Share

Bab 6

last update Terakhir Diperbarui: 2022-07-16 19:50:30

Karena Kita Orang Miskin (6)

Cukup lama aku berdiri mematung sebelum memberanikan diri untuk membuka pintu. Entah mengapa, perasaanku tak enak. Seolah sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Nah, ada juga orangnya," ucap ibu mertuaku saat pintu terbuka.

Segera saja kupersilakan beliau dan orang yang bersamanya untuk masuk.

"Ada apa, ya, Bu?" tanyaku setelah meletakkan nampan berisi teh dan cemilan.

"Kamu tadi abis dari pujasera, ya, Ratna?" tanya ibu mertuaku.

Sontak saja aku terkejut akan pertanyaannya. Dari mana beliau bisa tahu secepat ini? Aku sudah siap sebenarnya bilamana beliau tahu, tapi tidak secepat ini.

"Iya, Bu." Aku menjawab pelan sekali sambil menunduk.

"Bener berarti dia, ya, Mbak?" Ibu mertuaku bertanya pada orang di sampingnya. Orang itu mengangguk.

"Ada apa sebenarnya, Bu? Saya belum mengerti," kataku.

"Mbak Ani ini tadi ke rumah Ibu. Katanya dompetnya hilang pas makan di Pujasera tadi siang. Ada yang ngasih tau kalau yang duduk dekat dia itu anak Ibu. Makanya tadi dia ke rumah Ibu. Tadi Ibu sama Lulu memang ke sana. Tapi kita nggak makan. Nggak mungkin kalau itu Dinda, kan dia lagi nengokin mertuanya di Jakarta. Jadi, kemungkinan itu kamu. Ternyata bener," jelas ibu mertua.

Duh, bisa-bisa aku kena semprot lagi nanti. Padahal aku sama sekali tidak mencuri. Begitu juga dengan anak-anakku. Meski hidup kami serba kekurangan, aku selalu menekankan agar anak-anakku jangan sampai membuat hal yang buruk seperti mencuri.

"Jadi, maksudnya gimana, Bu?" Aku bertanya untuk memperjelas.

"Maaf, Mbak. Saya kehilangan dompet waktu makan tadi. Barangkali Mbak ada lihat atau nemuin dompet saya," kata orang yang disebut mertuaku dengan Mbak Ani.

"Saya nggak lihat, Mbak. Sama sekali saya nggak lihat. Saya juga nggak merhatiin Mbak di sana tadi." Aku menjawab tegas.

"Tapi, tadi Mbak tuh gerakannya mencurigakan banget, loh."

Mendengar itu, ibu mertuaku menatap nyalang kepadaku.

"Ratna?" ucapnya.

Aku menggeleng.

"Saya nggak nyuri, Mbak. Sumpah. Saya sama sekali nggak ada nyuri dompet Mbak." Aku membela diri.

"Terus, kalau bukan Mbak, siapa?"

Tatapan ibu mertua semakin tajam. Sudah pasti aku akan mendapat "nasehat" lagi nanti. Ya Allah ....

"Mbak tolong balikin, ya, dompet saya."

"Saya beneran nggak bawa dompet Mbak, kok."

"Sudahlah, Ratna. Kalau kamu yang ambil, balikin sekarang! Jangan sampai urusannya makin panjang," sela ibu mertuaku.

"Bu ... Ratna nggak nyuri!" Aku menegaskan. Tak tahan dengan tuduhan tak beralasan ini.

"Kalau Mbak emang nggak mau ngaku juga, terpaksa saya bawa kasus ini ke kantor polisi!" Mbak Ani mencoba mengancam. Bukannya membelaku, ibu mertua malah mendukung langkah Mbak Ani.

Ya Allah ... apa yang harus kuperbuat untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah?

Ah, ya. Bukti. Bukti apa yang dia punya untuk menjeratku?

"Mbak punya bukti kalau saya yang ambil dompet Mbak Ani? Kalau ada buktinya, saya bersedia diadili. Kalau tidak, jangan harap saya tinggal diam."

Aku harus membela diri! Kalau tidak, bisa terus aku dipojokkan dan dituduh tanpa bukti kuat.

Mbak Ani tampak salah tingkah saat kumintai bukti. Sementara ibu mertuaku malah memarahiku karena itu.

"Sudah, jangan ngelak kamu, Ratna! Tadi kata Lulu dia lihat kamu sama anak-anakmu naik becak bawa barang banyak. Iya, kan?" selidik ibu mertuaku.

"Ratna beneran nggak nyuri, Bu!"

"Lalu, uang dari mana kamu bisa belanja banyak? Kalian juga habis makan di Pujasera, kan?"

"Iya, Bu. Tapi saya nggak ada nyuri uang Mbak ini! Saya berani sumpah," ucapku.

"Halah ... nggak usah sumpah-sumpahan segala! Wong buktinya sudah jelas."

Saat aku dan ibu mertua masih sibuk berdebat, sebuah panggilan masuk ke ponsel Mbak Ani.

Setelah menerima telepon yang entah dari siapa, Mbak Ani meminta maaf padaku karena sudah salah tuduh. Dia juga bahkan berkali-kali memohon agar aku tak melaporkannya perihal tindakan tidak mengenakan yang dilakukannya padaku.

Aku yang memang tak suka cari perkara dengan orang, mengiyakan saja pintanya. Lagipula, aku tak mau buang-buang waktu untuk sesuatu yang kurang bermanfaat. Bukankah memaafkan lebih baik? Allah saja bisa memaafkan hambanya, kenapa aku tidak?

Memang aku sempat merasa sakit hati karena tuduhan tadi, tapi tak apa. Yang penting aku tidak berlaku sedemikian yang dituduhkan. Biarlah asal masalah ini cepat selesai. Karena aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

"Sekali lagi, saya minta maaf, ya, Mbak Ratna," ucap Mbak Ani sebelum pamit pulang.

"Iya, nggak apa, Mbak. Saya maafin, kok."

"Terima kasih, Mbak. Saya pamit dulu."

"Iya, hati-hati, Mbak."

Mbak Ani yang tadinya datang bersama mertuaku, kini pulang sendiri. Sementara ibu mertua tak langsung pulang.

"Ada yang mau Ibu tanyakan sama kamu," bisik mertuaku saat kami mengantar Mbak Ani ke teras rumah.

Duh ... ada apa lagi ini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Karena Kita Orang Miskin   Bab 41b

    Karena Kita Orang Miskin (41b)Meski sedikit sulit, aku mencoba untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi pada kami hingga hari itu. Sepanjang hari Mas Dadang memilih menemaniku pergi ke pantai untuk melepaskan rasa sesak yang menghimpit dada karena mengingat semua peristiwa buruk yang pernah menimpa keluarga kami. Urusan catering dan jualan lainnya kami percayakan pada Ratri dan karyawan lainnya. Anak-anak juga tidak rewel meminta ikut, jadi aku bisa pergi berduaan dengan Mas Dadang.Dua minggu kemudian, Mas Bambang meminta kami menemaninya untuk menemui Bulek Ima demi meminta restu meminang Ratri. Kami sekeluarga pergi bersama. Anak-anak kami bawa serta karena hari itu bertepatan dengan libur sekolahnya.Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Bulek Ima sangat senang dengan pinangan Mas Bambang. Sesuai rencana, satu bulan setelah lamaran itu akan diadakan akad nikah dan resepsi di kampung halaman. Setelah itu, Mas Bambang akan membawa Ratri serta ibunya untuk tinggal di rumahnya.A

  • Karena Kita Orang Miskin   Bab 41a

    Karena Kita Orang Miskin (41)Pagi-pagi sekali, Mas Dadang mengajakku berkunjung ke rumah Mas Mamat. Sudah pasti tujuannya untuk menanyakan ke mana larinya hak suamiku yang harusnya diberikan sejak tiga tahun yang lalu itu. Karena hingga detik ini kami belum merasa menerima barang sepeser pun."Assalamualaikum ...." Mas Dadang mengucap salam setelah ketukannya di pintu rumah tak mendapat jawaban.Cukup lama sampai salam kami dibalas. Mas Mamat yang membukakan pintu tampak terkejut dengan kedatangan kami. Akan tetapi, dia berpura-pura tersenyum. Aku tahu itu karena gelagatnya yang mencurigakan seperti dulu waktu dia baru pulang dari perantauan.Kami dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya. Sementara dia pamit ke belakang untuk menyiapkan sajian. Sebenarnya, kami sudah menolak untuk dijamu, tetapi dia tetap bersikukuh bahwa tamu adalah raja. Jadi, kami biarkan saja dia berlalu dan menghilang di balik kain pintu pembatas dapurnya.Kami menunggu cukup lama hingga dia muncul k

  • Karena Kita Orang Miskin   Bab 40b

    Karena Kita Orang Miskin (40b)"Bener, Dek?" Aku bertanya pada Ratri.Dia mengangguk seraya tersenyum malu."Iya, Mbak," katanya."Mas Bambang ngajak serius setelah kami dekat dua minggu yang lalu, Mbak," lanjut Ratri."Boleh, kan, Mbak?" tanyanya kemudian.Aku mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Aku kenal Mas Bambang. Pria itu baik dan bertanggung jawab. Ya, walaupun aku pernah ditinggalkannya tanpa kabar.Biarlah itu menjadi masa lalu. Mungkin itu hanya sebab dan pertanda bahwa dia bukanlah jodohku. Sekarang, dia berniat serius dengan Ratri. Semoga dia bisa membahagiakan adik sepupuku itu."Alhamdulillah ...." Mas Bambang dan Ratri menjawab bersamaan.Hal itu membuat aku dan Mas Dadang tersenyum."Mirip kita dulu, ya, Bu?" bisik Mas Dadang.Aku jadi mengingat kejadian serupa di masa dulu. Ketika Mas Dadang datang memintaku pada almarhum Kakek."Iya, Yah," balasku seraya menahan tawa karena mengingat kejadian serupa."Rencananya, saya mau minta tolong ditemani kalian untuk min

  • Karena Kita Orang Miskin   Bab 40a

    Karena Kita Orang Miskin (40)Segera aku berjalan ke arah Ratri yang tampak sedang asik berbincang dengan beberapa orang di dalam toko bangunan milik Mas Bambang. Mas Dadang yang berjalan di sampingku selalu mengingatkan, "Kontrol emosi, ya, Bu. Ini tempat umum. Apalagi pemiliknya kita kenal." Sementara aku menanggapinya hanya dengan berdeham."Dek ...." Aku menegur Ratri seraya menyentuh pundaknya. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku tadi. Ratri langsung menengok dengan wajah pias."Mbak ...," katanya seraya menunduk.Di sana ada Mas Bambang yang tersenyum ramah padaku dan Mas Dadang."Datang juga kamu, Bro," sapa Mas Bambang pada suamiku."Iya, Bang. Maaf baru pulang dari rumah sakit soalnya," jawab Mas Dadang.Selanjutnya, mereka terlibat obrolan panjang yang dimulai dari kabar kesehatan Rindi. Sedangkan aku dan Ratri masih saling diam. Sesekali kami bersitatap. Namun, secepat kilat Ratri akan mengalihkan tatapannya setelah itu.Mas Bambang mengajak kami masuk ke ruangan pri

  • Karena Kita Orang Miskin   Bab 39

    Karena Kita Orang Miskin (39)Segera saja kukantongi benda yang kutemukan itu. Akan kumintai penjelasan bila Ratri datang nanti. Apa penyebab benda ini ada di kamarnya.Selama ini, aku mengenal Ratri sebagai gadis baik-baik. Hanya saja perubahan sikapnya pada Mas Dadang dua minggu belakangan ini saja yang aneh. Selebihnya, aku tidak melihat hal mencurigakan dari adik sepupuku itu.Namun, benda yang kutemukan ini seperti mematahkan penilaianku. Bila bungkus ini ada di kamar Ratri, berarti dia pernah menggunakannya. Berarti, dia pernah melakukan hubungan intim dengan laki-laki hingga takut hamil.Astaghfirullah ....Sungguh, aku benar-benar tak menyangka dengan temuanku ini. Bisa-bisanya Ratri seperti ini. Bagaimana tanggapan Bulek Ima nantinya kalau tahu Ratri seperti ini saat berada dalam pengawasanku. Entah apa yang akan kujelaskan nanti pada Bulek Ima tentang ini seandainya hasil dari alat tes yang digunakan Ratri menunjukkan garis dua.Aku menanti kedatangan Ratri dengan cemas. Sam

  • Karena Kita Orang Miskin   Bab 38

    Karena Kita Orang Miskin (38)Akibat dari perebutan harta warisan, hubungan kami dengan keluarga Mas Dadang kembali berantakan. Mas Dadang yang menolak untuk membicarakan perihal pembagian warisan adalah penyebabnya. Bukan tanpa sebab Mas Dadang menolak hal itu. Melainkan hanya untuk menghormati mendiang ibunya yang tanah makamnya belum juga kering.Namun, bukannya disambut baik, Mas Dadang malah dimusuhi. Suamiku bahkan diancam tidak mendapat bagian warisan oleh saudara-saudaranya. Tak kusangka, Mbak Lulu pun bersikap demikian.Akhirnya, Mas Dadang memilih mengalah. Suamiku itu pun tak mau menuntut haknya. Lebih baik kami berusaha sendiri untuk mencapai kesuksesan, prinsipnya.Alhamdulillah, semakin hari, usaha kami kian lancar. Utang-utang kami di bank pun sudah lunas. Begitu juga dengan cicilan di tempat lainnya.Aku juga bisa menambah karyawan untuk membantuku. Salah satunya adalah Ratri--adik sepupuku. Aku mengajaknya kerja atas permintaan Bulek Ima--ibunya Ratri, adik dari almar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status