Share

2. Mulai Bimbang

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-02-14 14:37:48

"Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.

Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra.

"Maaf, Ma. Apakah selama ini, Fiona sudah diberikan hp? Mungkin dari tayangan yang pernah dia lihat. Sebaiknya, dibatasi penggunaannya ya, Ma. Jangan sampai Fiona terkontaminasi oleh informasi-informasi berbahaya dari internet," ucap Bu Eka dengan wajah sungkan.

Kamila langsung menggeleng-geleng. "Tidak pernah, Bu. Fiona tidak pernah melihat hp, kok. Sengaja saya larang agar dia bisa fokus belajar. Bermain pun masih menggunakan mainan asli, bukan di hp."

"Aku pernah melihat hp punya papa. Ada tante. Biar papa nanti kebakar aja. Aku nggak suka. Mama, nanti sama Fiona aja ya nggak usah sama papa. Papa nanti jadi pocong."

"Hush! Fiona!" Kamila membelalakkan mata sambil menutup mulut anak itu dengan sebelah tangan.

Dia dan Bu Eka berpandangan, lalu tersenyum canggung.

"Maaf ya, Bu. Gen alpha memang suka ceplas-ceplos dan kadang asal bicara. Nanti saya nasehati di rumah," ucap Kamila buru-buru.

"Fiona, nggak boleh bicara sembarangan ya. Apalagi soal papa kamu sendiri. Tidak baik. Nanti Fiona didatangi pocong beneran, lho," tegur Bu Eka sambil tersenyum.

"Biarin! Pocongnya nanti aku tendang. Wajahnya jelek, bau lagi. Papa juga jelek. Aku nggak suka!"

Tiba-tiba Fiona cemberut, lalu menangis.

"Eh? Lho, kok menangis sih?" tanya Kamila panik. Dia langsung memeluk Fiona dan mengusap-usap kepala anak itu.

"Papa jeleeek. Aku nggak sukaaaa. Mama, nanti papa jangan boleh pulang ya. Papa jelek!"

Tangisan Fiona semakin kencang. Bu Eka panik, karena guru lainnya mulai masuk.

"Eh, ya sudah. Silahkan pulang, Ma. Mungkin Fiona kecapekan karena habis les tadi. Jangan nangis lagi ya, sayang," tutur Bu Eka.

Kamila akhirnya pamit sambil menarik tangan Fiona yang masih menangis. Beberapa walimurid yang masih belum pulang, melihat mereka dengan heran. Kamila menjawab seadanya karena dia benar-benar malu.

Begitu sampai di dalam mobil, dia menarik nafas panjang. Ingin sekali marah, namun tidak tega. Ternyata begini rasanya memiliki anak generasi alpha. Banyak yang bilang bahwa mereka bisa membuat orangtua malu karena ceplas-ceplos tidak pada tempatnya. Dan sekarang, Kamila mengalami sendiri.

"Mama, aku mau ke rumah papa," ucap Fiona tiba-tiba.

Kamila yang sibuk memperhatikan jalan yang masih ramai kendaraan, menoleh. Anak itu sudah tidak menangis lagi. Dia memundurkan kepala sambil mengernyit. Kok bisa Fiona kembali berwajah biasa saja? Seperti aktris saja.

"Rumah papa kan yang kita tempati, sayang. Papa ngekos di Surabaya," jawab Kamila sambil melihat spion.

"Papa di rumah kok sama tante. Nanti, mama sama aku aja ya. Sama Om Harsa. Kita jalan-jalan bertiga."

Kamila menghela nafas panjang, lalu menggeleng-geleng. Semakin bertambah umur, omongan Fiona terkadang semakin melantur kemana-mana. Mulai dari bicara soal berbagai macam hantu, hal-hal random, bahkan anak itu pernah bilang, "Kakek, nanti tidur di bawah tanah ya? Kalau kakek lapar, gimana caranya keluar?"

Saat itu, ayah mertua Kamila dibawa ke rumah sakit karena keseleo. Mereka menganggap omongan Fiona adalah ocehan khas anak-anak. Tapi, tidak ada yang menyangka sama sekali bahwa dua hari kemudian, ayah mertuanya meninggal.

Kamila terdiam. Baru sadar bahwa ucapan Fiona menjadi kenyataan. Pikirannya mulai sedikit terkontaminasi. Ucapan Arin, ocehan Fiona.

Kenapa hari ini terasa aneh? Apakah sebaiknya dia mencoba saran dari Arin? Meskipun cuek, Kamila terkadang merenung saat berita tentang perselingkuhan berseliweran di medsos.

Dia sangat mencintai Putra. Pria itu tampan dan gagah, idaman para wanita. Apalagi selama ini, Kamila sering memposting foto dirinya dan Putra di medsos. Banyak yang memuji mereka karena terlihat serasi. Sama-sama cantik dan tampan. Kamila merasa hidupnya begitu sempurna. Apalagi selama ini, mereka tidak pernah bertengkar.

"Kenapa berhenti, Ma? Mau beli apa? Di sini nggak ada yang jualan jajan. Cuma ada sawah," tanya Fiona sambil melihat ke jendela mobil.

Kamila melihat Silvi, kakak sepupunya, baru saja keluar dari toko baju yang ada di timur sekolah SMA. Tanpa sadar, dia mengikuti wanita itu.

"Ngapain mama ngikutin Tante Silvi?" tanya Fiona heran.

"Kamu bilang tadi papa sama tante. Siapa tahu papa ada di rumah Tante Silvi."

"Tante Silvi cantik. Tapi dia nggak suka papa. Sukanya sama Om Indra. Kita beli es krim yuk, Ma," ucap Fiona dengan santai.

Kamila menatap Fiona tak percaya. Salahnya sendiri kenapa menanggapi ucapan anak itu dengan serius. Ini semua gara-gara ocehan Arin soal perselingkuhan.

Mereka akhirnya tidak jadi mengikuti Silvi yang kembali berhenti di ruko tempat wanita itu berjualan kosmetik. Setelah ini, dia akan mengubungi Putra. Tidak sabar untuk menceritakan semuanya. Pasti suaminya akan senang mendengar tingkah absurd Fiona.

Dalam hati, Kamila mengeluh. Kapan mereka bisa tinggal bersama? Setiap kali Kamila mengutarakan niatnya untuk ikut ke Surabaya, Putra selalu menolak. Pria itu harus sering stay di pabrik, bahkan sampai tengah malam. Tidak ada waktu untuk dirinya dan Fiona.

"Ma, ada Om Harsa! Om Harsa!" teriak Fiona begitu mereka berhenti di depan minimarket.

"Fio! Ya Allah, anak ini!"

Kamila buru-buru keluar dari mobil dan tersenyum saat melihat Fiona yang langsung memeluk Harsa, kakak iparnya.

"Kok nggak kerja, Mas? Apa libur?" tanya Kamila basa-basi.

Harsa lebih tampan dan lebih tinggi dari Putra. Kamila sering menjaga jarak ketika bertemu dengan pria itu, untuk menjaga perasaan Putra. Entah kenapa Harsa masih single sampai sekarang.

"Aku mau ke Surabaya."

Surabaya? Tiba-tiba Kamila mendapatkan ide.

"Ada dinas di sana?" tanya Kamila sambil terus berpikir.

Harsa mengangguk. Pria itu masih menggendong Fiona tanpa risih. Kamila heran, kenapa Fiona justru lebih akrab dengan Harsa ketimbang dengan ayahnya sendiri. Mungkin karena ayah dan anak itu jarang sekali bertemu. Kadang hanya sebulan sekali. Kadang malah berbulan-bulan Putra tidak pulang sama sekali.

"Om! Om mau ke rumah papa? Aku ikut dong," celetuk Fiona.

"Kamu kan besok harus sekolah, sayang. Jangan dibiasakan tidak masuk meskipun masih TK."

"Kebetulan banget. Besok libur soalnya gurunya ada rapat di kantor kecamatan. Kami ikut ya, Mas," pinta Kamila, tiba-tiba bersemangat.

Dia ingin memberikan kejutan pada Putra. Pasti pria itu tidak menyangka bahwa istri dan anaknya mengunjunginya ke Surabaya.

"Boleh. Berangkatnya dua jam lagi. Nanti aku jemput."

"Horeeeee! Aku sayang sama Om Harsa. Jadi papaku ya, Om!"

"Fioo, kamu masih punya papa, Nak!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    EPILOG

    Tangisan dua bayi menggema memenuhi ruang bersalin. Suara itu membuat Harsa yang sejak tadi menggenggam tangan Kamila, langsung menitikkan air mata. Siapa yang menyangka bahwa dia akan memiliki dua anak sekaligus, padahalnya sebelumnya divonis sperma lemah oleh dokter dan susah untuk memiliki anak?"Dua-duanya laki-laki, Pak."Dokter tersenyum sambil memperlihatkan kedua bayi mungil yang baru saja lahir.Harsa mematung. Tatapannya terpaku pada wajah kedua putranya. Hidung mungil, alis yang tegas, bentuk bibir, dan lesung pipi samar yang muncul ketika salah satu bayi meringis.Dadanya berdebar semakin kencang. Dua bayi tampan itu adalah anaknya. Darah dagingnya."Dek, wajah mereka..."Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Hatinya terasa begitu penuh, sampai-sampai rasanya ingin meledak."Persis..."Kamila yang masih sangat lemah, menoleh dengan pelan ke arah Harsa. Keningnya mengernyit. "Mas? Kenapa?"Harsa menggenggam tangan istrinya. "Sayang... mereka sama persis seperti anak-anak

  • Karma Suami Mendua    146. Harapan Baru

    Aroma kuah bakso memenuhi ruang keluarga sejak siang.Kamila duduk di sofa sambil memangku semangkuk bakso lengkap dengan tahu, mi, dan kerupuk pangsit. Sesekali ia menyeruput kuahnya, lalu mendesah nikmat. Rasanya benar-benar seperti yang dia harapkan."Maas! Teh lemonnya sudah belum?" teriaknya."Sebentar, Sayang. Tinggal ngasih es batu!" sahut Harsa dari dapur.Sejak pulang dari rumah sakit, Harsa memang selalu siaga dan menuruti segala kemauan Kamila saat itu juga. Kebahagiaan itu membuat Harsa rela melakukan apa pun demi dirinya, dan pria itu sama sekali tidak mengeluh. Urusan toko bangunan untuk sementara diserahkan sepenuhnya pada Anton dan Faisal.Di ruang keluarga, Fiona yang baru pulang dari sekolah, sedang menikmati sepotong lapis kukus."Enak banget, Ma. Belinya di mana?" tanya Fiona sambil mengunyah."Di kota tadi. Sekalian pulang dari rumah sakit."Fiona menatap makanan yang begitu banyak di atas meja. "Ma, makanan kita banyak banget. Kayak warung." Kamila tertawa kecil

  • Karma Suami Mendua    145. Tujuh Minggu

    "Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah. "Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila. "Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit lainnya sebagai referensi. Tapi kalau hasilnya sudah ada, ya tidak usah periksa lagi toh." Dokter kandungan itu menempelkan alat USG ke perut Kamila, lalu menggeser-gesernya. "Nah, itu sudah kelihatan kantong janinnya. Usianya kalau di layar ini sudah 7 minggu malah."Mata Kamila membesar ketika melihat bulatan kecil di layar monitor. Hatinya langsung meleleh. Dia melihat suaminya yang ternyata masih kebingungan. "Tapi istri saya baru saja datang bulan, Bu. Kok bisa hamil? Apa nggak keguguran it

  • Karma Suami Mendua    144. Kembung 1,5 Bulan

    Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de

  • Karma Suami Mendua    143. Mual

    "Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh

  • Karma Suami Mendua    142. Memaafkan Rebecca

    Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat

  • Karma Suami Mendua    7. Diabaikan

    "Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa

  • Karma Suami Mendua    6. Pura-Pura Tenang

    Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal. Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap

  • Karma Suami Mendua    4. Kepergok

    "Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status