Masuk"Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.
Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "Maaf, Ma. Apakah selama ini, Fiona sudah diberikan hp? Mungkin dari tayangan yang pernah dia lihat. Sebaiknya, dibatasi penggunaannya ya, Ma. Jangan sampai Fiona terkontaminasi oleh informasi-informasi berbahaya dari internet," ucap Bu Eka dengan wajah sungkan. Kamila langsung menggeleng-geleng. "Tidak pernah, Bu. Fiona tidak pernah melihat hp, kok. Sengaja saya larang agar dia bisa fokus belajar. Bermain pun masih menggunakan mainan asli, bukan di hp." "Aku pernah melihat hp punya papa. Ada tante. Biar papa nanti kebakar aja. Aku nggak suka. Mama, nanti sama Fiona aja ya nggak usah sama papa. Papa nanti jadi pocong." "Hush! Fiona!" Kamila membelalakkan mata sambil menutup mulut anak itu dengan sebelah tangan. Dia dan Bu Eka berpandangan, lalu tersenyum canggung. "Maaf ya, Bu. Gen alpha memang suka ceplas-ceplos dan kadang asal bicara. Nanti saya nasehati di rumah," ucap Kamila buru-buru. "Fiona, nggak boleh bicara sembarangan ya. Apalagi soal papa kamu sendiri. Tidak baik. Nanti Fiona didatangi pocong beneran, lho," tegur Bu Eka sambil tersenyum. "Biarin! Pocongnya nanti aku tendang. Wajahnya jelek, bau lagi. Papa juga jelek. Aku nggak suka!" Tiba-tiba Fiona cemberut, lalu menangis. "Eh? Lho, kok menangis sih?" tanya Kamila panik. Dia langsung memeluk Fiona dan mengusap-usap kepala anak itu. "Papa jeleeek. Aku nggak sukaaaa. Mama, nanti papa jangan boleh pulang ya. Papa jelek!" Tangisan Fiona semakin kencang. Bu Eka panik, karena guru lainnya mulai masuk. "Eh, ya sudah. Silahkan pulang, Ma. Mungkin Fiona kecapekan karena habis les tadi. Jangan nangis lagi ya, sayang," tutur Bu Eka. Kamila akhirnya pamit sambil menarik tangan Fiona yang masih menangis. Beberapa walimurid yang masih belum pulang, melihat mereka dengan heran. Kamila menjawab seadanya karena dia benar-benar malu. Begitu sampai di dalam mobil, dia menarik nafas panjang. Ingin sekali marah, namun tidak tega. Ternyata begini rasanya memiliki anak generasi alpha. Banyak yang bilang bahwa mereka bisa membuat orangtua malu karena ceplas-ceplos tidak pada tempatnya. Dan sekarang, Kamila mengalami sendiri. "Mama, aku mau ke rumah papa," ucap Fiona tiba-tiba. Kamila yang sibuk memperhatikan jalan yang masih ramai kendaraan, menoleh. Anak itu sudah tidak menangis lagi. Dia memundurkan kepala sambil mengernyit. Kok bisa Fiona kembali berwajah biasa saja? Seperti aktris saja. "Rumah papa kan yang kita tempati, sayang. Papa ngekos di Surabaya," jawab Kamila sambil melihat spion. "Papa di rumah kok sama tante. Nanti, mama sama aku aja ya. Sama Om Harsa. Kita jalan-jalan bertiga." Kamila menghela nafas panjang, lalu menggeleng-geleng. Semakin bertambah umur, omongan Fiona terkadang semakin melantur kemana-mana. Mulai dari bicara soal berbagai macam hantu, hal-hal random, bahkan anak itu pernah bilang, "Kakek, nanti tidur di bawah tanah ya? Kalau kakek lapar, gimana caranya keluar?" Saat itu, ayah mertua Kamila dibawa ke rumah sakit karena keseleo. Mereka menganggap omongan Fiona adalah ocehan khas anak-anak. Tapi, tidak ada yang menyangka sama sekali bahwa dua hari kemudian, ayah mertuanya meninggal. Kamila terdiam. Baru sadar bahwa ucapan Fiona menjadi kenyataan. Pikirannya mulai sedikit terkontaminasi. Ucapan Arin, ocehan Fiona. Kenapa hari ini terasa aneh? Apakah sebaiknya dia mencoba saran dari Arin? Meskipun cuek, Kamila terkadang merenung saat berita tentang perselingkuhan berseliweran di medsos. Dia sangat mencintai Putra. Pria itu tampan dan gagah, idaman para wanita. Apalagi selama ini, Kamila sering memposting foto dirinya dan Putra di medsos. Banyak yang memuji mereka karena terlihat serasi. Sama-sama cantik dan tampan. Kamila merasa hidupnya begitu sempurna. Apalagi selama ini, mereka tidak pernah bertengkar. "Kenapa berhenti, Ma? Mau beli apa? Di sini nggak ada yang jualan jajan. Cuma ada sawah," tanya Fiona sambil melihat ke jendela mobil. Kamila melihat Silvi, kakak sepupunya, baru saja keluar dari toko baju yang ada di timur sekolah SMA. Tanpa sadar, dia mengikuti wanita itu. "Ngapain mama ngikutin Tante Silvi?" tanya Fiona heran. "Kamu bilang tadi papa sama tante. Siapa tahu papa ada di rumah Tante Silvi." "Tante Silvi cantik. Tapi dia nggak suka papa. Sukanya sama Om Indra. Kita beli es krim yuk, Ma," ucap Fiona dengan santai. Kamila menatap Fiona tak percaya. Salahnya sendiri kenapa menanggapi ucapan anak itu dengan serius. Ini semua gara-gara ocehan Arin soal perselingkuhan. Mereka akhirnya tidak jadi mengikuti Silvi yang kembali berhenti di ruko tempat wanita itu berjualan kosmetik. Setelah ini, dia akan mengubungi Putra. Tidak sabar untuk menceritakan semuanya. Pasti suaminya akan senang mendengar tingkah absurd Fiona. Dalam hati, Kamila mengeluh. Kapan mereka bisa tinggal bersama? Setiap kali Kamila mengutarakan niatnya untuk ikut ke Surabaya, Putra selalu menolak. Pria itu harus sering stay di pabrik, bahkan sampai tengah malam. Tidak ada waktu untuk dirinya dan Fiona. "Ma, ada Om Harsa! Om Harsa!" teriak Fiona begitu mereka berhenti di depan minimarket. "Fio! Ya Allah, anak ini!" Kamila buru-buru keluar dari mobil dan tersenyum saat melihat Fiona yang langsung memeluk Harsa, kakak iparnya. "Kok nggak kerja, Mas? Apa libur?" tanya Kamila basa-basi. Harsa lebih tampan dan lebih tinggi dari Putra. Kamila sering menjaga jarak ketika bertemu dengan pria itu, untuk menjaga perasaan Putra. Entah kenapa Harsa masih single sampai sekarang. "Aku mau ke Surabaya." Surabaya? Tiba-tiba Kamila mendapatkan ide. "Ada dinas di sana?" tanya Kamila sambil terus berpikir. Harsa mengangguk. Pria itu masih menggendong Fiona tanpa risih. Kamila heran, kenapa Fiona justru lebih akrab dengan Harsa ketimbang dengan ayahnya sendiri. Mungkin karena ayah dan anak itu jarang sekali bertemu. Kadang hanya sebulan sekali. Kadang malah berbulan-bulan Putra tidak pulang sama sekali. "Om! Om mau ke rumah papa? Aku ikut dong," celetuk Fiona. "Kamu kan besok harus sekolah, sayang. Jangan dibiasakan tidak masuk meskipun masih TK." "Kebetulan banget. Besok libur soalnya gurunya ada rapat di kantor kecamatan. Kami ikut ya, Mas," pinta Kamila, tiba-tiba bersemangat. Dia ingin memberikan kejutan pada Putra. Pasti pria itu tidak menyangka bahwa istri dan anaknya mengunjunginya ke Surabaya. "Boleh. Berangkatnya dua jam lagi. Nanti aku jemput." "Horeeeee! Aku sayang sama Om Harsa. Jadi papaku ya, Om!" "Fioo, kamu masih punya papa, Nak!"Fiona asyik bermain di sekitar material bangunan ketika seorang perempuan muda tiba-tiba menghampirinya. Dia sempat mendongak, tapi kemudian kembali asyik pada kegiatannya. "Heh! Kamu ngapain di sini? Ini bukan tempat untuk bermain! Pergi sana! Ibunya ke mana sih?" gerutu perempuan itu. Fiona masih tidak menyahut. Tapi perempuan itu malah mendorong Fiona hingga jatuh terduduk. "Tante kenapa jahat banget? Tante siapa sih?" tanya Fiona tak suka. Perempuan itu mewarnai rambutnya pirang. Terlihat tidak cocok sekali dengan wajahnya yang kampungan. "Rambut Tante nggak cocok. Kelihatan ndeso. Norak. Tante ke sini mau godain cowok ya? Memangnya ada yang mau?" Fiona sudah kelas 2 SD sekarang. Lebih paham dengan sekitarnya. "Heh! Dasar bocah kurang ajar! Mulut tuh dijaga!" bentak perempuan itu. "Sana minggir! Emakmu mana? Tolol banget ninggalin anaknya di sini." Mendengar perempuan itu menghina mamanya, Fiona langsung berdiri. "Jangan menghina mamaku ya. Mamaku jauh lebih cantik dari ka
"Oh, ini yang kemarin nikah sama karyawan toko bangunan dekat SMA itu ya? Kok pakaiannya masih bagus-bagus, sih? Jangan-jangan suaminya nilep duit bosnya. Kayak mantan suaminya yang mati itu lho." Kamila sempat tertegun begitu keluar dari mobil dan mendengar celetukan ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan salah satu rumah."Ganteng sih suaminya yang sekarang. Tapi kok kere? Dikira bisa kenyang cuma dengan wajah ganteng kali ya?" "Cih! Makan tuh ganteng! Perempuan kok bodoh. Mau-mau aja sama pekerja rendahan. Duitnya mana cukup buat makan?" "Ibu-ibu! Panas-panas begini kok malah ngerumpi? Suaminya udah dimasakin belum di rumah? Nih, orang yang kata kalian kere, mau bagi-bagi makanan. Mau nggak? Kalian kan penyuka gratisan!" teriak Silvi yang entah sejak kapan datang.Kamila kaget, begitu juga dengan ibu-ibu yang ngerumpi tidak jauh dari rumah Bu Karlina. Kamila membiarkan Silvi mengambil beberapa kotak makanan yang dia letakkan di bagasi mobil barunya, lalu membagikannya pada ibu-
Harsa terus mengikuti pergerakan istrinya di dapur. Mengolah bahan makanan yang seharusnya untuk berjualan di warung online, menjadi banyak lauk yang nanti akan dibagikan untuk orangtua mereka. Setelah Harsa menyuruh Kamila untuk berhenti bekerja, wanita itu terlihat sekali semringah. Wajahnya berseri-seri dan senyum terus terpatri di bibir merah mudanya. Benar apa kata Anton. Perempuan itu akan senang jika diberi nafkah yang besar, apalagi nominal 30 juta sangatlah besar di desa. Dan akan lebih seneng lagi jika tidak perlu ikut bekerja. Lagipula, uang Harsa lebih dari cukup untuk menafkahi istri dan anak-anaknya."Mas, tolong ambilkan minyak goreng di tas deket kulkas dong," pinta Kamila. Harsa yang sejak tadi fokus melihat kaki istrinya yang mulus, langsung gelagapan. Dia berdiri dan berjalan menuju ke kulkas. Mengambil minyak goreng yang dimaksud, lalu menyerahkannya pada sang istri. Ketika sudah berada di belakang istrinya, Harsa meremas dua bulatan besar yang hanya dibalut de
"Mas! Mas, kamu di mana?" teriak Kamila begitu sampai di rumah. Nafasnya terengah-engah karena tergesa-gesa mencari suaminya yang entah berada di mana. Setelah bulan madu selesai, mereka sepakat untuk menempati rumah milik Putra, dengan pertimbangan sekolah Fiona dan Bu Aminah yang sendirian. Tinggal di rumah Bu Aminah jelas tidak mungkin, karena mereka sudah berumah tangga. Meskipun Kamila sangat dekat dan akur dengan sang mertua, bukan tidak mungkin ke depannya akan ada masalah. Rumah tangga memang lebih baik terpisah dari orangtua dan mertua, biar tidak ada benturan. "MAS!" Kamila mulai jengkel. Setelah menikah, baru dia tahu bahwa Harsa itu sering tidak mendengar ketika dipanggil. Seperti Toni kakaknya. Ibunya sering mengomel karena Toni tidak merespon ketika dipanggil berkali-kali, padahal jaraknya dekat. "Aku lagi fokus mencuci tangan, jadi nggak denger." Begitu jawaban Toni. Kamila mencari ke segala penjuru rumah, tapi nihil. Dia akhirnya mengambil air putih segelas dan
Harsa melihat hasil karyanya di tubuh Kamila sejak kemarin. Matanya begitu rakus menikmati pemandangan yang menggiurkan itu, sampai-sampai dia lupa menutupi tubuh sang istri dengan selimut. "Dingin, Mas," rajuk Kamila dengan nafas terengah-engah. Jari-jari Harsa menelusuri jejak-jejak merah di kulit putih sang istri. Terlalu banyak. Apa dia berlebihan? Tangannya meraih selimut dan menutupkannya pada tubuh Kamila, lalu dia ikut bergabung di dalamnya. Mereka berpelukan. "Nyaman banget," gumamnya. Bibirnya berkali-kali menciumi kepala dan wajah sang istri dengan sayang, membuat Kamila tersenyum. "Makasih udah membuatku merasakan semua ini, Mas." Ciuman Harsa berhenti. Dia menatap sang istri yang memejamkan mata dengan kening berkerut. "Maksudnya?" Kamila menghela nafas panjang. Kedua mata cantik itu terbuka. Harsa bisa melihat bulu mata yang lentik dan panjang alami dari samping. "Boleh nggak aku cerita tentang masa lalu?" Harsa mengangguk. Jujur, dia sendiri penasaran dengan keh
Di jaman yang iman sangat mudah terlepas karena kenikmatan duniawi yang hanya sementara, masih ada segelintir manusia yang menjunjung tinggi kesetiaan dan cinta. Tidak hanya mengejar nafsu syahwat yang membutakan akal sehat dan menghilangkan iman pada Tuhannya, yang diraih bersama lawan jenis yang diharamkan oleh Allah. Harsa dan Kamila adalah tipe orang yang setia pada pasangan, tak peduli meskipun di luar sana banyak yang lebih baik. Karena lebih baik itu relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa. Harsa, tipe pria yang tidak suka ribet dan tidak suka harus berkali-kali memulai semuanya dari nol. Dia tidak suka asal menjalin hubungan dengan wanita. Tidak mau menghabiskan waktunya di dunia hanya untuk mencari kecocokan dengan wanita. Dia juga tidak suka wanita yang agresif, dalam arti wanita yang bukan muhrim tapi sudah berani mendekati dan menggoda pria terlebih dulu. Baginya, wanita seperti itu akan mudah melakukannya pada pria lain sekali mereka bermasalah. Harsa tahu bagaim







