Share

Kata-kata Manis Berisi Kebohongan
Kata-kata Manis Berisi Kebohongan
Author: Echo

Bab 1

Author: Echo
Lima tahun. Selama lima tahun itu, aku melakukan segala cara agar bisa hamil, agar bisa memberi Vincent pewaris yang sangat dia inginkan.

Namun, diam-diam dia memberiku pil KB, meracuni tubuhku dan membuatku hampir mustahil untuk mengandung. Sementara itu, mantan pacarnya, wanita yang katanya sudah dia putusin sejak bertahun-tahun lalu ... justru sedang mengandung anaknya.

Di detik itu juga, aku tahu aku sudah selesai. Aku ingin bercerai.

"Elena, ini apa?" Sahabat sekaligus dokterku, Safa Martin, mengangkat sebuah pil kecil berwarna pink. Suaranya serius, dengan nada yang belum pernah kudengar sebelumnya.

"Itu asam folat," kataku sambil meletakkan cangkir kopi, kebingungan. "Vincent bilang merek ini yang paling bagus. Kamu tahu kami sudah mencoba selama bertahun-tahun."

Wajah Safa langsung pucat. "Nggak, Elena. Ini bukan asam folat. Ini Loestrin. Pil KB."

Duniaku seakan-akan berhenti. Aku menatapnya, menunggu lelucon yang tak pernah datang.

"Itu nggak mungkin." Suaraku bergetar. "Vincent memberikannya langsung padaku. Dia bilang ...."

"Sebagai doktermu, aku harus jujur," potong Safa sambil menggenggam tanganku. "Ini pil dosis tinggi."

Aku melonjak berdiri. Cangkir kopiku jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. "Aku butuh kamu cek darahku. Sekarang."

Safa mempercepat semua pemeriksaan dan satu jam kemudian menyerahkan hasilnya padaku. "Ini pil kerja cepat, Elena. Efeknya sangat kuat. Efek sampingnya jauh lebih parah dibanding pil jangka panjang."

Aku menatap angka-angka di kertas itu, pandanganku kabur oleh air mata. Tiga tahun. Selama tiga tahun penuh, setiap kali Vincent memelukku dan memintaku bersabar, setiap kali dia berkata kami akan punya bayi, setiap kali dia menemaniku ke dokter fertilitas ....

Semuanya bohong.

Satu-satunya yang nyata hanyalah tekanan. Kekecewaan sang bos mafia. Bisik-bisik di belakangku, mempertanyakan apakah aku pantas menjadi calon nyonya Keluarga Romano. Semua itu nyata.

Ponselku bergetar, sebuah notifikasi dari pesan grup. Sarah Kastela, mantan pacar Vincent, mengunggah foto USG.

[ Usianya sepuluh minggu. Vincent bilang dia sudah nggak sabar bertemu bayi ini, dan dia akan memberinya sebuah kasino dan klub di hari kelahirannya. ]

Grup itu dipenuhi anak buah Vincent. Mereka menelan setiap kata darinya, dan otomatis menghujani rasa hormat pada perempuan mana pun yang bos mereka pilih.

[ Selamat! Sang bos mafia pasti senang sekali! ]

[ Luar biasa! Kapan kalian akan go public? ]

[ Pewaris Keluarga Romano! ]

Sepuluh menit kemudian, mereka pura-pura panik dengan menghapus pesannya. "Ups, salah kirim. Tolong anggap nggak lihat apa-apa."

Aku tahu maksudnya. Itu serangan yang diarahkan langsung kepadaku.

Aku menggulir layar, membaca satu per satu ucapan selamat. Ikon Vincent menyala, dia sedang online, tetapi dia tak mengatakan sepatah kata pun.

Kenangan mulai menyerbu pikiranku.

Lima tahun lalu, keluarga kami menjauhkan kami, pewaris keluarga mafia terbesar di Igali dan putri seorang konglomerat perbankan dari orang-orang yang kami cintai dan memaksa kami menikah. Di atas kertas, itu pasangan yang sempurna, pernikahan yang setara.

Tak ada yang peduli pada apa yang kami inginkan.

Saat itu, Vincent berkata dingin padaku, "Karena kita nggak bisa mengelak dari ini, sebaiknya kita jalani saja peran kita."

Kami pun melakukannya. Kami tim yang hebat, tetapi kami bukan aktor. Perlahan aku jatuh cinta pada momen-momen kecil kelembutannya yang jarang. Aku membiarkan diriku percaya bahwa seiring waktu, dia juga akan mencintaiku, bahwa pria ini pada akhirnya akan menjadi milikku.

Namun, di depan orang luar, dia hanya pernah memperkenalkanku sebagai "teman".

Sekarang, anak haramnya yang bahkan belum lahir sudah dirayakan oleh semua orang.

Aku tak bisa lagi membohongi diriku sendiri.

"Elena, kamu kelihatan sangat buruk," kata Safa, suaranya lembut penuh kekhawatiran.

Aku mengusap air mata, suaraku terdengar mengerikan karena terlalu tenang. "Aku butuh pemeriksaan lengkap. Aku ingin tahu persis apa yang sudah dilakukan racun ini pada tubuhku selama tiga tahun."

Dua jam kemudian, Safa masuk ke ruang periksa dengan wajah muram. "Ketidakseimbangan hormon, kerusakan ovarium. Elena, ada risiko nyata infertilitas."

Aku memejamkan mata. Inilah rasanya putus asa.

Bukan karena aku mungkin tak akan pernah punya anak, tetapi karena pria yang kucintai selama lima tahun telah meracuniku, sementara dia menghamili perempuan lain.

Aku pulang ke rumah dan duduk di lantai yang dingin, hatiku membeku seperti es, tetapi api amarah mulai menyala jauh di dalam hatiku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 11

    Orang tuaku bergerak jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.Keesokan paginya, mereka langsung mendatangi rumah besar Keluarga Romano. Seperti yang kemudian diceritakan ibuku, saat dia melemparkan laporan medis milikku ke atas meja di hadapan Kepala Keluarga Romano, pria yang selama puluhan tahun menguasai dunia bawah tanah Igali, mengembuskan napas panjang dan letih.Untuk mencegah kehancuran total aliansi antara dua keluarga, dia menawarkan untuk membereskan semuanya."David, apa yang kamu inginkan?""Sederhana," kata ayahku dingin. "Tanda tangani surat cerai sekarang juga. Vincent melepaskan semua klaim atas harta bersama, dan dia membayar Elena 750 miliar sebagai ganti rugi pribadi. Kalau nggak, aku akan memublikasikan cerita tentang bagaimana dia meracuni putriku.""Itu akan menghancurkan Keluarga Romano!""Biarkan saja hancur," jawab ayahku tanpa goyah. "Putramu telah menghancurkan impian putriku untuk menjadi seorang ibu. Kenapa aku harus peduli pada nama besar Keluarga Romano?"

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 10

    Pengakuan Sarah meledak seperti bom atom.Tagar "VincentRomanoAdalahMonster", "KeadilanUntukElena", dan "SarahAdalahKorbanJuga" menduduki tiga besar topik viral. Harga saham perusahaan-perusahaan milik Keluarga Romano anjlok 15%.Vincent segera dipanggil kembali ke Newa untuk mengendalikan kerusakan.Pukul dua siang, bel apartemenku berbunyi. Mengira itu Marcus, aku membukanya dan mendapati kedua orang tuaku berdiri di sana, wajah mereka penuh kecemasan."Elena!" Ibuku langsung menerobos masuk dan memelukku. "Kemasi barang-barangmu. Kita pulang ke Igali. Sekarang.""Aku nggak mau pulang," kataku sambil melangkah mundur. "Aku baik-baik saja di sini.""Baik-baik saja?" Suara ibuku meninggi tajam. "Elena, sekalipun kamu nggak menikah dengan Keluarga Romano, kamu tetap harus punya suami yang setara! Bukan ahli biologi kelautan! Apa kata orang nanti?"Aku hanya bisa tertawa pahit. Bahkan dengan semua penghargaan dan pengakuan Marcus di bidangnya, di mata orang tuaku, dia tidak akan pernah c

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 9

    "Elena, aku mencintaimu!"Suara Vincent yang putus asa dan nyaris gila menggema di halaman kompleks."Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu!" teriaknya sambil berlutut di tanah, menatapku dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya. "Semua yang terjadi dengan Sarah ... itu cuma rasa bersalah! Aku meninggalkannya demi kamu, dan aku pikir aku berutang sesuatu padanya!""Tapi sekarang aku tahu, satu-satunya orang yang benar-benar pernah kucintai hanyalah kamu! Elena, aku rela menyerahkan segalanya demi kamu!"Aku hanya mendengarkan, perasaan aneh menyapu diriku.Aku memotong ucapannya. "Vincent, aku mohon, lepaskan aku. Kita sudah selesai. Benar-benar selesai. Semakin kamu melakukan ini, semakin aku membencimu.""Aku nggak bisa melepaskanmu!" teriaknya. "Elena, kamu nggak mengerti, aku benar-benar nggak bisa hidup tanpamu! Aku bisa membuktikannya, aku bisa ...."Ponselnya berdering, memotong luapan emosinya.Dia melirik layar dan wajahnya langsung menegang."Ini Sarah," katanya

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 8

    Di rumah sakit, hasil rontgen menunjukkan satu tulang rusukku retak. Aku harus beristirahat selama beberapa minggu.Marcus duduk di samping ranjangku, jemarinya mengusap rambutku dengan lembut."Maafkan aku, Elena. Aku seharusnya melindungimu.""Ini bukan salahmu," bisikku. "Vincent sudah kehilangan akal."Saat perawat masuk, dia memberi tahu kami bahwa lobi dipenuhi wartawan. Seorang pria bernama Vincent Romano juga ada di sana, memaksa ingin menemuiku, tetapi keamanan rumah sakit menolaknya."Apakah dia mengatakan sesuatu?" tanyaku."Hanya bilang kalau dia suamimu," jawab perawat sambil melirik Marcus. "Tapi kami sudah memeriksa berkas Ibu. Kontak darurat Ibu terdaftar atas nama Marcus Baraka, bukan Vincent Romano. Teman Ibu sudah mengurus semuanya."Aku menatap Marcus dengan penuh rasa terima kasih. Dia memang selalu seperti itu, diam-diam membereskan segalanya untukku.Keesokan harinya, aku bersikeras ingin pulang. Saat Marcus membantuku keluar lewat pintu utama, kami berdua mendad

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 7

    Setelah memblokir kontak keluargaku, aku sempat berpikir akhirnya bisa mendapat sedikit ketenangan. Ternyata aku salah.Beberapa hari kemudian, Marcus datang menemuiku sambil membawa laptopnya. "Elena, kamu harus lihat ini."Pencarian Vincent memenuhi media sosial. Tagar "VincentRomano" dan "Istri15miliar" sedang viral di media sosial. Kolom gosip berpesta pora.[ Apakah Elena Romano meninggalkan suami penyayangnya demi kabur dengan pria lain? Beginikah arti kesetiaan? ][ Kasihan Keluarga Romano. Vincent itu tangkapan besar dan dia begitu saja membuangnya.Aku dengar dia kabur dengan pria dari kampusnya. Perempuan murahan. ]Bahkan akun perusahaan Keluarga Romano ikut merilis pernyataan.[ Elena, kami menunggumu pulang. Vincent mencintaimu lebih dari apa pun. ]Media sosial berubah jadi lautan dukungan sepihak. Teman-teman Keluarga Romano mengunggah foto-foto lamaku bersama Vincent, semuanya dengan caption yang memuji pengabdiannya dan mengecam "pengkhianatanku"."Mereka menganggapku

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 6

    Aku melihat Marcus begitu melangkah keluar dari gerbang kedatangan.Lima tahun berlalu dan dia masih setinggi dan setampan yang kuingat. Ada beberapa garis baru di sekitar mata birunya yang dalam, mata yang kini membelalak, dipenuhi campuran keterkejutan dan kebahagiaan murni."Elena ...." Dia menggumamkan namaku, seolah-olah takut aku hanyalah mimpi yang bisa menghilang kapan saja.Aku tak mengatakan apa-apa. Aku langsung melemparkan diri ke dalam pelukannya.Rasa aman yang telah lama hilang itu menyapu diriku. Aroma kayu cedar dan kopi dari jaketnya begitu familier dan akhirnya aku membiarkan air mataku jatuh."Aku di sini, Marcus. Aku benar-benar di sini."Dia memelukku erat, tubuhnya sedikit bergetar. "Selamat datang di rumah, Elena."Dalam perjalanan menuju apartemennya, aku menyalakan kembali ponselku.Notifikasiku langsung membludak.Dari Vincent, 47 panggilan tak terjawab, 73 pesan. Dari Sarah, 12 pesan. Dari ibuku, Isabella, 8 panggilan tak terjawab, dan puluhan pesan dari ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status