Share

3. Di Rumah Mertua

"Loh, Neneng ikut kemari, tumben!" Mbak Novi menyambutku dengan senyuman yang aku tahu sekali, senyuman itu palsu. Entah apa yang ia tidak suka dariku, yang jelas auranya begitu menyeramkan bila aku datang berkunjung. 

"Iya, Mbak, katanya kangen mama. Jadi sekalian bareng saya. Kelar sarapan, saya berangkat kerja, Neneng mungkin masih di sini dulu." Jawaban Bang Rizal membuat Mbak Neneng mengangguk. Kami pun masuk ke dalam rumah mertuaku yang cukup luas. Rumah dalam keadaan rapi, serta harum pembersih lantai. 

Ubin kotak-kotak putih itu begitu mengkilap dan kesat. Ini pertanda Mbak Novi benar-benar menyapu dan mengepelnya. Aku saja bisa bercermin di ubin karena terlalu licin dan mengkilapnya.

"Mama mana?" tanya Bang Rizal pada Mbak Novi. 

"Ada di kamar, baru aja saya mandikan." Wanita itu menjawab sambil lalu. Aku dan Bang Rizal masuk ke kamar mama. Sebelumnya sudah kuniatkan dalam hati untuk berani meminta uang bonus Bang Rizal sebagian. Usaha dulu saja, kalau tidak dapat, aku bisa bilang apa. Gak mungkin aku mendoakan mertuaku lekas ketemuan sama Malaikat Maut'kan? 

"Ma," panggil Bang Rizal lembut. Ibu mertuaku sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menoleh menatap kami berdua. 

"Loh, kamu kenapa kemari? Masih pagi loh, Neng. Udah keluyuran aja!" Ibu mertuaku mengeluarkan kalimat yang begitu menggoda. Kupingku panas, hati ini pun panas, tetapi aku tahan agar pantatku tidak ikutan panas, sehingga mampu mengeluarkan suara dan bunyi panas dari sana. Sabar, Neng. Udah tua, iya-in saja. 

"Ish, Mama masih pagi kenapa sewot? Ini menantu mau lihat mertua masa gak boleh? Masa dibilang keluyuran. Neneng ikut saya karena sekalian jalan. Saya mau numpang sarapan di sini, makanya Neneng mau ikutan, Ma," jawab Bang Rizal membelaku. Suamiku ini terkadang ke sana, terkadang ke sini. Untunglah pagi ini otaknya tidak koslet, sehingga bisa membela istrinya. 

"Pasti ada maunya, ya'kan?" tebak mertuaku sambil menyeringai. 

"Iya, Ma, mau sarapan. Mama udah sarapan?" tanya Bang Rizal mencoba mengalihkan pembicaraan. 

"Belum, Novi lagi sibuk. Nanti saja setelah Novi selesai beberes. "

"Biar saya ambilkan dan suapin Mama ya?" kataku akhirnya. 

"Nggak usah, nanti biar Novi saja. Rizal, kalau kamu mau sarapan, sarapan saja duluan, Mama mau bicara pada Neneng. Udah lama kayaknya kami nggak ngobrol." Ibu mertuaku meminta Bang Rizal keluar kamar. Hatiku tiba-tiba saja tidak tenang. Jantung ini pun berdetak cepat karena merasa akan ada hal tidak mengenakan yang akan aku terima sebentar lagi. 

"Sini!" Ibu mertuaku meminta aku untuk duduk di ujung kakinya. Aku pun menurut. Tangan ini otomatis terulur untuk memijat kedua kaki ibu mertua yang sudah tidak bisa berjalan lagi. 

"Gak usah, Mama semalam baru dipijat Novi. Mama cuma ingin ngobrol sama kamu aja."

"Oh, iya, Ma. Alhamdulillah Mama punya ponakan yang serba bisa," pujiku tulus, tetapi tidak dengan mertuaku yang raut wajahnya terus saja masam. 

"Tadi Rizal WA Mama, katanya kamu mau minta uang bonus yang sudah diberikan Rizal pada Mama, iya? Kamu gak iklas suami kamu menjemput surganya dengan memuliakan ibunya? Wanita yang sudah melahirkannya." Aku membuka mulut untuk menyanggah, tetapi mertuaku meletakkan jari telunjuk di bibirnya sebagai tanda bahwa aku harus diam dan gak boleh protes. Sungguh suamiku benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya ia mengadu pada mamanya. 

"Uangnya sudah dibelikan pampers dan ada sisa untuk ke dokter siang ini. Jadi, buat kamu gak ada," ujar ibu mertuaku dengan tatapan tajam. 

"Saya juga mau ke dokter, Ma. Memeriksakan kandungan, tapi uangnya gak ada," kataku jujur. 

"Memangnya kamu gak punya BPJS? Kenapa harus periksa ke dokter, kenapa nggak ke dukun beranak atau bidan saja? Jadi lebih murah." Aku terdiam. Mertuaku keras. Begitu juga Bang Rizal. Tidak akan mudah menggoyahkan apa yang sudah mereka katakan dan putuskan. Lalu kenapa Mama tidak ke rumah sakit yang menerima pasien BPJS? Kenapa harus ke rumah sakit swasta yang mahal? tanyaku dalam hati. Mana nekat bibir ini mengucapkan kalimat sarkas seperti itu secara langsung. 

"Ada, Ma, tapi kata bidan puskesmas, saya harus USG ke klinik bersalin. Di puskesmas tempat saya periksa, gak ada mesin USG. Saya juga mau beli perlengkapan bayi," jawabku masih dengan penuh kelembutan. 

"Uangnya udah habis. Mama mau tidur, kamu kalau mau makan, makan aja di depan." Sia-sia aku datang ke rumah mertua, karena alasan mertua yang sangat tidak masuk akal, membuatku semakin kesal saja. 

"Ya sudah, saya pamit, Ma." Aku pun bangun dari duduk, lalu berjalan dengan gontai untuk membuka pintu kamar ibu mertuaku. Kaki ini pun langsung melangkah menuju dapur. Perut sudah keroncongan minta diisi. Membayangkan sop iga membuat bayi dalam perutku bersorak hore. 

"Iya, saya janji, Mbak. Nanti pas gajian ya." Aku mengerutkan kening. 

Apa yang dijanjikan Mas Rizal pada Mbak Novi? Aku terus menguping dengan jantung berdebar. 

"Kamu mah gitu, janji terus."

"Semalam saya udah kasih banyak loh, masa kurang sih?"

"Pokoknya saya mau yang itu!"

"Hhm... iya deh, nanti saya pulang kerja, saya belikan deh." Aku pun keluar dari tempat persembunyian. 

"Bang Rizal dan Mbak Novi sedang  bicara apa ya? Bang Rizal mau belikan apa untuk Mbak Novi? Jangan bilang kalau kalian selingkuh di belakang saya?" 

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Venusiana Elizabeth
amit2 deh..klo aku punya suami n mertua kyk gitu mending kabur n cerai aja..cari kerja sendiri dpt gaji utk sendiri mkn sendiri.. ngapain mempertahankan keluarga yg kyk gitu..toxic banget hadeuuhh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status