Mag-log inAku sangat lengket dan selalu mengikuti pacarku, Ariel, ke mana pun dia pergi seperti anak anjing yang tersesat. Aku terus mendambakan lebih banyak perhatian darinya. Malam ini, aku tiba-tiba melihat deretan komentar transparan saat aku meringkuk dalam pelukan Ariel dan mengecup bibirnya dengan lembut seperti biasanya. Satu per satu komentar itu melintas di depan mataku. [ Dia belum sadar ya kalau Ariel, tokoh utama pria kita, sedang berusaha mati-matian hindari dia? ] [ Ariel benci kontak fisik, terutama dengan dia. Dia sungguh mengira Ariel bersamanya karena mencintainya? ] [ Tenang saja. Cinta sejati Ariel, sang tokoh utama wanita, sebentar lagi akan muncul. Begitu dia muncul, Ariel akan campakkan si jalang bodoh ini tanpa ampun. ] Membaca itu, jantungku langsung berdebar. Detik berikutnya, aku pun menjauh dari dada Ariel. Ariel menundukkan kepala dan menatapku, lalu sesuatu yang terlihat mencurigakan seperti rasa kesal melintas sekilas di wajahnya. Dia pun bertanya, "Ada apa?"
view more[ Dia bukan orang asing. Kalian lupa ya kalau Alisia punya cinta pertama sejak kecil? Hubungan mereka pada dasarnya sama seperti Ariel dan Bella, cuma tanpa latar belakang keluarga mafia yang kaya raya. ][ Aku juga pernah dengar soal dia. Namanya Henry. Dia bekerja sambil membiayai kuliah Alisia. Bukannya mereka sudah bersama sejak SMA? ][ Terus Ariel gimana? Bukannya ceritanya harus jadi kisah cinta miliarder yang kabur demi cinta? Ariel seharusnya merebut Alisia dan menjadikan Alisia sebagai istri satu-satunya. ][ Tenang saja. Mungkin selama ini kita membaca versi cerita yang berbeda. Bukankah Ariel sudah melamar Bella? Mungkin memang Bella yang benar-benar dia cintai .... ][ Aku mau bilang sesuatu. Menurutku, Bella memang pasangan yang paling cocok buat Ariel. Dari awal aku mengikuti cerita ini, Ariel selalu bersikap dingin kepada semua orang kecuali Bella. Dan meskipun Bella bukan orang yang jago berbisnis, cuma dia yang bisa membuat Ariel terasa ... seperti manusia biasa. ][
Ariel seperti pria yang sudah lama kelaparan. Dia menciumku di mana-mana, seolah-olah tidak pernah merasa puas, meski terus berusaha.Sedangkan tubuhku dengan mudah mengkhianatiku, merespons setiap sentuhannya jauh lebih kuat daripada yang kubayangkan.Saat kecupannya bergerak naik dari perutku hingga ke tulang selangka, lalu berhenti di dekat telingaku, suaranya merendah. "Masih mau pindah kamar?"Sebelum sempat menjawab, komentar-komentar itu kembali muncul di hadapanku.[ Ih! Ariel mau tidur sama dia? Aku nggak sanggup lihatnya. ][ Bella benar-benar mengira Ariel melakukan ini karena cinta? Cowok cuma punya kebutuhan. Itu saja. ][ Lihat, 'kan? Sudah kubilang dia cuma jual mahal. Dicium sekali langsung luluh lagi. ][ Apa cuma aku yang merasa Ariel benar-benar peduli sama dia? Selama ini cuma dia yang benar-benar mengkhawatirkan Bella. ]Komentar terakhir itu menarik perhatianku. Untuk sesaat, aku justru memikirkan hal yang sama.Aku terus menjauh darinya, tetapi Ariel malah selalu
Ariel selesai membilas gaun tidur renda itu. Setelah itu, barulah dia menoleh dan menatapku."Kalau kamu memang sudah berencana pindah, lalu untuk apa kamu masih membutuhkan aku? Sebagai pacarmu? Atau cuma seseorang yang kamu datangi saat merasa kesepian dan pintunya bisa kamu ketuk kapan saja?"Suaranya terdengar serak, tetapi dia belum selesai. "Kalau begitu, lebih baik kita putus saja."Seluruh tubuhku membeku. Pikiranku kosong sesaat, seolah-olah tidak mampu mencerna apa yang baru saja kudengar. Aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu secepat ini.Sesingkat dan setegas itu.Mataku langsung terasa perih. Air mata yang sedari tadi kutahan kembali mendesak keluar.Kemudian, komentar-komentar itu muncul lagi dengan cepat, bersemangat, dan hampir terlihat gembira.[ Ariel akhirnya mengatakannya! Memang begitulah isi hatinya. Dia sudah lama mau putus. ][ Setidaknya Bella sekarang sadar diri. Dia sendiri yang lebih dulu bilang mau pindah. ][ Nggak, kalian salah. Dia
Aku bangkit dari tempat tidur dan segera membersihkan diri, membasuh sisa-sisa kantuk di wajahku, sekaligus mungkin menghapus jejak air mata yang tidak ingin kupikirkan lagi.Kemudian, aku membuka pintu dengan perlahan, mengintip ke luar lebih dulu. Aku tidak ingin bertemu Ariel.Selama hampir satu menit aku tidak mendengar suara apa pun. Kukira dia sedang berada di ruang kerjanya ... atau mungkin sudah pergi keluar. Jadi, aku mengendap-endap menuruni tangga.Begitu berbelok di ujung lorong, aku langsung menabrak sesuatu yang keras.Aku mendongak. Ariel berdiri tepat di depanku, menatapku dengan wajah yang jelas-jelas tidak senang."Kamu kedatangan tamu," katanya, mengucapkan setiap kata dengan jelas.Pasti Steven sudah datang.Aku melewati Ariel dan berjalan menuju ruang tamu. Namun, baru beberapa langkah, Ariel berbalik lalu berjalan di sampingku."Aku juga sedang nggak ada kerjaan," katanya tenang. "Aku ikut gabung dengan kalian ya."....Ariel dan Steven duduk berhadapan, sementara












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.