LOGINSuasana mendadak menjadi lebih menegangkan. Langit tertegun. Tangannya yang baru meraih gelas teh agak bergetar. Omnya benar. Ia yakin papanya pasti bisa menduga di mana keberadaannya. Namun sengaja tidak mencari."Papamu sengaja membiarkanmu. Karena kamu menentang mama tirimu. Mas Ndaru nggak mencarimu bukan karena nggak tahu, tapi karena dia nggak peduli.""Sepertinya Om benar." Langit mengangguk sedih. Kekecewaan yang selama ini ia tahan kini meluap menjadi rasa getir yang teramat sangat. Seorang papa yang tahu anaknya pergi namun memilih untuk diam. Sungguh kejam.Bu Mery menyadari perubahan raut wajah keponakannya. "Tapi kamu jangan khawatir, kamu masih punya kami. Tentang Kimmy, Tante doakan suatu hari nanti kamu akan bertemu dengannya.""Ya, makasih, Tan." Langit mengangguk pelan. Tentu saja Bu Mery sangat mengerti bagaimana perasaan Langit pada gadis bernama Kimmy. "Tante paham perasaanmu padanya. Tapi Jangan sampai kamu mempertaruhkan kariermu. Karena itu juga demi masa depa
"Baru pulang, Sal?" tanya Arsel dengan tatapan penuh selidik. "Hai, Bang. Sudah lama nyampainya?" Salsa mencoba tersenyum, tapi sudut bibirnya bergetar. "Baru saja. Dari mana kamu?""Habis jogging di CFD, Bang." Gadis itu mengambil gelas untuk minum.Arsel bukan pria yang mudah dikelabui oleh Salsa. Dahinya mengernyit saat menangkap sebuah kejanggalan. Ia memperhatikan sang adik dari ujung kepala hingga kaki. Rambut Salsa yang dikuncir kuda masih tertata sangat rapi, tak ada satu pun helai rambut yang lepek karena peluh atau tertiup angin. Bedak tipis di wajahnya pun masih menempel sempurna, tanpa noda luntur yang biasanya ditinggalkan oleh sisa keringat di bawah terik matahari Surabaya.Paling mencolok adalah aromanya. Saat Salsa berdiri dalam jarak dua meter, tak ada bau keringat orang yang baru saja berlari berkilo meter. Wangi dari parfum floral yang mahal justru menguar dari tubuh gadis itu, masih begitu segar."Olahraga macam apa yang tidak menyisakan setetes pun keringat di b
KAMU YANG KUCINTAI- 38 Ditunda Pak Fardhan diikuti Bu Elok bangkit dari duduknya menuju ruang tamu. Di depan pintu, berdiri Zareen yang tersenyum ramah. "Selamat pagi, Om, Tante. Maaf mengganggu di hari Minggu.""Pagi, Reen. Nggak apa-apa. Ayo, masuk," jawab Pak Fardhan ramah.Gadis berpakaian kasual itu menyalami Pak Fardhan dan Bu Elok. Tangannya memegang map warna cokelat. Mereka berbasa-basi beberapa saat. Zareen sempat menanyakan tentang Salsa. Pak Fardhan bilang kalau Salsa sedang pergi ke car free day."Tadi saya ada keperluan keluar. Jadi sekalian saja mampir. Ini berkas proyek untuk bulan depan. Seharusnya besok di antarkan saja ke kantor. Tapi karena besok subuh saya harus ke luar kota untuk urusan mendadak, jadi sekalian saya antarkan sekarang saja." Zareen memberikan alasan yang masuk akal, padahal untuk menutupi motif aslinya. Ia ingin tahu tentang Arsel.Namun saat masuk ke halaman tadi, ia melihat mobil pria yang ia cintai, ada di sana. Lantas apa Linda salah lihat t
Sedangkan Kimmy sendiri juga masih menyimpan banyak pertanyaan. Kenapa sikap Arsel begitu dingin saat ia datang ke rumah itu. Padahal waktu pertama kali di sana, Kimmy ingin menyapanya. Melihat Arsel dengan sikap tak peduli, membuat Kimmy menjadi takut dan akhirnya selalu menghindarinya.Pasti sejak awal Arsel tidak suka dengan kehadirannya dan sang mama. Seperti dirinya yang sebenarnya menolak dengan pernikahan mereka. Namun Arsel bisa begitu manis memperlakukannya sekarang ini. Mungkin memang bentuk tanggung jawab, tapi bisa seperhatian ini sekarang. "Berdamai dengan kenyataan dimulai dari dirimu sendiri, Dek. Seperti yang pernah aku lakukan dulu pada Mas Daffa. Nggak ada salahnya memberikan kesempatan pada orang yang paling menghancurkan hati kita. Yang penting dia bersungguh-sungguh untuk berubah."Seperti Arsel, bisa loh dia nggak perlu nikahi kamu. Kalau khawatir menggugurkan, dia bisa mengasingkanmu tanpa menikahimu. Yang penting dia bertanggung jawab. Dia punya uang, nggak su
Suasana hening kembali. Kimmy meraih setangkai demi setangkai buah cherry dari mangkuk. Meninggalkan jejak lelehan air di sudut bibirnya. Perhatian Arsel berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ada rasa gemas yang tiba-tiba menyerang dadanya dan menarik seluruh kewarasannya.Saat Kimmy hendak meraih tisu, Arsel mencondongkan tubuhnya. Jemarinya meraih dagu Kimmy. Lantas mengecup sudut bibir Kimmy yang masih menyisakan rasa manis buah cherry. Sentuhan itu memberikan getaran yang membuat Kimmy terpaku. Ia bisa menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan wangi buah segar.Melihat Kimmy tak menolak, Arsel membopong tubuhnya ke pembaringan mereka. Tatapan mata saja sudah cukup untuk bicara, Arsel menginginkan istrinya dan Kimmy menerima. Buktinya ia pasrah. Arsel sudah berkorban banyak dan bertanggung jawab padanya, ia harus membalasnya.Selimut tebal menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa malam itu. Arsel lupa dengan peringatan Kimmy, sedangkan Kimmy sendiri tak kuasa menola
KAMU YANG KUCINTAI - 37 Lupakan Masa Lalunya Zareen segera menelepon Linda. Dia tak sabar kalau harus mengetik balasan pesan. "Halo, Reen.""Kamu yakin itu Arsel?" tanya Zareen untuk meyakinkan."Iya. Aku nggak mungkin salah lihat. Walaupun dia pakai masker, tapi aku tahu kalau dia Arsel. Posturnya aku hafal banget lah dengan cowokmu itu. Cuman aku sambil gendong anakku, jadi nggak sempat ngambil gambar. Waktu kukejar, dia sudah menghilang entah ke mana.""Perempuan itu bagaimana?" Zareen bertanya dengan rasa penasaran yang membuncah. Dadanya terasa penuh oleh rasa kecewa, cemburu, dan sakit. Air mata terus merambat ke pipi."Kamu lebih tinggi dari dia. Tubuhnya ramping. Cuman aku nggak bisa melihat wajahnya seperti apa. Dia mengenakan jilbab dan masker."Zareen terdiam. "Sebenarnya hubungan kalian bagaimana sih, Reen? Aku kaget loh. Masa iya Arsel yang kelihatan cool dan nggak neko-neko itu selingkuh darimu.""Kami sudah putus," jawab Zareen lirih. Lantas menceritakan tentang per
Mereka melangkah mengikuti pelayan naik ke lantai dua. Ternyata Arsel reservasi menggunakan nama tengahnya, Ravensa. Pria bernama lengkap Arsel Ravensa Permana itu tentu saja sangat berhati-hati. Sebab hal sekecil apapun bisa saja membuat orang lain bisa menemukannya. Tidak banyak yang tahu nama te
"Bagaimana, Kim?" tanya Arsel dengan tatapan lekat.Kimmy menghela napas pelan. "Terserah," jawabnya lirih. "Aku sudah nggak punya pilihan lain, bukan? Ada orang yang ingin membunuh anak ini, dan di hadapanku ada orang yang ingin mencuci dosanya dengan menjadi pahlawan. Lakukan saja apa yang ingin
KAMU YANG KUCINTAI - 14 Sebuah Rencana "Jadi kamu beneran hamil atau pura-pura hamil supaya Bang Arsel tanggung jawab?" Salsa bertanya dengan nada sinis, saat ia menuruni tangga dan bertemu dengan Kimmy yang baru dari kamar mandi."Teman-temanmu pasti pada heboh kalau tahu kenyataannya," lanjut
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju




![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


