Share

Karena Mertua Serakah, Suamiku Diam-diam Menikah
Karena Mertua Serakah, Suamiku Diam-diam Menikah
Author: Diganti Mawaddah

1. Dapat Bonus

"Bonus lembur Abang cair, Neng," kata suamiku dengan wajah riang. Aku terdiam sebentar dengan  mulut setengah terbuka. 

"B-beneran, Bang?" suamiku mengangguk semangat. Senyumku pun ikut mengembang juga, diiringi ucap syukur di dalam hati. Ia meletakkan tas ransel di balik pintu kamar kami. Senyumnya begitu lebar, sejak turun dari motor tadi, sampai di kamar ini pun masih terus senyum. 

"Alhamdulillah ya, Bang. Satu bulan cairnya?" tanyaku lagi masih terus memandangnya atusias. Susu hamil yang biasa aku minum sudah habis. Rabu nanti pun aku jadwalnya USG, sehingga perlu uang lebih saat periksa rabu nanti. Tentu saja mendengar bonus lemburan suamiku cair, hati ini begitu senang dan lega. 

"Tiga bulan, Neng. Delapan ratus dikali tiga. Dua juta empat ratus." 

"Alhamdulillah, kebeneran susu hamil Neneng habis, Bang. Rabu juga mau USG harus bawa uang lebih dari biasanya. MasyaAllah reje.... "

"Uangnya udah Abang kasih ke mama semua, Sayang," sela suamiku dengan senyum kaku. 

"Apa? Dikasih ke mama? T-tapi... Bang, ini.... " Aku sampai bingung harus mengatakan apa. Jantungku berdetak cepat serentak dengan keadaan hati ini yang bagaikan tengah diremas kuat. Sakit, aku sakit hati 

"Mbak Novi dua hari lalu bilang, kalau mama mau ke dokter karena diare. Terus pampers juga boros karena sakit itu. Jadi Abang kasih semua ajalah dari pada Abang bingung ditagih terus." Bang Rizal menghampiriku, lalu duduk di sampingku yang saat ini sudah tidak bersemangat lagi. Air mata ini tanpa permisi langsung turun membasahi pipi. Bang Rizal menatapku bingung. 

"Neng, kamu marah Abang kasih uang sama mama?" tanyanya dengan intonasi tidak terima. Aku tertawa miris. Pandangan ini berkabut karena air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. 

"Apa selama ini saya pernah marah berapa pun uang yang Abang kasih ke sana? Nggak, kan! Tapi ini bonus Abang, harusnya bisa untuk si Dedek.... " tersedu-sedan aku menangis. Rasanya masih tidak terima dengan yang dilakukan oleh suamiku. 

"Sama saja, itu tandanya kamu gak suka Abang kasih mama!" 

"Seharusnya Abang gak kasih semua. Sebagian Abang bisa kasih istri Abang yang lagi hamil ini. Dari kemarin ingin makan buah kiwi, berharap bisa kebeli dari bonus Abang, tapi.... "

"Itu hanya maunya kamu, bukan si bayi. Udahlah, masalah gini aja sampai nangis. Besok beli itu buah kiwi. Emangnya uang belanja udah habis banget?" aku tidak mau menjawab. Kaki ini lebih memilih keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Aku pura-pura masuk kamar mandi untuk buang air kecil, padahal di dalamnya aku menangis. 

Bukan aku tidak bersyukur. Jatah belanja satu bulan satu juta rupiah untukku tidak pernah aku keluhkan. Bahan masak setiap hari, sembako, listrik, iuran RT, susu hamil, periksa dokter, semua di situ. 

Mertuaku mendapat jatah dua juta setengah dari suamiku. Untuk makan satu juta dan untuk upah kakak sepupunya yang mengurus mertuaku yang lumpuh, sebesar satu juta setengah, tetapi tidak cukup sampai di situ saja, ada lagi biaya tambahan ini itu yang diminta mama dan Mbak Novi pada Bang Rizal, sehingga untukku benar-benar hanya sisanya saja. 

"Assalamu'alaikum, Mbak Novi!" Suara pedagang daster keliling langgananku terdengar berseru di depan rumah. Lekas aku mencuci muka, lalu mengeringkan dengan cepat. 

"Mbak Novi!" Serunya lagi. 

"Iya, sebentar." Aku berjalan cepat masuk ke kamar untuk mengambil uang dua ribu rupiah di dalam dompet. 

"Siapa?" tanya Bang Rizal saat aku hendak keluar kamar. 

"Tukang daster keliling," jawabku datar tanpa semangat. Hanya gumam 'oh' yang aku dengar sebelum pintu kamar aku tutup kembali. Kang Jaya sudah duduk di teras rumahku sambil mengibaskahln topinya di depan wajah. Aroma pekat matahari langsung menyeruak ke hidungku saat membuka pintu. Aroma Kang Jaya tukang daster keliling membuatku pusing dan mual. 

"Buset dah, Kang, habis main di comberan apa, bau banget!" tangan kiriku memencet hidung, sedangkan tangan kanan mengulurkan selembar uang dua ribu pada Kang Jaya. Sisa belanja yang memang sengaja aku sisihkan untuk membayar tiga lembar daster yang aku beli di Kang Jaya. 

"Seharian keliling, Mbak. Wajar bau. Kalau masih bau comberan berarti saya sehat, kalau udah bau kuburan, baru itu tanda-tanda." Aku tergelak mendengar leluconnya. 

"Utang saya berapa lagi?" tanyaku. Pria itu melihat buku catatan utang warga. 

"Neng, masuk!" Suara Bang Rizal terdengar tak senang. 

"Sebentar," jawabku malas. 

"Masuk kata saya!" Kang Jaya sampai membeku di tempatnya. Lekas pria itu lari terbirit-birit keluar dari teras rumahku. Aku pun masuk ke dalam rumah dengan wajah masam. 

"Kamu itu lagi hamil, Neng, kenapa ganjen sama tukang daster?"

"Hah? Ganjen? Saya bayar cicilan utang daster, Bang. Ganjen dari mana?" aku tidak percaya menatap wajah suamiku. 

"Mulai besok sampai seterusnya, kamu gak perlu nyicil daster."

"Alhamdulillah, berarti mulai besok dan seterusnya, baju daster saya Abang yang belikan ya?" tanyaku diiringi senyuman. 

"Pakai uang bulanan satu juta yang saya kasih saja. Memangnya gak cukup?" tangannya sudah menarikku masuk ke dalam kamar. 

"Nggak cukup. Kalau cukup, saya gak bakalan nyicil baju." 

"Ya sudah, gak usah pake baju aja di rumah. Kan sama suami ini." Bang Rizal sudah membuka kancing baju dasterku. Nampaknya ia ingin meminta jatah ranjang. 

"Abang sedang ingin. Satu kali yuk!" Semua kancing daster butut ini sudah terlepas. 

Aku menahan tangannya, saat ini hendak menyentuh perutku yang sudah membuncit di usia kehamilan enam bulan. Kutatap wajah suamiku dengan lekat. Seakan-akan saat ini aku tengah menantangnya. 

"Minta balik bonus Abang sama mama. Satu juta saja, saya gak butuh semua. Gimana?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status