Mag-log inFiona asyik bermain di sekitar material bangunan ketika seorang perempuan muda tiba-tiba menghampirinya. Dia sempat mendongak, tapi kemudian kembali asyik pada kegiatannya. "Heh! Kamu ngapain di sini? Ini bukan tempat untuk bermain! Pergi sana! Ibunya ke mana sih?" gerutu perempuan itu. Fiona masih tidak menyahut. Tapi perempuan itu malah mendorong Fiona hingga jatuh terduduk. "Tante kenapa jahat banget? Tante siapa sih?" tanya Fiona tak suka. Perempuan itu mewarnai rambutnya pirang. Terlihat tidak cocok sekali dengan wajahnya yang kampungan. "Rambut Tante nggak cocok. Kelihatan ndeso. Norak. Tante ke sini mau godain cowok ya? Memangnya ada yang mau?" Fiona sudah kelas 2 SD sekarang. Lebih paham dengan sekitarnya. "Heh! Dasar bocah kurang ajar! Mulut tuh dijaga!" bentak perempuan itu. "Sana minggir! Emakmu mana? Tolol banget ninggalin anaknya di sini." Mendengar perempuan itu menghina mamanya, Fiona langsung berdiri. "Jangan menghina mamaku ya. Mamaku jauh lebih cantik dari ka
"Oh, ini yang kemarin nikah sama karyawan toko bangunan dekat SMA itu ya? Kok pakaiannya masih bagus-bagus, sih? Jangan-jangan suaminya nilep duit bosnya. Kayak mantan suaminya yang mati itu lho." Kamila sempat tertegun begitu keluar dari mobil dan mendengar celetukan ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan salah satu rumah."Ganteng sih suaminya yang sekarang. Tapi kok kere? Dikira bisa kenyang cuma dengan wajah ganteng kali ya?" "Cih! Makan tuh ganteng! Perempuan kok bodoh. Mau-mau aja sama pekerja rendahan. Duitnya mana cukup buat makan?" "Ibu-ibu! Panas-panas begini kok malah ngerumpi? Suaminya udah dimasakin belum di rumah? Nih, orang yang kata kalian kere, mau bagi-bagi makanan. Mau nggak? Kalian kan penyuka gratisan!" teriak Silvi yang entah sejak kapan datang.Kamila kaget, begitu juga dengan ibu-ibu yang ngerumpi tidak jauh dari rumah Bu Karlina. Kamila membiarkan Silvi mengambil beberapa kotak makanan yang dia letakkan di bagasi mobil barunya, lalu membagikannya pada ibu-
Harsa terus mengikuti pergerakan istrinya di dapur. Mengolah bahan makanan yang seharusnya untuk berjualan di warung online, menjadi banyak lauk yang nanti akan dibagikan untuk orangtua mereka. Setelah Harsa menyuruh Kamila untuk berhenti bekerja, wanita itu terlihat sekali semringah. Wajahnya berseri-seri dan senyum terus terpatri di bibir merah mudanya. Benar apa kata Anton. Perempuan itu akan senang jika diberi nafkah yang besar, apalagi nominal 30 juta sangatlah besar di desa. Dan akan lebih seneng lagi jika tidak perlu ikut bekerja. Lagipula, uang Harsa lebih dari cukup untuk menafkahi istri dan anak-anaknya."Mas, tolong ambilkan minyak goreng di tas deket kulkas dong," pinta Kamila. Harsa yang sejak tadi fokus melihat kaki istrinya yang mulus, langsung gelagapan. Dia berdiri dan berjalan menuju ke kulkas. Mengambil minyak goreng yang dimaksud, lalu menyerahkannya pada sang istri. Ketika sudah berada di belakang istrinya, Harsa meremas dua bulatan besar yang hanya dibalut de
"Mas! Mas, kamu di mana?" teriak Kamila begitu sampai di rumah. Nafasnya terengah-engah karena tergesa-gesa mencari suaminya yang entah berada di mana. Setelah bulan madu selesai, mereka sepakat untuk menempati rumah milik Putra, dengan pertimbangan sekolah Fiona dan Bu Aminah yang sendirian. Tinggal di rumah Bu Aminah jelas tidak mungkin, karena mereka sudah berumah tangga. Meskipun Kamila sangat dekat dan akur dengan sang mertua, bukan tidak mungkin ke depannya akan ada masalah. Rumah tangga memang lebih baik terpisah dari orangtua dan mertua, biar tidak ada benturan. "MAS!" Kamila mulai jengkel. Setelah menikah, baru dia tahu bahwa Harsa itu sering tidak mendengar ketika dipanggil. Seperti Toni kakaknya. Ibunya sering mengomel karena Toni tidak merespon ketika dipanggil berkali-kali, padahal jaraknya dekat. "Aku lagi fokus mencuci tangan, jadi nggak denger." Begitu jawaban Toni. Kamila mencari ke segala penjuru rumah, tapi nihil. Dia akhirnya mengambil air putih segelas dan
Harsa melihat hasil karyanya di tubuh Kamila sejak kemarin. Matanya begitu rakus menikmati pemandangan yang menggiurkan itu, sampai-sampai dia lupa menutupi tubuh sang istri dengan selimut. "Dingin, Mas," rajuk Kamila dengan nafas terengah-engah. Jari-jari Harsa menelusuri jejak-jejak merah di kulit putih sang istri. Terlalu banyak. Apa dia berlebihan? Tangannya meraih selimut dan menutupkannya pada tubuh Kamila, lalu dia ikut bergabung di dalamnya. Mereka berpelukan. "Nyaman banget," gumamnya. Bibirnya berkali-kali menciumi kepala dan wajah sang istri dengan sayang, membuat Kamila tersenyum. "Makasih udah membuatku merasakan semua ini, Mas." Ciuman Harsa berhenti. Dia menatap sang istri yang memejamkan mata dengan kening berkerut. "Maksudnya?" Kamila menghela nafas panjang. Kedua mata cantik itu terbuka. Harsa bisa melihat bulu mata yang lentik dan panjang alami dari samping. "Boleh nggak aku cerita tentang masa lalu?" Harsa mengangguk. Jujur, dia sendiri penasaran dengan keh
Di jaman yang iman sangat mudah terlepas karena kenikmatan duniawi yang hanya sementara, masih ada segelintir manusia yang menjunjung tinggi kesetiaan dan cinta. Tidak hanya mengejar nafsu syahwat yang membutakan akal sehat dan menghilangkan iman pada Tuhannya, yang diraih bersama lawan jenis yang diharamkan oleh Allah. Harsa dan Kamila adalah tipe orang yang setia pada pasangan, tak peduli meskipun di luar sana banyak yang lebih baik. Karena lebih baik itu relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa. Harsa, tipe pria yang tidak suka ribet dan tidak suka harus berkali-kali memulai semuanya dari nol. Dia tidak suka asal menjalin hubungan dengan wanita. Tidak mau menghabiskan waktunya di dunia hanya untuk mencari kecocokan dengan wanita. Dia juga tidak suka wanita yang agresif, dalam arti wanita yang bukan muhrim tapi sudah berani mendekati dan menggoda pria terlebih dulu. Baginya, wanita seperti itu akan mudah melakukannya pada pria lain sekali mereka bermasalah. Harsa tahu bagaim







