LOGIN"Ayo, Bang Ravi. Kasih selamat buat Mama," ujar Bu Elok.Ravi yang sedang dalam fase meniru ucapan orang dewasa, tiba-tiba membuka mulutnya. "Kimmy. Kimmy," celotehnya dengan suaranya yang lucu, sambil tersenyum pula itu.Kimmy membelalakkan mata dengan jenaka."Lho, nggak boleh panggil Kimmy, Ravi. Panggil Mama Kimmy," koreksi Bu Elok sambil tertawa geli.Ravi justru semakin bersemangat, "Kimmy. Kimmy.""Panggil Mommy saja, Mama Kimmy jadi Mommy," ucap Pak Fardhan spontan.Ravi terdiam sejenak, menatap wajah cantik mamanya yang terbingkai toga. Lalu berucap, "Mom-my. Mommy."Arsel memeluk mereka dan menciumi anaknya dengan gemas. Membuat bocah itu tertawa bahagia.Kemudian mereka berfoto bersama di spot paling ikonik. Seorang fotografer profesional yang sudah disewa Arsel mengarahkan gaya mereka. Saat itu Salsa menolak ikut. Karena merasa tak percaya diri karena yang wisuda hari itu juga teman-teman seangkatannya.🖤LS🖤Tiga bulan kemudian ...."Aku bisa terima kamu apa adanya. Apa
"Iya, Bu. Namanya Ravi. Kemarin malam baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama.""Selamat ulang tahun ya, Nak. Jadi anak sholeh dan pintar," ucap Bu Imas pada Ravi.Mereka berbincang satu jam. Kemudian Arsel mengajak pamitan. Bu Imas mengantar hingga ke dekat pagar.Mobil Arsel bergerak pergi. Kali ini melewati depan rumah yang dulu mereka tempati. Tampak di sana sudah ada penghuni baru. Beberapa pasang sepatu dewasa dan anak-anak tertata rapi di rak teras. Arsel teringat ke masa lalu. Di rumah itulah mereka belajar menerima satu sama lain."Kangen halaman rumah ini, Mbak?" tanya Mbak Asih pada Kimmy sambil memandang rumah itu."Hu um, Mbak. Kangen sama suasana dingin dan kabutnya," jawab Kimmy."Saya juga kangen dicuekin Kimmy di sini, Mbak." Arsel menimpali. Membuat mereka bertiga tertawa. Dalam batin Mbak Asih, dicueki tapi mau juga dikeloni.Ah, si kecil Ravi yang dipangku Kimmy pun ikut tersenyum sambil tepuk tangan karena semua orang dewasa pada tertawa. Padahal dia tidak
KAMU YANG KUCINTAI- 85 Mommy "Salsa sudah melahirkan bayi perempuan. Usianya sekarang dua bulan. Mama lupa mau ngomong sama kamu. Bayi itu opname beberapa waktu yang lalu di rumah sakit." Bu Wati memberitahu anaknya malam itu.Ettan yang duduk di depannya hanya terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Yang jelas mendekat juga tidak mungkin. Memang sejak awal ini juga menjadi kebodohannya. Telah memanfaatkan perasaan Salsa padanya. Padahal gadis itu sangat mencintai dan percaya padanya. Coba kalau dia tidak macam-macam. Akhirnya ia kehilangan tunangannya yang sekarang sudah menikah dengan cowok lain, ia juga kehilangan Salsa. Ettan salah mencari lawan. Bisa-bisanya dia berhadapan dengan keluarga Permana. Akhirnya semuanya hancur. Kuliahnya putus, kasus papanya di instansi terbongkar, dan hanya mamanya yang masih selamat. Sedangkan kakak perempuannya yang sudah menikah itu selalu marah-marah tiap kali bertemu dengannya. Sebab Ettan yang menjadi penyebab keluarga mereka tak harmonis l
"Malam ini kita lari sejenak dan menghabiskan waktu berdua. Semoga bulan depan kita bisa ke Pujon bertemu dokter Rin. Tepat di ulang tahunnya Ravi yang pertama.""Ya." Kimmy mengangguk pelan. Arsel membalikkan tubuh istrinya. "Malam ini, lupakan laptop itu. Lupakan revisi. Malam ini hanya ada aku dan kamu." Arsel menangkupkan tangan di wajah Kimmy, lalu mendaratkan ciuman yang lembut penuh kemesraan.Ciuman itu perlahan berubah intensitasnya. Kian membara. Arsel membimbing Kimmy menuju tempat tidur yang luas dengan sprei sutra yang dingin.Sentuhan Arsel yang lihai disambut Kimmy dengan seimbang. Hingga benar-benar tak ada jarak sehelai benang pun di antara mereka.Rasanya ingin menebus waktu beberapa bulan belakangan ini karena kesibukan masing-masing. Kalau boleh egois, Arsel menginginkan Kimmy hanya di rumah saja. Menunggunya pulang kerja sambil mengawasi anak. Tapi ia juga tidak ingin menghalangi keinginan Kimmy jika sang istri ingin merasakan bagaimana dunia kerja. Malam itu be
Salsa tersenyum. Ada getaran halus dalam dadanya. Namun buru-buru ia menyadarkan diri. Tidak boleh berlebihan menanggapi perhatian itu. Siapalah dirinya dibanding Yusri. Kisahnya kelam, sedangkan dia pria baik-baik.Segera Salsa mengetikkan balasan.[Waalaikumsalam, Mas Yusri. Alhamdulillah, Silsi sudah tidak panas lagi dan kami sudah di rumah sejak jam lima tadi. Terima kasih sekali lagi ya, Mas. Semalaman sudah menemani kami di rumah sakit.][Alhamdulillah kalau Silsi sudah sehat dan boleh pulang. Kalau belum pulang, rencananya saya mau ke rumah sakit lagi.]Salsa terdiam sejenak. Debaran di dadanya semakin hebat. Sampai jemarinya gemetar. Kemudian segera mengetik balasan. [Kami sudah di rumah kok, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak, ya.][Sama-sama, Mbak Salsa.]Setelah membalas pesan, Salsa termangu beberapa lama. Teringat sosok pria yang baru saja mengirimkan pesan. Ingat bagaimana dengan luwesnya pria itu menggendong Silsi dan menemaninya semalaman. Namun Salsa tak berani mem
KAMU YANG KUCINTAI - 84 Pertemuan Tak SengajaWanita paruh baya berseragam perawat itu berhenti dan tampak kaget. Ia mematung. Nampan di tangannya sedikit bergetar. Matanya terpaku pada Salsa yang tengah menimang bayi mungil dalam balutan selimut merah muda. Di sampingnya, ada pria berdiri tegak, membantu membenahi letak bantal dengan perhatian yang tulus. Salsa juga terkejut sejenak. Ia mengenali wajah itu. Mamanya Ettan, pria yang telah menggoreskan luka terdalam dalam hidupnya. Salsa menarik napas panjang lantas membuang pandang. Seorang tak mengenalinya. Sedangkan Yusri tak menyadari apa yang terjadi."Jadi Salsa sudah melahirkan. Bayi itu anaknya Ettan. Cucuku," batin perawat itu. "Lantas siapa pria itu? Apa lelaki yang menikahinya?" Wanita itu akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan tergesa. Masuk ke sebuah kamar perawatan. Setelah tugasnya selesai, ia segera ke ruang informasi untuk mencari tahu tentang pasien yang ada di paviliun. "Silsi Nur Salsabila Permana. Umur
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak







