Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 3. Kejutan yang Gagal

Share

3. Kejutan yang Gagal

Author: Alya Feliz
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-15 06:39:36

Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.

Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena kedekatan hubungan mereka. Kamila sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Selama Putra di Surabaya, dia memang lebih sering merepotkan Harsa dengan masalah Fiona.

"Kamu udah menghubungi Putra kalau mau berkunjung?"

Pertanyaan Harsa memecahkan lamunan Kamila. Tiba-tiba, dia teringat dengan saran Arin untuk tidak usah memberitahu Putra.

"Aku sengaja mau ngasih dia kejutan, Mas. Udah lama banget aku nggak berkunjung ke kos dia," jawab Kamila. Dalam hati, dia sudah tidak sabar untuk melepas rindu pada sang suami.

Kamila mengecek ponsel dan tidak mendapati satu pun pesan dari Putra. Apakah suaminya sedang sangat sibuk? Sudah jam 4 sore, seharusnya sudah pulang, kan? Tidak biasanya pria itu tidak memberi kabar.

"Dia juga jadi jarang pulang. Apa dia naik jabatan lagi?" tanya Harsa, sesekali menoleh ke arah Fiona yang tertidur.

Kamila mengingat-ingat percakapannya selama ini dengan Putra melalui telepon dan pesan. Setahunya, jabatan Putra masih manajer.

"Nggak sih, Mas. Nggak tahu juga kenapa dia jadi jarang banget pulang akhir-akhir ini. Fiona juga nggak pernah nanyain papanya."

Kening Kamila berkerut. Padahal, dulu Fiona selalu rewel dan meminta ayahnya untuk sering-sering pulang. Tapi entah kenapa, tiba-tiba anak itu tidak lagi merengek suatu hari. Apa jangan-jangan, Putra pernah membentak Fiona tanpa sepengetahuannya?

Dan sejak Putra pindah ke Surabaya ketika Fiona berusia 1,5 tahun, Fiona menjadi dekat dengan Harsa. Mungkin karena anak itu membutuhkan kasih sayang seorang ayah, jadilah om-nya dianggap seperti ayahnya sendiri.

Hujan sudah reda ketika mobil Harsa berhenti di depan sebuah kos-kosan berlantai empat. Kos itu lebih mirip seperti hotel dibandingkan dengan kos-kosan pada umumnya.

"Kenapa kamu dan Fiona nggak ikut tinggal di sini saja? Sepertinya nyaman buat pasutri," komentar Harsa sambil mengamati gedung di samping mereka.

"Udah berkali-kali aku minta ikut, tapi Mas Putra menolak."

Kamila membuka pintu dan hendak membuka pintu di sebelah Fiona, tapi Harsa melarang. Pria itu menggendong Fiona tanpa canggung.

"Nanti langsung tidurkan dia di ranjang aja, Mas."

Harsa mengangguk dan mengikuti Kamila menaiki tangga luar menuju ke lantai dua. Suasana begitu sepi. Apa Putra belum pulang? Sudah jam 5 sore, ke mana pria itu?

"Apa masih lembur ya? Tapi dia nggak ngasih kabar apa-apa kalau lembur," gumam Kamila sambil menatap pintu kamar Putra yang tertutup rapat.

"Masih di luar kali. Nyari makan atau lembur di kantor," ucap Harsa.

Entah kenapa, perasaan Kamila tidak enak. Seperti gelisah dan tak nyaman di perut. Apakah terjadi sesuatu pada suaminya? Dia memutuskan untuk menelpon Putra.

[Ya, dek? Ada apa?]

Kening Kamila berkerut. Putra terdengar seperti kelelahan.

"Kamu lembur ya, Mas? Kok terengah-engah gitu kayak habis lari-lari?"

[Hah? Eh, itu...]

Putra terdengar seperti berjalan dengan cepat.

[Aku habis lari-lari angkatin jemuran. Baru aja pulang ke kosan, eh hujan turun. Ya udah, aku lari.]

Tubuh Kamila mematung. Dia menatap pintu di depannya yang masih tertutup rapat. Mengikuti insting, tangannya memegang gagang pintu dan memutarnya ke bawah, lalu mendorong pintu. Terkunci.

"Oh, di sana lagi hujan ya? Di sini panas. Tapi jemuran kamu aman, kan?" Kamila menjaga suaranya agar tetap stabil, meski jantungnya mulai berdegup kencang.

[Aman. Cuma kena cipratan air dikit aja kok. Aku mau mandi dulu ya. Nggak enak masih keringetan.]

"Ah, iya."

Dan sambungan langsung terputus begitu saja. Kamila tertegun sambil menatap pintu kayu dengan pandangan kosong. Kos mana yang dimaksud oleh Putra? Sedangkan kos yang saat ini dikunjungi oleh Kamila, menggunakan laundry seminggu sekali.

"Dia pindah kos? Kenapa nggak bilang ke kamu?"

Kamila terlonjak kaget. Baru sadar bahwa dia menggunakan mode loudspeaker, karena kebiasaan ketika di rumah hanya ada dia dan Fiona, jadi tidak perlu privasi.

"Eh, aku nggak tahu." Suara Kamila bergetar. Jantungnya berdegup semakin cepat dan tangannya gemetar.

Putra telah berbohong. Apakah selama ini, suaminya memang kerap berbohong? Hubungan mereka jarak jauh, dan hubungan seperti itu rawan ketidakjujuran.

"Kita... kita pulang aja, Mas. Maksudku, aku sama Fiona naik travel aja. Atau kereta. Mungkin Mas Putra...nanti ngasih tahu aku kalau pindah kos." Ucapan Kamila melemah di akhir kalimat.

Rasa rindu dan cinta yang menggebu-gebu, kini mulai sedikit memudar dan ada retakan kecil yang mengijinkan keraguan untuk masuk. Ucapan Arin terus terngiang-ngiang di benaknya. Berita-berita mengenai perselingkuhan yang hampir setiap hari berseliweran di media sosial, mulai merasuki pikirannya dan menanamkan rasa takut.

Kakinya tanpa sadar melangkah entah ke mana. Tangannya dicekal sedikit kasar, menyadarkan Kamila. Saat dia menoleh, kedua matanya berkaca-kaca.

Seharusnya dia tidak perlu mengikuti saran dari Arin. Seharusnya dia mengabari Putra dulu jika ingin berkunjung, agar tidak perlu mengalami kejadian seperti ini. Agar kepercayaannya tetap utuh.

"Biar aku yang telepon dia. Kamu berhak tahu di mana dia pindah dan kenapa," ucap Harsa.

Kamila menggeleng. "Kita pulang aja, Mas. Kasihan Fiona."

"Adikku sudah berbohong padamu. Suami yang tidak jujur pada istrinya, berarti menyembunyikan sesuatu."

Kamila menelan ludah dengan susah payah. Dia menggeleng-geleng. Tidak siap akan segala kemungkinan yang terjadi. Pasti tadi Putra hanya salah bicara. Mungkin, pria itu masih berada di kantor.

Tapi, kantor mana yang memperbolehkan karyawannya membawa jemuran?

Terdengar suara beberapa orang wanita yang tengah berbincang dan mulai mendekat. Kamila langsung tegang. Ingin rasanya dia berlari saat itu juga karena tidak ingin ketahuan, tapi terlambat. Tiga orang wanita muda, mungkin sedikit di bawah Kamila usianya, menatap mereka berdua kaget.

"Eh, cari siapa ya?" tanya seorang wanita berambut pendek.

"Eee....itu..."

"Putra," jawab Harsa.

Wanita berambut ikal memperhatikan Harsa yang masih santai menggendong Fiona yang tertidur nyenyak. Kamila heran, kenapa Fiona bisa senyaman itu bersama pamannya?

"Putra yang kerja di Unilion itu, kan? Kalian kakaknya?" tanya wanita berambut ikal itu.

"Eh...aku..."

"Dia istrinya, kalau saya kakaknya. Dan ini anaknya."

Ketiga perempuan itu langsung terkesiap, lalu saling pandang dengan mata membelalak. Kenapa? Apa ada yang salah? Dulu, Kamila pernah sekali datang ke kos ini saat tanggal merah di hari Sabtu. Kebetulan, penghuni kos banyak yang pulang kampung. Jadi, mereka tidak saling tahu.

"Loh, Putra udah menikah? Tapi kok dia..."

"Ssstt!"

Kamila berpandangan dengan Harsa, lalu melihat mereka dengan curiga.

"Kenapa?" tanya Kamila sambil sedikit menyipitkan mata.

"Ternyata dia muslim. Pantesan...."

"Ssssstttt! Bukan urusan kita," bisik si rambut pendek."

"Kalian tahu Mas Putra ada di mana? Kok kamar kosnya terkunci ya?" tanya Kamila semakin curiga.

Mereka bertiga saling sikut dan berkomunikasi dengan mata, lalu melihat Kamila dengan senyum canggung.

"Eh, itu...si Putra udah pindah. Sekitar 6 bulan yang lalu lah. Udah lumayan lama kok."

"Kalian tahu di mana dia pindah?"

Mereka menggeleng dan buru-buru pamit, meninggalkan beribu tanya di benak Kamila. Mereka mengetahui sesuatu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Karma Suami Mendua    EPILOG

    Tangisan dua bayi menggema memenuhi ruang bersalin. Suara itu membuat Harsa yang sejak tadi menggenggam tangan Kamila, langsung menitikkan air mata. Siapa yang menyangka bahwa dia akan memiliki dua anak sekaligus, padahalnya sebelumnya divonis sperma lemah oleh dokter dan susah untuk memiliki anak?"Dua-duanya laki-laki, Pak."Dokter tersenyum sambil memperlihatkan kedua bayi mungil yang baru saja lahir.Harsa mematung. Tatapannya terpaku pada wajah kedua putranya. Hidung mungil, alis yang tegas, bentuk bibir, dan lesung pipi samar yang muncul ketika salah satu bayi meringis.Dadanya berdebar semakin kencang. Dua bayi tampan itu adalah anaknya. Darah dagingnya."Dek, wajah mereka..."Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Hatinya terasa begitu penuh, sampai-sampai rasanya ingin meledak."Persis..."Kamila yang masih sangat lemah, menoleh dengan pelan ke arah Harsa. Keningnya mengernyit. "Mas? Kenapa?"Harsa menggenggam tangan istrinya. "Sayang... mereka sama persis seperti anak-anak

  • Karma Suami Mendua    146. Harapan Baru

    Aroma kuah bakso memenuhi ruang keluarga sejak siang.Kamila duduk di sofa sambil memangku semangkuk bakso lengkap dengan tahu, mi, dan kerupuk pangsit. Sesekali ia menyeruput kuahnya, lalu mendesah nikmat. Rasanya benar-benar seperti yang dia harapkan."Maas! Teh lemonnya sudah belum?" teriaknya."Sebentar, Sayang. Tinggal ngasih es batu!" sahut Harsa dari dapur.Sejak pulang dari rumah sakit, Harsa memang selalu siaga dan menuruti segala kemauan Kamila saat itu juga. Kebahagiaan itu membuat Harsa rela melakukan apa pun demi dirinya, dan pria itu sama sekali tidak mengeluh. Urusan toko bangunan untuk sementara diserahkan sepenuhnya pada Anton dan Faisal.Di ruang keluarga, Fiona yang baru pulang dari sekolah, sedang menikmati sepotong lapis kukus."Enak banget, Ma. Belinya di mana?" tanya Fiona sambil mengunyah."Di kota tadi. Sekalian pulang dari rumah sakit."Fiona menatap makanan yang begitu banyak di atas meja. "Ma, makanan kita banyak banget. Kayak warung." Kamila tertawa kecil

  • Karma Suami Mendua    145. Tujuh Minggu

    "Eh, spermanya lemah, Bu. Suami saya kapan hari periksa di rumah sakit lain. Kami niatnya ke sini tadi itu sebenarnya mau ke poli Andrologi. Mau periksa ulang," jawab Kamila terburu-buru, lalu memelototi suaminya yang langsung salah tingkah. "Oh..." Wanita seumuran Bu Aminah itu tertawa, begitu juga dengan perawat yang kembali melanjutkan kegiatannya mengoleskan gel ke perut Kamila. "Hasil analisa dokter memang terkadang bisa salah, Pak. Bapak sudah benar mau mengeceknya lagi di rumah sakit lainnya sebagai referensi. Tapi kalau hasilnya sudah ada, ya tidak usah periksa lagi toh." Dokter kandungan itu menempelkan alat USG ke perut Kamila, lalu menggeser-gesernya. "Nah, itu sudah kelihatan kantong janinnya. Usianya kalau di layar ini sudah 7 minggu malah."Mata Kamila membesar ketika melihat bulatan kecil di layar monitor. Hatinya langsung meleleh. Dia melihat suaminya yang ternyata masih kebingungan. "Tapi istri saya baru saja datang bulan, Bu. Kok bisa hamil? Apa nggak keguguran it

  • Karma Suami Mendua    144. Kembung 1,5 Bulan

    Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de

  • Karma Suami Mendua    143. Mual

    "Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh

  • Karma Suami Mendua    142. Memaafkan Rebecca

    Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap

  • Karma Suami Mendua    4. Kepergok

    "Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus me

  • Karma Suami Mendua    2. Mulai Bimbang

    "Fio, sudah mama bilang, jangan bicara sembarangan ya, sayang," tegur Kamila dengan lembut.Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang tante yang digambar oleh Fiona, Kamila memilih untuk menahan diri. Tante siapa? Apakah sepupunya? Dia tidak memiliki saudara perempuan, begitu juga dengan Putra. "

  • Karma Suami Mendua    1. Gambar Aneh

    "Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos.""Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos."Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias.Dia sama sekali tid

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status