LOGINPak Fardhan menatap wajah istrinya dengan saksama. Wajah itu kini semakin muram. Semenjak mereka pulang dari Kuala Lumpur setelah mengantar Salsa, Bu Elok seolah berubah menjadi orang asing. Ia sering melamun, nafsu makannya hilang, dan yang paling kentara, istrinya itu berulang kali menolak untuk bersentuhan di atas ranjang."Kita nggak akan berpisah. Kita rawat anak Kimmy baik-baik nantinya. Kimmy bisa melanjutkan kuliahnya lagi setelah melahirkan. Dan dia bisa menikah dengan Langit," ujar Pak Fardhan hati-hati. "Nggak semua lelaki punya hati sebesar Langit, Elok. Pria itu tampan, mapan, dan dia mencintai Kimmy apa adanya. Bahkan saat tahu Kimmy hamil anak lelaki lain. Kimmy beruntung mendapatkan pria seperti dia."Itu jalan keluar terbaik bagi Kimmy. Kita nggak mungkin menikahkan Kimmy dengan Arsel. Memang secara agama boleh-boleh saja, tapi ini akan jadi omongan sampai kapanpun. Mereka sebagai kakak beradik di mata publik. Bayangkan jika Kimmy mendadak muncul setelah menghilang, p
Langit juga tahu kalau selama ini Bu Elok sangat membela keluarga barunya. Pria itu membuka email. Dan semua pesan yang dikirim kepada Kimmy tak ada balasan. Ucapan selamat ulang tahunnya beberapa hari yang lalu pun tak terbaca. Lalu ia teringat sosok di mall Malang waktu itu. Benar itu Kimmy, tapi kenapa tak mau menemuinya, mungkin karena malu. Dia bukan lagi Kimmy yang dulu."Kim, bukalah email ini. Kamu akan tahu kalau aku nggak memandang siapa pun kamu sekarang. Bagiku kamu tetap Kimmy yang dulu," ucap Langit dalam hati sambil mengetik pesan. Diungkapkan semuanya di sana. Dia mencintai Kimmy dan akan menerima Kimmy apa adanya. Berharap kalau Kimmy akan membuka pesannya.Langit menghela napas berat. Ia berpikir, Kimmy pasti tidak sendirian. Pergi dari rumah dalam keadaan hamil, tentu harus punya tujuan. Pasti ada yang menemani. Tapi siapa? Dia kenal Kimmy yang tidak memiliki siapa-siapa di luar sana. Teman terdekat gadis itu hanya dirinya.Arsel, dari ucapannya seolah menantang.
KAMU YANG KUCINTAI- 59 Minyak Telon"Siapa yang nelepon?" tanya Arsel masih berdiri memandang istrinya."Dokter Rin, Bang."Arsel lega. Kemudian melangkah ke kamar untuk mandi. Sedangkan Kimmy mengangkat telepon itu di dekat jendela kaca. "Halo, assalamu'alaikum, Dok.""Wa'alaikumsalam. Dek, kamu di mana. Beberapa hari ini rumahmu sepi saat saya jalan-jalan.""Saya di Surabaya, Dok. Bang Arsel kan sakit, saya dan Mbak Asih ke apartemennya untuk menjenguk. Terus Bang Arsel nggak ngizinin saya balik ke Pujon. Sekarang saya disewakan apartment dekat unitnya. Rencananya akhir pekan ini saya ke Pujon untuk pamitan dan bertemu dengan dokter Rin.""O, gitu. Ya sudah. Saya pikir ada apa-apa. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Memang seharusnya dekat dengan suami menjelang persalinan. Kasihan juga Arsel pontang-panting Surabaya-Pujon. Sering perjalanan malam, pulang pagi. Kan khawatir kalau terjadi sesuatu di jalan, Dek.""Iya, Dok. Saya juga kepikiran kalau terjadi apa-apa di jalan. Kalau
Kimmy juga teringat semua ucapannya. Dan ia merinding. Salsa mengalami nasib yang tragis akhibat ulahnya sendiri. Apa dia ada pikiran untuk mengakhiri hidupnya?"Dulu Papa bilang kalau anak ini harus digugurkan, tapi beliau nggak berani melakukan itu pada Salsa. Takut terjadi apa-apa. Aku memang anak tiri dan beliau ingin melindungi putranya sendiri. Bahkan mamaku pun nggak bisa berbuat apa-apa." Kimmy tersenyum getir. Hatinya kembali pedih.Arsel sangat terasa dengan ucapan itu. Ia mengeratkan pelukannya. "Kamu punya Abang, Kim. Apapun yang terjadi kita tidak akan saling meninggalkan. Abang tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dan anak kita. Kalau setelah anak kita lahir dan kamu tidak ingin tinggal di kota ini. Mari kita menjauh. Asal kamu merasa tenang."Air mata Kimmy meleleh. Ia meringkuk dalam dekapan suaminya.🖤LS🖤Seminggu kemudian ....Akhirnya tiba juga keberangkatan Salsa ke Kuala Lumpur. Pak Fardhan, Bu Elok, Salsa, dan Arsel memasuki area keberangkatan Internasio
Wajah Pak Fardhan memerah. Kalimat itu menusuk tepat di hatinya. "Jangan bicara begitu. Aku nggak pilih kasih. Kamu lihat sendiri betapa stresnya aku menghadapi semua ini. Aku juga ingin Kimmy ketemu. Percayalah, semua orang kepercayaanku mencarinya."Kemudian hening. Bu Elok menatap keluar jendela. Pak Fardhan masih menggenggam jemarinya.🖤LS🖤Kimmy baru saja meletakkan sisirnya saat Arsel masuk kamar malam itu. Arsel memeluknya dari belakang. Hembusan napasnya terasa hangat di puncak kepala Kimmy. Pikirannya sedang gelisah dan dilema sejak siang tadi. Setelah pertemuannya dengan Langit. Ia tidak siap ditinggalkan istrinya jika Kimmy tahu kalau Langit bisa menerima kondisi Kimmy apapun adanya. Tidak semua lelaki berbesar hati seperti Langit. Apalagi dia itu tampan, anak orang kaya. Mau cari cewek gampang.Arsel teringat saat Kimmy bilang, dulu punya rencana setelah melahirkan ingin memberikan anaknya pada Arsel lalu pergi menjauh. Arsel merasa terancam. Ia takut jika Kimmy tahu La
KAMU YANG KUCINTAI- 58 Pindah "Maaf, aku pergi dulu." Arsel berbalik meninggalkan Langit yang masih mematung dengan kepalan tangan yang bergetar. Kalau ini bukan tempat umum, mungkin Langit tak bisa menahan diri. Dan ia juga sadar kalau bertindak kasar, hanya akan membuat nama keluarganya tercoreng. Dan ini bisa dimanfaatkan oleh ibu tirinya untuk menyingkirkannya. Langit harus hati-hati. Menemukan Kimmy sekaligus menjaga nama baik papanya yang kini mulai sadar keadaan.Langit bangkit dari duduknya kemudian memesan makanan.Sementara Arsel kembali duduk di kursinya. Zareen memandang dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada urusan apa Arsel dengan pria itu. Sepertinya ada masalah serius melihat wajah keduanya terlihat menegang. Ini bukan masalah pekerjaan. Kalau tidak salah dengar, mereka tadi menyebut nama Kimmy. "Siapa cowok itu?" tanya Zareen."Teman," jawab Arsel singkat.Meskipun penasaran, Zareen tidak mengorek keterangan lebih dalam lagi. Ia tahu kalau Arsel tidak suka dicampuri
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S







