di tenggorokan. "Kamu hamil?"Salsa mengangguk mantap, air mata haru mulai men
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak
Perjalanan itu hening. Kimmy memandang keluar dari jendela samping. Sementara Arsel fokus mengemudi. Meski bayangan adegan di layar lebar tadi masih sesekali melintas di benaknya. Membuat sisi liarnya terganggu. Bagaimana tidak, sejak tadi malam dia mati-matian menenangkan 'sesuatu' dalam dirinya.







